Langit pagi itu tampak abu-abu, seakan ikut merasakan kekacauan kecil yang sudah menimpa Nayra sejak bangun tidur. Udara lembap menempel di kulitnya, membuat gerakannya terasa lebih berat dari biasanya. Ia menatap jam di ponsel—terlambat lima belas menit dari jadwal biasanya.
“Ya Allah… kenapa sih pagi ini?” desahnya sambil mempercepat langkah.
Baru dua meter keluar gerbang rumah, sepatu putih kesayangannya menginjak genangan air yang tersembunyi di balik bayangan mobil tetangga. Percikan cokelat kehitaman m*****i hampir separuh sepatu.
Nayra menatap noda itu beberapa detik.
Tidak marah, tidak kesal… hanya terdiam.
Seolah tubuhnya belum siap menerima kenyataan bahwa hari ini benar-benar tidak berjalan baik.
Ia melanjutkan langkah cepat menuju halte angkot. Ketika angkot lewat, Nayra mengangkat tangan—namun sopirnya tak menoleh, malah tancap gas. Angkot kedua datang, penuh. Angkot ketiga… penuh lagi.
“Serius…?” gumamnya, hampir putus asa.
Akhirnya ia memutuskan naik bus kecil yang melaju cukup lambat. Begitu ia naik dan akan duduk di kursi dekat jendela, seseorang dari belakang langsung menyerobot duduk duluan tanpa permisi.
Nayra terpaku sejenak.
Biasanya ia tidak terlalu peduli soal hal seperti ini.
Namun hari ini, kejadian-kejadian kecil itu terasa menumpuk seperti pasir yang perlahan menutup ruang napasnya.
Ia berdiri sepanjang perjalanan, tubuhnya terguncang-guncang ketika bus mengerem mendadak. Tasnya terayun dan hampir terjatuh. Seorang bapak paruh baya tanpa sengaja menyenggolnya, tapi tidak meminta maaf.
Setiap menit terasa sangat panjang.
Ketika akhirnya bus berhenti dekat sekolah, Nayra turun dengan lega. Namun detik itu juga angin kencang berhembus, mengangkat rambut panjangnya sampai berantakan total. Bahkan pita biru yang ia pasang rapi pagi tadi ikut terlepas dan jatuh tepat ke selokan kecil.
Ia menatap pita itu yang perlahan terbawa air.
Hatinya ikut terasa ikut terbawa.
“Ya ampun… kok begini banget, sih,” gumamnya pelan.
Nayra menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa semangat yang masih terselip entah di mana.
“Sudahlah. Tinggal masuk sekolah. Mungkin nanti baikan,” katanya pada diri sendiri, meski ia tidak yakin.
Tanpa ia sadari, perjalanan yang menyiksa itu baru permulaan.
Apa yang menunggunya di sekolah jauh lebih aneh…
dan jauh lebih menyakitkan.