Mei Lan memandang pantulan wajahnya di cermin. Dirinya kini tengah di rias oleh para pelayan perdana Menteri. Mempersiapkan diri untuk acara penyambutan dan pengesahannya sebagai selir keenam.
Wajah ayunya tampak memancarkan kesedihan. Dirinya tak bahagia, dan rasa takut malah mendominasi dirinya. Tentang bagaimana sikap yang mulia selama ini, hal tersebut membuatnya was-was. Dan bayangan sosok yang sangat di cintainya, membuatnya semakin berat menerima takdirnya.
Dirinya kini tengah berada di kediaman perdana Menteri. Mempersiapkan segala keperluannya sebelum ia datang ke istana. Kemarin saat ia pergi dari padepokan, ternyata dirinya tak langsung menuju istana dan ia bermalam di kediaman perdana Menteri.
"Nona, sudah selesai." Ucap pelayan yang sedari tadi merias dirinya. Ia hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Tak lama dari itu, muncul istri tuan Wang, wanita itu tersenyum dan menatap Mei Lan puas.
"Mari ke ruang depan dan menunggu ayah beserta kakekmu datang."
Mei Lan segera berdiri, lalu tanpa banyak kata dirinya segera menghampiri istri perdana Menteri dan mengikuti kemana langkah wanita itu.
Di padepokan..
Ying Hua tengah memakan santai makanannya di dalam kamar. Dirinya kini tengah berbincang dengan Xi Feng. Remaja itu tadi menghampiri kamarnya dan membawakan makanan karena tadi ia melewatkan sarapan dan makan siang.
"Paman dan Kakek guru sudah berangkat subuh tadi, mungkin sekarang mereka sudah tiba di kediaman Perdana Menteri."
Ying Hua tak menjawab, namun ia mendengarkannya dengan seksama.
"Setelah mereka tiba di kediaman Perdana Menteri, kata paman ketika aku mendengar perbincangannya dengan kakek guru, mereka akan segera ke istana untuk penyambutan dan pelantikan kakak Mei Lan sebagai selir raja." Lanjut Xi Feng, kedua matanya menatap seksama raut wajah Ying Hua. Namun gadis itu hanya menampilkan raut tenang seperti biasa.
Sedangkan Ying Hua, ia lagi-lagi tak menjawab. Saat ini ia fokus pada makanan yang di bawakan oleh Xi Feng tadi. Ingin segera menghabiskannya sebelum suasana hatinya memburuk.
"Kak Ying Hua.."
Ying Hua akhirnya menghela nafas samar dan menatap Xi Feng yang tadi memanggilnya dengan intonasi lirih. Ia meraih gelas bambu dan segera meminum air yang ada di dalamnya.
"Kau ingin aku melakukan apa Xi Feng?" Tanyanya langsung.
Xi Feng menggeleng, "Aku tidak ingin dirimu melakukan apapun kak. Aku.."
"Katakan."
"Aku hanya ingin kau melepaskan topengmu." Lirih Xi Feng.
"Aku sedang tidak menari Xi Feng."
"Kak Ying Hua.." protes Xi Feng, "Berhentilah sok tak peduli dan tegar." Imbuhnya frustasi, ia sudah lelah menghadapi semua sikap palsu kakaknya yang satu ini.
Ying Hua terdiam, kemudian tangannya terulur menggapai kepala Xi Feng. Mengusapnya pelan penuh kasih sayang. Memang, diantara semua makhluk di padepokan, hanya Xi Feng dan Ming Yu yang dirasanya tulus dengan dirinya.
"Aku tahu kau khawatir. Tapi tenanglah, aku baik-baik saja." Ucapnya lembut.
Xi Feng mendengkus, ia menampik pelan tangan Ying Hua yang mengacak-acak rambutnya. Ia cukup lelah menghadapi sikap kakaknya yang satu ini.
Pura-pura baik-baik saja namun nyatanya berbanding balik.
"Aku tahu kak Ying Hua sekarang tengah menghawatirkan kak Guo Zhi kan?" Tanya Xi Feng membuat senyum kecil Ying Hua hilang, "Berhentilah menyiksa dirimu dengan memikirkan pria tak tahu diri itu." Kesalnya.
Ying Hua terdiam, senyum kecut kini menghiasi bibirnya, "Andai aku bisa." Jawabnya membuat Xi Feng merasa bersalah.
"Sudahlah, lupakan. Jangan bahas masalah ini lagi."
Ying Hua mengangkat sebelah alisnya, kini raut wajahnya sudah seperti semula. Siapa yang mulai membahas, siapa pula yang menghentikan?
Keadaan hening setelah itu. Xi Feng kembali memakan makanannya yang tadi ia biarkan. Sedangkan Ying Hua, ia kini membersihkan pedang kesayangannya. Dirinya sudah selesai makan.
Tak lama dari itu, pintu kamar Ying Hua terbuka. Dan muncullah sosok Ming Yu yang datang dengan nafas terengah-engah dan penampilan sedikit kacau. Luka sayatan terdapat di salah satu pipi pria itu dan mengeluarkan darah yang mengering. Bisa di pastikan, jika ia baru saja bertarung beberapa saat yang lalu.
"Ming Yu." Jawab Ying Hua dan Xi Feng bersamaan. Mereka berdua berdiri karena terkejut melihat keadaan Ming Yu.
"Apa yang terjadi? Bukankah kau di suruh paman menjaga kamar kak Guo Zhi? Kenapa kemari?" Berondong Xi Feng.
Ming Yu mencoba menyetabilkan nafasnya, "Itu dia."
"Itu dia kenapa?" Tanya Ying Hua dengan dahi berkerut.
"Kak Guo Zhi." Ming Yu terengah-engah, "Kak Guo Zhi kabur, ia menuju ke istana sekarang."
"Apa?!" Ying Hua terkejut. Dengan segera ia mengambil pedangnya dan menyarungkannya pada sarung pedang. Ia berjalan ke arah gantungan dekat ranjang, mengambil tudung bambu dengan penutup kain putih.
"Kau mau kemana?" Tanya Ming Yu, sedangkan Xi Feng yang masih terkejut dan belum menguasai situasi perlahan menatap Ying Hua.
Ying Hua memakai tudung kepalanya, "Menyusul kak Guo Zhi."
Dengan segera Ming Yu menyekal tangan Ying Hua, "Tidak. Maksudku percuma." Ming Yu menatap Xi Feng sejenak. Dan remaja itu menghampirinya, "Kak Guo Zhi sudah pergi dari pagi tadi."
Ying Hua terlihat murka, "Kenapa baru datang kemari?"
"Aku baru saja sadar dari pingsan dan langsung kemari." Ming Yu menjawab tak terima, "Tak ada gunanya kau kesana. Semua pasti sudah terlambat mengingat bagaimana kejamnya paman."
Ying Hua menyentak tangan Ming Yu, membuat pergelangan tangannya yang di cekal pria itu terlepas, "Justru karena itu aku harus segera pergi kesana." Katanya sebelum berlari.
"Ying Hua!!"
"Kak Ying Hua!!"
Ming Yu dan Xi Feng berteriak. Kemudian keduanya mengerang frustasi saat Ying Hua tak mengindahkan teriakan mereka. Mereka mengikuti Ying Hua dari belakang.
Ying Hua langsung naik ke kuda yang di jumpainya pertama kali. Dirinya kemudian menoleh ke belakang.
"Jaga padepokan." ucapnya sebelum kakinya menghentak punggung kuda dan pergi meninggalkan padepokan.
Ming Yu dan Xi Feng terengah menatap punggung Ying Hua yang kian menjauh. Mereka berdua sejenak bertatapan.
"Kita harus segera menyusul Ying Hua, Xi Feng." Ajak Ming Yu.
Xi Feng mengangguk, lalu kemudian keduanya segera berlari ke kuda masing-masing dan menyusul Ying Hua.
Dan di Istana..
Mei Lan menatap nanar pria yang kini terduduk dengan para prajurit yang meletakkan pedang mereka di leher pria tersebut. Tubuh pria itu babak belur, dengan luka yang cukup parah dan mengeluarkan darah. Dirinya hanya bisa terdiam di samping ayahnya yang kini memegang erat salah satu pergelangan tangannya.
Di sebelah Hui Zhong, ada Wang dan para anggota istana yang menyambut kedatangan mereka sebelum Guo Zhi membuat kerusuhan dan berniat membunuh sang raja yang kini menatap Guo Zhi datar tak berminat.
Sedangkan para wanita, menatap kejadian di halaman utama itu dengan perasaan campur aduk. Antara kasihan, panik, dan marah.
Guo Zhi hanya terdiam, tatapan matanya menatap lurus mata Mei Lan. Semua bagian tubuhnya terasa remuk. Napasnya tersengal. Sesekali ia terbatuk dan memuntahkan darah segar.
Sedangkan Han, ia pun juga terdiam karena tak bisa berbuat apa-apa. Semua keputusan kini berada di tangan raja. Terlebih ketika putranya memasrahkan hukuman untuk anak didiknya itu.
"Penggal dia." perintah Zhuo Zu datar dan mutlak.
Para prajurit hendak menusuk Guo Zhi, namun sebelum itu terjadi, kerusuhan kembali terjadi. Kini seseorang datang dengan tudung kepala menutupi wajahnya. Orang itu lantang melompat dari kudanya dan menyerang para prajurit yang sedari tadi mengurung Guo Zhi. Setelah semuanya berhasil di kalahkan. Orang itu menatap lurus kedepan, kearah dimana sang penguasa berada. Tangannya yang memegang pedang teracung kedepan, seolah menantang sang raja.
"Anda bisa memenggal kepalanya setelah bisa membuat saya takluk pada diri anda, Yang mulia!" ucapnya keras dan tegas di halaman utama istana. Membuat semua orang terkesiap dengan keberaniannya. Dan juga membuat seseorang takut dengan tindakannya.
Guo Zhi menatap seseorang yang berdiri membelakanginya itu. Menjadikan tubuhnya tameng. Ia mengenal suara itu, ia tahu siapa pemilik suara yang tegas tersebut. Tak terasa, air matanya tumpah melihat sosok tersebut.
Lain halnya dengan Guo Zhi, Mei Lan terkesiap kaget dan takut. Ia pun tahu siapa orang berpakaian baju putih itu. Dirinya mengenalnya. Air matanya kini semakin deras mengetahui apa yang kini tengah terjadi.
Sedangkan Hui Zhong, pria pemimpin padepokan itu mengeraskan rahangnya. Tak hanya Guo Zhi, ternyata anak yang tak sudi di akuinya itu juga merusuh dan membuat keonaran. Tangannya terkepal erat. Dirinya menatap tajam Ying Hua yang berdiri gagah di sana.
Ying Hua sendiri berdiri dengan nafas yang memburu. Rasa takut di hatinya ia tekan kuat-kuat. Dirinya tahu siapa yang kini telah di tantangnya. Dan itu adalah sebuah kesalahan. Namun di lain pihak dirinya juga tak ingin melihat orang yang di sayanginya terluka.
Zhuo Zu menatap tenang sosok asing itu. Tak sedikitpun merasa tersinggung dengan ucapan orang tersebut. Sebelah tangannya terangkat, dan sekali ayunan, para prajurit bergerak menyerang perusuh itu.
Ying Hua segera menyerang. Ia menampik dan memukul semua prajurit dengan tenang. Wajahnya yang tersembunyi di balik tudung tampak kalut namun berusaha tenang. Sekuat tenaga ia mencoba melawan tanpa membunuh lawan. Ia tak ingin ada tetesan darah di sana. Ia harus ekstra berhati-hati.
Semua prajurit tak ada habisnya. Dan Ying Hua sudah merasa lelah, namun ia tetap harus berusaha sekuat tenaga.
Hui Zhong yang melihat itu semakin geram. Tanpa banyak kata lagi ia terjun ke medan pertarungan. Membuat para prajurit mundur teratur dan membiarkan Hui Zhong menyerang perusuh itu.
Ying Hua mundur lima langkah saat ia mendapat serangan dari Hui Zhong. Tenaganya yang lemah membuatnya semakin sulit untuk melawan. Meski begitu, ia masih bisa menampik semua serangan dan tekanan dari ayahnya itu, hingga ia sedikit lengah dan membuat serangan Hui Zhong hampir mengenai lehernya. Ying Hua berputar, membuat tudung kepalanya terlepas. Dan wajahnya pun terlihat.
Semua orang terkesiap, ternyata perusuh itu adalah seorang perempuan. Zhuo Zu sendiri terpaku, ia mengenali wajah itu. Namun ia tak berbuat apapun dan tetap bersikap tenang. Wajahnya tetap datar meski hatinya sedikit terkejut.
Ying Hua kembali memasang posisi bertahan saat pedang Hui Zhong melayang padanya. Kini tenaganya terkuras habis. Nafasnya terengah-engah. Ayahnya bukanlah lawan yang sebanding dengannya. Hui Zhong terlalu kuat. Dirinya tak mungkin bisa mengalahkan pemimpin padepokan itu.
Hui Zhong melawan Ying Hua dengan kekuatan penuh. Tak sekalipun ia mengurangi dan berbelas kasih pada anaknya itu. Keinginan membunuhnya terlalu kuat. Dan ia tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melampiaskan amarahnya pada Ying Hua selama ini.
Ying Hua menghindar dari sabetan Hui Zhong yang mengarah kakinya. Ia berputar, kemudian melompat kala serangan Hui Zhong mengarah pada kakinya. Dan saat ia mengarahkan pedangnya, Hui Zhong berhasil menangkis serangannya dan membuat pedangnya terlepas dari tangannya. Setelah itu Hui Zhong berhasil menyabet lenganya dan menendang perutnya. Membuatnya jatuh ke belakang.
Dengan segera ia hendak berdiri namun semua prajurit sudah meletakkan pedang mereka di lehernya. Begitupun dengan Guo Zhi. Raut sendu pun terpatri di wajah Ying Hua yang terengah.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" tanya Hui Zhong penuh amarah.
Ying Hua mengulas senyum kecut dengan tatapan mata kebawah, "Memangnya apa aku pernah benar di matamu, ayah?" tanyanya lirih.
Rahang Hui Zhong mengerat. Giginya bergemelatuk menahan amarah yang siap membeledak, "Jangan memanggilku dengan sebutan itu!" teriaknya murka.
Ying Hua mendongak menatap wajah Hui Zhong, air matanya siap tumpah saat mengingat semua perlakuan ayahnya itu. Sebenci itukah ayahnya?
"Apa salahku hingga kau memperlakukan ku seperti ini, ayah?"
"Aku tak pernah mengijinkanmu bertanya?"
Ying Hua tertawa kecil nan miris. Di tatapnya mata sang ayah dengan nelangsa, "Apa kesalahan ibuku hingga kau membencinya?"
Hui Zhong terdiam, tak menjawab. Namun wajahnya semakin memerah karena amarah. Tangannya yang memegang pedang mengerat kuat.
"Hanya karena aku begitu mirip dengan ibu kau sampai tak mau mengakuiku sebagai anakmu. Apa sebenarnya kesalahan ibu?" frustasi Ying Hua. Selama bertahun-tahun dirinya menyimpan semua pertanyaan itu di dalam kepalanya. Menekan kuat kesedihan dan keiriannya dengan sang kakak. Menelan mentah-mentah keinginannya untuk bisa di perhatikan oleh ayahnya.
Tangan Hui Zhong terulur menampar pipi Ying Hua. Membuat Ying Hua terpejam dengan wajah yang terpelanting kesamping. Rasa panas seketika menjalar pipinya. Dia kembali mendongak menatap Hui Zhong yang menatapnya penuh kebencian. Dengan segera, ia menyerang prajurit yang mengurung dirinya. Setelah ia berhasil, ia berdiri di depan Hui Zhong.
"Aku tahu kau sangat membenciku, tapi aku mohon, jangan pisahkan kakak dengan kak Guo Zhi." pintanya dengan nada lirih.
Guo Zhi yang mendengar itu lantas mendongak menatap Ying Hua. Dirinya tak percaya dengan semua ucapan gadis itu. Ia kira gadis itu tidak akan memikirkan tentang perasaannya dan Mei Lan. Namun ternyata salah, Ying Hua berani datang kemari hanya ingin mempersatukan dirinya dengan Mei Lan. Bukan karena mementingkan keinginan gadis itu untuk bersamanya saja.
"Diam, dan pergi dari sini!" ucap Hui Zhong dengan emosi yang mencapai ubun-ubun.
"Biarkan mereka bersama."
"Pergi atau aku akan membunuhmu!"
"Biarkan mereka bahagia."
"Ying Hua!!" bentak Hui Zhong, nafasnya terengah, kemurkaannya sudah mencapai batas, "Sekarang pilih, Mei Lan menjadi selir dan kau hidup, atau Mei Lan dengan Guo Zhi dan kau mati." katanya dengan pedang yang menempel di leher Ying Hua.
Ying Hua terdiam, ia tak menyangka dengan apa yang di katakan oleh ayahnya. Ia kira, sebenci apapun ayahnya pada dirinya, pria itu pasti masih mempunyai rasa sayang terhadapnya. Namun kenyataannya..
Ying Hua mengulas senyum, ia kini tahu jika tak ada lagi kasih di dalam hati ayahnya untuk dirinya.
"Paman, hentikan. Maafkan Ying Hua!" teriak Ming Yu yang baru sampai. Ia dan Xi Feng menatap Ying Hua dengan pandangan nanar.
Ying Hua menatap sekilas Ming Yu dan Xi Feng, kemudian ia menatap Hui Zhong.
"Kak, jangan melakukan hal yang bodoh." pinta Xi Feng pada Ying Hua.
Ying Hua tak mengindahkan. Bibirnya tersenyum kecut dengan perasaan remuk. Ia tak di inginkan ayahnya, ia di benci oleh orang tercintanya, tak disukai oleh semua murid padepokan, kecuali Ming Yu dan Xi Feng. Apakah menurutnya hidup masih menyenangkan. Sekali lagi, Ying Hua semakin memperlebar senyum kecutnya.
"Biarkan mereka bahagia." putusnya dengan tegas.
Bersamaan dengan itu, tangan Hui Zhong melayang. Mengarahkannya pada leher Ying Hua. Akan tetapi, sebuah panah melayang kearahnya. Membuat pedang di tangannya terlepas ketika panah itu menggores punggung tangannya.
"JANGAN MENYENTUH IBUKU!!"