Ying Hua menghentikan laju kudanya ketika mereka sudah berada di halaman utama istana. Dengan segera ia turun, kemudian membantu pangeran Hong Hui untuk turun.
"Sebaiknya ibu bermalam disini." kata Hong Hui saat kedua kakinya sudah menapaki tanah, "Terlalu malam untuk ibu pulang." Imbuhnya datar.
Ying Hua menghela nafas lelah, "Berapa kali aku bilang untuk tidak memanggilku seperti itu?" Ia mengurut pangkal hidungnya frustasi.
Pangeran Hong Hui menghendikkan bahunya acuh, lalu mulai berjalan menaiki puluhan anak tangga yang membentang di hadapannya, "Aku akan menyuruh dayang menyiapkan kamar untuk Ibu." Katanya terdengar seperti perintah.
Ying Hua mendengkus, mau tak mau ia mengikuti langkah kaki pangeran kecil sekaligus muridnya itu. Ah tidak, lebih tepatnya anak asuhnya. Memikirkan hal tersebut Ying Hua bergidik ngeri. Jika di umurnya yang ke 20 tahun ini mempunyai anak berumur sekitar 9 tahun itu, maka ia melahirkan anaknya tersebut di umur 11 tahun? Dengan segera ia merapalkan doa mengingat hal mustahil tersebut.
Ying Hua mengekori kemana pun pangeran kerajaan Anming itu pergi. Sembari melihat-lihat sekitarnya dengan wajah yang kagum. Ini pertama kalinya ia menapakkan kakinya di istana. Dan hal yang lumrah saat ia terpesona dengan keindahan dalam istana tersebut.
"Aku tidak mengerti, kenapa kau lebih suka bermain di luar istana sementara di sini sangat indah sekali." Gumam Ying Hua sembari menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Percayalah, keindahan di istana ini adalah penghantar kematianmu." Jawab datar Hong Hui.
Ying Hua mengangguk-anggukkan kepalanya mengiyakan, sedikit banyak ia percaya karena desas-desus kabar burung yang di dengarnya.
Sesampainya ia di kamarnya. Hong Hui bisa melihat penasehat ayahnya berjalan dari arah berlawanan menuju ke arahnya. Ia bisa melihat wajah panik dan khawatir dari sahabat sang ayah itu.
"Ada apa paman?" Tanya Hong Hui setelah Huo Ying lebih dekat ke arahnya.
"Anda dari mana saja pangeran?" Tanya Huo Ying, kemudian ia menatap Ying Hua yang berdiri di belakang Hong Hui.
Hong Hui mengikuti arah pandang Huo Ying, ia bisa melihat raut terkejut akan keduanya, "Berlatih dengan dia." Katanya tanpa menyebut panggilannya pada Ying Hua.
Ying Hua hanya mengangguk memberi salam pada Huo Ying, ia cukup terkejut mengetahui jika pria yang di temuinya dulu ternyata tinggal di istana inti.
Huo Ying membalas salam Ying Hua. Kemudian ia kembali mengalihkan perhatiannya pada pangeran kecil, "Saya menghawatirkan anda. Anda tidak terlihat dari pagi tadi. Anda juga melewatkan waktu latihan dan belajar."
"Aku hanya butuh ketenangan paman." Jawab Hong Hui, kemudian ia mengernyitkan dahinya sedikit, "Apa terjadi sesuatu? Tak biasanya paman mengkhawatirkanku dengan masalah kecil seperti ini."
Huo Ying menelan ludah ragu. Kemudian ia menatap mata hazel milik putra penguasa kerajaan ini.
"Yang Mulia sakit, beliau terkena racun akibat di serang oleh pejabat yang bermasalah. Dan saat ini para tabib tengah berusaha mencari penawarnya. Jenis racun ini tidak banyak yang mengetahui penawarnya." Jelas Huo Ying.
Pangeran Hong Hui tersentak. Raut khawatir kini tertular padanya. Dengan tergesa, ia putar haluan dan berlari kearah kediaman pribadi ayahnya.
Ying Hua terkejut, ia secara spontan ikut berlari mengikuti pangeran Hong Hui. Mencoba menyamai langkah cepat pangeran kecil tersebut.
"Pangeran anda.."
Ucapan kasim pribadi ayahnya tak di hiraukan oleh Hong Hui. Ia menerobos masuk kedalam kamar sang ayah. Di susul dengan Ying Hua yang ikut seenaknya menerobos. Entahlah, gadis itu menjadi ikut panik dengan sendirinya.
Sang kasim hendak menegur Ying Hua, namun Huo Ying mengangkat tangannya memberi isyarat untuk tidak melakukan itu. Penasehat raja itu tidak ingin keributan terjadi.
Di dalam kamar, terdapat beberapa tabib yang tengah memeriksa dan mencoba memberi ramuan yang di buat oleh mereka untuk menetralisir racun yang bersarang di tubuh yang mulia. Terdapat juga permaisuri dan selir ketiga yang setia menunggu disana.
Pangeran Hong Hui sendiri segera mendekat ke ranjang dan naik kesisi ranjang yang tersisa. Ia menatap panik wajah ayahnya yang kini pucat membiru. Akibat reaksi dari racun yang bersarang di tubuhnya.
"Ayahanda.." lirih pangeran Hong Hui, ia mengelus rambut panjang ayahnya yang tergerai di atas bantal. Semarah pun ia dengan ayahnya yang selama ini tak memperhatikannya, namun ia tetaplah sang anak yang menyayangi dan mengkhawatirkan orang tuanya apabila sedang sakit.
"Jika kalian tidak bisa menyembuhkan Yang Mulia, akan ku penggal kepala kalian semua!!" Bentak permaisuri. Wajahnya yang ayu tampak begitu dingin. Rasa khawatir juga di rasakannya.
Para tabib menjadi gemetar mendengar ancaman itu. Mereka mencoba tenang meramu penawar racun. Meski ketakutan tengah menghantui mereka.
Ying Hua yang melihat itu sedikit meringis, tak bisa membayangkan nasib para tabib yang kini tengah berusaha menyembuhkan sang penguasa kerajaan. Ia sedikit berdeham, kemudian memberanikan diri untuk mendekat ke arah ranjang.
"Siapa kau? Kenapa bisa disini?"
Ying Hua menghentikan langkahnya mendengar teguran dari wanita cantik berpakaian mewah. Ia menatap wanita itu sekilas, kemudian menatap pangeran Hong Hui.
"Ia bersamaku, Permaisuri." Kata Hong Hui datar.
Ying Hua yang mengetahui kedudukan wanita itu langsung memberi hormat. Ia menyatukan kedua tangannya di depan d**a dan membungkuk. Memberi hormat ala pendekar. Setelah itu, ia memberanikan dirinya kembali ke arah ranjang lebih dekat. Dan menatap seseorang yang terbaring disana.
Ia terkesiap saat mengetahui siapa yang tengah terlelap itu. Sedikit berdeham sejenak guna menetralisir rasa terkejutnya. Ia mencoba bersikap sebiasa mungkin.
"Bolehkah saya ikut memeriksanya?" Tanya Ying Hua hati-hati, dan ucapannya membuat seluruh atensi orang disana beralih padanya.
"Apa ibu bisa?" Sela pangeran Hong Hui sebelum permaisuri menjawab, dan panggilan pangeran kecil itu pada Ying Hua membuat semuanya kembali terkejut.
Ying Hua mengangguk sedikit ragu, "Mungkin."
"Kalau begitu periksalah." Hong Hui mempersilahkan, ia menyuruh para tabib yang ada di samping sang raja menyingkir.
"Pangeran Hong Hui, kau tidak bisa mempersilahkan orang asing.."
"Dia bukan orang asing permaisuri," potong pangeran Hong Hui, "Periksalah ibu."
Ying Hua menghela nafas keras sebelum mendudukkan diri di samping sang raja. Ia meraih tangan yang mulia dan memeriksa denyut nadinya, kemudian ia bergerak menyentuh luka yang terdapat di tubuh raja tersebut.
"Apa jarum yang di gunakan oleh penyerang masih ada?" Tanyanya kemudian.
Huo Ying mendekat, ia mengangsurkan apa yang di minta oleh Ying Hua.
Ying Hua mengambil benda tersebut, kemudian ia mencium ujung jarum. Sedikit berfikir kemudian ia menatap para tabib, "Bisakah anda meracik daun herbal yang saya sebutkan dan merebusnya dengan api kecil? Kita harus membuat yang mulia memuntahkan racun tersebut sebelum menetralisirnya. Jika racun itu langsung berbenturan dengan penawarnya, itu malah akan sangat membahayakan nyawa yang mulia." Jelas Ying Hua.
"Baik nona, coba anda sebutkan."
Ying Hua mengangguk, kemudian ia menyebutkan tanaman herbal yang di butuhkan. Setelahnya, para tabib segera melakukan apa yang di pinta Ying Hua tadi.
Setelah beberapa saat, rebusan daun herbal itu telah siap. Ying Hua mencoba meminumkan ramuan itu, namun yang mulia tidak bisa menelannya. Ia kemudian menatap permaisuri.
"Yang Mulia, bisakah anda meminumkan ini lewat mulut anda?" Tanyanya.
Permaisuri mengernyit, "Ramuan itu pahit?"
Ying Hua mengangguk, "Sangat. Saya tidak bisa meminumkannya pada yang mulia."
Permaisuri terdiam, kemudian ia menatap selir ketiga, "Jun Lu, lakukan."
Selir ketiga hanya menatap ragu sebelum mendekat ke arah ranjang. Kemudian ia menerima cawan dari tangan Ying Hua dan mendekatkannya kemulut. Namun sebelum menyentuh mulut, selir ketiga melepaskan cawan itu dan mual.
Ying Hua mencoba untuk tidak memutar kedua bola matanya, ia merasa gemas sendiri.
"Sebaiknya ibu yang melakukannya." Kata pangeran Hong Hui. Ia menatap datar selir ketiga ayahnya.
Permaisuri mendelik mendengar hal tersebut, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia sendiri pun tidak bisa melakukan hal tersebut.
Lain halnya dengan Ying Hua, ia hanya menatap pangeran Hong Hui aneh. Sejenak ia beradu pandang dengan sang pangeran. Sebelum akhirnya ia menghela napas pasrah.
Ying Hua meraih cawan lainnya yang di isi ramuan herbal tersebut. Beruntung para tabib membuatnya banyak. Sehingga tidak perlu meracik lagi karena ramuan sebelumnya di tumpahkan oleh selir ketiga. Ia menghela napas lagi, kemudian meminum ramuan itu dan menyimpannya di mulut. Setelahnya ia mendekatkan bibirnya ke bibir yang mulia, menekan dan memindahkan cairan tersebut, memaksa yang mulia untuk menelan cairan pahit itu.
Ying Hua terbatuk setelahnya. Ia meminta air pada tabib. Mata gadis itu berkaca-kaca. Rasa pahit yang di tahannya membuatnya merasa mual. Sekarang ia memahami kenapa dua wanita kesayangan raja itu tak mau melakukannya. Sialan!
Setelah batuknya reda, Ying Hua segera mengarahkan yang mulia untuk bangun di bantu oleh pangeran Hong Hui. Kemudian Ying Hua duduk di belakang yang mulia. Menotok beberapa bagian punggung kekar itu dan menekannya kuat dengan telapak tangan. Menyalurkan sedikit tenaga dalamnya.
Untuk beberapa saat keadaan menghening, sampai akhirnya suara yang mulia yang terbatuk dan memuntahkan darah segar memecah kesunyian. Ying Hua menghentikan saluran tenaga dalamnya setelah di rasa yang mulia sudah memuntahkan racunnya. Dan hal itu membuat yang mulia kembali roboh kebelakang dan ia dengan cekatan menahan tubuh kekar tersebut.
"Berikan penawar yang akan aku buat pada Yang Mulia setelah dia sadar nanti." Kata Ying Hua seraya membaringkan kembali sang raja. Kemudian ia berbalik dan mulai meracik penawarnya.
~•••••~
Ying Hua membuka kedua matanya saat sinar matahari yang masuk melalui celah jendela menerpa kedua matanya. Ia mengambil nafas dalam, lantas segera bangun dan mendudukkan diri sejenak.
Suara pintu terketuk sedikit mengagetkan Ying Hua. Ia menoleh ke arah pintu, menatap orang yang baru saja masuk kedalam kamar tempatnya beristirahat.
"Nona, kami sudah menyiapkan air untuk anda membersihkan diri. Dan ini pakaian ganti anda." Kata seorang dayang yang masuk kedalam kamar Ying Hua. Ia meletakkan nampan berisi baju ganti di meja yang tersedia, "Apa perlu saya bantu untuk membersihkan diri anda?"
Ying Hua langsung menggeleng, ia sedikit linglung dengan perilaku dayang itu, "Tidak perlu, aku bisa sendiri."
Dayang itu mengangguk, lantas segera pamit undur diri.
Ying Hua menggaruk kepalanya yang tak gatal. Cukup terkejut dengan pelayanan yang ia dapat di istana. Maklum saja, ia tak pernah mendapatkan pelayanan seperti ini di padepokan. Apapun yang di inginkannya, harus di lakukan sendiri.
Ying Hua turun dari ranjang, ia berdiri dan meraih pakaian ganti. Sebuah pakaian yang indah dan tampak elegan. Di sebelah pakaian itu terdapat beberapa hairpin untuk rambut. Ia menghela nafas, kemudian ia berjalan ke arah tempat air mandinya yang sudah di siapkan. Setelah sebelumnya kembali meletakkan pakaian ganti yang sudah di siapkan.
~•••••~
Pangeran Hong Hui menuruni anak tangga dengan cepat. Ia bergerak menyusul Ying Hua yang tengah bersiap naik ke kuda. Di belakangnya, terdapat Panglima Chen dan Jenderal Eng Li.
"Kenapa ibu tidak memberitahuku jika ingin pulang." Semprot Hong Hui saat sudah sampai di tempat Ying Hua.
Ying Hua yang sudah di atas kuda hanya mengulas senyum kecil, "Aku tidak mau mengganggumu."
"Apa kau tidak bisa berada disini lebih lama?" Pancaran mata Hong Hui mengisyaratkan ketidak relaan.
Ying Hua menggeleng, "Dari kemarin aku belum pulang, paman dan kakek pasti tengah mencariku." Alasannya, "Lagi pula kita masih bisa bertemu di tempat biasanya pangeran."
"Baiklah, hati-hati." Kata Hong Hui tak rela.
Tangan Ying Hua terulur mengusap kepala Hong Hui sejenak, "Ingatkan para tabib memberikan ramuannya dua kali sehari sampai yang mulia benar-benar sembuh."
Hong Hui mengangguk, "Terima kasih sudah menolong ayahku."
"Aa," Ying Hua kembali tersenyum, "Anggap saja itu untuk balas budiku karena yang mulia juga pernah menolongku." Tatapan beralih matanya menatap Eng Li yang sedari tadi diam memperhatikan.
Pangeran Hong Hui mengerjap bingung, ia tidak tahu apa yang di maksud Ying Hua. Kapan ayahnya pernah menolong gurunya itu?
"Aku pergi pangeran." Pamit Ying Hua, tak lupa ia sedikit menganggukkan kepalanya pada dua orang yang berdiri di belakang pangeran Hong Hui. Kemudian ia membimbing kudanya untuk bergerak meninggalkan istana.
"Ia bahkan tidak memberi salam pada pangeran, dasar tidak sopan." Gerutu Eng Li.
Pangeran hanya melirik malas ke arah Jenderal tersebut, lalu berjalan meninggalkan kedua orang itu.
Chen hanya menghela nafas, "Aku cukup terkejut dengan panggilan pangeran pada wanita tadi." Ujarnya menatap punggung pangeran kecil yang berjalan menjauh. Ia yang sedari tadi menyimak pembicaraan putra penguasa kerajaan dengan wanita asing cukup terperangah dengan interaksi keduanya. Pasalnya, pangeran kecil cukup sulit untuk bersosialisasi dan akrab dengan orang lain. Bahkan dengan keluarganya sendiri, pangeran kecil tak bisa seakrab itu.
Eng Li menghendikkan bahu dan mulai melangkah, "Abaikan wanita tadi, sebaiknya kita segera melaksanakan tugas masing-masing."