Ying Hua menyarungkan pedang miliknya yang semula ia gunakan untuk bertarung dengan pangeran Hong Hui. Setelah itu, ia berjalan menghampiri pangeran itu dan meraih tangan pangeran Hong Hui yang terluka.
"Sebaiknya kita obati dulu." Kata Ying Hua, ia membawa Hong Hui ke gazebo dan mendudukkan nya disana. Setelahnya ia menyiram luka gores akibat pedang di lengan pangeran Hong Hui dengan air. Saat di rasa sudah bersih dari darah, ia meraih bungkusan yang ada di pinggangnya. Membukanya, dan menaburkan bubuk putih pada luka itu dan membuat Hong Hui sedikit meringis.
"Kau harus tahan dengan setiap luka dan cara pengobatannya." Ying Hua menasehati, ia melilit luka pangeran Hong Hui dengan kain yang semula di jadikannya sebagai tali rambut, "Obat ini cukup perih, kau harus bisa menahannya."
Hong Hui tak menjawab, namun ia mengangguk, "Ini pertama kalinya aku terluka hingga mengeluarkan darah sebanyak ini." Katanya sembari menatap lukanya yang kini terlilit rapi dengan kain berwarna hijau pudar tersebut.
"Kau akan mendapat luka yang lebih banyak saat dirimu besar dan menjadi pemimpin. Kau harus membiasakan diri dengan luka mulai sekarang."
Hong Hui mendongak. Menatap Ying Hua yang kini bersedekap kearahnya, "Aku tidak ingin menjadi raja." Katanya pelan. Ini pertama kalinya ia mengungkapka keinginannya pada orang lain.
Alis Ying Hua bertaut, "Kenapa?"
"Aku hanya ingin hidup biasa seperti dirimu. Tanpa harus terikat dengan sesuatu yang bernama tanggung jawab."
"Apa kau punya saudara?" Tanya Ying Hua, ia mendudukkan diri di samping pangeran Hong Hui.
Pangeran Hong Hui menggeleng sebagai jawaban.
Ying Hua kembali mengulas senyum, "Berarti kau tidak bisa lari dari tanggung jawabmu yang sudah sedari lahir di takdirkan kepadamu." Ia mengelus kepala pangeran Hong Hui lembut sebelum memukulnya pelan.
Hong Hui terdiam, ia tak lagi berucap. Hanya memalingkan wajahnya dari Ying Hua.
"Jangan jadikan beban kewajibanmu yang di masa depan akan menjadi raja. Tapi berfikirlah nasib semua rakyat. Apa kau mau kerajaanmu di pimpin oleh orang yang tidak bertanggung jawab? Akan sia-sia semua usaha nenek moyangmu yang membangun kerajaan ini hingga makmur." Nasehat Ying Hua lagi.
Hong Hui masih bungkam. Gejolak di hatinya tengah bertarung. Keinginannya adalah dia ingin bebas. Bukan hanya bebas kesana kemari, tapi juga bebas dari para musuh yang menginkan kematiannya. Ia sudah lelah harus berhadapan dengan segala konflik dan intrik istana. Terlebih tidak ada pendukungnya.
"Hanya seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab." Celetuk Ying Hua berhasil mengalihkan atensi Hong Hui untuk menatapnya.
"Aku, hanya lelah menghadapi mereka." Jawab pangeran Hong Hui dengan suara pelan setelah lama terdiam.
Ying Hua kembali mengulas senyum, ia cukup mengerti dan paham apa maksud dan arti dari ucapan pangeran kecil di hadapannya.
"Kau tenang saja. Aku akan membantumu menghadapi mereka. Dan juga melindungimu saat aku bisa." Ujar Ying Hua lembut.
Ada sinar harapan di mata bening itu, "Benarkah?" Tanya Hong Hui ragu-ragu.
Ying Hua mengangguk, "Asal kau berjanji untuk belajar dan berlatih bersungguh-sungguh."
~•••••~
Raja Zhuo Zu menatap tajam para pejabat yang di panggilnya keistana. Tubuh mereka gemetar. Takut akan amarah yang kini tengah melanda penguasa mereka. Dalam hati mereka berdoa akan mendapatkan kemurahan hati dari sang raja.
"Pejabat Chong, telah melakukan kesalahan dengan menggelapkan upeti dan menaikkannya. Mengirim uang dari pajak rakyat dengan jumlah yang memang seharusnya, namun menyembunyikan sisa uang pajak yang di naikkan. Apa ada pembelaan?" Ucap Wang tenang.
Chong segera bersujud dengan tubuh yang bergetar hebat, "Mohon ampuni hamba yang mulia. Hamba mengaku salah. Hamba telah di butakan oleh uang. Tolong berwelas asih." Mohonya dengan suara yang terdengar sangat ketakutan.
"Gantung." Ucap Zhuo Zu datar. Dan segera dua prajurit menyeret Chong keluar dan membuat pria itu meraung minta maaf.
Balairung kembali hening setelah raungan Chong menghilang di balik pintu, Zhuo Zu menatap Wang dan perdana menteri itu mengangguk.
"Pejabat bersaudara, O-Huang dan O-Peng." Wang mengambil nafas sebelum melanjutkan, "Tertuduh telah saling bersiteru dan saling bersaing untuk menjadi siapa yang paling kaya. Hingga lalai dalam menjalankan tugas dan membuat warga tertekan dengan harga pajak yang terus di naikkan."
"Pejabat O-Huang, melakukan kesalahan dengan menyalah gunakan uang pajak untuk berpesta pora. Dan pejabat O-Peng, meski uang pajak yang di kirim sama dengan jumlah yang seharusnya, namun dirinya membayar pajak itu dengan uang hasil menjual para gadis muda sebagai b***k. Ada pembelaan?"
"Itu semua fitnah yang mulia, hamba tidak mungkin membayar pajak dengan menggunakan hasil penjualan para gadis. Hamba masih mempunyai hati nurani." Jelas O-Peng dengan wajah yang seolah tersakiti.
"Lima hari yang lalu, tercatat di buku ini jika kau telah melakukan penculikan pada gadis di desa seberang sungai perbatasan. Dan menjualnya sebagai b***k di wilayah kerajaan Weisi." Kata Wang, "ini buktinya." Ia melempar kertas catatan yang berisi hari dimana O-Peng selalu melakukan kejahatannya.
"Ini pasti manipulasi, yang mulia, hamba berani bersumpah." O-Peng bersujud dan membenturkan kepalanya pada lantai berkali-kali.
"Bawa saksi." Kata Wang.
Seseorang datang dan membuat O-Peng membelalakkan matanya.
"Katakan kesaksianmu." Ucap Wang pada seorang gadis yang baru hadir.
Gadis berpakaian lusuh itu menelan ludah takut sebelum berbicara, "Saya dari desa perbatasan. Tengah mengambil air dan mencuci baju bersama beberapa teman. Kemudian beberapa orang berpakaian hitam dan bersenjata datang menangkap kami. Menyeret kami masuk kedalam kereta dan mengikat kami. Beberapa dari kami ada yang memberontak, dan malangnya mereka di perkosa tepat di hadapan kami. Kemudian kami di bawa ke rumah megah dan mengurung kami disana. Kami mendengar para penjaga menyebut tuan mereka yang menyuruh menculik kami. Orang itu bernama tuan O-Peng." Jelas gadis itu.
"Tidak!! Bohong!! Itu semua bohong!!" Teriak O-Peng histeris. "Semua itu bohong yang mulia, dia pasti suruhan O-Huang untuk memfitnah hamba." Raungnya.
"Kuliti dia hidup-hidup." Kata Zhuo Zu datar.
"Tidak yang mulia, itu semua bohong!! Itu semua bohong!!" O-Peng memberontak saat prajurit menyeretnya keluar.
"Dan pejabat O-Huang, ada pembelaan?"
O-Huang menggeleng lemah, percuma ia menyangkal jika semua bukti sudah berada di tangan yang mulia.
"Penggal." Kata Zhuo Zu kembali memutuskan.
Kali ini hening, tidak ada raungan seperti sebelum-sebelumnya. Namun saat O-Huang di bawa pergi, dirinya sempat melemparkan sesuatu pada yang mulia. Dan membuat semua yang hadir terkesiap dengan itu.
Tak dapat mengelak, Zhuo Zu terkena lemparan O-Huang. Di dadanya tertusuk sebuah jarum dengan pita merah yang berada di ujung. Dan membuat Zhuo Zu pingsan seketika. Dan saat O-Huang hendak di bunuh oleh Huo Ying, pria itu terlebih dulu menggerek lehernya sendiri dengan pedang prajurit.
"Yang mulia.." panik semua orang.
~•••••~
"Apa aku perlu mengantarmu ke istana?" Tanya Ying Hua yang kini sudah berada di atas kuda.
Hong Hui terdiam. Hari sudah gelap, dan dirinya masih di hutan bersama Ying Hua. Ia tadi pergi sendiri dan tidak mengajak dua pengawalnya, atau lebih tepatnya, ia meninggalkan mereka diam-diam.
"Baiklah, sepertinya aku harus benar-benar mengantarmu." Kekeh Ying Hua saat melihat wajah bingung pangeran Hong Hui, "Naiklah."
Pangeran Hong Hui tak menolak. Ia memang membutuhkan bantuan Ying Hua. Jarak tempatnya sekarang dengan istana lumayan jauh. Dan ia meninggalkan kudanya di desa terdekat dan terlalu malas untuk mengambil.
Ying Hua mundur sedikit kebelakang. Ia memberikan ruang Hong Hui untuk duduk di depannya. Setelah dirasa ia cukup nyaman di tempat duduknya. Ying Hua lekas menggerakkan kudanya dengan laju yang tak terlalu cepat.
"Kenapa kita lewat sini?" Tanya Hong Hui saat kuda Ying Hua lebih masuk kedalam hutan.
"Lebih cepat lewat sini. Jalan terlalu memutar jika kita lewat pemukiman." Jawab Ying Hua tenang.
"Sepertinya kau sudah menguasai jalanan hutan ini." Kata Hong Hui lagi saat Ying Hua dengan lihai membawa kuda mereka melaju dan menghindari ranting dan pohon yang menghalangi langkah mereka.
Ying Hua tertawa, "Aku anak hutan." Guraunya.
Pangeran Hong Hui mendengkus, namun kemudian ia bersikap waspada saat kedua telinga tajamnya menangkap sebuah suara yang ganjil.
"Awas," ucapnya membuat Ying Hua segera menghentikan langkah kudanya secara mendadak. Membuat kuda itu mengikik keras dengan dua kaki depannya yang terangkat. Bersamaan dengan itu, sebuah pisau melesat dan menancap di batang pohon samping Ying Hua.
"Tetap tenang pangeran Homg Hui." Ucap Ying Hua saat melihat Hong Hui yang ingin turun dari kudanya, "pasang mata dan telinga baik-baik."
Tak beberapa lama, muncul segerombol orang berpakaian hitam dengan cadar di masing-masing wajahnya. Di dalam keadaan hutan yang gelap, membuat mereka semakin tersamarkan dan menyulitkan Ying Hua untuk mengenali siapa mereka.
Tiga orang pertama menyerang. Ying Hua dengan segera mengangkat pedangnya dan melompat dari kuda setelah menyuruh Hong Hui tetap berada di atas kuda. Dengan gerakan yang gesit Ying Hua bisa melumpuhkan orang-orang itu dengan cepat.
Lima orang kembali menyerangnya saat Ying Hua berhasil melumpuhkan lawan. Ia berputar seraya melayang, menghindar dari sabetan-sabetan pedang yang mengincarnya. Kemudian merentangkan tangan sebentar di udara lalu mengarahkan pedangnya ke arah lawan.
Ying Hua kembali memijak tanah bersamaan dengan satu lawannya yang tergeletak di tanah. Ia berdiri dengan tenang. Menatap musuh yang kini mengepungnya dari segala sisi.
Ying Hua melompat saat semua musuh menyerangnya serentak. Ia bergerak menendang musuh tersebut dan membuat semua musuh tersebut terpental karena tendangannya. Dan saat ia kembali memijak tanah, sesuatu melayang kearahnya. Namun berhasil Ying Hua tampik menggunakan pedangnya. Dan ketika ia melihat kearah dimana benda itu melayang, seseorang segera lari dari sana dan Ying Hua tak berniat mengejarnya.
"Apa mereka suruhan orang-orang yang menginginkan kematianku?" Tanya Hong Hui saat situasi sudah terasa aman.
Ying Hua menggeleng, ia mengambil bambu kecil dengan jarum yang terpasang disana, "Kurasa bukan, mereka mengincarku." Jawabnya tenang sembari mengamati jarum itu. Ia mencium benda itu sejenak, "Racun." Gumamnya saat menyadari ada sesuatu yang melumuri benda tersebut.
Ying Hua berjalan ke arah Gong Hui, "Sebaiknya kita segera pergi." Ia kembali naik di belakang Hong Hui. Dan melanjutkan perjalanan yang sempat terhalang.