Risa, Angga, dan Kelvin berlutut di dalam sebuah ruangan gelap dan sempit. Di depan mereka, berdiri seorang pria kekar dan dua orang temannya. Pria bertato yang nampaknya adalah bos dari ketiga orang di belakangnya itu mendekat. Kelvin bisa mencium aroma tidak mengenakkan berasal dari ketiak pria bertato, dia pun mengucapkan selamat tinggal pada indera penciumannya yang berharga. Terima kasih sudah melakukan tugasmu dengan baik selama ini, batin Kelvin.
"Kalian bertiga!" Bentak pria bertato.
"Aaaahhhhkk tolooong Oooom, jangan bunuh kamiii" Angga berteriak histeris sambil mulai terisak. Perut buncitnya kembali bergoyang.
"Hah? Siapa yang mau bunuh kalian?!"
"Kalau ga dibunuh, terus kenapa kita ditangkap?!" Seru Risa bergetar ketakutan.
Pria bertato itu menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang kuning. Kemudian dari arah pintu, masuk seorang pria kurus yang tidak asing.
"Ini bos, hpnya!" Kata pria kurus itu.
Kelvin, Angga, dan Risa bertatapan bingung.
"Rekamannya?" Tanya pria bertato.
Mereka pun mengotak-atik ponsel Angga dan menemukan video yang mereka cari. Pria bertato itu memperlihatkan videonya di hadapan mereka bertiga.
"Apa maksudnya ini? Kalian mata-mata polisi ya? Intel?" Pria itu bertanya geram sambil mencengkeram leher Angga.
"Aaaaahhhkkk, heeek heeek" Angga menjerit tercekik.
"Tunggu dulu Om! Bukan begitu ceritanya!" Teriak Kelvin ketakutan.
"Kami salah alamat! Kami kira tadi ini rumah teman kami, terus pas mendengar ada suara rintihan dari dalam, kami kira itu hantu. Makanya kami coba rekam dengan kamera hp, tapi ternyata...” Jerit Risa panjang lebar tanpa bernafas. Kepalanya pusing, apakah sebentar lagi dia akan pingsan saking takutnya?
"Apa? Jadi kita terlibat masalah ini hanya gara-gara kalian berdua mau ngerekam hantu? s****n! Sudah kuduga, kalian pasti melakukan hal bodoh!” Kelvin emosi.
"Ya, mana kita tau? Kalau ternyata itu orang!" Sahut Risa tak kalah emosi.
"Diam!" Bentak pria bertato melihat kedua bocah di depannya malah bertengkar satu sama lain.
Kelvin dan Risa bungkam. Sedangkan Angga masih tersedu perlahan. Dia hampir kehilangan nafas. Risa menoleh pada pria kurus di belakang si pria bertato. Itu kan pria yang tadi hampir saja di bunuh?! Apaan sih? Jadi mereka berteman?
"Aaahhhkkk!" Pria bertato itu berteriak keras, rupanya Angga menggigit tangannya. Dia memukul kepala Angga dengan keras sehingga cowok itu jatuh membentur lantai. Pingsan seketika!
"Angga!" Kelvin berteriak panik.
"Dasar bocah gendut, s****n kau!" Pria bertato mengangkat kakinya dan hendak menginjak kepala Angga. Kelvin bergegas melindungi, kini punggungnya lah yang siap diterjang oleh tendangan.
"Boss, tunggu!" Tiba-tiba terdengar suara dari pojokan. Salah satu anak buah si pria bertato memperlihatkan selembar kertas kecil di tangannya, seperti stiker. Hal itu membuat si pria bertato menghentikan tendangannya. Dia dan teman-temannya saling berpandangan.
Kelvin yang sudah siap menerima tendangan pun membuka matanya. Dia melihat pria bertato itu menyeringai jahat padanya dengan stiker keluarga Kelvin di tangannya. Kelvin menghela nafas kesal, s****n. Dapat masalah gara-gara stiker bodoh itu! Sementara itu Risa masih berlutut gemetar, nafasnya naik turun.
"Hoooohh, anak pejabat rupanya? Orang kaya ya?" Pria bertato terkekeh. "Papamu banyak duit ya? Khekhekhe, gimana kalau kita culik aja nih anak?" Pria bertato memandangi ketiga anak buahnya satu persatu. Mereka semua terkekeh menakutkan.
"Betul boss. Kita bisa meminta uang tebusan dari orang tuanya sebanyak mungkin!" Celetuk salah satu pria. Mereka semua pun tertawa keras.
Pria bertato tersebut mencengkeram kerah baju Kelvin dan mengangkatnya ke atas.
"Kalau tidak mau mati, kau harus kerja sama dengan kami. Mengerti?!" Kata pria itu sambil lagi-lagi menyeringai memperlihatkan gigi kuningnya, Kelvin merasa mual.
Pria bertato lalu menyodorkan ponsel ke arah Kelvin, "Cepat telepon orang tuamu!"
Kelvin memandang Risa yang masih pucat pasi. Dengan ragu dia pun meraih ponsel tersebut dan mengetikkan angka di sana. Sesaat kemudian, panggilan tersambung.
"Halo?" Terdengar suara seorang wanita.
"Anak anda diculik!" Pria bertato memulai aksinya.
"Ha? Siapa yang culik?"
"Saya!"
"Anda siapa?"
"Anda tidak perlu tau! Kami minta tebusan! Kalau tidak dia akan kami bunuh!"
"Benarkah?" Tanya wanita di seberang, ada yang aneh dengan nada bicaranya, tidak terdengar seperti suara seorang Ibu yang khawatir anaknya dalam bahaya.
Pria bertato sedikit geram. Dia menyodorkan ponsel di mulut Kelvin dan memberikan isyarat agar dia bicara.
"Ma... Kelvin diculik." Kata Kelvin pelan.
"Kelvin!" Jerit wanita itu keras. Untuk sesaat, Kelvin merasa berdebar, apakah Mamanya akan panik? Apakah pada akhirnya, perhatian Mamanya akan tertuju pada Kelvin saat mengetahui dirinya diculik?
"Kamu kemana aja?! Sudah sesore ini belum pulang?! Pakai sandiwara diculik segala lagi! Emangnya kamu masih sepuluh tahun? Dengar ya! Barusan Mama dapat telepon dari Kepala Sekolah, katanya nilai pelajaran kamu menurun ya? Apa semua les privat yang Mama sudah jadwalkan gak kamu ikuti? Kalau begini caranya, gimana kamu bisa membawa nama baik keluarga?! Kerjaanmu hanya keluyuran saja! Dasar anak gak tau diri! Mama tidak punya waktu untuk hal macam ini!" Tet. Telepon dimatikan.
Untuk beberapa saat ruangan itu sunyi. Angga yang sudah tersadar dari pingsannya menatap Kelvin iba. Risa pun sama, entah kenapa kedengarannya menyedihkan. Mama macam apa yang membiarkan anaknya diculik? Khawatir pun tidak?!
"Hah? Apa yang salah dengan orang tuamu? Kau gak disayang, ya?" Kata pria bertato yang diikuti oleh tawa anak buahnya. "Diam kalian! Kalau gini caranya, kita gak bakalan dapat apa pun!" Mereka pun berhenti tertawa.
"Gimana kalau kita telpon orang tua mereka berdua saja!" Celetuk pria lainnya.
"Aku gak punya orang tua." Sahut Risa.
"Jangan bohong kau!"
"Kalau aku orang miskin, mana mampu orang tuaku kasih duit."
"Kurang ajar! Pintar juga ngelabuinnya? Mau mati ya, kalian?" Pria bertato emosi, dia memukul kepala mereka bertiga dengan ujung gagang pisau yang dikeluarkan dari saku celananya.
Kelvin, Angga, dan Risa menjerit kesakitan.
"Diam!" Pria bertato itu kembali memukul kepala mereka.
Lalu salah satu anak buahnya mendekat dan membisikkan sesuatu pada pria bertato. Dia menunjuk ransel milik mereka bertiga dan milik Tom yang sudah mereka sita. Kemudian pria bertato itu menyeringai lagi. Seolah rencana jahat sudah mereka susun. Pria bertato pun melangkah keluar dan tidak kembali selama beberapa saat. Ketiga anak buahnya berjaga dengan awas.
Angga, Kelvin, dan Risa saling mendekat. Mereka berbisik.
"Kita harus kabur dari sini. Aduh, kepalaku sakit sekali." Kata Risa.
"Iya, sekarang kesempatannya. Selagi pria bertato tidak ada di sini." Sahut Kelvin, mengusap kepalanya yang juga sakit.
"Tapi gimana caranya?!" Pekik Angga. Apakah ada jalan keluar untuk mereka?
"Pertama, kita ambil dulu tasku, karena kunci mobil ada di dalam situ." Kelvin mulai menyusun rencana.
Mereka menoleh ke arah sudut ruangan, dimana tas mereka tadinya dikumpulkan. Namun benda itu tidak ada di sana.
"Loh, mana tasku?" Tanya Kelvin celingak celinguk.
"s**l, pasti dibawa oleh pria bertato tadi. Mungkin sudah ketahuan kalau kita kesini naik mobil." Risa menggigit bibirnya.
"Sudahlah, lupakan saja mobil. Kita kabur aja dulu pokoknya." Tangkas Kelvin.
"Tapi, gimana caranya? Anak buah pria itu pasti akan menghalangi kita." Kata Angga.
"Kau bertubuh besar.” Tunjuk Kelvin. “Jadi, kau lari secepatnya menerobos keluar agar perhatian mereka tertuju padamu. Setidaknya dua dari mereka akan menghadangmu. Lalu Risa, kau lihat kayu di pojokan itu kan? Ambil dan pukul kedua orang yang menghadang Angga. Sisanya yang satu orang sepertinya tidak terlalu kuat, biar aku yang menghadapinya." Jelas Kelvin sedikit percaya diri, entah dari mana dia mendapatkan ide itu di waktu yang konyol seperti ini. Seumur hidup dia belum pernah beradu fisik. Dalam hati ia berharap, semoga pengetahuan berkelahi yang didapatkannya dari film-film action yang dia tonton selama ini akan berguna. Yah, walau pun itu mustahil.
"Sepertinya boleh juga? Walau pun aku tidak yakin." Ucap Risa, menggulung lengan seragamnya untuk menimbulkan sedikit efek berani, meskipun sia-sia.
"Hah, apa itu? Kalian berencana kabur dari sini, ya?" Tiba-tiba terdengar suara. Mereka bertiga menoleh dan tersentak.
"Kalian bodoh, ya? Kedengaran tau?!" Kata pria kurus dari sudut ruangan.
"Mau menghadapiku sendirian kau bilang? Kau kira aku selemah itu?" Sahut pria satunya, merasa diremehkan. Oleh anak SMA lagi!
Kelvin, Risa, dan Angga terdiam memucat.
"Tidak ada waktu lagi, sekarang saatnya!" Tiba-tiba Angga mendapat kekuatan, dia berdiri dari tempatnya sambil memasang kuda-kuda. Kelvin dan Risa memandangnya optimis.
Angga menutup mata dan berdoa, "Semua makhluk yang ada di bumi, pinjamkan aku kekuatan!!!!" Kemudian dia berlari menerobos ke arah pintu. “Hiaaaaatttt” berteriak penuh amarah.
Salah satu pria berkepala botak memasang badannya di depan Angga dan hyuuuussssshhhhh. Angga terpental dan badannya terjungkang di dinding. Risa menutup mulutnya ketakutan. Kepalanya pusing, hingga akhirnya dia tak sadarkan diri. Sementara itu Kelvin diam gemetar. s****n. Ternyata mereka kuat, bukan kaleng-kaleng. Masa dia menghadang Angga hanya dengan tubuhnya saja tanpa melakukan apa pun? Apakah mereka bertiga akan mati di sini? Tidak, tidak bisa begini. Masih ada cara lain.
Kelvin bangkit berdiri dan menatap ketiga pria itu dengan tajam. Dia menarik nafas panjang, membusungkan dadanya, kemudian membuka mulut lebar-lebar, "Toloooong! Toloooooong kami diculik!" Teriak Kelvin sekuat tenaga. Lalu dilihatnya pria kurus mendekat cepat ke arahnya dengan tinju yang melayang, buuuuukkkk. Kelvin ambruk.