“Tidak ada pertemuan yang tak disengaja, dan pertemuan denganmu pun sudah kehendak-Nya.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
“Lissa?” Pria itu tak lain adalah Nader yang sengaja pulang lebih cepat mendengar kalau Lissa mengalami hilang ingatan. Sebenarnya dia tak percaya kalau Lissa mengalami hilang ingatan dan sudah bisa menerka kalau semua itu adalah permainan keluarga Vincent.
Tetapi. Kala mereka bertemu di bandara barusan dan Lissa menabraknya serta meminta maaf duluan sampai membungkuk-bungkuk. Rasanya dia tak percaya kalau istrinya akan meminta maaf duluan. Sungguh dia masih mengingatnya dengan jelas. Sebagaimanapun salahnya Lissa atau dia yang menabrak duluan sekalipun. Tetap saja orang lain yang harus meminta maaf padanya.
Pantang bagi Lissa untuk meminta maaf atau jarang sekali mengucapkan terima kasih.
Nader seolah melihat Lissa yang baru. Apakah dia salah melihat? Dia yakin sekali kalau wanita itu adalah Lissa. Tetapi warna rambutnya berbeda dan sedikit lebih pendek serta kedua manik matanya juga sangat berbeda. Dan yang lebih mengherankan, kalau Lissa tak mengenalinya.
“Boss?” Ramon terpaku melihat Nader yang malah bengong. “Mr. Nader. Apa Anda tak kenapa-napa?” Suaranya membuyarkan lamunan Nader yang diam mematung dari tadi ditempatnya.
“Ya? Ada apa Ramon?” Nader tampak kebingungan.
“Apa Anda sakit lagi?” tanya Ramon cemas sembari menyodorkan tas laptop Nader yang tadi terjatuh.
“Tidak,” jawab Nader menerima tasnya kemudian berjalan. “Apa kau tadi melihat Lissa?”
“Ya. Saya melihatnya juga. Cuma saja, saya hampir tak mengenalinya karena dia merubah penampilannya. Dari gaya rambut, warnanya dan juga pakaiannya. Apa Anda menyadari hal itu?” Ramon malah balik bertanya.
“Apa mungkin dia memang mengalami hilang ingatan? Kenapa begitu drastis? Bahkan untuk pertama kalinya aku melihat dia memakai jaket jeans serta celana denim dan tatapannya tadi ...?” Nader malah menjadi penasaran dengan tatapan Lissa. Meski sekilas, dia bisa melihat dengan jelas ke dalam manik mata Lissa bahwa wanita itu yang tak lain adalah istrinya sendiri tak mengenalinya.
Pertanyaan demi pertanyaan kini bersarang di benak Nader. Dia seolah melihat orang lain pada Lissa. Bukan Lissa yang dia kenal lagi. Yang jika ke mana-mana selalu memakai dress atau jika bepergian memakai gaun panjang. Selalu terlihat glamor. Tapi tadi dia melihat Lissa benar-benar sederhana.
Entah kenapa Nader sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Lissa. Bahkan sepanjang perjalanan dia tampak diam terus. Dari bandara sampai mansionnya, laptop menganggur begitu saja.
Setiap hari dia menerima kabar dari suruhannya bahwa Lissa berada di rumah sakit untuk terapi. Memang terlihat sedikit parah tetapi dia baik-baik saja. Di rumah sakit Lissa banyak bergaul dengan pasien lain dan terlihat ramah pada siapa pun juga.
Sungguh Livia tidak menyadari atau memang tidak tahu kalau ada dua orang yang mengintai dan selalu memperhatikan gerak-geriknya terus dari seminggu yang lalu di rumah sakit. Bahkan memotretnya secara diam-diam.
Ramon tahu apa yang ada dipikiran Nader. “Boss. Saya akan mencari tahu semuanya-”
“Tidak usah,” potong Nader. “Aku yang akan mencari tahu sendiri.”
Akhirnya dia sampai di mansionnya.
Sementara Livia juga sampai di rumah kedua orang tuanya yang masih terasa asing itu. Tapi, sebagaimana pun juga. Mereka tetap kedua orang tuanya yang telah melahirkannya dan bukan sebuah keinginan kalau mereka terpisah dulu.
Tadi ketika dia di bandara menabrak Nader. Karena terburu-buru dan hanya sekilas saja. Jadi ia cuek dan bahkan meminta maaf padanya. Sebenarnya dia lupa-lupa ingat karena hanya melihat Nader di beberapa foto yang ditunjukkan oleh Nyonya Naresha seminggu yang lalu.
Mungkin walaupun sering bertemu. Livia pasti takkan mengenalinya karena memang perawakan Nader sangat jauh berbeda dari yang ada di foto. Lebih memukau pastinya.
Nyonya Naresha menyambut kedatangannya dan langsung dibawa ke ruang tamu yang tak ada siapa-siapa di sana. “Selamat datang anakku. Livia. Mulai sekarang, kau jangan salah lagi dengan menyebutkan namamu Livia. Siapa pun yang bertanya, kau harus mengatakan Lissa Kiara Vincent,” ujarnya sembari memeluk erat Livia.
“Ya Bu- maksudku Mom. Saya mengerti.”
“Jangan terlalu formal seperti itu. Karena Lissa selalu mengucapkan kata aku. Mulai sekarang biasakan ya,” kata Naresha seraya melepaskan pelukannya itu.
“Baiklah Mom. Aku mengerti,” jawab Livia masih canggung dan kaku. Tapi Ibunya itu tahu, lama kelamaan dia pasti akan terbiasa juga.
Livia datang ke sana dengan paspor baru dan namanya tetap Livia. Karena sebagaimana pun juga, Lissa dan Livia hanya sama wajahnya saja. Namun, berbeda sidik jari dan sidik mata.
Dia menatap sekeliling rumah yang sangat besar dan mewah. Dipenuhi oleh hiasan rumah dan barang antik lainnya. Belum lagi rumah dua lantai itu sudah seperti Kerajaan baginya.
“Selamat datang di rumahmu sendiri. Kau tenang saja. Semua pelayan di sini tak ada yang tahu siapa kamu. Jadi mulai saat ini namamu akan menjadi Lissa. Mommy khawatir kalau mereka tahu siapa kamu sebenarnya, akan ada yang melapor pada Nader.”
“Mommy tenang saja. Aku tahu apa yang harus aku lakukan,” jawab Livia tersenyum.
“Ayo. Mommy akan menunjukkan kamar Lissa dan sekarang adalah kamarmu,” ajak Naresha pada Livia.
Tas Livia dibawa oleh satu pelayan naik ke lantai dua. Sementara semua pelayan yang hanya tinggal beberapa orang itu menunduk menyambut kedatangan Livia.
Salah satu pelayan yang biasa melayani Lissa berkata dengan bahasa Inggris. “Selamat datang kembali di rumah Anda Nona Lissa. Kami sangat prihatin atas-”
“Jangan bahas hal itu. Kepalanya masih terasa sakit jika memaksanya untuk mengingat semua kejadian yang lalu. Jadi, aku mohon pada kalian agar jangan membuatnya kesakitan karena dia belum sembuh total,” potong Naresha sedikit marah.
“Maafkan saya Nyonya besar,” jawabnya sembari menunduk.
“Kalau begitu. Antarkan dia ke kamarnya dan biarkan dia istirahat. Setelah itu kalian berkumpul di ruang utama,” kata Naresha selalu tegas.
Livia hanya menoleh menatap Ibunya itu tanpa banyak bicara. Bahasa Inggris pelayan saja sangat lancar. Jadi dia harus bisa lancar juga.
Satu pelayan mengajak Livia untuk mengikutinya dan pelayan lainnya masuk ke ruang utama.
Setelah semua berkumpul.
“Dokter mengatakan. Kalau Nona Lissa tidak boleh dipaksa untuk mencoba mengingat masa lalunya karena hal itu akan membahayakan memory di otaknya. Jadi, kalian harus terima Lissa yang baru ini. Dan jangan pernah berkata tentang ini dan itu padanya. Paham?!”
“KAMI PAHAM NYONYA BESAR!” jawab semuanya serentak.
“Dan beritahukan teman kalian yang lainnya tentang hal ini. Siapa pun yang membuat Nona Lissa kesakitan. Maka akan langsung dipecat dari rumah ini,” ujar Naresha lagi.
Lagi-lagi semuanya mengangguk mengerti.
Livia sampai di kamarnya lebih tepatnya kamar milik Lissa. Namun, semua pakaian Lissa telah diganti oleh Naresha. Sang desainer itu telah memilih pakaian yang lebih pantas untuk Livia anaknya itu dan berbeda dari Lissa. Semua pakaian adalah collection perusahaannya.
Naresha tak mau jika Livia harus memakai pakaian bekas kakaknya yang sudah meninggal dan sudah pasti akan sedikit ketat pada tubuh Livia yang lebih berisi dari tubuh kurus Lissa. Dia akan memberikan penampilan baru agar Nader mau memaafkan serta sudi untuk rujuk kembali dengan istrinya Lissa. Meski kemungkinan itu hanyalah 5% saja dikarenakan desas-desus yang didengarnya kalau Nader sudah siap menceraikan Lissa dan akan segera mengurusnya di pengadilan.
Dekor kamar juga diubah Naresha. Meski dia memperlakukan Livia seperti anak kecil, lebih tepatnya dia ingin sekali memanjakan Livia. 23 tahun dia terpisah dengan anaknya itu. Ingin rasanya bagi dirinya memberikan apa yang selama ini diberikan pada Lissa.
Melihat dan mendengar bagaimana hidup Livia selama ini. Besar di sebuah rumah panggung dari bambu membuatnya ingin sekali memberikan semua harta yang ada pada mereka kepada Livia untuk menebus semuanya saat itu juga.
Jadi, sebisa mungkin kali ini akan memberikan yang terbaik untuk anak keduanya itu dan tak mau sampai terbengkalai lagi seperti Lissa.
Livia menatap sekitar kamar. Dia serasa mimpi di dalam mimpi kini berada di kamar sebesar itu. Jika di kampungnya, dia tidur di sebuah kamar yang terkadang angin masuk dari sela-sela bilik bambu. Tetapi, sangat nyaman baginya. Namun kini, kamar mewah dan besar itu terasa dingin tak ada kehangatan sama sekali.
Mau bagaimana lagi. Itulah rumah keluarga aslinya dan mulai sekarang dia harus membiasakan diri.
Knockk knockkk.
“Boleh Mommy masuk?” tanya Naresha muncul dari balik pintu.
“Mom. Masuklah dan jangan sungkan seperti itu. Aku jadi tak enak,” jawab Livia tersenyum.
Naresha masuk membawa sebuah kotak. “Mommy bawa ponsel baru untukmu. Dan ini nomor baru Ronnie. Mommy kemarin memberikan ponsel baru untuknya supaya kapan pun kamu mau, bisa menghubungi mereka,” jelasnya sambil memberikan kotak handphone dan juga secarik note kecil tertulis nomor Ronnie.
“Benarkah? Akh, terima kasih Mom. Kau memang Ibu terbaik,” kata Livia senang seraya memeluk erat Naresha.
Begitu bahagianya Naresha walau hanya dipeluk saja oleh Livia dengan sepenuh hatinya.
Sementara Livia lebih dari bahagia. Sudah lama ia ingin membelikan Ronnie sebuah handphone. Tetapi keadaan mereka selalu saja tidak memungkinkan.
“Pakailah. Ponselmu siap pakai,” kata Naresha lagi sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Livia tersenyum semakin lebar.
Naresha berjalan meninggalkan Livia sendirian. Sebelum keluar. “Kalau sudah selesai. Turunlah, Ayahmu sebentar lagi pulang. Kita akan makan siang bersama.”
“Baik Mom.”
Naresha segera menutup pintu kamar.
Livia menatap kotak ponsel barunya itu. Bukan karena dia diberi ponsel baru yang memang sudah haknya. Tetapi dia adalah wanita mandiri dan tak ingin hanya mengandalkan harta kedua orang tuanya itu. Dia ingin apa yang didapatkannya adalah hasil kerjanya sendiri.
Dengan tak sabaran. Dia mengeluarkan ponsel barunya dari kotak lalu memasukkan nomor Ronnie kemudian mendial nomor tersebut.
Deringan ketiga. Seseorang dari seberang mengangkatnya. “Hallo. Dengan siapa ini?”
“Ronnie. Ini kakak Via. Kakak sudah sampai di Australia. Bagaimana operasi Ayah?” tanya Livia girang. Selama seminggu ini mereka jarang komunikasi. Tapi saat mendengar kembali suara adiknya itu, hatinya semakin berbunga-bunga.
“Kak Liv. Akh, syukurlah kau menghubungi kami. Operasi Ayah lancar. Namun beliau belum siuman tetapi masa kritisnya sudah lewat.”
“Akh syukurlah Ya Tuhan.”
Suara Ronnie kurang jelas. Mungkin karena di Indonesia sedang hujan saat ini. “Hallo, Ron? Ronnie?” Berkali-kali Livia memanggil nama Ronnie. Tetapi hanya gemuruh yang didengarnya. Ia pun berlari ke arah jendela kemudian membukanya lalu keluar dan kini ia berdiri di balkon.
“Hallo kak Liv. Maaf sinyal di sini jelek, karena sedang hujan.”
“Tidak apa. Kakak mengerti. Mana Ibu? Apa kalian kini masih di rumah sakit?”
“Ya. Kami masih di rumah sakit. Akan aku panggilkan Ibu.”
Tak lama ponsel sudah berpindah ke tangan Bu Sri.
“Via, sayang. Bagaimana perjalanan ke sana lancar? Kamu baik-baik saja kan? Apa yang kamu lakukan sekarang dan bagaimana keadaan semuanya di sana?” Rentetan pertanyaan dari Bu Sri membuat Livia tersenyum sekaligus sedih.
Tetapi Livia tersenyum bahagia kala mendengar lagi suara Bu Sri. “Semuanya lancar Bu. Gimana kabar Ibu dan bagaimana keadaan Ayah?”
“Ayahmu sudah berhasil operasinya. Semua berkat kedua orang tua kandungmu. Jadi ....”
Livia masih berdiri di dekat pagar balkon dengan telepon genggam di telinganya. Menatap taman dan juga jalanan sekitar komplek tersebut. Tawanya terkadang lolos dari bibirnya mendengar candaan Ronnie yang menggelikan.
Sekilas dia melihat sebuah mobil terparkir tak jauh di depan gerbang. Namun dia tampak tak acuh karena tak tahu mobil siapa itu. Dia tak menyadari kalau sepasang mata menatapnya penuh kerinduan, keheranan bercampur amarah.
Pria itu adalah Nader. Sesampainya di mansionnya, Nader langsung pergi lagi membawa mobil sendiri menuju ke rumah Tuan Prans. Kedua matanya masih terdapat Cinta pada Lissa tetapi saat ini kebenciannyalah yang menguasai hatinya. Untuk pertama kalinya dia melihat Lissa tertawa selepas itu. Dia mengira mungkin yang menelepon pasti pacar gelapnya alias selingkuhannya. Vicky sang model itu.
Nader tak tahan melihat tawa lepas dari Lissa. Ia pun bergegas pergi dari sana.
Lagi-lagi Livia hanya meliriknya sekilas sambil masih mengobrol dengan Ibu Sri dan Ronnie.
Tak berapa lama. Obrolan mereka hentikan lalu menutup telepon masing-masing. Dia sangat gembira mendengar bagaimana bahagianya Ronnie mendapat ponsel baru serta biaya kuliah yang sudah dibayar lunas.
Livia pun masuk kembali ke kamarnya kemudian turun ke bawah untuk makan siang.
﹏﹏☆♥☆﹏﹏
Malamnya Livia sedang menonton televisi sendirian, sayang sekali banyak film Inggris ketimbang Indonesia. Ya, dia harus mulai membiasakan dirinya di negara yang masih sangat asing itu. Datang Nyonya Naresha mendekatinya.
“Sayang. Ada undangan untuk kita.” Naresha menyodorkan undangan pada Livia.
“Undangan apa Mom?” tanya Livia malah menatap undangan itu.
“Oh, hanya undangan pernikahan karyawan Daddy-mu. Jadi kau juga harus datang.”
“Aku? Datang ke sana juga?” Livia menelan salivanya berat. Bagaimana bisa dia datang ke acara mewah seperti itu dan dia khawatir akan membuat malu kedua orang tuanya di sana? Secara ia bukan Lissa dan nanti dia harus bersikap seperti apa?
“Kau jangan khawatir. Semua orang menganggapmu hilang ingatan. Jadi, jika ada yang bertanya ini dan itu, kau tak usah menjawab apa-apa. Ok.”
“Tapi Mom-”
“Sudahlah. Pergi tidur sana. Besok banyak yang harus kita lakukan.” Naresha menyuruh Livia segera istirahat.
“Daddy?”
“Dia pasti akan pulang larut malam. Tahu kan kalau perusahaan sedang menghadapi masa sulit, jadi tak usah menunggu Daddy-mu.” Naresha tersenyum sambil menyuruh terus Livia untuk pergi tidur.
“Kalau begitu. Selamat malam Mom.” Livia bangkit dari duduknya.
“Lissa?”
Livia tidak menjawab malah menoleh menatap Ibunya itu.
“Kau harus terbiasa dengan nama itu. Dan juga, Mommy terbiasa menerima kecupan selamat malam dari Putriku,” kata Naresha menunjuk kening dan pindah ke Puncak kepala serta pipi. Livia mencondongkan tubuhnya lalu mengecup pipi Naresha.
“Selamat malam Mom,” kata Livia tersenyum. Ia langsung berlari menuju tangga lalu naik ke lantai dua.
Naresha hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Anaknya yang satu itu memang sangat jauh berbeda dari Lissa, sedikit pemalu. Jika Lissa yang dulu selalu mengecup pipi atau keningnya. Semenjak menikah dengan Nader sudah tak pernah lagi. Dan Lissa tak pernah menurut apa yang dikatakan olehnya serta selalu saja melawan mereka.
Livia sampai di kamarnya lebih tepatnya kamar barunya. Ia berlari ke arah ranjang lalu melemparkan tubuhnya ke atas kasur.
Perasaannya belum nyaman berada di kamar barunya itu. Meski pengharum ruangan menyeruak semerbak mewangi memenuhi kamarnya. Tetapi dia rindu harum kamarnya yang di kampung sana.
Lama kelamaan matanya mengantuk dan akhirnya tertidur lelap juga.
Di mansion Nader.
Nader sedang mandi di shower. Air hangat terus menyirami seluruh tubuhnya dan dia pun sengaja membiarkan tubuhnya disiram air dengan cukup lama.
Kedua telapak tangannya ditempelkan ke dinding dengan kedua mata terpejam. Sesungguhnya dia saat ini sedang berpikir apakah Lissa benar-benar mengalami hilang ingatan?
Meski sudah mendapat kabar dari orang yang disuruhnya memata-matai Lissa dan bertanya kepada dokter yang menangani Lissa di Indonesia kalau Lissa benar-benar mengalami hilang ingatan.
Nader masih belum bisa percaya kalau wanita yang masih menyandang status istrinya itu mengalami hilang ingatan dan jika dia dipaksa untuk mengingat sesuatu yang tak diinginkannya, maka kesehatannya akan terganggu karena fungsi otaknya mengalami tekanan serta banyak pikiran sehingga akan membuat otaknya itu sering merasakan sakit yang akan sangat menyakitkan.
Nader mengembuskan napasnya dalam-dalam. Hatinya saat ini sangat bimbang, apakah dia akan menceraikan Lissa dalam keadaan seperti itu? Bahkan ketika dirinya dan Lissa bertabrakan di Bandara tadi. Seharusnya Lissa menatap atau paling tidak mengenalinya.
Mungkinkah Lissa memang sudah melupakan siapa dirinya dan bahkan mungkin untuk selamanya?
Tangan kanannya mengepal erat kala teringat lagi bagaimana pengkhianatan istrinya itu di kamar hotel. Dia kini meninju-ninju kecil dinding kamar mandi tersebut karena sangat geram.
Uap air hangat memenuhi serta menutupi dinding kaca penyekat kamar mandi. Kulitnya juga hampir mengkerut karena terlalu lama di bawah derasnya air hangat tersebut.
Lamunannya terus mengembara ke mana-mana sampai sebuah ketukan pintu kamar mandi mengagetkannya.
Knockk... knockk...
“Nader. Are you still in side?”
“Yes Grandma. Why? Are you have something to talk with me?” tanya Nader segera mematikan kran air.
“Yeah. We have to talk right now.”
Nader mendengar suara nenek tercintanya itu sedikit tegas. Ada apakah gerangan tidak biasanya nenek Maria seperti itu? Ia pun segera memakai bathrobe (mantel mandi atau handuk yang berbentuk pakaian) kemudian keluar dari kamar mandi.
Dia melihat neneknya berdiri di dekat pintu kamarnya. Di tangan kanan nenek Maria sebuah tongkat untuk membantunya berjalan karena neneknya itu memang sudah terlalu tua tetapi masih berjalan dengan biasa.
“Ada apa grandma? Apa yang akan grandma bicarakan denganku? Moodku saat ini sedang tidak bagus,” ujar Nader sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Nenek Maria mengembuskan napasnya lirih. Sebelum menjawab ia menatap ke dalam manik mata cucu satu-satunya serta kesayangannya itu seolah mencari jawaban di sana. “Apa benar kau akan menceraikan Lissa?” Akhirnya pertanyaan itu dilontarkannya juga pada Nader.
“Ya. Aku akan segera menceraikannya.”
Bersambung.