Risa mengerjap-ngerjapkan matanya, kepalanya berdenyut sakit. Tulang-tulangnya seperti sudah tidak menyatu lagi, dia merasa seluruh tubuhnya lemas, lelah, dan kesakitan. Dilihatnya Kelvin dan Angga sedang berlutut, raut wajah mereka berdua menunjukkan bahwa mereka pun merasakan sakit yang sama. Di depan mereka pria bertato duduk di kursi, rupanya dia sudah kembali.
"Bos, si cewek sudah sadar tuh!" Kata salah seorang anak buah pria bertato.
"Bawa dia kesini!"
Tubuh Risa diseret dan dipaksa ikut berlutut. Di sampingnya Angga masih meringkih ketakutan. Pelipis kirinya tampak sedikit berdarah akibat bekas pukulan, begitu juga Kelvin. Risa menatap pria bertato di depan mereka yang tersenyum licik.
"Barang kalian semua sudah kami sita, begitu juga mobil dan tas ransel kalian yang berisi obat-obatan terlarang." Ungkap pria bertato tersebut.
"Ta... Tapi itu kan bukan milik kami!" Sergah Kelvin.
"Tapi kan kalian yang membawanya kesana kemari? Siapa yang tau kalau kalian adalah pengedar? Atau bahkan pemakai?" Lagi-lagi pria bertato tersenyum jahat. Tentu saja dia tak akan melepaskan anak-anak ini dengan mudah.
"Hukum di Indonesia kepada pengedar itu berat loh!"
"Kami bukan pengedar! Bukan juga pemakai! Kami punya saksi kalau tas itu bukan milik kami!" Sergah Kelvin lagi, tidak menyangka bahwa dia akan seberani ini di depan preman yang berbahaya.
Risa dan Angga menatapnya bingung. Kelvin menoleh pada mereka dan berbisik, "Bu Naomi."
Namun pria bertato itu tertawa keras. Membuat mereka bertiga bingung.
"Kalau begitu kalian tinggal menjelaskannya pada polisi, mengapa barang itu berada di mobil kalian!" Kata pria bertato.
Kelvin menghela nafas berat. Licik juga pria ini, dia pasti sudah menyimpan tas itu di mobilnya. Tapi apa sebenarnya tujuan dia melakukan ini semua?!
"Dengarkan ya, aku tidak ingin basa basi lagi. Kita selesaikan saja masalah ini dengan sederhana. Kalian sudah merekam kami dalam video tanpa sepengetahuan kami, dan kami pun mengetahui kalau kalian menyimpan benda terlarang."
"Kedua hal itu apa hubungannya? Lepaskan saja kami, anggap hal ini tidak pernah terjadi. Kami gak akan melapor pada siapa pun." Kelvin menyela. Dia takut dibunuh, tapi juga muak dengan pria ini.
"Kalau begitu kami gak dapat apa-apa dong? Kalian kira kami akan lepaskan kalian begitu saja setelah merekam markas persembunyian kami?!" Pria kurus berkata emosi. Pria bertato menoleh padanya geram dan memberi isyarat agar tetap tenang.
"Begini, kita lakukan sebuah kesepakatan." Pria kurus itu kembali bicara. "Video yang kalian rekam itu sudah kami hapus. Jadi kalian tidak punya pegangan lagi! Tapi kami punya bukti kalau kalian mempunyai benda terlarang! Jadi kalian mau dilaporkan ke polisi atau kalian membayar uang tebusan atas benda tersebut?!"
"Lapor saja polisi! Kami tidak takut! Kami gak salah!" Teriak Angga.
"Kami akan bayar!" Seru Kelvin, membuat seisi ruangan terdiam.
"Kelvin! Biar saja lapor polisi, kita kan gak salah!" Angga menatapnya tidak setuju.
"Gak ada bukti kalau kita gak salah. Pengakuan Bu Naomi gak akan kuat di pengadilan. Di barang itu juga sudah banyak sidik jari kita bertiga. Lalu kita punya jejak di tempat ini, tempat para kriminal, bisa dibilang kita terlibat dengan antek berbahaya. Dan barang itu ditemukan di mobilku!" Kelvin berkata panjang lebar.
"Pintar sekali! Ditambah lagi barang itu terdapat di semua tas kalian, di bagasi mobil juga banyak." Pria bertato menyeringai.
"Hah? Kau menyabotase mobilku?" Kelvin emosi.
Pria-pria itu tertawa. "Dan tidak sulit mencari alamat kalian lalu menyabotase rumah kalian juga! Jangan rendahkan kami! Kami ini penjahat berpengalaman!" Mereka terbahak seolah itu lucu.
Angga menggigit bibirnya marah. Orang-orang yang sangat licik. Risa pun menatap nanar, kalau mereka dilaporkan ke polisi, dia tidak tahu berapa lama dirinya akan mendekam dalam penjara. Kedengarannya bukan hal yang menyenangkan. Seperti seluruh kebebasan hidupnya direnggut begitu saja dengan paksa. Kalau pun mereka tidak diserahkan ke Polisi, mungkin mereka ada dipukuli sampai mati! Sekarang saja mereka sudah babak belur, para penjahat ini tidak becanda! Dan bagi Kelvin, uang jelas bukan masalah. Dia pun tidak ingin menjalani proses hukum yang panjang, ada nama baik keluarga yang juga harus dia jaga. Kalau itu terjadi, mungkin orang tuanya sendirilah yang akan menghabisi nyawanya. Kelvin bergidik membayangkan wajah Papanya saat sedang murka.
"Berapa yang kalian mau?" Tanya Kelvin.
"Tidak banyak. Karena mobilmu juga akan kami ambil." Sahut pria bertato.
"Loh? gak bisa gitu dong! Itu curang!" Sela Risa jengkel.
"Diam!" Pria bertato itu menendang paha Risa cukup keras.
"Hey cukup! Jangan pukul dia lagi, beraninya sama cewek!" Teriak Angga marah, akibatnya dia pun juga mendapat tendangan di bagian d**a.
"Hentikan! Bilang saja kalian minta berapa! Aku tidak peduli dengan mobil itu! Bilang saja angkanya dan lepaskan kami!" Seru Kelvin tidak tahan lagi melihat dua orang di sampingnya terluka.
"Baiklah! 100 juta!" Kata pria bertato.
“Hah? Kalian gila apa? Dari mana anak SMA seperti kami mendapatkan uang sebanyak itu?!” Seru Kelvin geram. Bahkan jika orangtuanya punya uang untuk menebus itu, ini sudah tidak masuk di akal.
“Baiklah, kalau begitu 50 juta!”
Kelvin diam sejenak. Sepertinya uang di ATM-nya masih kurang dari itu.
"Kalau segitu aku gak bisa memberikannya hari ini. Karena bank sudah tutup. Kalian harus beri kami waktu."
Pria bertato menoleh pada teman-temannya. Mereka tampak saling berbisik, mendiskusikan sesuatu. Kemudian, pria bertato kembali menatap Kelvin.
"Kalau begitu 30 juta! Lagi pula mobilmu sudah kami ambil."
Kelvin terdiam, tampak berpikir keras. Sepertinya kalau jumlah segitu, dia masih bisa mendapatkannya. Dia mungkin harus menjual beberapa barang dan meminjam pada beberapa temannya. Dua orang di sampingnya ini mungkin tidak dapat membantu. Kelvin menghela nafas berat, "Baiklah, kalau begitu lepaskan kami."