Pagi itu seharusnya terasa biasa saja. Burung gereja bersahutan di atas genteng, cahaya matahari menyelinap pelan melalui tirai kamar, dan aroma roti panggang dari dapur biasanya menjadi tanda bahwa ibunya sudah bangun lebih dulu.
Namun bagi Nayra, sesuatu terasa berbeda sejak ia membuka mata.
Ada sensasi aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Seolah mimpi tadi malam masih menggantung di udara, menempel di kulitnya, dan enggan pergi meski matahari sudah cukup tinggi. Ia memejamkan mata sebentar, mencoba mengingat apa yang ia mimpikan, tetapi yang tersisa hanya perasaan tidak enak yang samar.
“Kenapa aku merasa… nggak nyaman ya?” gumamnya sambil meraih ponsel di samping bantal.
Begitu mengangkatnya, ponselnya terpeleset dari tangannya dan jatuh ke lantai dengan bunyi duk! yang membuatnya terlonjak. Ia buru-buru memungutnya, berharap tidak ada yang retak, namun ia langsung mengernyit melihat layar yang tiba-tiba bergaris tipis.
“Aduh… ya ampun, baru bangun langsung kayak gini,” keluhnya.
Ia bangkit dari tempat tidur, tapi ujung selimut tersangkut di kakinya hingga membuatnya hampir jatuh.
“Ya Tuhan…” desahnya kesal.
Di meja belajar, seragam sekolah yang sudah ia setrika malam tadi terlihat jatuh ke lantai. Saat ia mengangkatnya, ia melihat ujung sakunya tersangkut dan robek sedikit.
Nayra terdiam.
Tiga kejadian kecil dalam lima menit.
Apa ini kebetulan?
Ia menatap dirinya di cermin. Rambutnya kusut, matanya tampak sedikit lelah meski ia yakin tidur cepat semalam. Ada bayangan gelisah di tatapannya, seperti sesuatu yang belum selesai.
“Mungkin cuma salah hari,” ujarnya mencoba menenangkan diri.
Setelah mengganti seragam dan menata rambut seadanya, ia turun ke dapur. Aroma roti panggang yang biasa menguar ternyata tidak ada. Ibunya sedang sibuk dengan panci di kompor, wajahnya tampak buru-buru.
“Ma, ada roti?” tanya Nayra sambil membuka kulkas.
Ibunya menoleh cepat. “Aduh, mama lupa beli. Semalam capek banget… buat mie instan aja ya?”
Nayra tersenyum lemah. “Iya gapapa…”
Namun, saat ia menyalakan kettle untuk membuat teh, kabelnya tiba-tiba terlepas dan air panas yang seharusnya mengalir malah tumpah sedikit mengenai meja. Tidak sampai melukai, tetapi cukup membuatnya memundurkan badan dengan kaget.
“Nayra, kamu nggak apa-apa?” tanya ibunya panik.
“Enggak, cuma… pagi ini rasanya aneh banget,” jawab Nayra sambil menghela napas.
Ia makan mie instan seadanya, namun rasanya hambar. Pikirannya melayang pada firasat tak enak semalam. Firasat itu sekarang seperti semakin menguat, menjadi kabut tipis yang mengikuti setiap geraknya.
Setelah selesai bersiap, ia menggendong tas dan berjalan menuju pintu.
“Nayra, hati-hati ya,” ujar ibunya.
Nayra mengangguk, tetapi hatinya sependek tarikan napasnya.
Ia membuka pintu rumah dan dunia pagi yang biasanya cerah tidak menyambutnya dengan baik. Langit meredup, seperti mendung yang datang terlalu cepat. Angin dingin menerpa wajahnya, membuat ia merapatkan lengan.
“Pagi macam apa ini…” gumamnya lirih.
Tak ada yang ia lakukan yang terasa benar. Bahkan langkah pertamanya keluar rumah terasa berat, seperti ada sesuatu yang menunggu di luar sana. Sesuatu yang tidak ia pahami. Sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya:
Kenapa, sih, hari ini terasa tidak ramah kepadaku?
Dan Nayra belum tahu, bahwa ini baru permulaan.