Risa melompat keluar dari dalam mobil. Kepalanya terasa pusing dan perutnya mual. Dia berlari ke trotoar dan memuntahkan cairan dari dalam perutnya di sana. Berjongkok di antara sampah-sampah plastik yang mengeluarkan bau menyengat. Sepertinya peristiwa barusan terlalu mengejutkan untuk dicerna pemikirannya yang selalu menghindari masalah dan orang-orang. Membuatnya mual sekaligus takut. Belum pernah dia mengalami hal semenegangkan ini sebelumnya, selama ini hidupnya selalu penuh dengan ketenangan.
Sekarang mereka telah sampai di depan satu-satunya pasar tradisional di kota kecil yang damai itu. Lautan manusia berjejalan dimana-mana. Penjual pakaian, makanan, ikan, bahkan buah-buahan, tampak meneriakkan dagangan mereka dengan agresif. Pembeli yang datang juga tidak kalah banyaknya, saling bertabrakan di antara jalanan pasar yang sempit. Kelvin yang seumur hidupnya tidak pernah menginjakkan kaki di pasar tradisional merinding dengan pemandangan di depannya, penjual dan pembeli, sampah dimana-mana, limbah hasil pembuangan yang sudah tak tertampung lagi, bahkan ada beberapa kawanan sapi yang dengan asik berjalan di antara penjual ikan. Mimpi buruk macam apa ini? Anak dari pejabat terkenal itu merasakan perutnya bergejolak. Seolah seluruh isinya memaksa untuk dimuntahkan.
"Kenapa wajahmu pucat begitu Vin? Kamu gak pernah ke pasar ya?" Kata Angga.
"Aku gak mau masuk ke dalam sana! Kalian saja!" Kelvin bergidik sambil mengusap lengannya.
"Lagi pula dimana sih, rumahnya si Tom? Kamu yakin pernah ke sana?" Tanya Risa pada Angga sambil menutup hidungnya, tidak mampu mencium bau menyengat sampah bercampur keringat.
"Aku pernah ke rumahnya sekali sih, waktu SD. Saat hendak melayat. Dulu kami juga satu sekolah, seingatku Tom tinggalnya di dalam pasar."
"Hah? Waktu SD? Kamu yakin dia belum pindah?!" Risa melotot.
"Kayaknya sih belum." Ucap Angga sedikit ragu.
"Kayaknya?" Risa melotot lagi.
"So... Soalnya dia juga miskin. Jadi mau pindah kemana lagi?" Sahut Angga lugu.
"Masuk akal." Kelvin menepuk pundak Angga seperti seorang ayah yang bangga pada anaknya.
Risa memukul kepala cowok gendut itu, "Kenapa kamu jadi ikut-ikutan Kelvin ngomong begitu?!"
"Ya maaaf."
"Aku gak mau tau. Kita semua harus masuk. Lagi pula ini semua gara-gara kalian berdua aku harus ikut." Kata Risa sambil mendelik pada Kelvin.
"Loh? Kan gak ada yang maksa kamu ikut? Kamu gak tau apa? jalanan sana becek banget, sepatuku bisa rusak." Sahut Kelvin membuat alasan, padahal dia hanya tidak mampu mencium aroma pasar yang bercampur aduk ini, membuat perutnya mual.
"Ya udah kita pulang aja. Nih, tasnya kamu aja yang simpan sampai kita ketemu Tom lagi di sekolah!" Risa menyodorkan tasnya Tom ke d**a Kelvin, membuat cowok itu gelagapan dan takut. Mengingat benda terlarang yang berada di dalamnya.
"Eh, jangan suruh aku yang pegang!" Dengan pucat Kelvin menyodorkan tas tersebut pada Angga yang dengan sigap menjauh darinya sambil mengangkat tangan.
"Aku setuju sama Risa, kita kesini bareng, jadi kita masuk kesana juga bareng." Ucap Angga tidak mau menyentuh tas tersebut, dia bergidik ngeri saat membayangkan lagi isinya.
Kelvin mendengus kesal pada mereka berdua. Dia mengunci mobilnya dan menegakkan punggung, siap memasuki belantara manusia yang baunya minta ampun.
"Kalian orang miskin sangat menyusahkan." Katanya yang disambut oleh cengkeraman Risa di kerah bajunya.
Di dalam pasar...
Angga berjalan di depan sambil meletakkan kedua tangan di dadanya seperti perisai. Menerobos belantara manusia di depannya. Berdempetan dan bahkan saling mendorong. Kelvin yang berjalan di belakangnya sambil mendekap tas ransel milik Tom merasa hidungnya akan mati rasa begitu keluar dari tempat ini. Seperti hidung palsu milik Patrick yang pernah terlepas dan hancur di film animasi Spongebob, habis dari sini dia mungkin tidak akan bisa lagi mencium bau apa pun di dunia. Rest in peace, hidung. Batinnya.
Risa yang berjalan paling belakang diam-diam membenamkan wajahnya di punggung Kelvin yang wangi akan parfum. Saat ini dia akan mengesampingkan rasa tidak sukanya pada Kelvin yang suka mengatai orang miskin, karena sepertinya dia bisa terselamatkan dari bau keringat lautan manusia dengan menenggelamkan hidungnya di seragam cowok setinggi 175 centimeter itu.
Mereka pun sampai di tempat para pedagang makanan. Kelvin merasa hidupnya sedikit terselamatkan karena sekarang indera penciumannya dipenuhi dengan bau jajanan pasar. Ada banyak penjual mulai dari makanan berat sampai jajanan kecil seperti siomay, es buah, dan kue-kue tradisional. Kelvin pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya, tetapi dalam buku pelajaran Ekonomi, bukan di kehidupan nyata. Dia melihat Angga berjalan mengendap menuju warung bakso, segera ditariknya kerah baju cowok itu.
"Kita mau mengembalikan tas s****n ini! Bukan mau jajan!" Omel Kelvin.
"Tapi, aku lapar..." Rengek Angga. Kelvin melirik jam tangan Rulexnya, memang sih ini sudah waktunya makan siang. Namun dia tidak berniat untuk berlama-lama di sini. Dia ingin segera pulang dan mandi! Tubuhnya mulai terasa lengket karena berpanas-panasan.
"Aku juga lapar banget, mau makan dulu." Kata Risa. Wajah pucatnya bercucuran keringat.
Kelvin melihatnya dengan tatapan jengkel. Namun sedikit simpati melihat wajah Risa yang pucat pasi, perutnya pasti kosong karena baru saja muntah. Mata Angga berbinar melihat Risa kali ini sepihak dengannya.
"Kita makan aja dulu yuk! Itu tuh penjual bakso paling enak di kota ini." Angga menunjuk sebuah warung kecil di pojokkan dekat WC umum. Dia dan Risa pun segera berlari kecil menuju ke sana. Kelvin mengikuti mereka dengan ragu dari belakang sambil menahan mual melihat bapak setengah baya keluar dari WC umum yang bersebelahan dengan warung yang mereka tuju.
Sampai di warung, Angga dan Risa tampak makan dengan lahap. Sedangkan Kelvin enggan masuk dan hanya berdiri di depan warung. Sedikit-sedikit menoleh ke arah mereka dengan gelisah. Hari ini terasa panjang sekali, kapan aku bisa pulang sih? Bisiknya dalam hati. Padahal biasanya dia enggan pulang cepat ke rumah, biasanya Kelvin akan pergi bersama teman-temannya, keluyuran sampai malam agar ketika sampai rumah, dia bisa langsung tidur tanpa harus berpapasan dengan orangtuanya. Tetapi bukan keluyuran seperti sekarang yang dia maksud!
"Kamu gak makan?" Tanya Angga dengan mulut penuh mie bakso. Kelvin diam tak mengacuhkannya. Alisnya berkerut, merajuk seperti anak kecil.
"Enak banget baksonya." Sahut Risa dengan mulut penuh kerupuk. Tenaganya seolah terisi kembali setelah makan, wajah pucatnya berangsur hilang.
Kelvin menatap mereka berdua sambil memegang perutnya yang keroncongan, sudah minta diisi. Tapi kemudian dia melihat WC umum di sebelah mereka dan mengurungkan niatnya. Ibu penjual warung tersebut sepertinya memperhatikan Kelvin dan sedikit mengerti, melihat penampilan cowok itu yang tidak biasanya. Beda dengan penampilan kedua anak di depannya yang lagi makan. Kelvin tampak bersih dan tidak kumuh. Sekali lihat pun, orang akan tahu dari gerak-gerik Kelvin, bahwa dia tidak biasa datang ke tempat seperti ini.
"Mau makan kue dek? Ini Ibu buat sendiri loh, dijamin bersih! Harganya seribu aja!" Tawar Ibu tersebut.
Kelvin menatap kue cokelat kacang di dalam pastik tersebut. Ah, dia sangat lapar. Lalu ia menatap wajah tua Ibu itu, tangan keriputnya menyodorkan sebungkus kue sambil bibirnya tersenyum tulus, mengingatkan Kelvin pada neneknya yang sudah tiada. Dengan sedikit ragu dan tidak enak karena sudah ditawarkan, akhirnya dia pun memutuskan untuk membeli kue tersebut dan memakannya pelan-pelan. Berusaha menghilangkan bayangan WC umum yang jorok dari kepalanya.
"Kalian ini ngapain di pasar?" Tanya Ibu tersebut.
"Kami mau pergi ke rumah teman Bu. Ibu kenal gak? Namanya Tom!" Sahut Angga sambil mencomot kerupuk udang di depannya.
"Tom yang mana ya? Yang suka nyuri ayam itu atau yang cucunya nenek Ida?"
Kelvin hampir saja memuncratkan kembali kue dari dalam mulutnya, sementara Risa memandang bingung. Angga menahan gelak tawanya dengan mulut penuh makanan.
"Tom yang kulitnya agak hitam Bu, badannya kira-kira setinggi dia." Risa menunjuk Kelvin.
Ibu itu tampak sedikit mengerutkan dahi, "Kedua-duanya juga hitam!"
Risa bingung harus menjawab apa. Di sampingnya Angga tampak sudah selesai melahap makanannya. "Itu loh Bu, Tom yang Mamanya kena penyakit kanker dan meninggal waktu dia masih SD." Kata Angga, kali ini Kelvin benar-benar memuncratkan remah kue dari dalam mulutnya.
"Ooh berarti Tom cucunya nenek Ida! Kebetulan sekali rumahnya dekat sini dek. Itu di belakang WC umum ada penjual ayam potong, tidak jauh dari situ, kalian cari aja pondok kecil warna hijau." Jelas penjual warung tersebut sambil mengibas-ngibaskan sehelai kain untuk mengusir lalat yang hinggap di kue jualannya.
"Oh gitu Bu? Makasih ya Bu. Kalian sudah selesai kan? Ayo cepat kita pergi." Kata Kelvin pada Angga dan Risa tidak sabar. Bagus, sebentar lagi dia bisa pulang.
"Berapa ya Bu?" Tanya Risa merogoh saku roknya.
"Seporsi 10 ribu, berarti berdua 20 ribu."
Risa mengeluarkan uangnya dengan ragu, tampak di sana beberapa lembar uang dua ribuan. Dia menatap Angga yang bernasib sama. Uang mereka berdua tidak cukup untuk membayar makanan. Mereka berdua lalu menatap Kelvin yang membalasnya dengan melotot.
"Mau makan kok gak punya duit? Dasar mis..." Kelvin menahan omongannya, dia bahkan terlalu lelah untuk mengolok dua orang tersebut, lalu menoleh pada si Ibu penjual, "Ambil ini aja Bu." Kelvin memberikan selembar uang berwarna biru lalu bergegas keluar dari situ.
Mereka bertiga lalu berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan si Ibu penjual bakso. Melewati penjual ayam potong dan kemudian sampai di pemukiman kumuh. Kelvin tidak tahan lagi dengan semua jalanan becek dan sampah yang dilewatinya ini, dia ingin pulang dan mandi.
"Makasih ya Kelvin udah traktir kita, kayaknya seneng kalo bisa berteman dengan kamu. Karena kamu baik, walau pun suka ngomel." Terang Angga seperti anak kecil yang polos. Mereka melewati jembatan kecil yang di bawahnya mengalir air pembuangan, warnanya hitam keruh.
Kelvin menghentikan langkah. Membuat dua orang yang mengikutinya dari belakang saling bertubrukan.
"Jangan pernah mengucapkan omong kosong kaya gitu lagi ya." Katanya tampak marah. Wajah Kelvin memerah, tatapannya berubah serius.
"Tapi..." Desis Angga. Raut wajah Kelvin kali ini berbeda dengan sebelumnya, walau pun sama-sama mengomel.
"Aku gak suka! Aku ini bukan orang baik. Lagi pula 20 ribu itu gak seberapa buatku. Kalian orang miskin terlalu gampang berbaik sangka. Ah sial." Kelvin berjalan meninggalkan mereka dengan jengkel.
Angga terdiam, tidak mengerti apa yang salah. Risa pun tersentak kaget mendengar suara Kelvin yang membentak dengan nada tinggi. Terus terang Risa juga tidak suka berteman, di masa lalu dia punya pengalaman yang sangat pahit. Jadi dia pun membenci orang lain. Akan tetapi dia tidak tau kalau Kelvin adalah tipe orang yang sensitif seperti itu, karena di sekolah dia masih punya teman. Lalu kenapa dia membentak Angga hanya karena ucapan terimakasih yang sederhana seperti itu? Ada masalah apa sih dengan cowok itu? Kadang-kadang dia terkesan baik, kadang-kadang juga sangat menyebalkan.
"Sudahlah ayo jalan." Ucap Risa pada Angga yang sedikit termenung.
Setelah berjalan beberapa saat, mereka pun sampai di sebuah rumah bercat hijau. Kelvin berdiri di depan pagar yang terkunci. Rumah itu tidak tampak seperti pondok yang dijelaskan Ibu penjual bakso tadi. Dilihat dari bentuknya, rumah tersebut tidak terlalu kumuh dibandingkan pemukiman lain di sekitarnya.
"Apa ini rumahnya?" Tanya Kelvin pada Angga.
"Ng... Gak ingat" Angga menggeleng ragu.
"Ya udah kita masuk aja dulu." Kata Risa yang dengan lancang membuka pintu pagar.
Angga dan Kelvin pun mengikutinya dari belakang. Risa mengetok pintu namun tidak ada jawaban. Kelvin menyarankan agar mereka meletakkan tas tersebut di depan pintu saja, lalu pulang. Namun Angga bersikeras bahwa hal itu tidak sopan. Lagi pula mengingat barang yang ada dalam tas Tom tadi, bisa gawat kalau ada orang lain yang mengambilnya. Risa menghela nafas lelah, dia berdiri di depan pintu dan kemudian menyandarkan kepalanya. Treeeeeet. Ternyata pintu tersebut tidak terkunci. Angga segera melongokkan kepalanya, di dalam hanya ada ruang kosong tanpa perabot apa pun.
"Mungkin kita salah alamat. Gak ada orang yang tinggal di sini, ayo pergi." Kata Kelvin bersiap melangkah pergi.
Namun Angga dan Risa malah berjalan masuk.
"Hey, apaan kalian berdua? Ayo pergi. Ini rumah kosong!" Kata Kelvin gusar.
"Sssstt, ada suara pelan dari dalam. Oh sepertinya ada orang yang lagi ngobrol. Mungkin itu Tom!" Bisik Angga pelan.
"Aku juga denger sih, tapi itu sepertinya suara cewek." Lanjut Risa.
Kelvin melihat mereka berdua dengan tatapan menyerah. Jelas-jelas dia tidak mendengar suara apa pun. Dia pun memutuskan untuk tidak ikut-ikutan dengan imajinasi dua orang bodoh itu. Kelvin melonggarkan kerah bajunya, sekarang seragam putih abu-abunya penuh noda di sana sini. Sepatu kedsnya juga penuh becek. Dia merasa jadi orang paling kotor di dunia. Hanya gara-gara harus mengembalikan tas s****n itu, dia pun harus bersama dengan dua orang yang sebelumnya tidak pernah bertegur sapa di kelas. Bisa dibilang dia, Risa, dan Angga bukanlah teman. Hanya saja dia tahu bahwa mereka berdua adalah salah satu dari murid cupu yang tidak punya teman di sekolah. Tidak sepertinya yang terkenal dan siapa pun ingin menjadi temannya. Karena Kelvin tajir dan tampan. Murid lain suka mengikutinya kemana pun dan berpura-pura baik padanya. Padahal mereka hanya mau uang dan ketenarannya saja. Kelvin menghela nafas, itulah kenapa dia sangat marah dengan ucapan terimakasih Angga. Di dunia ini tidak mungkin ada orang yang mau berteman tulus dengannya.
"AAAAKKKHHHH" tiba-tiba dari dalam terdengar suara Risa dan Angga yang berteriak ketakutan.
Kelvin membalikkan badan, terkejut melihat kedua orang itu lari pontang panting ke arahnya. Di belakang mereka berdua, tampak seorang pria bertubuh kekar dengan tato di wajah lari mengejar. Risa yang berlari di depan meraih tangan Kelvin agar ikut berlari. Sementara itu Angga menjerit keras dengan suara monyetnya. Mereka bertiga berlarian di antara jalanan becek dan jalanan sempit, kembali memasuki area pasar. Kelvin lari sambil berteriak menanyai mereka berdua apa yang terjadi. Dia menoleh ke belakang dan melihat pria bertato yang mengejar mereka tampak geram dan penuh dendam. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tadi? Dan kenapa dia harus ikut-ikutan lari padahal tidak tau apa-apa? Kenapa hari ini sangat s**l sekali? Sudah kuduga bergaul dengan orang miskin memang akan mendapat banyak masalah. Maki Kelvin dalam hati sambil terus berlari sekuat tenaga di antara lautan manusia.