Hong Hui menyandarkan diri di sandaran gazebo pinggir area latihan. Peluh menetes di pelipisnya. Raut tenangnya tak menyembunyikan deru napas nya yang terengah. Pangeran kecil itu baru saja selesai berlatih. Dan kini tengah beristirahat sembari merasakan angin yang bersemilir sejuk.
Hari dimana pengangkatan selir kesekian ayahandanya, Pangeran Hong Hui memilih untuk tidak hadir. Persetan dengan semua acara. Ia tengah marah. Kecewa dengan sikap ayahnya yang hanya mampu mengikuti struktur kerajaan. Jika seperti ini, dia bersumpah tidak ingin menjadi seorang penerus. Tak cukupkah istri ayahnya? Apakah ayahnya memang ingin mencari pelampiasan kesedihannya? Tak tahukah jika bukan hanya dia yang bersedih atas permaisuri pertama?
Larut dalam lamunannya, Hong Hui menggelengkan kepalanya pelan setelah sadar. Memejamkan mata guna menyingkirkan keresahan hatinya yang sempat hinggap. Berbisik jika itu sudah berlalu dan ia bisa hidup lebih baik. Ada seseorang yang menjadi sandarannya saat ini. Ia tak perlu lagi bersusah hati.
Mata Hong Hui terbuka saat mendengar sedikit keributan. Ia menoleh, lalu bangkit dari duduknya. Berjalan mendekat ke arah prajurit yang berjaga dan terlihat tengah berbincang.
"Apa kita akan kesana juga? Di aula depan terjadi keributan. Wanita itu benar-benar mencari mati."
"Sayang sekali, padahal dia sangat cantik. Rambut legamnya yang berkilau terlihat sangat indah."
"Darimana kau tahu dia sangat cantik?"
"Sebelum kemari aku sempat kesana untuk melihat. Wanita itu benar-benar cantik."
Hong Hui terdiam, ia yang bersembunyi di balik pilar terpengkur sejenak. Kata-kata rambut legam berkilau dan wanita cantik berputar di kepalanya. Sosok Ying Hua langsung melintas di pikirannya. Aneh memang, padahal banyak wanita yang mempunyai rambut serupa. Tapi kenapa pikiran Hong Hui menuju sosok gurunya tersebut? Ia mengernyit, ada apa gurunya itu datang dan membuat keributan? Hal itu sangat mustahil. Gurunya bukanlah tipe orang yang bertindak ceroboh.
Namun, mendengar perbincangan dua prajurit yang tengah berjaga. Membuat Hong Hui merasa penasaran jua. Ia memantapkan keputusannya. Kemudian berlari pergi ke arah tempat yang di sebutkan oleh dua prajurit tadi. Gemuruh di dadanya tiba-tiba berpacu cepat seiring langkah larinya.
Pangeran Hong Hui menghentikan langkah kakinya saat berada di ujung halaman. Napasnya terengah. Matanya menyorot sosok yang berdiri dengan pedang di lehernya. Dia benar-benar gurunya. Sandaran nya. Ibu yang selalu ia harapkan. Dan jantungnya berhenti saat melihat kilatan pedang yang hampir melayang menebas leher Ying Hua.
Hong Hui berlari, menyahut panah dari prajurit di sampingnya. Membuat prajurit itu terkejut. Namun teriakan prajurit terhenti karena tendangan kuat darinya. Ia berlari, terus berlari sekuat tenaga. Dan disaat sudah berada dalam jangkauan kekuatan panahnya. Ia menarik tali busur kuat-kuat. Melepaskannya dengan cekatan. Dan meski panahnya meleset, dia bisa melukai dan menggagalkan pria asing yang hendak membunuh gurunya.
"JANGAN MENYENTUH IBUKU!!" Ia berteriak sekeras mungkin. Tatapan matanya tajam. Mimik wajahnya tak terbaca. Napasnya terengah. Ketakutan menjalar di tubuhnya.
Keadaan menghening, semua pasang mata kini mengarah pada sosok yang baru saja berteriak dengan lantang dan tegas. Terkesan ada nada dingin dan penuh ancaman di dalamnya. Mereka terpaku, terkejut dengan kehadiran seseorang tersebut.
"Pangeran Hong Hui." Bisik sang permaisuri yang berdiri di samping yang Mulia Zhuo Zu. Kedua matanya terbelalak terkejut. Kemudian ia tersentak kecil, lalu menggulirkan matanya menatap sosok yang di selamatkan oleh putra mendiang permaisuri pertama. Untuk sejenak, dirinya merasa terpaku di tempat kala mengingat sesuatu.
Tak jauh berbeda dengan yang permaisuri, semua yang hadir disana juga sama terkejutnya. Berbagai ekspresi yang berbeda tersirat di raut wajah mereka. Mereka menatap pangeran kerajaan Anming itu dengan pandangan yang macam-macam.
Ying Hua sendiri langsung menoleh ke sumber suara. Napasnya tercekat kala melihat penampilan anak didiknya itu. Napas terengah, dengan peluh yang semakin membanjiri tubuhnya. Raut wajah tampannya tampak terlihat sangat khawatir sekaligus takut. Kedua tangannya sedikit gemetar dan tak bisa ia sembunyikan. Pakaiannya pun terlihat sedikit kusut karena mungkin pergerakan dari bocah itu tadi.
Hong Hui segera membuang busur panah yang di rampasnya tadi pada salah satu prajurit. Kemudian ia berlari ke arah Ying Hua dan berdiri di depan gurunya itu, membelakanginya, ia pun langsung menatap sengit ke arah pria yang hendak membunuh Ying Hua.
"Sebaiknya anda tidak ikut campur urusan kami pangeran." Ucap Hui Zhong sopan, dirinya berkata tenang dan berhasil mengendalikan emosinya.
"Dan membuatmu membunuh ibu?" Sengit pangeran Hong Hui, ia menarik pedangnya dan mengacungkannya ke arah Hui Zhong, "Langkahi dulu mayatku!"
Semua menahan napas saat mendengar ucapan terakhir sang pangeran. Tak menduga sama sekali dengan tingkah pangeran kecil itu.
Ying Hua yang mendengar itu mencoba menarik bahu pangeran Hong Hui. Meminta tanpa kata pada muridnya untuk menyingkir dari sana. Dirinya tidak ingin anak didiknya itu menjadi sasaran kemarahan ayahnya dan membuat keadaan semakin runyam.
"Hong Hui." Panggil Ying Hua pelan, "Pergilah dari sini." Ucapnya lirih mencoba untuk membujuk.
"Dan membiarkan dirimu mati di tangan pria itu?" Hong Hui menjawab tanpa menoleh sedikitpun pada Ying Hua, kedua mata beningnya tetap setia menatap lurus pria paruh baya yang hendak membunuh gurunya, "Jangan berharap, ibu."
Ying Hua menghela nafas samar, dirinya bingung sekarang. Di alihkannya kedua manik indahnya menatap sang ayah. Bisa di lihat pria itu kini menatap lurus kearahnya.
"Pangeran Hong Hui, jangan menghalangi tuan Hui Zhong, wanita itu tadi menantang ayahandamu!!" Permaisuri berteriak, meminta putra kandung suaminya untuk pergi dari sana.
Pandangan Hong Hui beralih menatap Permaisuri Fen, "Ibuku pasti mempunyai alasan melakukan itu!" bersikeras membela meski ia tak tahu masalah yang terjadi.
"Dia bukan ibumu, berhentilah memanggilnya ibu!!"
"Dia ibuku, sekali aku memutuskan memanggilnya ibu, dia tetap ibuku!!" Balas Hong Hui tak kalah sengit.
Keadaan semakin tegang. Kehadiran pangeran Hong Hui dan panggilan untuk Ying Hua membuat mereka semua bertanya-tanya.
"Dia berniat jahat untuk membunuh ayahandamu!" Teriak permaisuri lagi, dirinya berusaha membujuk pangeran Hong Hui untuk segera enyah dari sana.
Pangeran Hong Hui mendengkus keras, senyum miring tercipta di bibirnya, "Jika dia memang mempunyai niat membunuh yang mulia, itu sudah dilakukannya ketika Ayah sedang sekarat." Katanya keras namun tenang, "Dia tidak mungkin membantu menyembuhkan ayahanda." Ucapnya membuat Zhuo Zu sedikit terkejut.
"Berani menyentuhnya, kau berurusan denganku!" Peringat Hong Hui saat Hui Zhong melangkah mengambil pedangnya yang terjatuh.
"Saya memberinya dua pilihan pangeran, hidup atau mati. Dan dia memilih mati." Jawab Hui Zhong tenang.
Hong Hui melirik Ying Hua yang masih membisu dengan tubuh tegang, kemudian ia melihat Guo Zhi yang kini menatap Mei Lan dengan pandangan nanar, begitupun sebaliknya. Kemudian ia menatap dua orang yang di dengarnya berteriak menyuruh Ying Hua untuk tidak melakukan hal yang bodoh, dan ia kini bisa menyimpulkan akan sesuatu yang terjadi.
"Ibuku melakulan itu hanya karena tidak ingin putrimu menikah dengan ayahku agar tidak menjadi korban selanjutnya." Kata Hong Hui tegas.
"Putriku bisa menjaga mulutnya jika itu yang anda khawatirkan."
"Lalu bagaimana dengan pria itu?" Pangeran Hong Hui menunjuk Guo Zhi yang babak belur penuh luka, "Jelas-jelas jika putrimu dan dia saling mengasihi!"
Hui Zhong terdiam, ia menatap Guo Zhi kemudian Mei Lan yang tengah menangis diam di samping Han, ayahnya, "Saya hanya melakukan apa yang tertulis dalam kesepakatan."
Hong Hui mendengkus, kemudian ia membalikkan badannya menoleh pada sang ayah. Menatap lurus mata sebening madu yang sama dengannya.
"Yang mulia, hamba ingin anda membatalkan pernikahan ini!" Teriaknya lantang, "Jika anda masih memaksa, saya akan membunuh diri saya sendiri disini!" Imbuhnya dengan meletakkan sebelah pisau miliknya yang tersemat di pinggang.
Semua orang kembali terkejut dengan penuturan itu. Begitupun dengan Ying Hua, dengan segera ia mencoba mengambil pisau tersebut. Namun yang terjadi malah Hong Hui semakin menekan mata pisau itu kelehernya. Membuat lehernya sedikit mengeluarkan darah.
"Jangan bertindak bodoh." Desis Ying Hua pelan.
"Kau juga bertindak bodoh!" Elak Hong Hui acuh tak acuh.
"Kehilangan satu putra tak membuat yang mulia kehilangan pewarisnya pangeran. Asal kau tahu, yang mulia masih bisa memiliki anak melalui para istrinya yang lain. Jangan bertindak ceroboh!" Kata Hui Zhong tenang.
Hong Hui tak menghiraukan, dirinya tetap menatap lurus mata datar sang ayah. Senyum kecil terpatri di bibirnya, "Aku tahu itu, tapi- " Hong Hui mengambil nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan, "Apakah ia rela melihat putra satu-satunya peninggalan permaisuri terdahulu pergi meninggalkannya?" Katanya tenang, namun terdapat nada getir di dalamnya, "Sama persis seperti apa yang dilakukan oleh, ibunda."
Rahang Zhuo Zu mengeras. Kedua tangannya yang ada di belakang tubuhnya mengepal erat. Tatapannya menajam seiring dengan semua ucapan dari anak semata wayangnya dengan permaisuri pertama.
"Bagaimana Yang Mulia, anda ingin melihatnya, lagi?" Tanya Hong Hui dengan suara yang sama.
Keadaan semakin terasa mencekam. Tuan Hui Zhong masih menekan egonya dan Pangeran Hong Hui tak berniatpun mengalah.
Keadaan menghening. Tak ada siapapun yang berani bersuara. Aura dari yang mulia dan sang anak saling bertabrakan dan membuat mereka enggan untuk mengeluarkan suara. Tak ada satupun dari mereka yang mencoba mengalah. Saling menatap dengan ketajaman yang sama.
"Batalkan semuanya." Putus Zhuo Zu setelah lama terdiam. Tatapan matanya tetap mengarah pada putranya, "Berikan emas dan perak untuk mengganti perjanjian yang kau lakukan padanya!" Perintahnya pada Wang.
Hui Zhong tampak tak menerima hal itu, ia menatap Wang, dan Wang yang paham dengan itu lantas menghalangi langkah Zhuo Zu yang hendak pergi dari sana.
"Tapi Yang Mulia, perjanjian itu sudah tertulis di perkamen."
Mata tajam Zhuo Zu langsung menyorot pada Wang. Membuat sang perdana menteri menjadi takut.
"Jika kau tak terima keputusan ini, aku akan menghancurkan padepokan itu dan membantai seluruh keluargamu!" Teriak Zhuo Zu marah, "Atau tidak, nikahkan saja putramu dengan putrinya!" Imbuhnya sebelum pergi dari sana. Di ikuti Huo Ying yang sedari tadi membisu dengan semua kejadian yang terjadi.
Fen yang tampaknya masih geram dengan pangeran Hong Hui lantas juga berlalu dari sana. Diikuti oleh selir Jun Lu dan para dayang-dayang.
Han mengusap lembut kepala cucunya, kemudian ia mengangguk saat mata Mei Lan seolah menyorot minta persetujuannya menghampiri Guo Zhi yang kini terduduk lemas. Para prajurit telah melepaskan pria itu. Dengan segera, gadis itu langsung berlari dan memeluk Guo Zhi.
Sedangkan Hui Zhong, ia menatap marah pada Ying Hua. Kemudian tatapannya jatuh pada Wang yang berjalan mendekat kearahnya.
"Maafkan aku tuan Hui Zhong, kesepakatan yang kita buat tidak bisa terlaksana." Ucapnya penuh rasa bersalah.
"Aku ti-"
"Tidak apa tuan Wang, kami juga minta maaf atas semua kerusuhan yang di perbuat oleh anak didik kami." Han memotong perkataan putranya. Ia tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Dirinya tidak ingin keegoisan putranya menghancurkan padepokan yang di bangun oleh kakek buyutnya.
Wang mengangguk, "Kalau begitu saya permisi, saya akan menyiapkan hadiah seperti yang di perintahkan oleh yang mulia." Setelah itu ia membungkuk sedikit sebelum pergi dari sana.
Han membalas hormat Wang, kemudian ia menatap putranya, "Ini yang terakhir kau membuat masalah dengan Egomu Hui Zhong. Mulai sekarang, padepokan aku yang memegang kembali." Tegas Han, dirinya selama ini terlalu lembut pada putranya itu. Namun kali ini, ia tak akan membiarkannya lagi. Ke egoisan putranya akan menghancurkan semuanya.
Hui Zhong menatap punggung Han yang menghampiri Guo Zhi dan memerintahkan Ming Yu dan Xi Feng yang ada disana untuk memapahnya. Kemudian dirinya menarik lengan putrinya dan mengajaknya pergi dari sana. Setelah itu, kedua mata Hui Zhong kembali menatap Ying Hua yang masih terdiam. Dirinya menghampiri gadis itu, menampar dengan keras hingga sudut bibir Ying Hua berdarah.
"Mulai sekarang, kau bukan lagi murid atau anggota keluarga padepokan Daun. Jangan kau tunjukkan batang hidungmu lagi di hadapanku, jika tidak, aku tak akan bisa menjamin keselamatanmu!" Bentaknya tegas. Kemudian ia mencabut giok tanda pengenal yang tergantung di pinggang Ying Hua. Setelahnya ia pergi dari sana dan meninggalkan Ying Hua sendiri.
Pangeran Hong Hui segera menghampiri Ying Hua. Menarik pelan ujung lengan Ying Hua. Meminta perhatian gadis yang tengah melamun itu. Membuat sang empunya mau tak mau menoleh menatapnya.
"Ibu jangan menangis, kau bisa tinggal di sini bersamaku." Kata Hong Hui datar, meski begitu ia menarik Ying Hua agar berjongkok menyamai tingginya. Mengusap air mata yang mengalir di pipi gurunya itu.
"Aku harus pergi, terima kasih untuk tawarannya." Kata Ying Hua lembut.
"Lalu kau akan tinggal dimana?"
"Dimana pun."
Hong Hui terdiam, kemudian ia berbalik pergi. Membisikkan sesuatu pada Shu yang sedari tadi terdiam di tempat pangeran Hong Hui melemparkan panahnya.
"Pergi saja dari sini, itupun jika ibu bisa keluar dari istana ini." Ucapnya saat ia selesai membisikkan sesuatu pada Shu dan pria itu pergi entah kemana. Setelah itu, ia berjalan menjauh sembari menautkan tangan di belakang punggung. Sama persis seperti yang di lakukan oleh ayahnya.
Ying Hua mendengkus tak percaya. Ia bukanlah orang bodoh yang tak mengerti maksud dari pangeran kecil itu. Ia terkekeh sejenak, ternyata muridnya itu bisa sangat semenyebalkan itu. Setelah beberapa saat kemudian, dua dayang datang menghampiri. Dan mau tak mau Ying Hua mengikuti kemana dayang itu membawanya pergi.
~•••••~
Ying Hua menutup jendela kamar barunya di istana. Kemudian ia menoleh ke arah pintu saat mendengar langkah kaki. Dan tak memakai waktu lama, sosok Hong Hui datang dengan pakaian tidurnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya.
"Apa ibu menyukai kamarnya?" Tanya balik Hong Hui ia mengabaikan pertanyaan dari Ying Hua.
Ying Hua menghela nafas, kemudian ia tersenyum kecil, "Lumayan."
Hong Hui mendudukkan diri di ranjang yang ada di tengah ruangan. Kedua matanya berpendar kepenjuru ruangan. Senyum kecil terbit di bibirnya.
"Lumayan, sama persis." Ungkapnya sedikit puas.
Dahi Ying Hua mengkerut, kemudian ia berjalan menghampiri Hong Hui dan duduk di sebelahnya, "Apanya yang sama persis?"
"Dekorasinya." Kata Hong Hui dengan semangat, "Semua tatanan yang ada disini, persis seperti yang ada di kamar Ibunda."
Sebelah alis Ying Hua terangkat, "Kenapa kau menyuruh para pelayan mendekorasi kamar yang akan aku tinggali seperti kamar permaisuri terdahulu?"
Hong Hui tak langsung menjawab. Dirinya malah naik ke ranjang dan merebahkan diri di sana. Menepuk sisi ranjang yang kosong, "Karena aku ingin dan sedang merindukannya, ayo tidur." Ajaknya kemudian.
Ying Hua mendengkus, merasa lucu dengan alasan dari anak didiknya, "Memangnya kamar permaisuri terdahulu kenapa? Jika kau merindukannya seharusnya tidur disana, bukan?" Ia menatap selidik Hong Hui yang sudah nyaman dengan posisi tidurnya, "Dan bukannya malah mengajak gurumu untuk tidur bersama." Imbuhnya dengan nada sedikit geli disana. Andai saja Hong Hui bukanlah bocah dan sudah berusia remaja mungkin ia akan menendang bocah itu sekarang. Kata-kata ajakan tidurnya terasa menggelitik di telinga Ying Hua.
"Kamar Ibunda sudah milik permaisuri yang sekarang." Jawab Hong Hui enggan, "Cepatlah tidur ibu, besok kita harus latihan bersama."
"Tidak, keluar dan tidur di kamarmu!"
Hong Hui berdecak, ia bangun dan mendudukkan diri di ranjang. Menatap Ying Hua malas. Lalu tanpa banyak bicara lagi, ia menerjang Ying Hua dan membuat Ying Hua jatuh terlentang.
"Kau tidak memperkosaku kan?" Dengus Ying Hua. Ia kini tak bisa bergerak. Tubuhnya di peluk Hong Hui erat-erat.
"Apa-apaan itu, aku masih terlalu kecil untuk melakukan hal tersebut. Jangan mengotori pikiran suciku." Elak Hong Hui.
"Lalu kenapa kau melakukan ini?" Ying Hua sama sekali tak bergerak, meskipun sebenarnya ia bisa saja melepas paksa pelukan itu.
"Sudah jangan banyak bicara ibu, aku mengantuk!"
Ying Hua mendengkus, "Bilang saja kau ingin tidur denganku."
"Nah itu sudah paham."
Ying Hua tergelak, merasa gemas dengan sikap malu dan pemaksa anak didiknya. Ia melepaskan paksa sebelah tangannya dari pelukan erat itu. Kemudian menarik hidung mancung Hong Hui.
"Dasar!" Gerutunya.
Hong Hui mengaduh, ia melepaskan pelukanya dan mengusap hidungnya yang memerah. Wajahnya tampak cemberut. Sebuah ekspresi yang sangat jarang sekali ia keluarkan.
Ying Hua mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya pelan, kini ia meraih tubuh Hong Hui dan mengusap kepala bocah itu sayang. Tatapan matanya menerawang melihat kelambu yang menggantung di atas.
"Bagaimana lukamu?" tanya Ying Hua dalam keheningan kamar.
"Sudah ku obati," sebelah tangan Hong Hui mengusap leher nya yang di balut kain putih, "Aku sangat mengantuk." Lirihnya.
"Tidurlah." Bisik Ying Hua lembut.
Hong Hui kembali melingkarkan tangannya di perut Ying Hua. Kepalanya kini berbantalkan lengan Ying Hua yang mengelus kepalanya pelan dan lembut.
"Selamat malam, ibu." Ucapnya riang.
"Selamat malam." Jawab Ying Hua dengan senyum tipis di bibirnya.