"Ingat, saat memanah, tatapan matamu harus tajam menatap pusat dari targetmu. Fokuskan penglihatan dan ukur kekuatan dari tangan agar bisa melesat cepat dan tepat menancap target." jelas Ying Hua ketika melatih Hon Hui untuk memanah.
"Aku sudah mengerti untuk hal itu." jawab Hong Hui memutar kedua bola matanya malas.
Ying Hua berdecak, ia memukul pelan kepala muridnya dengan anak panah, "Jika sudah mengerti kenapa masih saja terus meleset dari tadi."
Hong Hui mendengkus, kemudian ia mengarahkan anak panahnya ke papan bundar yang ada di jauh hadapannya, "Meskipun meleset setidaknya itu menyelamatkanmu dari maut waktu itu." kemudian ia melepaskan tarikannya dan membuat anak panah itu melesat, namun sayang, anak panah itu meleset dan tidak mengenai target.
Ying Hua mendelik kala Hong Hui kembali mengungkit kejadian dua minggu yang lalu. Ia mendesis sebal, kemudian menarik tali busur panah. Matanya memicing tajam ke target yang di tuju, "Perhatikan ini dengan baik." ucapnya tegas.
Setelah kekuatan tarikannya cukup, dengan segera Ying Hua melepaskannya. Anak panah itu melesat jauh dan menancap tepat di target yang di tuju Ying Hua. Membuat Hong Hui berkedip dua kali. Merasa kagum karena target anak panah itu adalah buah apel yang menggantung di pohon pinggir Arena. Terlebih lagi, apel itu tidak jatuh dari rantingnya. Melainkan tetap menggantung dengan buah hijau yang belum masak itu tertancap panah di tengahnya.
"Wow." satu kata meluncur dari mulut Hong Hui.
Ying Hua tersenyum sedikit puas, kemudian ia berdiri di belakang Hong Hui, memegang tangan Hong Hui dan mengarahkan untuk memanah.
"Tarikan ini harus kau ukur dengan target yang di tuju, semakin jauh target, semakin kuat." jelasnya seraya mempraktekan caranya. "Kau memiliki penglihatan yang tajam, tak akan sulit untuk memfokuskan titik pusatmu pada sasaran." katanya lagi.
Hong Hui mengangguk mengerti. Kemudian ia mulai berkonsentrasi. Dan setelah di rasa yakin, ia melepaskan anak panahnya. Hingga panah itu berhasil mengenai sasaran. Mengetahui hal itu, Hong Hui tersenyum sumringah.
Ying Hua terkekeh, ia mengacak gemas kepala Hong Hui. Sudah menjadi satu kesenangan baginya untuk sekedar mengusap, mengacak atau bahkan memukul kepala pangeran kecil itu.
"Anak pintar." pujinya membuat Hong Hui semakin tersenyum senang.
"Sekarang, lihat Ini." Ying Hua mempertahankan senyumnya, setelahnya ia kembali fokus pada sasaran yang kini menjadi targetnya.
"Wuahh.." decak kagum Hong Hui kala melihat panah Ying Hua melesat melewati tiga kelapa yang mengantung dan mengenai buah pear yang terpasang di atas tiang kayu.
Sementara di pinggir arena panah..
Zhuo Zu menatap dalam diam kedua orang yang asik berlatih disana. Kali ini tidak ada Huo Ying yang selalu berada di dekatnya. Pria itu tengah di tugaskannya untuk melakukan sesuatu.
Kedua mata beningnya melihat dengan seksama sang putra yang tampak begitu senang. Tawa dan senyum yang semenjak kematian ibunya memghilang itu kini hadir kembali karena sosok asing yang kini merangkap sebagai pengawal sekaligus guru anaknya itu. Tak ia pungkiri, dirinya cukup merasa lega akan hal itu. Rasa bersalahnya pada sang putra sedikit terobati.
"Jika anda mau, anda bisa bergabung dengan mereka yang mulia." sosok Huo Ying tiba-tiba muncul di belakangnya. Namun Zhuo Zu tak terkejut, ia hanya melirik sebentar kearah tangan kanannya itu.
"Mungkin pangeran Indra akan semakin senang bila anda bergabung." saran Huo Ying sekali lagi.
Zhuo Zu menghela nafas pendek, sebelum pada akhirnya ia berbalik meninggalkan arena tersebut. Namun baru dua langkah dia beranjak, sebuah anak panah melesat dan menancap di depannya.
"Ayahanda, aku menantangmu!!" teriak pangeran Hong Hui. Ia menyeringai sembari mengangkat busur panahnya. Membuat Huo Ying yang melihat itu menahan napas sembari melirik ke arah junjungannya. Jangan sampai pangeran muda menjadi sasaran kemarahan dari sang raja.
Zhuo Zu mengulurkan tangannya menarik anak panah tersebut. Ia menimang sebentar anak panah itu. Kemudian menatap putranya dan sang guru yang ada di samping putranya tersebut. Dan tanpa kata lagi, ia melepas jubah kebesarannya dan memberikannya pada Huo Ying lalu berjalan menghampiri putranya. Tak lupa dirinya juga menyaut panah dan anak panah di tempat gantungan arena panah.
"Jika kau kalah jangan menangis." kata Zhuo Zu datar. Membuat Hong Hui tersenyum senang.
"Tidak akan, karena bukan saya yang akan melawan Anda. Melainkan Ibu." jempol Hong Hui mengarah pada Ying Hua yang terkejut. Gurunya itu tak menyangka jika dirinya di umpankan pada sang ayah yang terkenal sangat ahli dalam hal senjata tajam. Tak mungkin Hong Hui bisa mengalahkannya kan?
Zhuo Zu menatap Ying Hua sejenak, "Berani taruhan jika gurumu itu akan mengalahkanku?" kata Zhuo Zu seperti biasa, datar tanpa intonasi dan aroganisasi yang kental.
"Dia akan menjadi pelayan anda selama tiga bulan jika kalah, dan kalau menang, ayahanda harus menyanggupi satu permintaanya." jelas Hong Hui seenaknya, dan membuat Ying Hua mendelik marah namun tak bisa berbuat apa-apa. Dia masih sayang nyawa.
"Tawaran yang menarik," Zhuo Zu menarik satu anak panah dan melihat-lihatnya sebentar, kemudian ia menatap langsung pada mata Ying Hua, "Dia akan menjadi milikku selama tiga bulan. Dan kau tidak boleh mengusiknya." ungkapnya yang entah kenapa membuat Ying Hua merinding seketika.
"Kau dengar, ibu? Jangan sampai kalah. Itupun kalau kau tidak ingin jadi milik ayahanda." Hong Hui menyeringai, kemudian ia berlari ke tepi arena. Membiarkan sang ayah melawan gurunya.
"Targetnya, adalah mata boneka itu. Siapa yang mengenainya lebih dulu, dialah pemenangnya." seru Hong Hui memberi aba-aba.
Ying Hua menghela nafas pasrah, ia kemudian mengambil anak panah. Mempersiapkan diri untuk tantangan konyol ini. Lihat saja, setelah selesai ia akan memberi hukuman pada muridnya itu.
~•••••~
Ying Hua tercekat melihat pantulan dirinya di cermin. Sedangkan Hong Hui yang sedari tadi menungguinya di rias oleh para dayang terkekeh sendiri. Menurutnya, penampilan Ying Hua saat ini cukup lucu meski gurunya itu nampak lebih cantik dari biasanya.
"Kau akan menyesal jika ayahandamu tertarik dan menyukaiku." Ketus Ying Hua, mencoba memanas-manasi murid nakalnya itu.
Hong Hui malah semakim tergelak, tawanya kini kiat menjadi, "Jika benar seperti itu, berarti mata ayahanda masih normal."
Ying Hua menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Bagaimana mungkin muridnya ini melakukan hal ini padanya. Sama saja ia di umpankan pada seekor singa, “Kenapa aku harus dirias seperti ini?” gumamnya tak habis pikir.
Hong Hui terbatuk di sela-sela tawa, berdeham sejenak guna menetralisir tengorokanya,”Tentu saja, pelayan pribadi raja itu berbeda,” ia menjeda sejenak sebelum kembali bersuara, "Untuk tiga bulan ke depan, kau milik ayahandaku, ibu. Berhati-hatilah." Nasehatnya sembari melanjutkan tawanya.
Ying Hua berjalan mendekat ke arah Hong Hui, ia mendorong pelan dahi bocah itu, "Ini semua gara-gara dirimu!" Katanya jengkel.
"Maaf, sebenarnya aku tahu kalau ibu akan tetap kalah dengan ayahanda. Skill ayah itu jauh lebih hebat dari pada Ibu." Hong Hui tertawa lagi, "Maaf mengumpankammu, karena dengan begitu, aku bisa menjadi lebih dekat dengan ayahanda dengan alasan dirimu."
Ying Hua memutar kedua bola matanya malas. Andai saja Hong Hui bukan pangeran dan muridnya, ia pasti akan mengikat bocah itu terbalik di atas pohon.
"Sudah, sebaiknya Ibu segera pergi menemui ayah. Siapa tahu ayahanda benar-benar tertarik dengan Ibu." Godanya.
"Anak nakal!" Desis Ying Hua, namun tak urug itu mau tak mau ia harus segera menemui ayah dari anak didiknya.
Ying Hua berjalan menyusuri koridor istana kediaman raja dengan tenang. Meski begitu, raut gugup tak bisa tersembunyikan. Detak jantung gadis itu terasa berpacu. Bukan karena ia tengah jatuh cinta, melainkan karena takut akan sosok yang akan di layaninya selama tiga bulan ini. Dia lebih memilih bertarung puluhan preman dari pada harus berurusan dengan penguasa kerajaan ini.
Langkah kaki Ying Hua terhenti di depan pintu ganda berhiaskan ukiran elang yang indah. Dua penjaga ada di depan pintu. Salah satu dari mereka mengetuk, memberitahu sang empunya kediaman jika ada tamu yang tengah di tunggunya.
Ying Hua mulai melangkah masuk saat pintu itu terbuka karena sahutan seseorang dari dalam. Setelah sampai di dalam, ia dengan segera langsung menekuk lutut dalamnya sedikit dengan kedua tangan yang berada di depan perut. Memberi salam ala putri bangsawan dan bukan seorang pendekar. Pakaian yang tengah di kenakannya saat ini seolah mengatakan jika dirinya seorang putri dan bukannya pendekar.
Zhuo Zu yang tengah duduk di depan meja kerjanya segera mendongak menatap Ying Hua yang memberi salam. Seketika dirinya terpaku, menatap penampilan Ying Hua yang berbeda dari biasanya. Ia berdeham sejenak, entah kenapa tenggorokanya sedikit kering.
"Buatkan aku teh." Ucap Zhuo Zu datar, ia kembali menggeluti perkamen dan kertas yang terjejer di hadapannya.
Ying Hua mengangguk patuh, kemudian ia kembali keluar dari sana. Menuju dapur istana untuk membuatkan sang raja teh sesuai dengan pesanannya. Setelah selesai, dirinya lekas kembali ke kediaman pribadi sang raja.
"Ini, yang mulia." Ying Hua mengangsurkan tehnya. Dengan sopan dan kehati-hatian. Takut jika halnya berbuat sedikit kesalahan, kepala melayang.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu." Zhuo Zu melirik sekilas Ying Hua yang berlutut agak jauh darinya, "Kenapa Hong Hui memanggilmu, Ibu?" Tanyanya setelah rasa penasaran itu sudah tak tertahankan.
Ying Hua menunduk dalam, "Hamba tidak tahu, Yang Mulia. Pangeran Hong Hui mulai memanggilku seperti itu saat pertama kali hamba mengajaknya untuk berlatih bersama."
"Dimana kalian berlatih?"
"Hutan bagian timur sebelah Utara. Tepi danau yang menjadi pusat mata air." Jawab Ying Hua.
"Hong Hui juga mengatakan kau juga menyelamatkannya dari pembunuh bayaran, apa benar?"
Ying Hua kembali mengangguk patuh, "Itu kali pertama hamba bertemu dengan pangeran Hong Hui."
"Lalu, kata Hong Hui lagi, kau yang membantu para tabib mememukan obat penawar racun dan ikut merawatku meski hanya sebentar."
Lagi-lagi Ying Hua mengangguk, "Benar yang mulia."
Zhuo Zu mengambil nafas dalam, "Siapa namamu?"
"Ying Hua yang mulia."
Zhuo Zu mengangguk mengiyakan, "Tugasmu tiga bulan ini. Mengawalku kemana saja, dan menyiapkan segala keinginanku. Tidak ada bantahan, tidak ada penolakan. Melanggar, hukuman gantung." Jelas Zhuo Zu.
Ying Hua menelan kering, terkejut dengan suara datar yang begitu terdengar menakutkan. Sebisa mungkin ia menahan rasa takutnya dan mencoba untuk bersikap dewasa.
"Baik yang mulia."
"Tugas pertama selesai," Zhuo Zu mengangkat cawan teh buatan Ying Hua dan meminumnya pelan. Menikmati rasa yang menjalar ke tenggorokannya, "Yang kedua." Sorot mata Zhuo Zu meninggalkan perkamennya dan menatap mata hitam Ying Hua langsung.
"Siapkan air mandi untukku sekarang." Katanya tanpa ragu-ragu, "Dan kau bertugas menggosok punggungku!”
Ying Hua menganga tak percaya mendengar hal itu. Namun sebisa mungkin ia memyembunyikannya. Dengan patuh, ia mengangguk dan kemudian berdiri. Memberi salam dengan ala putri lalu bergegas pergi. Membiarkan Zhuo Zu terdiam dengan kesendiriannya lagi.
~•••••~
Di padepokan Daun. Ming yu dan Xi Feng merenung di pinggir arena latihan para murid. Keduanya kini tengah berdiam diri dengan tatapan yang menerawang kedepan. Satu berpangku tangan dan satu menyandar di pohon dengan tangan terlipat di belakang.
"Menjalankan misi tanpa kak Ying Hua sangat tidak menyenangkan. Rasanya hambar." gerutu Xi Feng. Diantara yang lain, memang dirinya yang paling dekat dengan Ying Hua.
Mng Yu berdeham membenarkan, otaknya kini berputar mengulang misi terakhirnya dengan Ying Hua, "Tidak ada yang bisa sehati menjalankan misi denganku lagi."
"Kenapa paman guru tega ya mengusir kak Ying Hua. Padahal dia juga anak kandungnya." Xi Feng mengerucutkan bibirnya, "Sekarang kak Ying Hua tinggal dimana?"
"Kau sendiri tahu jika paman guru sedari dulu memang sangat membenci Ying Hua. Jadi tidak heran kalau dia mengusirnya. Yang mengherankan adalah dia bisa memaafkan Ying Hua setelah kesalahan itu." kata Ming Yu.
Tatapan Xi Feng beralih pada dua sosok yang kini tengah duduk di teras padepokan. Terlihat sedang berbincang-bincang, "Lihat mereka, sama sekali tak merasa bersalah dengan kak Ying Hua." ia berujar sinis, dagunya mengendik menunjuk dua orang tersebut.
Ming Yu mengikuti arah yang di tunjuk Xi Feng, "Percuma kau mengumpati mereka, tak ada gunanya. Lebih baik kita mencari Ying Hua diam-diam."
"Bagaimana jika paman guru tahu? Nyawa kita taruhannya tahu!"
Ming Yu berdecak, "Itulah sebabnya aku berkata diam-diam bodoh, jangan sampai ada yang tahu!," Ming Yu berdiri, ia menepuk pantatnya yang terkena debu tanah, "Ayo!"
Xi Feng ikut beranjak, melakukan hal yang sama seperti Ming Yu, kemudian dua orang itu pergi dari sana. Berjalan meninggalkan arena latihan dan melangkah ke arah kuda mereka.