Ying Hua mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. kemudian ia melangkah memasuki pemandian pribadi sang raja. Di tangannya kini terdapat semangkuk lulur kunyit dan madu yang akan di gunakan oleh yang mulia.
Ia merendahkan badannya sekilas saat sudah berada di dalam dan menemukan yang mulia telah berendam di kolam pemandian. Dengan langkah teratur, ia mendekati yang mulia. Kemudian duduk bersimpuh di belakangnya. Dan tanpa kata mulai menggosok tubuh pemimpin istana iti dengan lulur kunyit dan madu yang di bawanya.
Ying Hua menyikap rambut panjang Zhuo Zu. Menggelungnya ke atas, setelahnya ia mengambil lulur di mangkuk dan mulai membasuhkannya pada bahu dan punggung sang penguasa itu. Memijatnya pelan, mencoba memberi pelayanan terbaik dan membuat yang mulia semakin rileks.
Belum ada pembicaraan apapun di antara mereka. Zhuo Zu dengan mata yang terpejam dan menikmati pijatan di tubuhnya sedangkan Ying Hua yang melaksanakan tugasnya sebaik mungkin.
"Apa alasanmu membuat kerusuhan saat itu?" Zhuo Zu membuka suaranya yang datar. Membuat gerakan tangan Ying Hua yang memijatnya berhenti sejenak.
"Mohon maaf yang mulia, hamba tidak mengerti." Jawab Ying Hua sopan, tangannya mulai ia gerakan setelah tadi berhenti.
"Kau bukanlah gadis bodoh yang tidak akan tahu dengan maksud ucapanku."
Ying Hua mengambil nafas pelan dan dalam. Berusaha agar tidak di ketahui oleh Yang Mulia. Namun gagal karena yang mulia ternyata peka dengan apa yang di lakukannya.
"Jangan banyak berfikir untuk membodohi alasanmu dan cepatlah menjawab. Aku sangat tidak suka menunggu." Ujar Zhuo Zu dingin.
"Hamba hanya melakukan apa yang hamba bisa. Alasan kenapa hamba sampai menggagalkan pernikahan anda, saya rasa anda mengetahui dengan jelas alasannya." Tutur Ying Hua mencoba selembut mungkin.
"Jangan berbelit-belit. Katakan saja dengan jelas!" Paksa Zhuo Zu.
Ying Hua mencoba untuk tidak berdecak, "Hamba melakukannya karena tidak ingin orang yang saya cintai mati terpenggal oleh anda." Jawabnya sedikit cepat. Persetan dengan tutur lembut ala putri! Batin Ying Hua berontak.
"Pria yang babak belur itu?"
Diam-diam Ying Hua memutar kedua bola matanya malas di belakang punggung Zhuo Zu, "benar, Yang Mulia."
Keadaan kembali hening beberapa saat karena Zhuo Zu kembali terdiam dan Ying Hua ikut tak mengeluarkan suaranya lagi.
"Sudah selesai yang mulia." Kata Ying Hua saat dirinya sudah melumuri seluruh punggung dan bahu Zhuo Zu dengan lurur.
Zhuo Zu mengangkat tanganya, mengulurkannya pada Ying Hua. Meminta tanpa kata untuk di pijat.
Ying Hua mengambil lulur dan menggosokkannya pada lengan berotot itu. Memberinya pijatan seperti bahu dan punggung pemiliknya. Dengan tenang ia melakukan itu.
"Kau yang menyuruh pangeran untuk menemuiku dan menantangku bukan?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Zhuo Zu membuat gerakan tangan Ying Hua kembali berhenti. Tak hanya itu, bahkan ia kini menjadi gugup sekaligus takut. Takut akan apa yang di lakukannya adalah sebuah kesalahan.
"Sebelumnya tak sekalipun pangeran Hong Hui berani untuk mendekatiku. Bahkan hanya untuk mengucapkan sepatah kata pun," Zhuo Zu masih berbicara datar dan terkesan dingin, "Tapi tiba-tiba dirinya datang menyapaku dengan dalih minta maaf. Mengajakku untuk tidur bersama dan bahkan bercerita sepanjang malam. Kemudian ia menantangku dan membuatmu harus melayaniku selama tiga bulan. Katakan, maksud lain dirimu di balik perbuatan itu!"
Ying Hua segera melepaskan tangannya dari lengan Zhuo Zu. Ia menaruh tangannya di lantai pemandian dan meletakkan keningnya menempel pada punggung tangan, bersujud.
"Mohon ampun yang mulia, maafkan hamba. Hamba hanya sebisa mungkin membantu keinginan pangeran." Katanya dengan tenang, meski begitu, tak di pungkirinya jika ia tengah gugup sekarang.
"Apa keinginannya?"
"Pangeran hanya ingin hubungan anda dengannya menjadi seperti dulu."
Zhuo Zu membuka kedua matanya perlahan. Terdiam setelah mendengar semua jawaban dari pertanyaannya. Tangannya kemudian terangkat, mengayun menyuruh Ying Hua tanpa kata untuk pergi. Namun, dirinya tak mendapat jawaban dari pelayannya itu. Menoleh kebelakang memalui bahu, ia menatap datar Ying Hua yang sedang bersujud. Tak banyak kata, ia mencipratkan air ke tubuh gadis itu.
Ying Hua terentak saat merasakan dingin air yang mengenai tubuhnya dan membuat sebagian pakaiannya basah. Ia yang terkejut segera mengangkat kepalanya. Dan tatapan matanya langsung bersinggungan dengan mata Zho Zu. Ia menelan kering, wajah raja itu terlihat mengerikan meski tampan di jarak yang lumayan dekat.
"Pergilah. Kembali besok pagi!" Usir Zhuo Zu. Pria itu berjalan semakin dalam ke tengah pemandian. Menenggelamkan seluruh tubuhnya.
Ying Hua segera berdiri dan memberi salam. Kemudian ia berjalan keluar ruangan. Meninggalkan Zhuo Zu untuk sendiri.
~•••••~
Ying Hua berjalan di belakang Zhuo Zu dengan Huo Ying. Dirinya kini kembali berpakaian seperti biasanya setelah tadi meminta pangeran Hong Hui untuk tidak menyuruhnya memakai pakaian yang membuatnya tak nyaman. Meski mendapat protesan dari anak didiknya itu karena katanya ia lebih cantik memakai pakaian wanita, akhirnya Ying Hua bisa berpakaian seperti biasanya dengan sedikit ancaman untuk pangeran kecil itu. Dirinya memang merangkap pelayan, meski begitu dirinya juga seorang pengawal. Akan sulit bergerak nantinya jika hal yang tidak diinginkan terjadi. Sebuah penyerangan mungkin.
Ying Hua yang memakai baju biru tua lengan panjang melangkah mengikuti kemana pun yang mulia pergi. Seperti saat ini. Mereka kali ini pergi keluar istana untuk memantau langsung keadaan luar istana. Mendengar keluh kesah rakyatnya dengan cara menyamar.
Zhuo Zu mendudukkan diri di kedai sushi yang cukup ramai. Ying Hua dan Huo Ying duduk di sampingnya. Pelayan datang, dan mereka pun memesan makanan.
"Apa kau dengar, jika pernikahan raja kali ini katanya gagal." Seseorang yang duduk di belakang terdengar berbicara, "Katanya juga, kegagalan dari pernikahan itu di sebabkan oleh dua murid padepokan daun yang menentang pernikahan yang mulia dengan putri tuan Hui Zhong."
Zhuo Zu tetap diam dengan tenang. Sedangkan Huo Ying mulai gelisah dan Ying Hua diam dengan pendengaran yang di tajamkan.
"Aku mendengarnya, berita itu sudah tersebar luas kepenjuru wilayah Anming. Semua orang pasti sudah mengetahuinya."
"Aku cukup kagum dengan dua murid itu. Berani sekali mereka menentang keinginan yang mulia. Untung saja yang mulia berbaik hati untuk membatalkan pernikahan itu."
Ying Hua melirik Zhuo Zu yang tenang menyesap arak yang baru di suguhkan.
"Sudahlah, jangan membahas. Jika ada mata-mata yang mendengar. Kita bisa kehilangan nyawa karena sudah berani membicarakan yang mulia di belakangnya. Aku tidak mau keluargaku jadi sasaran kemarahannya."
"Ya, kau benar."
Huo Ying menghela nafas lega mengetahui pembicaraan itu selesai. Setidaknya tidak akan ada korban yang terpenggal kali ini. Tatapan Huo Ying kemudian jatuh menatap Ying Hua, seketika dahinya mengernyit.
"Ada apa?" Tanyanya.
Belum sempat mendapat jawaban dari Ying Hua, sebuah panah melesat kearah mereka. Tidak, lebih tepatnya ke arah Zhuo Zu. Dengan sigap tangan Ying Hua terulur, menangkap panah itu dengan jarak hanya beberapa centi di depan wajah Zhuo Zu.
Semua terkesiap. Kecuali Zhuo Zu dan Ying Hua yang seolah memang sudah mengetahui hal ini akan terjadi. Bahkan Huo Ying sampai memundurkan tubuhnya kebelakang.
"Kita di serang, berjaga-jaga tuan Huo Ying. Lindungi yang Mulia." Pinta Ying Hua sebelum melompat keluar kedai dan berdiri di tengah jalan. Semua orang menyingkir, bersamaan dengan sekitar tiga puluh orang berpakaian serba hitam dengan senjata di masing-masing orang. Ying Hua lekas menatap mereka tajam.
"Apa keinginan kalian?" Tanyanya dengan ketenangan yang bisa membuat musuh takut.
Salah satu dari mereka mengangkat tangan, menunjuk ke arah Zhuo Zu yang masih setia duduk dengan tenang dan tatapan yang datar ke arah mereka.
"Aku ingin kematiannya!"
Ying Hua tersenyum miring, "Jika kalian sayang nyawa, enyahlah dari sini!" Peringatnya masih dengan suara setenang air danau.
"Omong kosong! Kami yang akan melenyapkan nyawa kalian!" Bentak pria itu marah.
"Baiklah, jangan salahkan aku jika kalian terbunuh!"
Pria yang di yakini Ying Hua pemimpin kelompok penyerang itu mengangkat sebelah tangannya. Memberi aba-aba. Lantas, Sakura pun langsung bersiaga. Mencabut pedang miliknya dan memasang kuda-kuda.
"Serang!"
Semua pria berpakaian hitam itu bergerak menyerang. Ying Hua dengan gesit menghindar, menampik, memukul dan menyabet musuhnya dengan kelincahan yang ia miliki. Tak berniat sejenak pun ia untuk lengah. Perhatiannya awas. Tatapan matanya tajam. Raut tenang yang ada di wajahnya membuat musuh untuk berfikir dua kali untuk menyerang. Menggambarkan jika dirinya bukanlah lawan yang bisa di remehkan.
Ying Hua merendahkan badannya kebelakang saat dua pedang mengarah padanya. Kemudian ia menampik tiga pedang yang datang dari belakang. Memberi tiga musuh satu tendangan sekaligus, ia mengarahkan pedangnya pada musuh yang hendak menyabet lehernya. Membuat pedang tajam miliknya berlumuran darah karena berhasil menusuk perut penyerang itu.
Keadaan ricuh. Semua menyingkir dan membiarkan pertarungan itu terjadi. Barang-barang di sekitar mereka berserakan karena tubrukan dari para musuh yang berhasil Ying Hua tumbangkan.
Huo Ying sendiri segera melompat ke arena pertarungan saat musuh ternyata bertambah banyak. Dengan cekatan tangan kanan raja itu membantu Ying Hua. Mencoba mengalahkan musuh secepat yang ia bisa. Raut geram sedikit terpatri di wajah pria itu, memikirkan siapa dalang dari penyerangan ini. Dalam benaknya ia bertanya-tanya, siapa gerangan sosok musuh yang mengetahui jika yang mulia akan pergi keluar istana dan menyuruh pembunuh bayaran untuk melenyapkan sang raja? Jika ia menemukannya nanti, ia bersumpah dengan kedua tangannya lah yang akan memenggal kepala orang tersebut.
Ying Hua dan Huo Ying bertarung dengan gesit dan cekatan. Tak sekali pun musuh berhasil mendekati Zhuo Zu yang masih duduk tenang sembari menikmati araknya dan menatap pertarungan di depannya. Bahkan lawan mereka tak bisa melukai keduanya. Namun tetap saja, jumlah mereka yang tiga kali lipat membuat tenaga mereka cukup terkuras meski tak mendapatkan luka sedikitpun.
Pertarungan akhirnya di menakan oleh Ying Hua dan Huo Ying. Sebagian besar dari musuh tewas di tangan mereka, namun sebagian kecil yang masih hidup berhasil melarikan diri. Membuat Huo Ying sedikit mengumpat karena gagal menginterogasi salah satu dari mereka yang hidup.
"Sebaiknya kita kembali ke istana yang mulia." bisik Ying Hua kala sudah berdiri di samping Zhuo Zu, "Keadaan sudah tak aman. Musuh sudah mengetahui keberadaan anda sekarang."
Zhuo Zu menghela nafas panjang. Ia mengeluarkan satu tael emas dan meletakkan di meja. Lalu tanpa kata berjalan pergi meninggalkan kedai tersebut.
Huo Ying segera menyusul Zhuo Zu. Sedangkan Ying Hua mengambil nafas menetralisir kejengkelannya yang tiba-tiba hinggap karena sikap dari sang raja itu. Setelahnya ia berjalan menyusul dua pria yang pergi meninggalkannya terlebih dahulu. Berjalan tenang sembari bersedekap d**a dan tatapan menatap punggung sang raja tajam.
~•••••~
Ying Hua yang tengah duduk bersandar di teras kediamannya termenung, melamun dengan pemikiran yang menuju kampung halamannya. Rasa rindu menyusup ke dalam hatinya kala mengingat dua sahabat yang selama ini selalu berada di sampingnya. Ia mendadak rindu, ingin berjumpa dengan dua pemuda yang terkadang membuatnya naik darah. Ia merindukan lelucon dan hiburan yang di lakukan Ming Yu dan Xi Feng itu kepadanya. Dan dirinya pun ingin mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
"Ibu."
Ying Hua segera menoleh ke sumber suara. Sebelah alisnya terangkat. Ini sudah malam dan dirinya pun kini tidak menempati kamar yang sebelumnya, melainkan kamar di belakang kamar pribadi sang raja, kamar khusus pelayan pribadi raja. Tapi kenapa si muridnya itu bisa kemari? Bukankah perjanjiannya, ia bisa bersama dengan Ying Hua pada waktu pagi dan siang saja?
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ying Hua.
Hong Hui tak lekas menjawab, ia melompat dan duduk di depan Ying Hua, "Tidak bisa tidur. Aku berjalan-jalan dan menemukanmu di sini."
Ying Hua memutar kedua matanya malas, "Jangan berbohong pangeran."
Hong Hui menyengir, "Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa tidur."
"Kembalilah kekamarmu pangeran. Jika ayahandamu tahu, ia akan marah karena kau melanggar perjanjian."
"Tak masalah." jawab Hong Hui acuh, "Justru aku akan malah sangat sering membuatnya marah dan sedikit perhatian padaku."
Ying Hua berdecak, "Sudah berapa kali aku bilang, bukan begitu caranya kau bisa dekat dengan yang mulia kembali. Gunakan otak cerdasmu." Ia memukul kepala Hong Hui dan membuat pangeran itu mengaduh.
"Saran ibu sangat lambat sekali." protes Hong Hui, "Dan itu tidak seru."
Kedua mata Ying Hua kembali berputar, "Terserahlah."
Keadaan hening setelahnya. Ying Hua mendongak menatap langit malam yang berhiaskan bulan sabit. Sedangkan Hong Hui mengamati lamat-lamat wajah Ying Hua.
"Berhenti menatapku." kata Ying Hua tanpa mengalihkan tatapannya kini.
"Tidak mau, aku betah menatap ibu."
"Aishh.." desis Ying Hua kesal, bocah berusia sembilan tahun itu sungguh membuatnya sedikit jengkel, "Beruntung kau masih bocah, jika tidak aku pasti akan menyuruhmu segera menikahiku." guraunya.
Hong Hui tertawa, kemudian tangannya terulur memberi Ying Hua dua buah kain yang di sembunyikannya di balik punggung sedari tadi, "Besok kau pasti akan ikut ayahanda ke kuil dekat bukit selatan. Aku ingin ibu memakai ini." ujarnya.
Ying Hua menatap kain yang di sodorkan oleh Hong Hui. Tatapannya jatuh pada Tiara yang terlihat sangat cantik, "Memangnya disana ada apa?"
"Perayaan musim panen tahunan yang di selenggarakan oleh pemimpin padepokan bukit tempat ayahanda dulu berlatih. Biasanya setiap tahun, ayahanda akan menyempatkan diri untuk hadir disana bersama permaisuri."
"Kau ikut?"
"Tahun-tahun sebelumnya tidak pernah semenjak ibunda meninggal, tapi untuk tahun ini pengecualian." Hong Hui tersenyum tipis.
"Kenapa?"
"Rahasia."
Ying Hua mendengkus, "Sudah, sebaiknya kau segera pergi dan kembali kekamarmu!"
Hong Hui menurut, ia meloncat turun dan menepuk-nepuk baju tidurnya yang sedikit kusut, "Selamat malam, ibu." katanya cepat, tak hanya itu, Ying Hua di buat terkejut karena Hong Hui memberinya kecupan di pipi.
"Kalian melanggar perjanjian."
Tak sampai di situ, keterkejutan Ying Hua berlanjut saat mendengar suara datar dan dingin. Ia menoleh dan melihat Zhuo Zu yang berdiri di seberang teras dan tengah berjalan menghampirinya. Wajah pria itu tanpa ekspresi seperti biasa. Dengan segera, Ying Hua berdiri dan memberi salam.
"Mohon ampun yang mulia. Pangeran Hong Hui hanya mengantarkan ini pada saya." Ying Hua memperlihatkan kain yang di berikan Hong Hui padanya.
Zhuo Zu melirik sekilas, kemudian ia berbalik memunggungi Ying Hua, "Ambilkan aku sepoci arak bunga mawar." ucapnya dengan datar.
"Baik Yang Mulia."