Ying Hua memundurkan sedikit tubuhnya ke arah Ming Yu, ia menatap tajam seseorang yang tengah asik berbincang di depan sana. Menelisik sang target secara terperinci.
"Kau yakin dialah orangnya? Jangan sampai salah sasaran Ming Yu." Bisik Ying Hua pada Ming Yu yang kini tengah memainkan batu kerikil di tangannya.
"Aku yakin. Aku sudah bertanya dengan orang-orang yang berada disini. Dan mereka mengatakan, pria tampan dengan baju coklat itu adalah pejabat yang memimpin desa ini." Jawab Ming Yu sama berbisiknya.
Ying Hua terdiam, ia tampak menimang-nimang, "Baik kalau begitu, sebaiknya kita laksanakan misi ini dengan segera."
Ming Yu memutar kedua bola matanya bosan, "Jika kita melakukannya pada siang hari seperti ini, mereka pasti akan dengan mudah menangkap dan mengenali kita Ying Hua."
Ying Hua berdecak dan bersedekap, "Benar juga, tapi memang ada yang harus kita lakukan sebelum menuntaskan misi ini."
"Misi apa?" Kening Ming Yu mengerut tak mengerti.
"Misi tambahan, sudah ayo ikut saja." Kata Ying Hua sembari menyeret Ming Yu yang dengan susah payah mengikuti langkah kakinya karena pria itu berjalan mundur.
Ying Hua mendudukkan Ming Yu di sebuah kedai yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Kemudian ia memanggil bibi penjual pemilik kedai tersebut dan memesan satu poci arak putih dan juga satu porsi kue kering.
"Jadi ini yang kau maksud misi tambahan itu?" Ming Yu menatap Ying Hua malas yang kini dengan santainya menuangkan arak ke cawan berwarna hijau miliknya.
"Kau akan tahu nanti, sekarang nikmati dan tajamkan pendengaranmu." Ucap Ying Hua lirih sebelum ia menyesap arak miliknya.
Kening Ming Yu mengkerut, namun tak urung pria berusia 21 tahun itu ikut menuangkan arak ke cawan miliknya dan meneguknya dengan tenang. Ia mengikuti apa yang Ying Hua katakan.
"Seperti rencana sebelumnya, kita akan beraksi nanti malam." Suara pria samar terdengar.
"Tapi bos, bagaimana jika tuan O-huang tahu?" Suara lain menyambut.
"Dia tidak akan tahu, aku sudah menyiapkan pesta untuknya nanti malam, dia akan sibuk bersenang-senang dengan para p*****r yang sudah aku sewa. Dan saat itu terjadi, kau cari catatan buku yang di gunakannya untuk mencatat pajak dan serahkan itu pada tuan O-peng."
Jeda sejenak.
"Lalu setelah selesai, letakkan buku yang nantinya di berikan oleh tuan O-peng ke tempat dimana buku yang kau ambil tadi."
"Baiklah aku mengerti."
Ming Yu membulatkan bibirnya saat mendengar percakapan orang-orang yang duduk tak jauh dari mereka, ia kini menatap Ying Hua paham.
Ying Hua tersenyum miring sembari mengangkat sebelah alisnya, ia meneguk tegukan terakhir arak di cawan miliknya dan menatap Ming Yu dengan binar mata penuh kemenangan.
"Sudah bisa membaca apa yang aku rencanakan?" Tanya Ying Hua sembari meletakkan cawan ke meja.
Ming Yu menyeringai, ia bertopang dagu dengan sebelah tangannya, "Tentu saja."
~•••••~
Zhuo Zu menatap Wang dengan datar, raja dengan mata hazel yang tajam itu tampak memikirkan apa yang di katakan oleh sang perdana menteri.
"Hamba memang bekerja sama dengan padepokan milik tuan Han yang mulia. Mereka melakukan misi dengan memata-matai para pejabat yang berada di ibu kota kerajaan ini yang di curigai melakukan penghianatan ataupun kesalahan." Wang menjelaskan, kemudian ia membungkuk dalam pada junjungannya itu, "Maafkan atas kelancangan hamba yang tidak meminta ijin dan memberitahu anda dalam hal ini. Tapi mengingat kondisi anda yang seperti ini, para penghianat pasti akan berkumpul untuk menggulingkan anda." Imbuhnya dengan suara yang tegas meski dalam hatinya ia cukup ketakutan karena menyinggung hal yang tidak seharusnya.
Raja Zhuo Zu tetap bungkam. Ia hanya menatap Wang dengan tenang sebelum akhirnya ia berdiri dari singgasananya. Berjalan menghampiri Wang dan menepuk sekali bahu perdana menteri kepercayaannya itu, "Aku mengandalkanmu." Ucapnya sebelum berlalu.
Wang sedikit terkejut, namun tak urung dirinya akhirnya bisa menghela nafas lega. Dan kemudian ia teringat akan sesuatu, dengan segera ia berbalik menghadap kearah raja Zhuo Zu.
"Yang mulia." panggilnya.
Zhuo Zu berhenti, ia menolehkan kepalanya tanpa membalikkan badannya menatap Wang, menunggu orang terpercayanya itu untuk bicara.
"Ada yang ingin saya katakan tentang kerja sama dengan padepokan Han yang mulia." ucap Wang ragu.
"Katakan."
"Sebelum mereka menyetujui kerja sama ini, mereka ingin timbal balik yang mulia, mereka melakukan ini dengan syarat."
Zhuo Zu mengangkat sebelah alisnya? "Apa syaratnya?"
Wang tak lekas menjawab, ia menelan ludahnya dengan kasar, "Tuan Hui Zhong, putra dari tuan Han ingin anda menjadikan putrinya salah satu selir anda." jelas Wang setelah di rasa cukup mengumpulkan keberaniannya.
Zhuo Zu terdiam, kemudian ia berbalik dan kembali melanjutkan jalannya, "Kupercayakan padamu." ujarnya sebelum menghilang di balik pintu ruang pertemuan.
Wang kembali mengambil nafas lega. Senyum kecil terlihat di bibirnya. Ia kira tadi akan menjadi hari terakhinya mempunyai kepala saat ia mengatakan hal yang di setujuianya 3 tahun belakangan ini. Ia paham akan sifat raja yang kini tengah kehilangan arah untuk hidup itu. Meski terkesan acuh tak acuh, sedikitnya yang mulia masih mempunyai sisi kepedulian dan mengerti akan sekirtarnya.
~•••••~
"Kau kembalilah ke padepokan terlebih dahulu,"
Ming Yu memelankan laju kudanya, menyamai laju kuda Ying Hua yang semula ada di belakangnya, “Mau kemana?”
"Ke suatu tempat. Berikan laporannya pada paman, aku akan kembali siang atau sore nanti." kata Ying Hua sebelum mengarahkan kudanya berlawanan arah dengan Ming Yu.
Ming Yu mendengkus, hari baru saja berganti pagi, namun Ying Hua langsung pergi lagi tanpa mau mengistirahatkan tubuhnya setelah selesai mereka melakukan misi pada malam tadi. Mengabaikan teman seperguruannya itu, Ming Yu kembali melanjutkan perjalanannya ke padepokan. Ia butuh istirahat sekarang.
Ying Hua menghentikan langkah kudanya dan turun. Ia mengikatkan tali kekang kuda di salah satu pohon yang ada di sana. Kemudian berjalan masuk menerobos semak yang tidak terlalu lebat.
Tatapan Ying Hua tertuju pada seseorang yang berdiri membelakanginya sedikit jauh di depan sana. Ia meraih belati sedang yang di simpannya di pinggang untuk berjaga-jaga, kemudian ia melemparkan belati itu ke arah orang tersebut, dan bisa di hindari dengan mudah oleh sang sasaran.
Ying Hua tersenyum, ia berjalan lebih dekat kearah orang itu, "Kau mempunyai insting yang bagus untuk menghindari serangan dadakan." kata Ying Hua sembari meletakkan pedang merahnya yang sedari tadi di bawanya.
Pangeran Hong Hui berbalik menatap seseorang yang baru saja datang. Alisnya bertaut saat melihat penampilan Ying Hua hari ini, "Kau dari mana?" tanyanya tak menjawab perkataan Ying Hua tadi.
Ying Hua melepaskan jubah yang di pakainya dan di letakkan di sebelah pedangnya, "Darimana saja." ia merebahkan dirinya di gazebo, "Aku tidak menyangka kau akan kemari sepagi ini."
Pangeran Hong Hui mendengkus, ia mendudukkan diri di samping Ying Hua yang berbaring, ia tak menjawab dan hanya menatap Ying Hua sekilas yang juga memandangnya. Kemudian tatapan hazelnya jatuh pada dedaun yang basah akibat embun pagi.
"Aaa biar aku tebak, kau kabur lagi ya?" tanya Ying Hua saat tak mendapat jawaban.
"Begitulah."
Ying Hua terkekeh saat mendengar nada datar yang terkesan malas itu, "Dasar tukang kabur." oloknya.
Sedangkan pangeran Hong Hui hanya mengangkat bahunya acuh tak peduli.
"Aku mulai berfikir, kenapa kau selalu keluar istana? Sedangkan pasti pangeran seusiamu masih banyak yang harus di pelajari untuk menjadi pemimpin di masa depan. Kenapa kau selalu melewatkan sekolahmu?" tanya Ying Hua lagi.
"Kau mulai cerewet seperti paman Huo Ying." gerutu Hong Hui.
"Siapa Huying?"
"Huo Ying." koreksi Hong Hui saat Ying Hua salah menyebut nama, "Dia penasehat sekaligus tangan kanan ayahku. Bisa di bilang ia adalah anak ayamnya ayahku juga."
Ying Hua terbahak, "Bagaimana mungkin kau menyamai tangan kanan yang mulia raja seperti itu? Itu tidak baik." katanya di sela tawa.
"Tidak baik tapi kau juga menertawainya." koreksi pangeran Hong Hui.
Ying Hua mengambil nafas dalam setelah ia berhasil meredam suara tawanya, "Hm, tapi namanya terdengar tidak asing." gumam Ying Hua saat ia merasa jika nama penasehat raja itu terasa familiar baginya.
Pangeran memutar kedua bola matanya, "Sudahlah kenapa kita jadi membahas paman Huo Ying?"
Ying Hua mengangguk membenarkan, "Baiklah, daripada kau hanya melamun disini, kenapa tidak latihan saja sekarang." Ying Hua tersenyum tipis.
Hong Hui menoleh, ia kini tampak lebih semangat dari sebelumnya, "Siap laksanakan, ibu." ia beranjak dan mulai berjalan ke arah dimana danau kecil berada.
"Hei, jangan memanggilku seenakmu." gerutu Ying Hua, ia bangun dari rebahannya dan menatap pangeran kecil itu malas.
"Sudahlah ibu, cepat kemari." pangeran Hong Hui mengabaikan protes dari Ying Hua.
Ying Hua memutar kedua matanya, "Hahh, terserahmu saja." ucapnya diiringi helaan nafas. Ia beranjak dan segera mengikuti Hong Hui dari belakang.
~•••••~
Mei Lan menatap Guo Zhi dengan pandangan yang nanar. Air mata merembes melewati pipi cantiknya. Rasa sakit di hatinya bertambah saat melihat sang pujaan hati yang kini tengah melampiaskan amarah dan kesedihannya pada pohon tak bersalah.
"Kakak, kumohon berhentilah menyakitimu sendiri." Mei Lan menghampiri Guo Zhi, mencoba menyadarkan pria itu agar tak lagi memukuli pohon besar yang kini mengelupas dan menampakkan daging pohon yang bercampur dengan darah pria tersebut.
Guo Zhi tak peduli, ia tetap membabi buta memukuli pohon di hadapannya hingga darah mengalir deras di kedua tangannya. Mata pria itu menggelap, nafasnya tak beraturan. Menyimpan amarahnya di dalam d**a.
"Kak Gaara!" Mei Lan menangis keras, ia memeluk Guo Zhi dari belakang, sesenggukan di punggung pria yang di cintainya itu, "Kumohon hentikan, kau menyakiti dirimu sendiri."
Guo Zhi berhenti, kedua tangannya jatuh kesisi-sisi tubuhnya. Rintik hujan mulai turun membasahi kedua orang itu yang masih berdiri dan tak mau mencari tempat berteduh, "Rasa sakit ini tak sebanding dengan rasa kecewa dan sakit hatiku, Mei Lan." lirih Guo Zhi, setitik air mata jatuh dari matanya yang indah. Melebur dan terhapus bersama air hujan yang kian deras.
Mei Lan menggeleng dalam dekapannya, "Tidak hanya kau yang terluka, tapi aku juga."
Guo Zhi mengambil nafas dalam, ia mendongak menatap awan yang mendung dan menumpahkan airnya. Seolah ikut menangisi kesedihannya, "Kenapa paman sangat tega pada kita. Padahal ia paham akan perasaan kita."
Mei Lan semakin menangis dengan deras, mendengar suara kepiluan dari pria yang di cintainya dan terkenal dengan pengendalian emosi itu membuat hatinya semakin teriris. Ia tak menjawab, hanya mengeratkan pelukannya.
Guo Zhi melepaskan pelukan Mei Lan, kemudian ia berbalik, menatap mata indah milik orang yang menawan hatinya itu. Kedua tangannya yang terluka terulur, menangkup kedua pipi Mei Lan. Membuat pipi itu berwarna merah karena darah yang masih merembes dari lukanya yang tersamarkan oleh air hujan.
"Bagaimana kalau kita melarikan diri. Kita pergi dari sini." kata Guo Zhi yang terdengar putus asa.
Mei Lan menggeleng, ia menundukkan kepalanya dengan sebelah tangan menangkup salah satu tangan Guo Zhi yang terluka, mengecupnya dengan penuh cinta.
"Kenapa? Apa karena kau lebih memilih menjadi selir raja?" tanya Guo Zhi penuh terluka.
Sekali lagi Mei Lan menggeleng, "Ayah akan melakukan hal yang buruk jika aku kabur bersamamu." Mei Lan menatap Guo Zhi dengan binar yang sama terlukanya, "Kita tak punya pilihan kakak."
Guo Zhi menggeram marah, "Aku tidak peduli, meskipun nanti paman akan membunuhku, aku tidak akan takut. Aku akan menghadapinya."
"Jangan lakukan itu," Mei Lan menangkup pipi Guo Zhi, "Semua yang ada di padepokan akan terluka kakak. Kata ayah, jika aku menolaknya, maka padepokan akan di hancurkan oleh kerajaan Anming."
"Aku tidak takut, aku akan menghadapi mereka."
Mei Lan menggeleng, ia beralih memeluk Guo Zhi dengan erat, "Pikirkan nasib adik Ying Hua kak. Ayah akan melakukan sesuatu padanya jika aku menolak."
Guo Zhi membeku, jadi Mei Lan tidak menolak itu semua karena Ying Hua? Lagi-lagi..
"Kenapa kau selalu mempedulikan gadis itu?!" Guo Zhi membentak dan mendorong kasar Mei Lan, "Sesekali pikirkanlah perasaanku!" tatapannya tajam, penuh luka dan kekecewaan, "Dan perasaanmu.. " imbuhnya dengan suara yang lirih.
Mei Lan bergerak kembali memeluk Guo Zhi, "Aku tak bisa, aku benar-benar tidak bisa. Rasa bersalah ini.. " ia tak sanggup melanjutkan, "Kau tahu sendiri alasannya, kakak." Ia membenamkan wajahnya di d**a Guo Zhi.
Guo Zhi memejamkan matanya, ia tak lagi bersuara. Tangannya terangkat pelan, membalas pelukan gadis tercintanya. Memeluk gadis itu dengan erat, seolah takut ia akan melupakan rasa dari pelukan gadisnya itu. Dalam tangisan langit yang deras, kedua insan itu saling memeluk dan meresapi rasa yang tak mungkin bisa dirasakan kembali.