Ying Hua menghela napasnya saat ia sampai di padepokan tempatnya tinggal. Dengan segera ia turun dari kuda, dan berjalan masuk lebih dalam ke padeokan. Ia ingin segera beristirahat di kamarnya.
Saat melewati halaman belakang tempat berlatih panah, Ying Hua mendengar samar-samar suara seseorang. Ia menghentikan langkah, kemudian memberanikan diri untuk mendekat ke arah sumber suara tersebut. Memilih bersembunyi di balik dinding padepokan.
"Ayah, ku mohon mengertilah. Aku tidak bisa menjadi selir raja."
Hui Zhong menatap putrinya murka. Rahangnya mengeras, deru nafasnya memberat karena menahan amarah, "Ini sudah keputusan ayah, Mei Lan. Kau tetap akan menjadi selir yang mulia Zhuo Zu."
Isak tangis Mei Lan mulai terdengar, "Tapi ayah, ayah sendiri tahu jika aku hanya mencintai kak Guo Zhi. Bagaimana bisa aku menghianatinya."
"Persetan dengan Guo Zhi."
"Ayah, berhentilah serakah.."
"Diam Mei Lan, kau tetap akan menjadi selir yang mulia. Dan untuk Guo Zhi, cepat atau lambat dia akan melupakanmu."
"Ayah.."
Hui Zhong tak menghiraukan. Ia berjalan menjauhi putrinya. Sedangkan Mei Lan, dirinya menjatuhkan diri ketanah dan menangis keras. Menerima kenyataan jika keputusan ayahnya tidak bisa di ganggu gugat.
Tak berselang lama dari itu, sosok Guo Zhi muncul. Pria itu menunduk dan mengarahkan Mei Lan untuk berdiri. Kemudian memeluk tubuh rapuh gadisnya itu erat.
"Ayah terlalu keras kepala, kak." ucap Mei Lan lelah. Ia terus menangis di dalam pelukan Guo Zhi.
Guo Zhi hanya diam, namun sinar sendu terpancar di matanya. Kenyataan yang membuat dirinya menderita sangat memukul telak hatinya.
Ying Hua yang melihat itu mengepalkan kedua tangannya. Hatinya kembali bergemuruh. Rasa senang dan sedih menjadi satu. Senang karena melihat orang yang di cintainya akan berpisah dengan gadisnya. Dan sedih melihat kesedihan mereka. Ia tak menampik jika dirinya sedikit bahagia, namun di balik itu semua, ia juga merasakan kesakitan yang di alami oleh kakak tirinya.
"Dewa, salahkah aku jika mengharapkan mereka untuk segera berpisah?" gumamnya pada diri sendiri.
~•••••~
Hari cepat berlalu. Ying Hua dan pangeran Hong Hui pun sering menghabiskan waktu untuk berlatih. Seperti sekarang ini. Pangeran kecil itu kini tengah mendalami ilmu tenaga dalam.
"Ambil nafas dalam, tenangkan pikiran. Fokuskan kekuatan pada telapak tangan." ujar Ying Hua pada Hong Hui yang kini tengah memasang kuda-kuda untuk menghacurkan batu-bata di hadapannya.
Hong Hui melakukan semua intruksi yang Ying Hui berikan. Wajah pangeran kecil itu tampak begitu serius. Terdiam beberapa saat, kemudian ia melayangkan telapak tangannya pada batu bata itu. Dan berhasil membuat batu-bata itu hancur.
Ying Hua tersenyum puas, ia berjalan mendekat ke arah pangeran Hong Hui. Mengusap sayang rambut legam milik bocah itu, "Bagus." pujinya.
Pangeran Hong Hui mengangguk, ia menerima dengan senang hati usapan dari gurunya itu.
"Baiklah, sekarang aku akan menyerangmu. Kau gunakan tenaga dalam yang aku ajarkan padamu." kata Ying Hua.
"Itu tidak adil, ibu. Sudah di pastikan aku akan kalah." elak pangeran Hong Hui.
Ying Hua tersenyum, "Tenang saja, aku tidak akan menggunakan tenaga dalamku." ucapnya sebelum menyerang muridnya itu.
Pangeran Hong Hui mundur dua langkah, kemudian melompat dan berputar. Ia melayangkan tendangan dari udara dan di tampik dengan mudah oleh telapak tangan gurunya itu. Setelahnya ia mengayunkan tangannya, dan lagi-lagi ditampik oleh tangan Ying Hua. Bahkan kini tangannya, di genggam oleh gurunya itu dan tubuhnya di tarik sebelum di lempar.
Dengan sigap Hong Hui menapakkan kakinya di tanah di bantu oleh salah satu tangannya. Kemudian ia berlari ke arah Ying Hua. Melayangkan pukulan dan tendangan yang di ajarkan oleh gadis itu. Hingga ia akhirnya bisa memukul perut Ying Hua kuat dengan di bantu oleh tenaga dalamnya dan membuat gurunya itu mundur dua langkah kebelakang.
"Bagus." Ying Hua tersenyum lebar sembari mengusap pelan perutnya yang terkena pukulan. Ia mengambil nafas dalam dan kembali berujar, "Ayo istirahat."
Pangeran Hong Hui ikut tersenyum tipis, kemudian mengangguk. Setelah itu ia berjalan mengikuti Ying Hua yang berjalan lebih dulu menuju Gazebo dan mendudukkan diri disana. Ia langsung mengambil tempat di samping gurunya itu.
"Bagaimana keadaan ayahmu?" tanya Ying Hua, gadis itu kini tengah menyandarkan diri di sandara gazebo.
Pangeran Hong Hui menatap Ying Hua sekilas, "Semakin membaik," ujarnya sembari mengangguk, "dan menyebalkan seperti biasanya." imbuhnya dalam berupa gumaman.
Ying Hua mengangkat sebelah alisnya, ia yang bersedekap menatap penuh arti penerus kerajaan Anming tersebut. Gumaman yang di lontarkan pangeran kecil itu berhasil masuk kedalam indra pendengarannya yang tajam, "Kau mempunyai hubungan yang sedikit buruk dengan Yang Mulia?" tanyanya seperti sebuah pernyataan.
Pangeran Hong Hui segera mengalihkan perhatiannya. Ia menghindar dari mata sang guru yang terus menatapinya. Tak ada satupun jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Jadi kabar burung itu benar?" tanya Ying Hua kembali, kedua matanya setia menatapi anak didiknya.
Pangeran Hong Hui mengangguk sembari menghela nafas pasrah. Tatapannya menerawang, menatap hamparan hijau dedaun pohon hutan, "Semakin hari aku semakin merasa tak mengenalinya. Dia seperti orang asing."
Ying Hua berdiri dan berjalan menuju tiang yang ada di gazebo, menyandarkan diri disana dan tatapan matanya ikut menerawang, "Setidaknya ayahmu mempunyai alasan dan penyebab yang kuat kenapa bisa mengabaikanmu." lirihnya yang masih bisa di dengar oleh Hong Hui, "Kau tidak mencoba untuk mendekatinya lebih dulu." tiba-tiba ia tersentak dan berbalik menatap sang murid.
Hong Hui mengangguk tenang, "Sudah kulakukan. Tapi tetap saja ayah acuh tak acuh padaku." ia bersedekap d**a, "Bahkan ayahanda tak pernah sekalipun menganggap ada orang-orang di sekitarnya. Ya, kecuali untuk urusan rakyat, beliau baru bisa di ajak bicara."
Ying Hua kembali mendekat kearah Hong Hui, dirinya duduk di samping pangeran kecil itu. Mengambil tempat dimana ia tadi duduk, "Setidaknya Yang Mulia tidak melupakan kewajibanya."
"Hm."
"Kau sayang ayahmu?" tanya Ying Hua tiba-tiba.
"Apa aku tidak terlihat menyayanginya?" tanya Hong Hui balik, "Seburuknya ia tak memperdulikanku sekarang, tapi ia tetap ayah yang sempurna bagiku. Apa yang di lakukannya sekarang hanya karena dia kehilangan matahari kehidupannya," imbuhnya menjelaskan, ia menarik nafas dalam sebelum kembali berujar, "Sama sepertiku."
Tangan Ying Hua bergerak mengelus kepala pangeran Hong Hui, sedikit banyak ia mengerti dengan perasaan pangeran kecil itu. Kini ia paham kenapa anak didiknya itu sempat putus asa dengan hidupnya. Masalah keluarga dan Intrik kerajaan yang menekannya, pasti telah membuat bocah itu merasa lelah, "Sebenarnya yang harus kalian lakukan adalah saling menguatkan. Jika kalian saling berdiam diri, dinding tak kasat mata di antara kalian tidak akan pernah runtuh dan akan malah semakin tebal. Kau harus memulai untuk kembali mendekatkan diri pada ayahmu dan tidak malah bertindak menjauhinya seperti dirinya yang menjauhi semua orang." nasehat Ying Hua.
"Andaikan saja itu mudah."
Ying Hua tersenyum, "Aku tahu itu sulit. Tapi jika ada niat dan keinginan yang kuat. Kau pasti bisa melakukannya. Mulailah dengan hal-hal yang kecil." jawabnya.
Pangeran Hong Hui terdiam, memikirkan semua saran dari gurunya. Ia menatap sang guru yang juga tengah menatapnya. Tanpa di duga, ia memeluk Ying Hua erat dan menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher gurunya itu. Membuat Ying Hua yang terkejut dan tidak siap dengan terjangannya, jatuh kebelakang dan punggungnya membentur sandaran gazebo.
"Terima kasih, ibu." ungkapnya lirih.
Ying Hua yang masih terkejut akhirnya membalas pelukan muridnya itu. Ia terkekeh samar, mengusap kepala anak didiknya, "Sama-sama. Berjuanglah." katanya dengan senyuman lembut.
~•••••~
Ying Hua meletakkan pedang miliknya di atas meja di sebelah tempat tidurnya. Ia menghela nafas sebelum mendudukkan diri di atas ranjang kamarnya. Kemudian merebahkan diri disana.
Pikiran Ying Hua melayang pada percakapannya dengan penerus dari kerajaan Anming. Rasa sesak yang di alami oleh bocah itu seolah di rasakannya. Mungkin karena yang di alami oleh putra penguasa wilayah tempatnya tinggal itu sama dengannya.
Sama, namun dengan alasan dan sebab yang berbeda.
Pikiran Ying Hua buyar saat ia mendengar suara gaduh tak jauh dari kamarnya. Kamarnya yang berada di ujung belakang padepokan seharusnya sepi. Namun kini ada suara gaduh dan terdengar suara percakapan. Merasa penasaran, Ying Hua beranjak dari rebahannya dan mencoba menghampiri sumber suara tersebut.
Ying Hua menyembunyikan dirinya di balik pohon besar di belakang kamarnya. Di depannya, terdapat dua orang yang sangat di kenalnya. Suasana yang remang-remang tak membuatnya sulit untuk mengenal mereka. Ia menatap kedua orang itu penasaran.
"Aku tidak bisa seperti ini Mei Lan. Sungguh, aku tidak bisa menerimanya." Guo Zhi mengerang frustasi, sinar matanya memancarkan kekecewaan dan keputus asaan.
Mei Lan menggigit bibir bagian bawah, ia menahan air matanya yang ingin meledak keluar, "Aku juga, tapi kita tak bisa berbuat apa-apa, kak. Dekrit dari kerajaan akan segera sampai."
"Kita kabur Mei Lan, kita lari."
"Dan menjadikan kita kriminal?" Mei Lan menghela nafas dalam, "Hidup sebagai pelarian hanya akan menyulitkan anak-anak kita kelak kak."
"Lalu kau tega membiarkan aku seperti ini?" Guo Zhi menaikkan suaranya, "Apa untungnya menjadi istri dari raja tak punya hati itu?"
Mei Lan terdiam, ia tak menjawab. Suara isakan tangis perlahan keluar dari mulutnya. Sebenarnya dirinya pun tidak menginginkan semua ini terjadi. Akan tetapi..
"Maaf," bisiknya lirih, senyum sendu terpatri di bibirnya, "Kau akan bahagia bersama adik kak. Adik pasti bisa membuatmu bahagia." ujarnya sesak. Ia berbalik, hendak meninggalkan Guo Zhi.
"Aku tidak pernah mencintai Ying Hua, Mei Lan! Bagaimana mungkin aku bisa bahagia dengannya sedangkan sumber kebahagiaanku adalah dirimu?"
"Maaf, aku tidak bisa." jawab Mei Lan, "Bahagiakan adik, dia sudah terlalu banyak menderita." ujarnya sebelum melangkah pergi.
Guo Zhi mematung, apakah ini akhir dari cintanya yang sudah tumbuh sedari kecil? Kedua tangan pria itu mengepal, tatapannya menatap kecewa gadis yang selama ini di cintainya.
Ying Hua yang melihat dan mendengar itu mendekat, ia memutuskan untuk menampakkan diri. Direngkuhnya tubuh kekar yang rapuh dari belakang.
"Kau mendengar semuanya? Apakah kau puas?" tanya Guo Zhi datar, dirinya seolah menyadari kehadiran Ying Hua sedari tadi.
Ying Hua tak menjawab, ia terdiam dengan wajah tenang namun hatinya campur aduk. Ia mengeratkan pelukannya. Menempelkan kepalanya di punggung lebar lelaki yang di sukainya itu.
"Lupakan kakak Mei Lan, kakak senior." ucapnya halus, namun tersirat harapan di dalamnya.
Guo Zhi tertawa sumbang, air mata keluar dari matanya, "Sekarang aku mengerti kenapa paman tak pernah menganggapmu sebagai anaknya. Kau sama berengseknya seperti ibumu." ucapnya pedas.
Ying Hua tak menghiraukan ucapan dari Guo Zhi, "Lupakan dia, dan berbahagialah denganku." katanya keras kepala.
"Kau tahu, saat ini aku ingin sekali membunuhmu."
"Kenapa kau tidak bisa menerimaku barang sedikit saja?" Ying Hua melepaskan pelukannya, ia mundur dua langkah. Raut tenangnya kini telah sirna, "Tak pantaskah aku berada di sampingmu?" ucapnya frustasi.
Guo Zhi berbalik, menatap tajam gadis yang mencintainya diam-diam, "Dari dulu aku selalu jijik padamu. Jika bukan karena Mei Lan, aku tak sudi bersikap baik pada anak p*****r sepertimu." ucapnya sembari berlalu meninggalkan Ying Hua yang terpengkur dengan ucapannya.
Ying Hua menatap tak percaya pria yang selalu di kaguminya, raut terkejut terpatri di wajah ayunya. Secara perlahan matanya memanas, bulir air mata mulai mengenang di pelupuk matanya, Jadi selama ini perilaku baik pria itu hanya pura-pura? Haha, seharusnya ia bisa menyadari itu, memangnya siapa disini yang benar-benar menyayangi dan menerimanya dengan tulus? Tidak ada, benar-benar tidak ada.
"Berengsek." umpatnya dengan air mata yang menetes di mata berkilaunya.