Suasana terasa sunyi dalam mobil yang meluncur mulus di tengah kepadatan kota di siang yang panas itu. Risa duduk di belakang sendirian, meletakkan tangan di d**a dengan mulut manyun. Dia benci situasi ini, berada dalam satu ruang dengan orang lain, yang dalam kasus ini dia bahkan tidak memiliki ikatan apa pun dengan mereka. Risa tidak habis pikir kenapa dia mau melakukan ini, padahal dia ingin cepat pulang, sebentar lagi dia akan terlambat masuk kerja. Akan tetapi di sinilah mereka, dalam mobil mewah milik anak orang terkaya dalam kelasnya, melakukan sebuah perjalanan pendek, menuju rumah pemilik tas usang ini. Risa tidak mengerti, seharusnya dia minta diturunkan saja di rumahnya bukannya malah ikut mereka. Tetapi ada sesuatu yang menahan, entah perasaan apa ini. Gadis berkulit sawo matang dengan rambut dikuncir satu itu menghela nafas, dia meraih ransel usang di sampingnya.
"Enak ya, naik mobil mewah. Hehe aku gak pernah naik mobil sebelumnya loh hehe." Kata Angga polos, dia tertawa kegirangan menatap Kelvin yang sedang menyetir.
"Itu karena kau miskin." Sahut Kelvin acuh tak acuh. Kenapa pula dia mau repot-repot mengantarkan tas seseorang yang tidak lebih dari sekadar teman sekelas baginya? Seharusnya dia buang saja tas itu di tengah jalan, namun entah apa yang akan terjadi jika salah satu dari dua orang bodoh ini melaporkannya pada Bu Naomi. Kelvin menatap Angga, ucapannya barusan hanya membuat cowok gendut itu tersenyum lebar dan malah semakin semangat mengobrol.
"Aku kira kamu gak bakalan mau mengantarku. Eh ternyata walau pun ketus kamu gak seburuk yang aku kira.” Cengir Angga, kemudian dia menoleh pada Risa di bangku belakang, “Oh iya, Risa, itu namamu kan? Kamu juga cukup pendiam ya, di kelas? Kayaknya kamu gak punya teman? Sebelumnya kita gak pernah ngobrol kan? Heheh oh iya dari sini belok kanan ya, menuju pasar. Rumahnya Tom deket sana." Celoteh Angga seperti tidak mau diam.
"Kenapa sih kamu cerewet banget?" Risa memelototi Angga dengan kesal.
"Hehe aku cuma senang aja, bisa ngobrol normal dengan teman seperti ini. Di kelas kan aku hanya dijadikan teman supaya bisa disuruh-suruh hehhe." Ucap Angga cengengesan.
"Menyedihkan sekali, itu karena kau gendut dan jelek. Orang miskin memang begitu." Kata Kelvin yang disambut oleh tatapan tajam dari Risa.
"Eh kamu itu sering sekali ngatain orang lain miskin ya? Mentang-mentang kamu kaya raya? Kamu pikir uang bisa membeli segalanya? Emang punya banyak uang, hidupmu sudah sempurna apa?!" Kata Risa geram mendengar kata miskin terus keluar dari mulut Kelvin. Ingin rasanya dia mencomot bibir cowok itu.
"Eh ternyata kamu gak pendiam seperti yang dibilang Angga." Sahut Kelvin seolah mengejek.
Risa menarik kerah baju Kelvin dari belakang dengan gemas, membuat cowok itu tercekik hingga sulit bicara. Setir kemudi oleng ke samping dan mereka hampir menabrak seorang tukang sayur yang lewat. Angga berteriak panik ketakutan.
"Heh cewek jadi-jadian! Lepasin gak? Kamu mau kita mati hah?" Teriak Kelvin tercekik. Cengkeraman Risa kuat juga untuk cewek bertubuh mungil seperti dia.
"Makanya ya, kamu itu jadi orang jangan asal ngomong! Bikin darah tinggi aja!" Seru Risa di telinga Kelvin sebelum kemudian melepaskan cengkeramannya. Kelvin segera menepikan mobilnya bahu jalan.
"Eh, kamu itu sakit jiwa ya? Kalau sampai tadi itu kita nabrak orang, emang kamu mau tanggung jawab? Aku kan tadi hanya becanda ngomong gitu!"
"Apa? Kamu bilang aku sakit jiwa?" Risa kembali mencengkeram kerah baju Kelvin. Cowok itu menangkis tangannya dengan cepat, mereka pun saling mendorong di dalam mobil dan beradu mulut untuk beberapa saat.
"Sepertinya kau butuh psikiater! Dikit-dikit marah, dikit-dikit emosi!" Teriak Kelvin sambil menangkis tangan Risa yang masih berusaha mencengkeramnya.
"Kalian kenapa sih? Hentikan. Sudah dong!" Angga berusaha melerai.
Ransel milik Tom yang tadinya bertengger di paha Risa terjatuh. Resletingnya terbuka, membuat semua isi di dalamnya jatuh berhamburan. Tampak plastik-plastik berisi bubuk putih terjatuh dari dalam buku-buku tulis, bertebaran di dasar mobil. Angga melihat benda tersebut, kemudian dia berteriak menjerit. Beberapa pejalan kaki yang lewat memandang mobil mereka dengan pandangan aneh, mendengar suara teriakan Angga yang mirip monyet. Nyaring dan melengking. Seketika suasana dalam mobil berubah menjadi kacau.
Risa dan Kelvin yang belum menyadari sepenuhnya situasi itu menatap Angga jengkel, kemudian pandangan mereka teralihkan oleh plastik-plastik yang bertebaran dalam mobil tersebut.
"What the!" Kelvin menepuk dahinya dengan keras. Dia tahu persis apa itu, beberapa murid dalam lingkaran pertemanannya di sekolah pernah menawarkannya barang serupa yang tentu saja, dia tolak mentah-mentah. Risa menatap benda itu dengan wajah pucat.
"Kamu bisa diam gak sih?!" Kelvin meraih jemari Angga yang masih menjerit heboh dan menyumbatnya ke mulut cowok itu sendiri.
"Eh cewek jadi-jadian! Cepat kumpulin barang itu! Jangan sampai ada yang tertinggal dalam mobilku."
Risa meraih salah satu plastik bubuk tersebut dan memandanginya dengan wajah pucat. Ada getaran yang tidak beraturan di d**a dan kakinya. Benar-benar kacau.
"Baru kali ini aku melihat yang seperti ini. Selama ini cuma pernah lihat di internet!" Bisik Risa pelan dengan suara gemetar. Benda tersebut entah kenapa, membuatnya merasa gugup, merinding, dan sekaligus ingin tahu.
"Eh pake diliatin lagi, cepat kumpulin bodoh!" Kelvin berteriak kesal. Bahaya kalau sampai benda terlarang itu ada di mobilnya.
“BRAK BRAK BRAK.”
Mereka bertiga pun dikejutkan oleh suara keras dari jendela mobil Kelvin. Tampak seorang pria berseragam polisi menatap dari balik jendela. Angga menutup mulutnya terkejut, oh tidak! Mereka akan di penjara! Polisi itu akan melihat barang itu, menggeledah mobil, dan membawa mereka ke penjara! Risa terdiam kaku di tempatnya, semakin pucat.
"Heh, dengar ya, aku yang bakalan tangani ini, kalian bertindak senormal mungkin!" Kelvin menoleh pada mereka berdua bergantian. Menarik nafas panjang, berusaha menenangkan perasaannya sendiri. Ia menyisir rambutnya dengan jemari sebelum kemudian menurunkan jendela mobil, mencoba bersikap santai.
Angga dan Risa mengangguk gugup mendengar arahan Kelvin. Jendela mobil pun perlahan diturunkan.
"Selamat siang, dek!" Kata Polisi berkumis panjang itu tersenyum ramah.
"Siang pak!" Sahut Kelvin menyembunyikan kegugupannya sambil tersenyum lebar.
"Tadi saya dengar ada suara teriak-teriak dari mobil ini, ada apa ya? Apa terjadi sesuatu?"
"Ooh itu, gak ada kok pak. Kita cuma lagi becanda aja hehehe. Iya kan teman-teman?" Kata Kelvin sambil menoleh pada Angga dan Risa yang segera tertawa canggung.
"I-iya pak, lagi main-main aja nih, hehehehe" suara Risa bergetar gugup. Walau pun itu tidak mungkin, tapi dia tetap saja berdoa dalam hati semoga suara degup jantungnya tidak terdengar!
"Itu tadi suara teriakan saya pak hehhe, kaya gini kan Aaaaaakhhh!!!" Angga berusaha mempraktekan kembali suara teriakannya yang mirip monyet. Mereka bertiga pun kembali tertawa canggung.
"Oh gitu? Tapi kalian harus lebih berhati-hati ya, di sini gak boleh berhenti sembarangan." Kata polisi itu lagi sambil memperhatikan isi mobil. Membuat tiga bocah dalam mobil itu gelagapan.
Risa menyembunyikan tasnya Tom di balik punggungnya, sebisa mungkin menutupi benda terlarang yang sebagian masih bertebaran di bawah kakinya. Polisi itu kemudian mengalihkan pandangannya ke sebuah stiker gambar yang tertempel di jendela mobil Kelvin.
"Itu... " tunjuk polisi tersebut. Seisi mobil terdiam seketika. Ketakutan. Risa berdoa semakin keras dalam hati. Tolong aku Tuhan! Serunya.
"Itu stiker Pak Sanjaya dan Bu Arni ya? Salah satu pejabat negara yang tersohor itu?"
Kelvin menoleh ke arah stiker di mobilnya yang ditempel tanpa sepengetahuan dirinya. "Oh iya pak, iya! Itu orangtua saya!"
"Ooh kamu anak mereka? Wah luar biasa! Saya nge-fans sama Bapak kamu!" wajah Pak Polisi itu tiba-tiba sumringah.
Angga, Risa, dan Kelvin tertawa gugup. Berusaha tampak senormal mungkin, padahal jantung mereka hampir copot. Kemudian polisi itu pun terdiam dengan raut wajah serius.
Matilah kita! Dia pasti melihat barang itu, ya Tuhan, ambil saja nyawaku, daripada harus masuk penjara. Tolong! Batin Angga hampir menangis.
Polisi itu pun menatap Kelvin dengan tajam, "Boleh minta stikernya gak?"