“Segala rencana tidak akan berhasil, jika yang Di Atas tidak menghendaki. Namun, aturannya lah yang akan terjadi. Dan semua itu yang dinamakan TAKDIR.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
Hati Livia menjadi kembali menghangat tetapi di waktu yang sama sangat lemas. Dia melirik kakak kembarnya yaitu Lissa yang sudah tiada.
Kenapa takdir mempertemukannya dengan mereka setelah Lissa meninggal? Apa yang terjadi pada kakak kembarnya itu? Pantas saja selama dua hari ini jantung serta hatinya selalu merasakan perasaan tak enak. Belum lagi memikirkan keadaannya Ayahnya. Rasa-rasanya otaknya ingin pecah saat itu juga.
Ricko menarik Tuan Prans untuk sedikit menjauh dari mereka. Sementara Nyonya Naresha masih menceritakan pada Livia bagaimana dulu mereka mati-matian mencari keberadaannya.
“Apa kau yakin tidak akan ketahuan?” tanya Tuan Prans ragu dan takut.
“Om. Bukankah selama ini tak ada yang tahu kalau Om mempunyai anak kembar. Meski ada yang tahu juga, mereka mengira kalau Livia sudah meninggal sejak dulu. Lalu, jika kita tak melakukan hal itu. Aku yakin Om akan kehilangan semua harta yang selama ini susah payah didapatkan serta usaha yang dibangun akan hancur begitu saja.” Rencana Ricko yang licik mulai dituangkan dan memenuhi otak Tuan Prans yang baik.
Ricko memang orang yang licik dengan beribu cara. Bahkan perusahaannya banyak melakukan pekerjaan ilegal serta pekerjaan yang kotor di balik terhormatnya namanya itu. Tapi, selama ini belum pernah ada yang mengetahui akan hal itu karena semua dilakukannya dengan sangat bersih dan teratur sekali.
Tuan Prans tampak berpikir. “Apa kau yakin?”
“Sangat yakin,” jawab Ricko serius.
Karena otak Tuan Prans saat ini sedang sangat buntu dan tak punya pilihan. Akhirnya dia menyetujui rencana Ricko. Toh hanya tinggal menunggu tiga bulan lagi ke ulang tahun Nader dan dua bulan lagi adalah ulang tahun pernikahan Nader dan Lissa yang kedua tahunnya.
Setelah itu. Mereka hanya tinggal mengatakan kalau Lissa sudah meninggal bersamaan dengan Livia yang menghilang selamanya dari kehidupan Nader. Dengan begitu, Nader tidak akan pernah curiga. Apalagi selama ini Lissa maupun mereka tak pernah menceritakan kalau Lissa mempunyai adik kembar yang hilang 23 tahun yang lalu.
Tuan Prans dan Ricko mendekati Livia dan Nyonya Naresha yang saat itu masih saja terlihat kaku dan canggung.
Livia masih belum mengerti apa yang terjadi padanya? Bahkan hatinya masih belum bisa menerima kalau Tuan dan Nyonya itu adalah kedua orang tua kandungnya.
Tuan Prans duduk di sebelah Livia. Sementara samping satunya ada Nyonya Naresha. Ricko berdiri di dekat Tuan Prans.
Tuan Prans menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Dia tampak berat sekali untuk menjelaskannya.
Livia melirik kepada Tuan Prans lalu melirik pada Nyonya Naresha. Dia masih kebingungan, apa yang hendak mereka bicarakan?
“Livia. Bisakah kau membantu kami?” tanya Tuan Prans menaruh harapan pada anak keduanya itu yang baru saja bertemu hari itu juga.
“Ba-bantuan apa Tu-an?” tanya Livia masih gelagapan.
Ricko yang mulai menjelaskan semuanya. Livia bahkan Nyonya Naresha membelalakan matanya.
“Apa kalian gila?” kata Nyonya Naresha tak terima.
Ricko berjongkok di depan Nyonya Naresha. “Tante. Saya yakin kalau Livia tidak akan ketahuan. Bahkan saya sudah menyebarkan berita kalau Lissa hilang ingatan karena kejadian kecelakaan itu.”
Naresha menatap tak percaya pada suaminya. “Prans. Apa kau tidak salah? Kau akan menyuruh anak kedua kita ini untuk membohongi orang? Dan harus pura-pura menjadi istri Nader. Seorang yang jelas-jelas adalah kakak iparnya?”
“Naresha. Kita tidak punya pilihan lain. Apa kau mau setelah kita menemukan anak kita yang selama 23 tahun ini malah jatuh menjadi gelandangan? Lagipula ini tidak akan lama. Hanya tiga bulan saja sampai ulang tahun Nader dan bukankah dua bulan lagi Nader dan Lissa akan merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Sementara Lissa …,” Prans melirik melihat Lissa yang terbaring tak bernyawa di atas ranjang. “Dia takkan hidup kembali.” Air matanya jatuh tak tertahankan lagi.
Livia masih menatap bingung kepada mereka. Otaknya juga masih mencerna semua ucapan mereka yang memang tak masuk di akal itu. Karena merasa mereka memang gila jika meminta bantuan untuk berpura-pura menjadi istri yang jelas-jelas kakak iparnya itu. Sebuah kegilaan yang benar-benar tak masuk di otaknya.
Livia bangkit dari duduknya. “Maaf, sepertinya kalian memang salah orang.” Dia bergegas berjalan meninggalkan mereka. Namun, baru saja tangannya memegang knop pintu.
“Apa kau tak mau menyelamatkan Pak Trino. Ayah asuhmu itu? Jika dalam satu minggu tak dioperasi. Maka kau akan kehilangan Ayah tercintamu itu,” kata Ricko tahu kelemahan Livia.
Tubuh Livia seketika menegang. Ia pun menelan salivanya susah payah. Terlintas lagi semua kalimat yang diucapkan Bu Sri kalau mereka akan menjual tanah, sapi dan juga hewan peliharaan lainnya demi Pak Trino.
“Apa salahnya dengan membantu kedua orang tua kandungmu ini dan menyelamatkan kedua orang tua asuhmu itu. Dengan begitu, kalian tidak akan kehilangan apa pun yang berharga di rumah kalian sekaligus bisa membiayai kuliah Ronnie adikmu.” Ricko selalu saja mengeluarkan akal liciknya untuk membujuk siapa saja.
Livia melepaskan pegangannya pada knop pintu. Dia lalu membalikkan badannya menghadap mereka lagi. “Tapi itu risikonya besar. Belum tentu kakak ipar akan percaya kalau aku kak Lissa. Sudah begitu, semua orang pasti akan mengetahui kalau aku adalah Livia.”
“Kau tenang saja. Asalkan kau percaya pada kami. Semua itu sudah kami urus dengan matangnya.” Ricko menyeringai kecil. Entah rencana apa lagi yang akan dilancarkannya demi untuk menjadi rekan kerja Nader.
Memang selama ini hanya perusahaannya dan banyak juga perusahaan yang lain tidak bersangkutan atau merangkap ke perusahaan Nader. Meski mereka ingin menjadi Partner kerja Nader. Jika Nader memandangnya tidak layak untuk bergabung bersama semua perusahaannya. Maka mereka takkan pernah bisa masuk kapan pun juga meskipun hanya di cabangnya saja.
Satu peluru tiga burung kena. Itulah yang kini ada di otak licik Ricko.
Livia masih berdiri tegang di dekat pintu. Kini otak dan hatinya sedang bertarung. Antara memilih menyelamatkan Ayah asuh yang dicintainya dengan balasan harus bersandiwara menjadi istri pria yang bahkan dia belum tahu watak yang sebenarnya. Atau pergi dan melupakan mereka dengan risiko kehilangan Ayah tercintanya itu.
Lagi-lagi Livia menelan salivanya berat. Hatinya kini sudah memutuskan kalau memang itu takdirnya untuk membalas budi dan jasa kedua orang tua asuhnya yang selama ini banting tulang demi menghidupi serta mengurusnya dengan penuh kasih sayang. Kapan lagi dia akan membalas kebaikan mereka?
Akhirnya Livia menyetujui untuk membantu kedua orang tua kandungnya yang masih terasa seperti orang asing itu sekaligus membantu kedua orang tua asuh dan adiknya.
Tuan Prans dan Nyonya Naresha sangat senang mendengarnya. Naresha sebenarnya juga tak mau memberikan Livia beban mereka dan harus berbohong demi menyelamatkan harta serta perusahaan mereka. Tapi, di sisi lain dia juga tak punya pilihan lain. Dia ingin menebus kesalahan pada Lissa dengan lebih menyayangi Livia. Jangan sampai ada ucapan menyakitkan dari Livia seperti mereka tak pernah menyayangi atau mempedulikan Lissa selama ini.
Prans dan Naresha juga ingin Livia bisa menikmati hasil kerja keras mereka. Dan hanya dengan cara itulah keduanya masih bisa memberikan semua fasilitas yang mereka punya pada Livia sebelum hilang disita bank tanpa secuilpun bisa diberikan pada Livia.
Naresha bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Livia lalu memeluknya erat. “Terima kasih, Livia. Putriku yang hilang dan selamat datang kembali di keluarga kami.”
Livia hanya tersenyum canggung. Jika gadis lain mungkin akan langsung saja menerima keluarga kaya itu dengan berjingkrak kegirangan atau menangis bahagia. Lain lagi dengannya. Dia sama sekali tak senang menerima kenyataan bahwa kehidupannya yang sederhana akan segera berakhir. Hidupnya akan mulai diatur, dimainkan seperti boneka tanpa bisa melawan dan tanpa bisa menolaknya juga.
Ricko mulai menjelaskan bagaimana nanti Livia di rumah Nader. Prans dan Naresha juga menceritakan kenapa Lissa sampai tabrakan. Tetapi tak menceritakan bagaimana buruknya sikap Lissa dan tentang perselingkuhannya itu.
Bukankah mereka telah menyebarkan berita kalau Lissa hilang ingatan. Maka dari itu sudah tak ada gunanya menceritakan kenapa Lissa dan Nader sampai mau bercerai dan kenapa Lissa sampai tabrakan saat itu?
Menceritakan bagaimana keadaan perusahaan mereka yang sudah diujung kehancuran serta kehidupan mereka sehari-hari.
Prans juga menunjukkan beberapa foto pernikahan Lissa dan Nader serta bagaimana sikap Nader selama ini sebatas yang mereka tahu saja.
Karena Livia sudah tak bisa mundur lagi. Maka dia menerima syarat kalau dia akan dikatakan meninggal dan Lissa lah yang nanti akan dikubur di pemakaman umum di kampung Livia. Dengan begitu, semua teman, tetangga bahkan yang kenal Livia akan menganggapnya mati. Jadi, di manapun mereka bertemu dengan Livia. Akan menganggap kalau itu adalah Lissa.
“Bagaimana dengan kedua orang tuaku dan juga adikku?” tetap saja Livia masih memanggil Pak Trino dan Bu Sri sebagai orang tuanya dan Ronnie sebagai adiknya.
“Mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Mungkin sebentar lagi akan sampai ke rumah sakit ini,” jawab Ricko. Sungguh memang licik dan banyak akal. Bahkan sebelum Livia menyetujui rencana mereka. Ricko sudah menjemput Bu Sri dan Ronnie ke sana dan setadinya akan digunakan untuk senjata membujuk Livia.
Benar saja. Bu Sri dan Ronnie datang ke sana dengan diantar oleh suster pribadi di sana. Tak boleh ada yang tahu keberadaan Lissa dan kembarannya Livia serta keluarga Vincent di sana.
Bu Sri berlari lalu memeluk Livia. “Ibu kira terjadi apa-apa padamu Livia.”
Sementara Ronnie menatap ke arah ranjang di mana Lissa sudah ditutup kembali oleh seprai. Kemudian menatap wajah semua orang yang ada di sana satu per satu.
“Via tidak apa-apa Bu,” jawab Livia tersenyum. Berat rasanya untuk mengatakan kalau mereka akan berpisah dalam jangka waktu yang bukan sehari atau dua hari saja.
“Kak, sebenarnya ada apa ini?” tanya Ronnie masih bingung.
“Duduklah nak,” kata Tuan Prans ramah pada Ronnie. Sementara Bu Sri sudah tahu siapa mereka dari mimik wajah Tuan Prans saja.
Bu Sri dan Ronnie duduk di sofa. Sementara Livia duduk di atas lantai di depan kedua lutut Bu Sri. Memegang kedua tangan Ibu yang dicintainya itu seolah mencoba mengatakan untuk menguatkan hatinya.
Ricko, Naresha dan Prans bergantian menjelaskan semuanya. Ronnie shock mendengarnya sementara Bu Sri tersenyum dengan kedua mata berkaca-kaca. Ternyata hari ini datang juga, di mana kedua orang tua kandung Livia menemukan putri tercintanya itu.
Allah memang mempunyai berjuta cara untuk mempertemukan anak dengan kedua orang tuanya itu.
“Bu, katakan kalau semua itu bohong. Kak Via adalah kakak kandungku kan Bu. Jawab Bu,” kata Ronnie melihat Ibunya tak bersuara dari tadi. Selama ini dia tak tahu jika Livia hanya anak pungut kedua orang tuanya itu. Bahkan jika ada yang mengatakan kalau mereka bukan adik dan kakak kandung. Tetap saja Ronnie akan mengabaikan hal itu.
Ricko mendekati ranjang lalu membuka penutup seprai. “Lihatlah, dia adalah Lissa. Kakak kembar Livia.”
Ronnie berdiri kemudian semakin shock melihat wajah Lissa. Dia semakin tidak mengerti dan memang selama ini ada desas-desus di sekolahnya kalau kakaknya Livia sangat mirip dengan seorang istri pengusaha muda sekaligus milioner Australia yang entah siapa namanya karena dia tak pernah terlalu menghiraukannya.
“Dia memang bukan kakak kandungmu, Ronnie.” Bu Sri mulai menceritakan bagaimana suaminya menemukan Livia di pinggiran sungai dan sebab apa mereka tak mengganti namanya dari Livia Sebbera menjadi apa yang mereka inginkan. Karena mereka yakin kalau suatu saat nanti kedua orang tuanya akan mengenalinya dan pastinya dari namanya juga.
Ternyata secepat itu Livia bertemu kembali dengan kedua orang tua kandungnya.
Naresha semakin memeluk erat Livia. “Nama itu adalah pemberian kami berdua, Livia. Lissa adalah nama yang diberikan oleh Ayahmu dan Livia adalah dariku.”
“Kiara adalah nama dari Ibumu dan Sebbera adalah dari aku, Daddy-mu,” imbuh Prans terharu. Menerima kenyataan kalau anaknya masih hidup dan waktu itu dia tak bisa membayangkan kalau keranjang bayi Livia terbalik di derasnya air sungai, mungkin kini mereka sudah tak mempunyai anak lagi.
Tuhan ternyata mempunyai rencana lain. Dulu yang hilang adalah Livia. Namun, ketika ditemukan. Mereka malah kehilangan Lissa untuk selamanya.
Ronnie masih sesekali melirik pada Livia kemudian kembali menunduk.
Livia mengerti apa yang dipikirkan Ronnie. Dia mendekatinya kemudian memeluk dari samping. “Kau jangan khawatir. Sebagaimana pun juga, kau tetap adikku. Adik yang sangat aku sayangi.”
“Tapi, orang-orang akan menganggap kalau kau sudah mati kak,” jawab Ronnie sedih mengutarakan perasaannya.
Tuan Prans mendekati keduanya. “Mulai sekarang, kau aku anggap anakku sendiri. Aku sudah lama ingin mempunyai anak laki-laki. Jadi, sekarang kalian mempunyai dua Ayah dan dua Ibu,” jawabnya tersenyum meski di hatinya menangis karena Lissa anak yang besar dalam pangkuannya sudah meninggal.
“Ya. Kapan pun kau mau bertemu dengan kakakmu. Kami tidak akan pernah melarangnya. Asal kalian bisa menjaga rahasia ini. Demi kami dan demi Ayah kalian juga,” kata Nyonya Naresha memohon.
“Jangan khawatir, Livia. Kami akan membantu Ayahmu itu sampai sembuh seperti semula. Dan itu juga sebagai balas budi kami kepada mereka karena telah membesarkanmu,” kata Tuan Prans.
Bu Sri hanya mengembuskan napasnya. Sebenarnya dia tak meminta apa pun kepada mereka hanya karena telah membesarkan Livia. Selama ini dia dan suaminya sudah benar-benar menganggap Livia dari darah dagingnya sendiri. Tetapi, memang pada kenyataannya Livia adalah anak orang lain.
Dengan bujukan serta permohonan semuanya. Akhirnya mereka setuju untuk melakukan apa yang menurut mereka terbaik. Hanya beberapa bulan saja, lagipula perusahaan Tuan Prans dan istrinya itu akan segera stabil dan normal kembali dalam beberapa bulan ke depan meski tanpa bantuan dari Nader.
Hanya beberapa bulan, harus bertahan dan jangan sampai membuat kakak iparnya curiga. Setelah itu, dia akan menghilang dari hadapan Nader untuk selamanya. Dalam hati Livia.
﹏﹏☆♥☆﹏﹏
Akhirnya jenazah Lissa dibawa ke kampung Livia dan dimakamkan di sebuah pemakaman besar untuk orang-orang elit. Semua orang kampung bertanya-tanya, kenapa Livia pulang sudah meninggal dan juga karena apa sampai tertabrak?
Pergunjingan dan banyaknya pertanyaan mulai memenuhi benak seluruh orang kampung.
Ada yang mengatakan kalau yang menabrak adalah orang kaya sehingga semua biaya ditanggung mereka. Sangat disayangkan kalau gadis secantik Livia harus mati mengenaskan seperti itu.
Yang paling shock adalah Nissa. Dia meminta maaf pada Ronnie dan Bu Sri karena merasa tak bisa menjaga Livia. Ketika bertanya pada Ricko boss-nya. Ricko hanya mengatakan kalau Livia pulang sendirian dari cabang kantornya karena setadinya dia akan menempatkan Livia menjadi manajer marketing di cabang perusahaannya tersebut.
Nissa tak percaya. Tetapi apa hendak dikata, Livia sudah meninggal dan juga dia tak bisa asal menuduh kalau boss-nya hendak berbuat senonoh pada Livia dikarenakan banyak pegawainya yang bekerja di kantor cabang satunya mengatakan kalau Livia memang terlihat pulang sendiri dengan wajah yang ceria.
Sungguh uang bisa membeli segalanya. Semua kesaksian para pegawai Ricko adalah palsu belaka dan Nissa hanya bisa percaya saja. Apa lagi akhir-akhir ini Livia selalu terlihat murung dan banyak pikiran. Jadi mungkin karena itu dia melintas di jalan tak melihat kendaraan.
Singkat kata. Pemakaman Lissa di kampung Livia tak dihadiri oleh kedua orang tuanya. Mereka hanya melihat di dalam mobil dari kejauhan.
Ronnie dan Bu Sri datang dengan orang-orang di kampung yang menyambut jenazah Lissa yang dianggap Livia. Bahkan Pak Trino belum diberi tahu hal itu karena masih dalam keadaan tak sadarkan diri di rumah sakit.
Hiro juga datang membantu. Dia kini menatap nisan Livia. Tak menyangka kalau gadis yang sangat dicintainya dan baru saja beberapa hari putus itu harus mengalami kejadian naas tersebut. Kini dia tak bisa lagi bertemu atau bercanda dengan gadis itu lagi. Menyesal kenapa dia tak bisa mempertahankan hubungannya dengan Livia.
Pemakamanpun selesai.
Bu Sri dan Ronnie kembali ke rumah. Pengorbanan Livia untuk mereka terasa besar. Dia harus menjadi orang yang tak lain adalah kakak kembarnya demi Pak Trino dan juga demi tanah serta semua milik mereka. Jika saja Livia tidak bertemu dengan kedua orang tua kandungnya itu. Sudah pasti tanah, hewan ternak mereka sudah dijual dari kemarin.
“Apa Ibu tidak merasa ada yang aneh dengan keluarga kandung Kak Via?” tanya Ronnie ketika baru saja tiba di rumah yang kini terasa sepi tanpa gelak tawa Livia atau candaan Pak Trino.
“Ibu tahu hal itu. Tapi mau bagaimana lagi. Mereka lebih berhak ketimbang Ibu. Kita hanya membesarkannya sementara mereka yang melahirkan dan lebih berhak atas Livia. Bukankah semua ini atas kemauan kakakmu itu sehingga bisa mengoperasi Ayahmu serta mempertahankan harta kita satu-satunya yaitu tanah dan hewan ternak,” jelas Bu Sri lirih. Dia juga sebenarnya berat hati melepaskan Livia jauh dengan mereka. Lalu beliau duduk sambil merentangkan kedua kakinya ke depan.
Ronnie baringan di dekat kakinya lalu tiduran di atas paha Ibunya itu. “Semoga semua urusan kak Via cepat selesai dan semuanya lancar-lancar saja tanpa kendala biar dia bisa berkumpul lagi bersama kita.”
“Berkumpul lagi. Tetapi akan semakin sulit untuk bertemu karena semua orang sudah menganggapnya meninggal.”
Ronnie tampak berpikir. Benar juga apa kata Ibunya. Jika mereka ingin menemui Livia. Sudah pasti mereka lah yang harus ke kota di tempat rahasia. Jika tidak, kebohongan Livia akan segera kebongkar dan mereka harus bersabar sampai beberapa bulan ke depan.
﹏﹏☆♥☆﹏﹏
Tuan dan Nyonya Vincent pulang duluan ke Australia agar tak ada yang curiga kepada mereka. Setiap ada yang bertanya bagaimana keadaan Lissa yang terapi di Indonesia. Mereka hanya bisa menjawab kalau Lissa sudah baikkan dan kecelakaan itu tidak terlalu parah. Hanya saja dia mengalami hilang ingatan.
Livia tinggal di rumah sakit yang berbeda dengan Pak Trino agar jika ada suruhan Nader mengintai Lissa. Mereka akan mengatakan pada Nader kalau Lissa memang dirawat di rumah sakit itu.
Yang mengurus Livia adalah Dokter dan Suster suruhan Ricko. Benar-benar mirip seperti di film-film itu. Ricko sudah merencanakan semuanya matang-matang dan sangat rapi.
Seminggu kemudian.
Hari di mana Pak Trino dioperasi. Hari itu juga Livia berangkat ke Australia bersama dengan dua penjaga yang sengaja dikirimkan oleh Tuan Prans untuk menjaga anaknya itu. Sepanjang perjalanan, dia berdoa untuk kelancaran operasi Ayahnya. Ya. Tetap saja dia akan menganggap kalau Pak Trino adalah Ayahnya sendiri.
Itu adalah pertama kalinya bagi Livia naik pesawat sehingga dia merasa pusing yang tak terkira sampai meminum obat untuk sedikit meredakan sakit kepalanya itu.
Akhirnya dia tiba juga di Australia.
Livia turun dari pesawat mengikuti dua penjaganya yang membawakan tas koper kecil miliknya. Sambil berjalan, dia memeriksa dahulu tas ransel yang dibawanya takut ada yang ketinggalan. Apalagi foto keluarga dan dompetnya.
Karena di bandara banyak orang lalu lalang pastinya dan Livia tak memperhatikan jalan. Tak sengaja dia menabrak seorang pria.
Bruughhh... traakkk...
Sang pria yang tertabrak Livia sangat marah. “Kalau jalan pakai ma-!” belum selesai dia memarahi Livia. Kedua matanya mengerjap lalu menatap tajam padanya.
“Akh, maafkan saya Tuan. Sekali lagi saya minta maaf,” ucap Livia membungkuk kemudian melihat sekilas wajah pria itu yang masih menatapnya tajam. Merasa dua penjaganya sudah berjalan jauh tanpa menyadari kalau dia tertinggal. Livia berlari mengejar mereka. “Hey, tunggu aku!” dia berlari mengejar dua penjaganya.
“Lissa?”
Bersambung.