Ying Hua tersenyum samar, dirinya yang duduk di gazebo pinggir arena latihan menyandarkan diri di tiang gazebo. Kedua matanya tampak awas menatap Hong Hui yang tengah berlatih bersama panglima Chen. Meneliti setiap gerakan yang ia peragakan dan di tiru oleh muridnya itu.
Ia mendengkus samar saat menangkap seringai nakal di bibir bocah itu. Dirinya baru saja bisa memukul perut panglima Chen, dan hal itu membuat si pangeran memamerkan seringai mengejeknya. Tak tahan, dirinya beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka berdua.
"Istirahatlah panglima, biar aku yang melatihnya." Katanya sopan, sebelumnya ia mengangguk dengan kedua tangan bertaut di depan wajah, memberi salam.
Panglima Chen menatap Ying Hua sejenak, kemudian ia menatap Pangeran Hong Hui. Mendapat anggukan dari sang pangeran, panglima Chen lantas segera undur diri.
Ying Hua mengambil pedang kayu yang tersemat di salah satu patung prajurit dan menyandarkan pedang miliknya di sana. Kemudian ia berjalan mendekati pangeran Hong Hui. Tersenyum samar sejenak, kemudian ia berbalik.
"Perhatikan baik-baik." Katanya sembari mengambil kuda-kuda.
Tatapan Ying Hua sedikit tajam. Dirinya fokus memperagakan beberapa gerakan pedang yang belum ia ajarkan pada Hong Hui. Gerakannya yang lincah dan cekatan membuat Shu dan Jie yang melihat di pinggir gazebo berdecak kagum. Bahkan mereka sampai tak sadar saat Huo Ying dan Yang Mulia telah tiba di samping mereka.
"Oh, yang mulia.." mereka baru memberi salam setelah Huo Ying menyenggol lengan Shu.
Zhuo Zu tak menjawab. Matanya kini terus terfokus pada Ying Hua yang tengah berlatih bersama putranya. Tatapan matanya begitu tajam melihat semua gerak yang di peragakan oleh Ying Hua. Gadis itu begitu lihai, ia memainkan pedang seolah tengah memainkan seutas tali tari.
Hong Hui sendiri juga tak menyadari keberadaan ayahnya yang sedang ingin berlatih juga. Kedua hazelnya sibuk melihat semua gerakan dari gurunya. Sebisa mungkin ia mengingat semua gerakan itu. Tak sedikitpun ia berkeinginan melewatkan semua gerakan tersebut.
Ying Hua menyelesaikan gerakannya. Kemudian ia menatap Hong Hui, bersedekap d**a, dirinya menyuruh tanpa kata Hong Hui untuk mengulang semua gerakan yang ia peragakan tadi. Dirinya segera menyingkir ke arah dimana pedangnya di letakkan.
"Kenapa perempuan itu ada disini?" tanya Zhuo Zu datar pada Huo Ying. Kedua matanya terfokus pada anaknya yang meniru gerakan Ying Hua tadi.
"Mohon ampun yang mulia, beberapa hari yang lalu setelah anda pergi, pangeran Hong Hui menyuruh nona Ying Hua untuk tinggal di istana dan menjadikannya sebagai pengawal sekaligus guru. Sebelum ini, mereka memang sering bertemu di luar istana dan nona Ying Hua melatih pangeran Hong Hui." jawab Huo Ying sopan.
"Bukankah dia perempuan yang ku selamatkan waktu itu?"
Huo Ying mengangguk, "Benar yang mulia, belum lama ini, ketika anda terkena racun dialah orang yang menyelamatkan anda. Dia membantu mengeluarkan racun yang bersarang di tubuh anda dan membuatkan penawar racunnya."
Zhuo Zu kembali terdiam, ia melirik Huo Ying sejenak, sebelum kemudian mengangkat pedangnya dan meloncat memasuki arena latihan dan menyerang Ying Hua.
Ying Hua terkesiap, dengan cekatan ia menghindar. Menyaut pedangnya yang ia sandarkan dan kemudian mulai menampik semua serangan dadakan yang ia terima. Wajahnya masih memancarkan raut terkejut, namun ia bisa menguasai situasi hingga dirinya bisa mengimbangi lawan meski sedikit kepayahan.
Hong Hui sendiri tak kalah terkejut dengan segera berhenti dan keluar arena. Terlebih saat menyadari jika yang menyerang gurunya adalah sang ayah. Dia hendak ikut membantu Ying Hua, namun dirinya di tahan oleh Huo Ying.
"Tak perlu khawatir, pangeran. Yang mulia hanya sedang ingin menguji sekaligus berlatih." kata Huo Ying kalem.
Perlahan, bahu Hong Hui yang menegang mulai melemas. Wajahnya pun ikut mulai tenang dan tak setegang tadi. Kini dirinya mulai santai mengikuti pertarungan antara gurunya dan sang ayah.
'kalahkan pria arogan itu, ibu.' bisiknya dalam hati.
Ying Hua merasa kewalahan. Tekanan demi tekanan pedang yang mengarah padanya tidak main-main. Sekali saja ia lengah, pedang yang mengkilat tajam itu bisa saja menebas leher dan bagian tubuhnya. Pria yang menyerangnya seolah melawannya dengan aura membunuh.
Ying Hua melompat, berbalik dan mengayunkan pedangnya ke leher lawan. Namun dengan mudah di tangkis oleh sang lawan. Kemudian ia melayangkan pukulan, dan berhasil di hindari oleh lawannya. Setelahnya dirinya merendahkan badan saat pedang dari lawan berniat menusuk dadanya. Memutar badan lagi saat dirinya sudah berdiri tegak dan pedang lawan mengarah pada lehernya. Namun, ketika dirinya berputar, sebuah kerikil cukup besar terpijak oleh kakinya, membuatnya kehilangan keseimbangan dan membuatnya terjatuh.
Zhuo Zu yang melihat itu secara spontan melepaskan pedangnya. Tangannya terulur menangkap tubuh Ying Hua yang limbung. Membuat gadis itu gagal jatuh ke tanah dan beralih jatuh ke dekapan tubuhnya. Mata mereka langsung bertaut, menatap satu sama lain dan seolah saling menyelami. Tak berniat sedikit pun mereka mengakhiri acara bertatapan itu. Angin berhembus, menerbangkan poni Ying Hua dan rambut panjang Zhuo Zu yang terikat setengah.
"Ibu, apa kau baik-baik saja?"
Suara Hong Hui menyentak mereka. Membuat Ying Hua dan Zhuo Zu melepaskan diri masing-masing. Ying Hua yang sadar langsung membungkuk ala pendekar memberi salam pada Zhuo Zu. Ia berdeham sejenak, menetralisir rasa aneh yang tiba-tiba hinggap.
"Aku baik-baik saja pangeran."
Zhuo Zu kembali menautkan tangannya di belakang punggung, kemudian tanpa kata ia berbalik meninggalkan arena latihan. Berjalan dengan tenang dan seolah tak terjadi apapun dan bahkan tanpa rasa bersalah karena menyerang dadakan Ying Hua.
Ying Hua yang menatap punggung yang mulia menjauh sedikit mengernyitkan dahinya. Kemudian ia menghela nafas lelah, hampir saja hidupnya di pertaruhkan dalam serangan dadakan dari penguasa kerajaan itu.
"Sebaiknya ibu istirahat, kelihatannya ibu lelah." kata Hong Hui, dirinya sedikit meringis saat melihat peluh membasahi wajah gurunya tersebut.
Ying Hua tersenyum, kemudian mengacak gemas rambut Hong Hui yang mulai memanjang, "Kau juga. Jangan hanya keluyuran di luar." ucapnya. Kemudian ia membungkuk memberi salam. Membuat Hong Hui cemberut pasalnya, semenjak gurunya itu tinggal di istana, dia menjadi sedikit formal padanya. Dan ia tak suka.
Ying Hua segera beranjak dari sana setelah itu. Dirinya berjalan menuju kamarnya dengan langkah tenang. Dan saat dirinya sudah sampai di kamarnya, ia mendudukkan diri di kunsen jendela. Menatap halaman luar istana seraya merenung. Berdiam diri memikirkan kehidupannya kini.
Sudah tiga hari dirinya disini. Menjadi pengawal sekaligus guru dari calon penerus. Hidupnya disini tak jauh berbeda dengan di padepokan. Ada yang suka dengan dirinya dan ada yang tidak. Meski begitu, disini dirinya lebih merasa baik dari pada tinggal di padepokan. Meskipun banyak sekali marabahaya di sekitarnya saat ini.
Ying Hua kembali menghela, air matanya tanpa di minta menerobos keluar. Ingatannya kembali memutar kejadian-kejadian terakhirnya tinggal di padepokan. Tentang ayahnya, Guo Zhi, dan kakak tirinya. Membuat hatinya kembali terasa teriris.
"Setidaknya kau tidak melihat air mata mereka lagi, Ying Hua." gumamnya menyemangati diri sendiri. Menghela nafas lagi, Ying Hua turun dari kusen pintu dan menuju ranjangnya. Dirinya berniat istirahat untuk sejenak di siang hari.
~•••••~
Malam hari menyambut. Suara serangga malam mulai bersahutan. Zhuo Zu disana, berdiri menatap hamparan luas bintang dari teras kediamannya. Wajahnya tampak tenang, dengan kedua tangan bertaut di belakang seperti biasanya.
Ingatannya kembali memutar kenangan sebelum lima tahun yang lalu. Dimana dirinya biasa melihat hamparan indah bintang dengan orang yang di cintainya sejak usia belia. Wanita cantik berhati lembut yang tak pernah bisa di lupakannya. Seorang yang merenggut dunianya dengan cara yang kejam. Membuatnya menyalahkan diri sendiri. Bahkan hingga saat ini.
Ia memejamkan matanya ketika angin berhembus pelan. Sosok dengan senyum hangat nan lembut muncul dalam benaknya. Wanita itu tersenyum lebar, menimang seorang bayi mungil yang sama tampannya dengan dirinya. Tertawa merdu ketika si buah hati baru saja ia lahirkan dan kini tengah menyusu padanya. Raut kesakitan tak lagi tersemat di wajah itu setelah si mungil keluar. Kini hanya ada raut lega dan bahagia di wajah ayunya.
"Kau ingin menamainya siapa?" tanya Zhuo Zu dengan nada penuh kelembutan, di usapnya penuh sayang sisa peluh yang di keluarkan sang wanita ketika melahirkan.
"Anda tidak ingin memberikannya nama?" suara itu mengalun merdu, meski sedikit lirih karena rasa lelahnya.
Zhuo Zu menggeleng pelan, "Kau saja, berikan nama yang indah untuk si tampan ini." ia meraih tangan mungil si buah hati dan menainkannya dengan jari tekunjuk.
"Hem.." wanita itu tampak berfikir, "Bagaimana dengan Hong Hui?" tanyanya.
"Hong Hui?"
"Ya, Hong Hui. Hong Hui Renshu. Yang artinya adalah kemuliaan besar yang memiliki kesabaran. Jika dirinya kelak menjadi seorang raja, aku berharap dia memiliki kemuliaan dan kesabaran seperti namanya." jelas wanita itu dengan senyum yang lebar. Dan senyum itupun menular pada Zhuo Zu.
"Hong Hui, Hong Hui Renshu. Namamu sekarang adalah Hong Hui Renshu." bisik Zhuo Zu sembari mencium puncak kepala si mungil dan di lanjut dengan si wanita.
Zhuo Zu tersentak dari ingatannya. Ia menghela nafas lelah. Kedua matanya kembali menatap langit malam setelah sedikit lama terpejam dan membayangkan ingatan sembilan tahun lalu ketika Hong Hui di lahirkan. Ia tercenung, secepat itukah waktu berjalan. Dirinya bahkan tidak sadar jika sang putra sudah semakin beranjak dewasa.
Ingatan Zhuo Zu kini beralih memikirkan sosok putranya. Putra yang ia acuhkan selama lima tahun terakhir karena rasa bersalah dan kesedihannya.
Otaknya kembali memutar kejadian beberapa hari yang lalu. Dimana Hong Hui yang dengan lantang menantangnya. Hanya demi seorang perempuan yang di panggilnya dengan sebutan Ibu. Sebutan yang sakral dan tak sembarang orang bisa mendapatkan panggilan itu dari sosok Hong Hui yang sikapnya tak jauh berbeda darinya. Bahkan, dengan dua istrinya yang masih hidup saat ini, putranya itu tak pernah sudi untuk memanggil mereka ibu.
Gadis bermata kelam itu. Tiba-tiba memenuhi isi kepala Zhuo Zu. Dirinya sebenarnya cukup penasaran dengan gadis yang katanya pernah menolongnya dari maut tersebut. Dirinya ingin tahu alasan kenapa sang putra menyebut orang asing itu dengan sebutan Ibu. Terlebih, melihat keakraban sang putra pada gadis itu seperti dirinya melihat keakraban Hong Hui dengan ibu kandungnya.
Lamunan Zhuo Zu terhenyak kala ia merasakan tarikan dari jubahnya. Ia berbalik, menatap sang pelaku yang ternyata adalah putranya sendiri. Dengan wajah yang sama datar dengan dirinya, putranya itu menatap Zhuo Zu dengan bola mata hazel yang sedikit menuntut.
Sedikit lama mereka saling diam dan hanya menatap. Membuat keduanya merasa canggung. Sudah sangat lama mereka tak berinteraksi tanpa adanya hal yang mendesak seperti kemarin. Dan itu membuat Hong Hui maupun Zhuo Zu sama-sama merasa tak nyaman.
"Saya hanya ingin minta maaf pada anda." Hong Hui akhirnya bersuara. Tatapan matanya kali ini mengarah pada lantai, "Tak seharusnya saya berkata kasar bahkan mengancam anda." imbuhnya.
Zhuo Zu kembali terhenyak, mendengar penuturan putranya walau dengan nada suara yang datar, entah kenapa membuat sudut hatinya yang terdalam sedikit tergerak. Wajah datar yang sama persis dengan miliknya itu terpancar sendu meski samar.
Hong Hui masih terdiam, hatinya begitu kalut. Dengan sekuat hati ia menekan rasa sesak yang sebenarnya ingin ia tumpahkan. Terlalu lama memendam rasa rindu pada sosok sang ayah yang dulu, membuat pangeran kecil itu terlalu takut. Takut jika ayahnya memang benar-benar sudah tak memperdulikannya.
Tangan Zhuo Zu terulur, membelai pucuk kepala sang putra dengan lembut. Meski wajahnya kini juga tetap datar, namun perlakuan itu membuat Hong Hui kaget dan senang bukan main. Bahkan bocah itu sampai menitikkan air matanya.
"Tidurlah, sudah malam." kata Zhuo Zu datar dan lirih. Kemudian ia beranjak pergi dari sana. Namun panggilan dari putranya membuatnya kembali berhenti.
"Aku ingin tidur dengan ayahanda." kata Hong Hui susah payah, ia menelan kering, sedikit takut mengungkapkan, "Seperti dulu."
Zhuo Zu tercenung, ia terdiam sejenak. Sebelum kemudian mengambil nafas pelan dan menoleh pada anaknya lewat bahu. Sebelah tangannya terayun, menyuruh sang putra untuk ikut dengannya. Dan membuat sinar buah hatinya itu berbinar senang.
Dengan perasaan senang bukan main, Pangeran Hong Hui segera bergegas menyusul ayahnya. Wajah datarnya kini tampak sumringah. Terlebih saat salah satu tangannya di genggam oleh sang ayah. Rasa bahagianya kembali memuncak. Tak ayal, ketika dirinya menoleh kebelakang, ia mengacungkan jempolnya dan mengedipkan sebelah mata. Membuat seseorang yang sedari tadi bersembunyi di balik pilar dan bersandar seraya bersedekap terkekeh samar. Ikut merasakan yang di sarakan oleh pangeran Hong Hui.