Ying Hua merenung dengan tatapan yang menerawang ke depan. Raut wajahnya tampak tenang. Sinar kesenduan terpancar di mata indah miliknya.
Percakapannya dengan Guo Zhi kemarin malam terngiang-ngiang di telinganya. Ia tak pernah menduga, jika perhatian dan sikap baik dari kakak senior yang di cintainya itu hanyalah bualan semata. Hatinya menolak ucapan itu. Kepalanya selalu menyangkal jika Guo Zhi mengatakan itu karena emosi semata. Namun, saat melihat mata indah milik pria itu..
Terlihat jelas pancaran jijik dan benci untuknya.
Ying Hua memejamkan matanya, ingatannya kini tak hanya mengulang percakapannya dengan Guo Zhi. Namun juga dengan masa lalu mereka. Dimana dirinya selalu merasa di perhatikan, di bela saat mendapat hukuman, dam di bantu saat mendapatkan masalah.
Ying Hua membuka matanya saat mendengar suara tongkat dari kakeknya. Dengan segera ia menghapus air mata yang sempat menuruni pipinya ketika ia terpejam tadi. Ia menoleh, kemudian tersenyum pada kakek pemilik padepokan itu.
"Kenapa masih disini? Ayo sarapan." Ajak Han, kakek tua berambut putih itu menatap Ying Hua lembut.
"Kakek duluan saja. Aku akan menyusul nanti." Jawab Ying Hua tenang, ia kembali menghadap kedepan setelah menatap kakeknya itu.
"Kau biasanya paling semangat jika sarapan bersama, Ying Hua. Ada apa, apa karena Hui Zhong yang kali ini ikut makan bersama kalian?"
Ying Hua menggeleng, "Hanya tidak nafsu." Jawabnya datar, kemudian ia berdiri, "Aku pergi dulu." Katanya sembari beranjak dari sana.
Han hanya menatap punggung Ying Hua dengan tatapan bersalah. Ia mengerti dengan perasaan yang di rasakan oleh Ying Hua. Gadis itu tengah bersedih, cucunya itu tengah menderita. Namun ia tak bisa berbuat banyak. Karena dirinya pun ikut campur tangan dengan segala kesedihan yang di alami oleh cucunya. Andai saja ia tak membawa penyebab masalah yang di alami oleh putranya.
Ingatan Han kembali ke 22 tahun yang lalu. Dimana awal masalah terjadi. Seandainya dulu ia tak menolong Qing Ge, Hui Zhong tak akan pernah meragukan Ying Hua. Tak akan membenci darah dagingnya sendiri. Dan tak akan berfikir jika Ying Hua adalah anak dari hasil perselingkuhan Rong dan Qing Ge. Tak akan menyia-nyiakan anaknya yang sangat mirip dengan istri kedua putranya tersebut. Dan akan menyayangi Ying Hua seperti menyayangi Mei Lan. Namun kenyataannya, Putranya itu sudah terlanjur di buta kan api cemburu. Apalagi dengan kematian Rong yang seolah menutup rapat hubungannya dengan Qing Ge. Membuat pria penuh cinta berubah menjadi pria berhati dingin dan egois.
"Maafkan aku Rong, aku tak bisa menjaga putrimu dengan baik."
~•••••~
Ying Hua melangkahkan kakinya keluar padepokan. Keadaan pagi masihlah sepi. Semua orang tengah berada di balai jamuan untuk sarapan bersama. Ia yang yakin dan merasa jika kehadirannya hanya mengganggu, memutuskan untuk tidak bergabung. Terlebih dengan seseorang yang selalu anti dengan kehadirannya.
Melangkah dengan langkah tenang, Ying Hua menghentikan laju kakinya saat melihat beberapa orang berada di gerbang utama padepokan. Lantas ia langsung menghampiri, dan memberi salam salah satu orang yang di kenalnya.
"Tuan Wang." Ying Hua menautkan kedua tangannya di depan d**a dan membungkuk sekilas.
Wang tersenyum, ia menatap Ying Hua dengan pandangan lembut, "Aku ingin bertemu dengan Hui Zhong dan putrinya."
Ying Hua terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk, dengan tegas ia membawa Wang dan beberapa orang di belakangnya ke arah balai jamuan. Sesampainya di sana, ia mengetuk pinti tiga kali dan membukanya. Mempersilahkan Wang untuk masuk.
Han dan Hui Zhong yang melihat kedatangan Wang langsung berdiri dari duduknya. Diikuti oleh semua orang yang ada disana.
"Tuan Weo." Sapa keduanya dengan ala pendekar.
Wang mengangguk, kemudian salah satu dari orang yang di belakangnya maju dan berucap keras.
"Dekrit Kerajaan!!"
Han dan Hui Zhong lantas segera berlutut, diikuti oleh semua orang yang ada di sana. Mereka tengah menanti sebuah titah dari kerajaan.
"Titah dari yang mulia Zhuo Zu. Dengan ini menyatakan, beliau mengangkat putri dari pemimpin padepokan Daun, Hui Zhong, sebagai selir keenam." Kata Wang ketika membacakan surat berwarna kuning yang di bawanya.
"Terima kasih yang mulia, semoga yang mulia panjang umur seribu tahun." Hui Zhong bersujud sekali.
Wang meletakkan surat itu kembali pada tempat yang di bawa oleh pengawal yang di bawanya. Kemudian tersenyum pada Hui Zhong yang kini sudah kembali berdiri dengan yang lainnya.
"Kami kemari juga hendak menjemput putri anda tuan." Katanya sembari menatap gadis yang berdiri di samping Hui Zhonng.
Hui Zhong mengangguk, "Aku sudah menunggu kalian."
"Maaf jika anda harus menunggu lama untuk ini. Yang mulia baru saja menyetujuinya."
"Tak masalah, lagi pula saat itu usia Mei Lan juga masih terlalu muda." Hui Zhong mendekat ke arah Wang, kemudian ia mempersilahkan perdana menteri kerajaan Anming tersebut untuk pergi bersamanya, "Mari, kita berbincang-bincang terlebih dulu sembari menunggu putriku bersiap-siap."
Wang mengangguk, kemudian ia ikut dengan Hui Zhong.
Keadaan di balai jamuan kembali hening. Ying Hua yang berada di depan pintu sedari tadi menatap Mei Lan yang mematung dengan wajah putus asa. Kemudian ia menggulirkan maniknya menatap Guo Zhi yang diam dengan wajah kaku dan tangan mengepal kuat.
Tak lama dari itu, suara gaduh dari piring dan cawan yang jatuh membentur lantai terdengar. Semua orang lantas menatap ke sumber suara. Mereka semua terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Guo Zhi, pelaku dari suara gaduh itu terdengar.
"Kak Guo Zhi." Lirih Mei Lan ketika Guo Zhi dengan emosi yang di simpannya pergi keluar dari sana. Lelaki itu pergi dengan langkah lebar.
Ying Hua menatap punggung Guo Zhi yang berlalu melewatinya. Pria itu bahkan tak menatapnya sama sekali. Kemudian ia menatap Mei Lan, kakak tirinya itu kini juga tengah menatapnya. Ia menghela nafas samar, sebelum akhirnya ikut meninggalkan tempat itu.
~•••••~
"Permaisuri, dekrit kerajaan untuk selir baru telah sampai di tujuan pagi tadi."
Fen yang tengah menyulam mendongak menatap Daiyu, ia mengangguk, "Persiapkan semua keperluan penyambutan dan acaranya."
Daiyu mengangguk, "Baik permaisuri." Kemudian ia membungkuk dan keluar ruangan.
Fen menghela nafas dan meletakkan sulamannya. Ia berdiri, berjalan menuju jendela yang tertutup. Membukanya dan membiarkan hembusan angin menerpa wajahnya dan menggoyangkan gantungan mahkotanya.
"Semoga selir kali ini tak memberi pengaruh apapun." Gumamnya dengan nada rendah. Raut wajahnya sedikit mengeras saat mengetahui jikalau yang mulia kembali mengangkat seorang istri.
"Aku kira selir Han Mei adalah yang terakhir, tapi ternyata yang mulia masih ingin mengangkat istri lagi." Desis permaisuri sakit hati, "Kematianmu ternyata tak mengubah apapun permaisuri."
~•••••~
Pangeran Hong Hui mengernyit mendengar perkataan dari Shu, pengawal setianya. Dengan tergesa ia beranjak dari duduknya dan berlari pergi guna menemui ayahnya. Wajahnya yang biasa tenang tampak menampilkan raut tak senang.
"Pangeran."
Bahkan ia mengabaikan seruan sang penasehat raja. Ia dengan segera membuka kamar pribadi ayahnya dan menghampiri sang ayah yang tengah duduk sembari berkutat dengan segala macam kertas di meja kerjanya.
"Ayahanda." Ia pun tak perlu berbasa-basi memberi salam, "Apa benar anda akan mengangkat istri lagi?" Tanyanya dengan nada tergesa. Dadanya naik turun karena habis berlarian.
Hening, Zhuo Zu tak segera menjawab. Ia hanya terus memfokuskan perhatiannya pada perkamen kerajaan yang tengah di kerajaannya.
"Jawab pertanyaanku, ayahanda."
"Kembalilah ke kamarmu pangeran." Jawab Zhuo Zu akhirnya. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, ini kali pertama ia kembali bercakap dengan putranya secara langsung, itu pun karena putranya itu yang mengajaknya bicara terlebih dahulu.
"Tidak, sebelum ayahanda menjawab."
Akhirnya Zhuo Zu menatap putranya, dan ia sejenak terpengkur saat menatap wajah itu, "Itu urusanku. Kau tidak perlu ikut campur."
"Dan membuat seseorang kehilangan nyawa lagi jika istri anda yang baru mengungkit soal kematian ibunda?" Tanya Hong Hui dengan berani, "Kenapa ayahanda tidak bisa mengerti?"
Rahang Zhuo Zu mengeras, ia menatap tajam putranya yang kini menatapanya penuh ketegasan. Oh, sudah berapa lama ia tak menatap wajah itu? Wajah yang dulu polos dan lembut, kini berubah tegas dan tajam.
"Itu urusan kerajaan, pangeran. Kau akan mengerti ketika menggantikanku kelak."
Hong Hui terdiam, kedua tangannya terkepal erat. Ia menyimpan kemarahannya sendiri di dalam d**a, "Mungkin ini salah satu alasan kenapa ibunda memilih pergi dari sisimu, Yang mulia." Ucapnya sebelum berlalu dari sana.
Tubuh Zhuo zu menengang. Ia terpaku dengan ucapan dari putranya. Tak menyangka jika anaknya bisa mengatakan hal seperti itu. Kedua tangannya mengepal di atas meja rendah. Ia terpejam dan bayangan akan malam dimana dirinya merasa begitu hancur kembali terulang di kepalanya.
"Maafkan saya yang tidak bisa selalu disisi dan melengkapi anda, yang mulia. Selamat tinggal."
Kata-kata itu, senyuman itu, semua kembali melintas di dalam memori otaknya. Membuat kepalanya terasa begitu pening memikirkannya.
Zhuo Zu berteriak keras, ia menyapukan tangannya pada meja rendah di hadapannya. Membuat semua benda yang ada di atas meja itu terjatuh dan terlempar. Tak hanya itu, ia pun menggebrak meja itu kuat-kuat. Melampiaskan kemarahannya.
~•••••~
Ying Hua melihat itu. Ia menatap tubuh babak belur kakak seniornya yang tengah di hukum oleh paman padepokan. Kedua tangannya mengepal erat di sisi-sisi tubuhnya. Ingin ia membantu, namun kedua bahunya tengah di pegang oleh Ming Yu dan Xi Feng. Menghalanginya untuk bertindak lebih jauh.
Di tengah-tengah tanah lapang padepokan itu. Guo Zhi tengah tersungkur dengan wajah yang terluka di bagian keningnya. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Dan ia terbatuk akibat tendangan dari Hui Zhong yang kini tengah marah pada pemuda itu.
Guo Zhi mencoba untuk bangkit, ia menatap kecewa sosok yang sudah di anggap ayah olehnya. Tawa sumbang terdengar dari mulutnya, "Kenapa paman melakukan ini? Kenapa paman pisahkan aku dengan Mei Lan?"
"Mei Lan akan bahagia dengan menjadi istri raja."
"Itu sama saja mengatakan jika paman tak percaya kalau aku bisa membahagiakan Mei Lan." Guo Zhi mengusap bibirnya yang berdarah akibat pukulan dari Hui Zhong. Pria yang tengah mendapat hukuman karena sempat menghalangi kepergian Mei Lan itu menatap marah sang ayah kandung gadis tercintanya.
"Aku hanya menepati kesepakatan yang tertulis."
"Kenapa paman mengirim Mei Lan, kenapa bukan Ying Hua. Dia juga anak paman."
"Aku tak pernah menganggap Ying Hua anakku. Dia buah kesalahanku."
Kedua tangan Guo Zhi mengepal erat, "Dan membiarkan Mei Lan menderita di dalam istana? Seharusnya paman tahu jika yang mulia tidaklah punya hati. Ia bisa sewaktu-waktu membunuh Mei Lan. Seharusnya paman mengirim Ying Hua jika ingin menyingkirkan gadis itu dari hidup paman."
Ying Hua yang mendengar ucapan itu semakin mengepalkan tangannya. Kedua matanya terpejam sejenak. Menekan rasa sakit yang menyerang hatinya. Ia bisa merasakan kedua bahunya sedikit memberat karena tekanan yang di berikan oleh pemilik tangan yang hinggap di bahunya.
"Mei Lan akan bahagia bersama Yang Mulia Zhuo Zu."
"Berani bertaruh?" Guo Zhi terkekeh sinis, "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Hui Zhong menghela nafas dalam, "Tenangkan pikiranmu dan berfikirlah jernih, terima kenyataannya." Ia berbalik, hendak meninggalkan Guo Zhi, "Jika kau mengacau lagi esok seperti tadi. Jangan salahkan aku jika membunuhmu." Imbuhnya sebelum melangkahkan kakinya pergi.
Guo Zhi terdiam, emosi terkumpul dalam dirinya. Ia berlari hendak menerjang Hui Zhong. Namun pria paruh baya itu dapat membaca gerakannya dan malah memukulnya hingga ia kembali terhempas ke tanah. Dirinya kembali terbatuk dan kali ini mengeluarkan darah segar.
"Jangan melewati batasmu!" Peringat Hui Zhong sebelum benar-benar pergi dari sana.
Ying Hua yang melihat itu melepas paksa tangan yang menahan kedua bahunya. Ia berlari menghampiri Guo Zhi, mengabaikan panggilan dua orang di belakangnya.
"Pergi!" Bentak Guo Zhi saat Ying Hua menyentuh dirinya dan hendak membantunya bangun. Ia mendorong gadis itu hingga gadis itu ikut tersungkur, "Jangan pernah menyentuhku!" Ucap Guo Zhi sembari mencoba untuk berdiri meski tertatih-tatih, "Seharusnya kau yang di kirim paman ke kerajaan sialan itu. Dan seharusnya kau yang akan mati di tangan pria b*****h itu, berengsek!" Guo Zhi terbatuk kembali ketika berteriak pada Ying Hua, ia menyentuh dadanya yang berdenyut sakit, "Orang yang akan aku bunuh pertama kali jika Mei Lan di lukai oleh raja tak punya hati itu adalah dirimu. Camkan itu!" Katanya sebelum berjalan tertatih meninggalkan Ying Hua.
Ying Hua sendiri hanya memejamkan matanya mendengar hal itu. Kedua tangannya mengerat di atas tanah. Ia mendengkus samar, sebelum akhirnya menatap nanar punggung pria yang di cintainya.
Xi Feng dan Ming Yu mendekat. Saling melempar pandang sebelum memancarkan raut malas. Keduanya serempak berjongkok. Membantu Ying Hua untuk berdiri. Tak ada sepatah kata apapun. Meski nyatanya dua pria itu ingin sekali mengumpati kebodohan Ying Hua.
"Apa kau tidak menyerah saja, biarkan kakak senior dan jangan memperdulikannya lagi." Ming Yu akhirnya berani bersuara. Ia memandang Ying Hua dengan iba, "Kau hanya menyakiti dirimu sendiri."
Ying Hua mengulas senyum tipis, memilih menepuk bahu Ming Yu sebelum menjawab, "Melihatnya seperti ini jauh lebih sakit." dan tanpa menunggu Ming Yu kembali berbicara, ia berjalan menjauh meninggalkan dua pria yang memandang punggungnya sendu.