Begitu Nayra melangkah masuk gerbang sekolah, biasanya ia disambut hiruk-pikuk yang sudah akrab di telinganya—suara teman-teman yang bercanda, teriakan kecil anak-anak kelas X yang masih labil, dan gurauan satpam yang suka menggoda murid-murid rajin.
Tapi pagi ini… semuanya terasa berubah.
Bukan sepi, bukan juga ribut. Entah bagaimana suasananya berbeda.
Seperti suasana sekolahnya memakai wajah lain yang tidak ia kenal.
Tatapan pertama yang membuatnya mengernyit adalah dari sekelompok siswi kelas XI IPA 1. Mereka biasanya ramah, paling tidak masih suka senyum atau menyapa ringan. Tapi kali ini, begitu Nayra berjalan melewati mereka, mereka langsung diam… lalu saling berbisik sambil sesekali melirik ke arah Nayra.
Bukan tatapan jahat, tapi tatapan… aneh. Dingin. Penuh jarak.
Nayra berhenti sejenak, merapikan rambut yang masih sedikit kusut.
“Mungkin cuma perasaanku aja,” pikirnya.
Ia berjalan ke loker sepatu sambil menunduk, tapi ketika membuka lokernya, ia tertegun.
Loker itu… kosong.
Sandal sekolah yang ia simpan di situ menghilang tanpa jejak.
Ia memeriksa sekali lagi.
Atas, bawah, semua sudut. Tidak ada.
“Hah… siapa yang iseng?” Nayra berbisik, bingung.
Biasanya, kejadian receh seperti ini langsung membuat dua sahabatnya—Raina dan Selvi—datang ribut-ribut, ikut panik atau malah menggoda.
Tapi pagi ini tidak ada seorang pun yang muncul.
Dengan sedikit pasrah, Nayra berjalan ke kelas dengan sepatu kotor yang masih basah dari genangan air sebelumnya.
Ketika memasuki kelas XI IPS 2, ia menemukan suasana yang tidak kalah ganjil.
Beberapa teman yang biasanya menyapanya dengan ceria hanya menoleh sekilas, lalu kembali sibuk sendiri. Bahkan ada yang sengaja menghindari tatapannya.
Seolah-olah… ia tidak terlihat.
Atau lebih buruk: seolah-olah mereka sengaja menjauhinya.
Nayra mencoba tersenyum pada Mira, teman sebangkunya.
Namun Mira hanya mengangguk kecil tanpa senyum—sekilas saja, dingin, lalu memindahkan buku-bukunya ke meja lain.
Nayra berdiri terpaku.
“Mira… kamu pindah?” tanya Nayra pelan.
“Emm… iya. Aku mau duduk sama Dini hari ini,” jawab Mira singkat tanpa menatapnya.
Oh.
Biasanya Mira tak pernah mau duduk dengan siapa pun selain dirinya.
Biasanya.
Nayra merasakan dadanya menghangat—bukan hangat yang nyaman, tapi seperti ada sesuatu yang ditarik perlahan. Ia berusaha menahan diri agar tidak terlihat sedih.
Baru saja ia ingin menarik kursi untuk duduk, seorang anak lelaki dari depan kelas menyenggolnya cukup keras hingga tasnya hampir jatuh.
“Eh, hati-hati!” seru Nayra refleks.
Tapi anak itu hanya melihatnya sebentar, lalu pergi tanpa permintaan maaf.
Nayra menggigit bibir. Ada rasa pedih kecil yang mulai naik ke tenggorokan.
“Apa, sih… salah aku apa?” gumamnya hampir tak terdengar.
Tidak ada yang menjawab.
Tidak ada yang peduli.
Dan entah mengapa, sekolah yang selama ini menjadi tempat yang paling aman untuknya… terasa seperti zona asing yang tidak ingin menerimanya hari itu.
Ia menunduk, menahan napas.
Tanpa sadar, hari yang menyakitkan itu baru saja dimulai.