Risa membekap mulutnya sendiri ketakutan. Jantungnya berdegup kencang dan nafasnya terengah-engah. Keringat dingin mengalir dan mendekam di sela-sela alisnya yang tebal. Tidak pernah dia merasa setakut ini seumur hidupnya. Sementara itu di depannya Angga berjongkok dengan wajah pucat. Peluh membasahi wajahnya. Suasana gelap dan hening, hanya ada suara nafas mereka yang saling memburu satu sama lain diselingi suara serangga sekali-kali.
Kelvin yang berdiri di pojok ruangan sempit itu masih melayangkan tatapan penuh amarah namun juga penuh tanda tanya ke arah Angga dan Risa. Dia masih menunggu jawaban dari mulut kedua orang itu, saat mereka memutuskan untuk bersembunyi dalam sebuah ruang tua berdebu yang terapit di antara para pedagang pakaian. Risa mengintip dari balik pintu papan yang dipenuhi sarang laba-laba, menatap awas pada situasi di luar. Sepertinya untuk sementara ini mereka aman, pria bertato yang tadi mengejar mereka itu menghilang entah kemana.
Risa berjongkok di depan Angga dan memberikan isyarat pada Kelvin untuk mendekat.
"Ada apa sih? Siapa orang tadi itu? Kalian buat masalah ya di dalam? Sudah kubilang juga jangan masuk!" Omel Kelvin dengan suara berbisik.
"Dia.... Dia pembunuh" Angga merengek ketakutan, suaranya bergetar hebat. Air mata mengalir deras dari kedua mata sipitnya.
Risa meletakkan telunjuk di bibirnya sebagai isyarat agar Angga memelankan suara. Cowok gendut itu membekap mulutnya sendiri sambil tersedu. Kelvin menatap Risa dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan.
"Pembunuh? Omong kosong macam apa itu? Kalian becanda ya?!" Ingin rasanya Kelvin memukuli kedua makhluk merepotkan di depannya ini. Entah apa yang mereka berdua lakukan sampai mereka dikejar-kejar preman dan berakhir dalam ruangan sempit penuh sarang laba-laba.
"Itu... Anu. Aduh, gimana ngomongnya ya?” Ucap Risa pucat, tidak tau harus memulai dari mana. "Angga, sini hpmu!" Katanya masih gemetar.
Angga memberikan ponselnya kepada Risa, gadis kurus itu tampak serius, seolah mencari sesuatu di ponsel tersebut. Kelvin menunggu dengan gelisah. Kemudian Risa menyerahkan ponsel itu pada Kelvin yang menyambarnya dengan cepat. Ada sebuah video di sana, cowok itu segera memutarnya.
Di layar benda persegi panjang itu tampak rekaman Risa yang berjalan di depan Angga. Mereka berdua memasuki sebuah ruangan yang sedikit gelap, tidak ada jendela di sana. Ada suara seperti seseorang yang merintih kesakitan terdengar. Kemudian di video tersebut tampak pria bertato yang mengejar mereka tadi sedang duduk di kursi, dan ada seorang pria lagi yang berlutut di depannya. Pria bertato itu meletakkan sebuah pisau di leher pria yang tersungkur di depannya, rupanya dialah sumber suara merintih yang mereka dengar. Ada dua orang lagi di dalam ruangan itu.
Lalu dari dalam video, terdengar suara Angga menjerit yang diikuti oleh tatapan terkejut dari pria bertato dan teman-temannya. Risa yang berdiri di depan Angga tampak berbalik dan hendak lari, namun dia menubruk tubuh Angga. Tampak handphone Angga terjatuh ke lantai dan menampakkan bubuk putih berhamburan di atasnya. Mereka menjatuhkan sesuatu yang sama dengan yang mereka temui dalam ransel Tom. Sampai di situ rekaman video itu terhenti.
Kelvin memegang kepalanya depresi. Ini bukanlah masalah kecil. Mereka telah merekam aksi kejahatan. Kriminal! Ini bukan masalah kecil! Dan sekarang mereka sedang dikejar-kejar oleh preman pasar tersebut. Dia pasti tidak sendirian. Dia pasti punya banyak teman yang juga sedang mengejar mereka. Astaga! Nasib buruk macam apa ini!
"Gimana nih? Kita bakalan dibunuh! Kita bakalan mati dibunuh di pasar! Gak ada orang yang akan tau! Kita bakalan dikubur di samping warung penjual ayam potong!" Angga menangis ketakutan. Perut buncitnya bergoyang-goyang.
"Hus! Ngomong jangan sembarangan! Kau bodoh ya?!" Risa memukul kepala Angga dengan kesal. "Kita tinggal kabur dari sini dan menyerahkan rekaman itu pada polisi. Semua akan baik-baik saja dan aku bisa pulang dengan tenang." Risa menghibur dirinya sendiri.
"Kau kira semudah itu? Kalau kita tertangkap dan dibunuh bagaimana?" Sahut Kelvin kesal, dia tidak mengerti kenapa bisa terlibat hal semacam ini. Bersama orang-orang bodoh ini!
"Tuh kaaan?! Kita bakalan dibunuh!" Angga semakin sesenggukan. Risa membekap mulut cowok itu supaya diam.
"Tunggu, pasti ada jalan lain." Kata Kelvin berbisik. Dia menarik nafas panjang dan berusaha berpikir. Eh kenapa juga dia harus capek-capek mikir? Ini kan salah mereka berdua. Tetapi semuanya sudah terlanjur basah, pria bertato itu juga sudah melihat wajahnya.
"Atau kita berikan saja rekaman itu dan bilang kita tidak akan lapor siapa-siapa?" Kata Risa memberi ide.
"Kamu mau membela kejahatan?" Sahut Angga masih terisak.
"Memangnya kau kira aku pahlawan kebenaran? Kita cari amannya saja!" Risa geram. "Lagi pula kalau tertangkap dan dibunuh bagaimana? Bukannya kau takut itu terjadi? Kita lakukan negosiasi saja."
"Betul juga. Kalau bernegosiasi, pasti ada jalan keluarnya. Mungkin mereka bakalan memeras kita. Tapi kalau cuma masalah uang, gampang." Sahut Kelvin.
"Kenapa kita yang musti diperas? Padahal kita yang punya video rekaman kejahatan mereka! Lebih baik kita ke polisi" kata Angga, seolah dia berani untuk beranjak dari tempatnya dan lari menuju kantor polisi.
Risa dan Kelvin diam, mereka tampak berpikir. "Dari pada ke polisi, kenapa tidak telepon saja?" Celetuk Risa kemudian.
Kelvin menepuk jidatnya, betul juga. Dia meraih ranselnya untuk mengeluarkan handphone. Namun dia tidak menemukannya di sana. "s**l, Hpku pasti ketinggalan di mobil. Pakai hpmu saja."
Angga menekan beberapa angka di ponselnya. Namun tidak tersambung. Rupanya di dalam ruangan tersebut tidak ada sinyal.
"Coba kau keluar dan telepon lagi." Kata Risa.
Angga menatapnya gugup. Keluar? Dari sini? Mereka kan sedang bersembunyi? Dia masih takut terhadap pria bertato itu. "Kelvin saja deh."
"Loh, kok aku? Yang buat masalah kan kalian!" Kata Kelvin enggan keluar, dia pun takut.
"Huh, kalian ini gak ada yang bisa diharapkan." Risa pun berdiri dari tempatnya. Walau pun dirinya sendiri masih ketakutan, tapi dia memaksa langkahnya untuk keluar. Bagaimana ini semua bisa terjadi? Pagi tadi dia keluar dari rumah dengan perasaan yang normal seperti biasa, namun siang ini tiba-tiba dia terlibat dalam peristiwa menyeramkan ini. Hanya karena alasan konyol!
Cewek itu mengelap keringat yang membasahi wajah dan lehernya. Dia meraih ponsel Angga dan keluar dari sana pelan-pelan untuk mencari sinyal. Kalau dia sampai tertangkap, habislah sudah. Begitu keluar, Risa mengangkat handphone itu ke atas sambil melangkah perlahan. Beberapa saat dia berjalan, tanpa sadar dirinya sudah menjauhi tempat persembunyian mereka tadi.
Sementara itu di tempat Angga dan Kelvin...
Kruuuuk. Angga mengusap perut buncitnya. Dia sudah lapar lagi. Karena berlarian, tenaganya kembali terkuras. Kalau di ingat-ingat, ini pertama kalinya dia mengerahkan semua tenaganya untuk lari dengan bersungguh-sungguh, padahal saat pelajaran olahraga pun, Angga malas-malasan kalau disuruh berlari.
"Hah? Suara apa itu? Perutmu sudah lapar lagi, ya? Dasar rakus!" Omel Kelvin. Angga sedikit tersipu malu.
Beberapa saat mereka berdua hanya berdiam diri di tempat kotor itu.
"Anuuu..." Angga akhirnya bersuara pelan. "Aku minta maaf ya, soal ucapanku yang tadi."
Kelvin diam dan memalingkan wajah. Kenapa juga sih, Angga harus membahas lagi kejadian itu. "Sudahlah, gak usah dibahas."
"Oh i-iya... Cuma aku gak enak dan kepikiran."
"Dikatain miskin kau gak kenapa-napa, tapi cuma diomelin kaya gitu kepikiran?" Sahut Kelvin.
"Hehe iya yah... Ya pokoknya maaf lah..." Kata Angga sedikit terkekeh. Dia hanya memikirkan betapa menyeramkannya tadi wajah Kelvin saat mengomelinya, hal itu membuat dia tak enak hati.
Mereka berdua kembali berdiam diri. Menunggu Risa yang tak kunjung datang. Kemudian dari arah luar terdengar suara langkah kaki yang melangkah dengan ritme tak menentu. Seperti terseret dan tergesa-gesa. Suara langkah tersebut berhenti tepat di depan persembunyian mereka. Namun tak ada suara siapa pun dari luar.
Angga dan Kelvin segera berdiri, menatap waspada ke arah pintu yang tertutup. Kenapa tidak ada suara? Mungkin kah itu orang lain dan bukan Risa? Angga mencengkeram lengan Kelvin ketakutan. Kelvin pun diam tak bergerak. Lalu dengan sekuat hati dia memberanikan diri untuk membuka pintu. Treeeet. Pintu dibuka perlahan dan...
Di depan mereka tampaklah Risa yang berdiri dengan seseorang bertubuh kekar membekapnya dari belakang. Pria bertato!