Risa meremas amplop putih di tangannya. Itu adalah surat peringatannya yang ketiga dalam semester ini. Bu Naomi pasti memanggilnya karena nilai pelajarannya yang semakin menurun. Huft, semoga saja Bu Naomi tidak berceramah panjang lebar tentang dunia pendidikan dan masa depan yang entah bagaimana tersangkut paut dengan politik dan pergaulan bebas. Bisa gila dia jika mendengar omelan wali kelasnya itu di siang bolong begini. Sekolah sudah bubar tetapi dia malah disuruh menghadap ke ruang guru. Risa mendengus sebal, dia hanya ingin cepat pulang dan menghabiskan akhir pekannya dengan tenang.
Risa duduk di kursi ruang tunggu dengan gelisah. Menunggu namanya dipanggil oleh wali kelas untuk menghadap. Di sana, ada tiga orang siswa yang juga bernasib sama dengannya. Tiga orang cowok yang dikenalinya sebagai teman sekelas. Namun begitu, sebelumnya dia tidak pernah bertegur sapa dengan mereka. Baguslah, ternyata bukan dia satu-satunya yang akan mendapat teguran.
"Kamu dipanggil Bu Naomi juga ya?!" Terdengar suara dari samping Risa. Angga, si cowok gendut dan jerawatan yang selalu menjadi bahan olokan tukang bully di sekolah, menatap Risa sambil tersenyum polos.
"Gak, cuman sekadar duduk santai di sini. Ya gak mungkin kan? Udah pasti dipanggil juga." Jawab Risa ketus membuat Angga terdiam seketika.
Risa menghembuskan nafas kecil. Apa tadi itu ucapannya terlalu kasar? Ah, bodo amat. Risa paling tidak suka diajak bicara, dia malas berinteraksi. Sebagian dirinya sangat membenci orang lain, walau sebagian lagi sadar bahwa dia hidup di antara mereka, jadi sebisa mungkin dirinya harus bisa menahan keinginan untuk tidak meledak dan menjauhi interaksi yang tidak perlu. Hal ini membuatnya tidak pernah punya teman. Setidaknya, sejak beberapa tahun yang lalu, saat kehidupan normalnya dihancurkan oleh Ayahnya sendiri. Karena kejadian buruk di masa lalunya itulah Risa berubah jadi pribadi yang pemarah.
Risa melirik dua orang cowok lagi yang duduk di depannya. Cowok yang berkulit putih dengan rambut mengilap seperti cermin itu namanya Kelvin. Setahu Risa, dia itu sangat sombong. Hanya berteman dengan orang tertentu yang sama berkelas dengan dirinya, dia termasuk populer di sekolah karena tampan dan merupakan anak orang kaya di kota kecil ini. Di kelas, Kelvin hanya punya dua orang teman yang sama sombongnya dengan dia. Mereka suka membuat lelucon pada murid lain yang mereka anggap miskin. Jelas saja dia tipe orang yang paling dibenci Risa. Kaya tapi tidak punya otak. Hah, kalau dia pintar itu mungkin bisa jadi kelebihan, tapi kan dia bodoh, maka dari itu dia bisa berada di sini. Tampan dan kaya, tapi bodoh, itulah Kelvin. Risa geli sendiri dengan penilaian kotornya, tanpa disadarinya Kelvin memandangnya dengan curiga.
"Ngapain kau menatapku sambil senyum-senyum? Terpesona sama aku ya?!" Kelvin melotot. Bola mata cokelatnya menatap Risa jengkel. Dari tadi nih cewek ngeliatin aku dari kaki sampai kepala, apa sih? Jangan-jangan nge-fans. Batinnya.
"Hah? Gak tuh." Risa memalingkan wajah malu. s****n, pakai ketahuan segala lagi.
"Dasar poni kuda." Ketus Kelvin.
"Hah? Apa kau bilang?" Risa berdiri kesal, tidak terima dikatakan seperti itu. Walau pun barusan dirinya mengatakan Kelvin bodoh, tapi setidaknya itu hanya dalam hati!
"Kalian berempat masuk." Bu Naomi muncul dari dalam ruangan, mengalihkan perhatian Risa yang hampir saja meledak karena dikatai Kelvin.
Risa menggeram, dia menatap Kelvin jengkel. Sedangkan cowok itu dengan santainya berdiri dari kursi sambil menyisir rambut mengilapnya dengan jemari. Jari jempolnya menyentuh hidung dengan ekspresi percaya diri yang menyebalkan, Risa menggeram sekali lagi menahan amarah. Dia pun berdiri dari kursi dan berjalan cepat mendahului ketiga cowok tersebut.
Di dalam ruang guru.
"Kalian berempat tahu kenapa kalian saya panggil?" Bu Naomi memandangi mereka satu persatu. Keempat murid di depannya hanya melongo diam, membuatnya menghembuskan nafas berat sambil mengeluarkan catatan murid dari dalam laci meja. "Ini adalah catatan nilai dari semua murid di kelas kalian. Kalian lihat ini? Yang ada tanda merahnya? Ini adalah nilai kalian berempat selama semester ini."
Angga meraih buku tersebut dengan cepat bak angin. Dia memeriksa nama dan nilainya, kemudian menggaruk kepala dengan frustasi. Begitu juga Risa dan Kelvin. Sedangkan murid lainnya, bernama Tom, tampak duduk diam, menguap seolah tidak peduli.
"Bu, Ibu mau memanggil orangtua kami ya? Please Bu... Jangan ya? Kasih hukuman aja asal jangan panggil orangtua." Angga merengek seperti anak kecil. Hal seperti ini adalah kelemahannya, sebab orangtuanya sangat ketat dalam nilai pelajaran. Dia pasti akan dimarahi habis-habisan. Membayangkan omelan Ibunya yang bisa tak berhenti selama tujuh hari tujuh malam saja membuatnya bergidik.
Bu Naomi kembali menghembuskan nafas panjang. Guru cantik itu mengerti bahwa panggilan orangtua adalah sesuatu yang sensitif, terutama bagi harga diri murid-muridnya. Dan sebagai salah satu wali kelas di sekolah, dia juga berusaha menjaga citra kelasnya dari guru-guru lain. Dia sudah memikirkan jalan keluar lain bagi mereka yang nilainya tidak bisa mencapai batas ketuntasan.
"Saya gak masalah kok dipanggil orangtua. Tapi Ibu harus tau ya, Mama dan Papa saya itu orang sibuk. Mungkin mereka hanya akan mengutus asisten mereka menemui Ibu karena mereka gak bisa datang." Kata Kelvin.
"Saya juga gak masalah kok Bu. Tapi gimana ya, saya ini kan tinggal sendirian, jadi gak punya orangtua. Gak ada wali yang bisa diundang ke sekolah." Risa juga menyahut. Dalam hati dia bersorak, sepertinya ini bukan hal sulit untuk dihadapi. Bu Naomi pasti bersimpati padanya yang tidak punya wali dan akhirnya dia bebas hukuman.
Bu Naomi mengerutkan dahinya melihat Kelvin yang santai dan Risa yang tersenyum aneh. Hanya Angga yang tampak sangat khawatir, bahkan dia mulai meneteskan air mata membuat Kelvin yang duduk di sampingnya mulai mengejek. Kemudian Bu Naomi mengalihkan pandangannya ke arah Tom yang sedari tadi hanya diam, melongo, dan menguap, seolah jiwanya mengembara ke dunia lain.
"Bagaimana dengan kamu Tom? Mau saya panggil orangtua kamu?"
"Ha? Emm terserah sih Bu. Ng, tapi... ahuahuahsjjs" Tom menggumam tidak jelas. Wajahnya tampak kuyu dengan kantong mata menghitam. Pandangannya juga tidak bersemangat, apa dia sakit? Bisik Bu Naomi dalam hati.
“Hah? Kamu bilang apa sih?’’ Bu Naomi mengerutkan alis.
“Ma-maaf Bu, saya kurang fokus, minta izin sebentar ke toilet ya Bu.” Ucap Tom sambil mengusap wajahnya yang pucat, dia segera beringsut menuju toilet. Bu Naomi menggelengkan kepala dan menghela nafasnya.
"Huuuhuuuuu jangan panggil orangtua ya Bu?" Angga mulai menangis sesenggukan.
"Eh bisa diam gak sih? Gitu aja nangis, dasar cengeng." Kata Risa yang mulai risih melihat pemandangan cowok gendut menangis keras di sampingnya.
"Badan aja yang gede, dasar cengeng. Miskin lagi." Kelvin mengolok Angga dengan tatapan mengejek.
"Sudah! Kalian semua diam!" Bu Naomi menghentakkan penggarisnya ke meja tulis, membuat mereka bertiga tersentak kaget. "Ibu tidak akan memanggil orangtua kalian."
"Hah? Bener Bu? Horeee!" Angga bersorak seperti anak kecil. Dia menyeka air matanya, lega.
Sementara itu Risa mengerutkan alisnya. Ada apa ini? Perasaanku tidak enak. Bu Naomi gak pernah memberi surat peringatan tanpa hukuman. Pasti ada sesuatu!
"Ibu serius gak akan memanggil orangtua ke sekolah? Kita gak akan di hukum juga? Tapi... sebagai gantinya kita harus apa ya Bu?" Tanya Kelvin mewakili pikiran Risa.
Bu Naomi tersenyum misterius. Dia kemudian kembali membuka laci meja dan mengeluarkan setumpuk berkas di dalam map hijau. Angga dan Kelvin saling berpandangan, bingung. Sementara itu Risa mulai merasakan darahnya mengalir cepat, jantungnya berdegup. Sepertinya dia punya firasat buruk yang akan segera jadi kenyataan. Sesuatu yang tidak dia inginkan!
"Ini adalah kumpulan materi dan soal yang sudah Ibu ringkas, dari materi pertama yang kalian dapatkan sampai yang terakhir. Ibu sudah memutuskan untuk membentuk kelompok belajar bagi kalian berempat yang nilainya paling rendah di kelas, Ibu akan memberikan tugas-tugas ini pada kalian untuk..." Belum sempat Bu Naomi menyelesaikan kalimatnya, seseorang berdiri dan memukul meja dengan keras.
"Gak mau! Gaaak mauuu! Jangan berkelompok Bu. Jangan ya? Saya kerja sendiri aja. Saya akan berusaha biar dapat nilai bagus. Tolong Bu!" Kata Risa cepat tanpa bernafas, seolah sedang diburu sesuatu, membuat Bu Naomi terkejut. Angga yang penakut sedikit bersembunyi di belakang Kelvin karena kaget.
"Apaan sih kamu? Gak perlu teriak-teriak kali. Aku juga gak mau belajar bersama dengan kalian, tapi emangnya kamu mampu ngerjain itu semua sendiri?" Ujar Kelvin kesal. Dia mengusap dadanya yang hampir copot karena teriakan Risa. Kenapa sih cewek ini? Selalu saja meledak-ledak! Batinnya.
Risa tersadar dan segera duduk kembali. Dia berdehem dan menunduk malu. Pikirannya kacau balau. Gimana ini? Aku gak mau kerja kelompok, menyebalkan jika harus berinteraksi dengan mereka, lagi pula kami ini kan gak berteman?!
"Keputusan ini mutlak untuk kalian! Mengerti?! Menolak berarti cari masalah, kalian harus sadar kalau nilai kalian itu terlalu buruk. Dengan belajar bersama itu mungkin akan membantu kalian semua, ajaklah teman yang lebih paham untuk mengajarkan materi yang tidak mampu kalian pahami. Yang Ibu tahu kalian sekarang sekelompok. Dan semua tugas ini harus selesai minggu depan sebelum ulangan akhir semster dilaksanakan!"
"HAH?"
Risa menggeram. Kelompok belajar yang dibentuk Bu Naomi ini sungguh tidak masuk akal. Dia paling benci jika harus berinteraksi dengan murid lain di kelas apalagi yang terlalu intens seperti berkelompok. Selama ini dia selalu menghindari tugas yang dikerjakan secara bersama. Karena dia tidak suka berteman. Eh tetapi sekarang dia malah terjebak dalam kelompok belajar konyol yang beranggotakan orang-orang aneh di depannya ini. Lagi pula bagaimana mereka bisa mengerjakan tugas bersama kalau mereka semua bodoh? Risa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mau tidak mau kalian harus menerimanya." Bu Naomi menyodorkan berkas tersebut pada mereka. "Baiklah Ibu kira sampai di sini saja perbincangan kita. Eh mana si Tom? Ke toilet kok gak balik-balik?"
Kelvin kembali menyisir rambutnya dengan jemari, "Ibu kaya gak tau dia aja? Paling juga sudah pulang tuh anak. Di kelas saja dia sering menghilang dan bolos. Aku aja hampir lupa sekelas dengan dia, saking jarangnya dia hadir di kelas."
Bu Naomi kembali menghela nafas, "Ya sudah, sekolah sudah bubar dari tadi. Kalian langsung pulang ya. Oh iya, tolong bawakan itu tasnya si Tom. Sepertinya dia lupa."
Bu Naomi menunjuk ke arah sebuah ransel hitam usang yang teronggok di atas kursi di samping Angga. Risa, Angga, dan Kelvin menatap tas tersebut dengan tatapan 'jangan suruh aku yang memulangkannya.'
"Salah satu diantara kalian bawakan itu ke rumahnya." Celetuk Bu Naomi.
"Jangan saya deh Bu, soalnya saya gak tau dimana rumahnya Tom." Sahut Risa menolak.
"Saya juga gak tau, Bu. Suruh Angga aja." Tunjuk Kelvin pada Angga.
Bu Naomi beralih pada Angga yang tersenyum polos. "Iya saya tau dimana rumahnya Bu."
Risa dan Kelvin menghela nafas lega. Segera mereka bergegas untuk pergi dari sana.
"Tapi Bu, rumahnya jauh dari sini. Saya kan hanya pulang naik ojek." Kata Angga lagi.
"Oh saya juga hanya pulang jalan kaki Bu. Suruh Kelvin aja yang anterin Angga, saya permisi ya." Kata Risa cepat, ia pun segera berbalik badan hendak pulang.
"Ya sudah, kenapa kalian gak barengan aja pulangnya? Terus kalian bisa antarkan tas itu, lagi pula kalian adalah teman sekelompok sekarang. Sekalian kalian jelaskan pada Tom tentang tugas yang Ibu berikan karena tadi dia gak ada di sini." Ucap Bu Naomi kemudian.
Angga tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk. Sementara itu Risa meremas tangannya dengan jengkel.