“Ketika kau hendak melepaskan tetapi kau tak bisa dan malah tersiksa. Maka yang harus kau lakukan adalah mempertahankan dan memberinya kesempatan. Jika kesempatan itu disia-siakan lagi. Kau pun akan menyadari jika kau sudah lama bisa melepaskannya.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
Lagi-lagi nenek Maria mengembuskan napasnya berat. “Apa keputusanmu sudah bulat?”
Nader mendekati neneknya itu sambil menganggukkan kepalanya. Dia memegang sebelah pipi neneknya. “Tak ada pilihan lain.”
“Kalau begitu. Grandma takkan ikut campur lagi urusanmu. Hanya saja aku akan memberimu nasihat. Setiap orang pasti akan melakukan salah dan orang yang terbaik adalah memaafkan kesalahan orang lain,” ujar nenek Maria tersenyum sembari menepuk tangan Nader yang menempel di pipinya.
“Hah, sudahlah. Grandma tunggu untuk makan malam, kau pasti lelah. Oh ya, besok malam ada undangan pernikahan karyawan perusahaan mertuamu maksudku perusahaan orang yang akan menjadi mantan mertuamu itu. Jadi, pikirkan kembali. Orang sukses takkan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaannya.” Setelah memberi Nader nasihat. Nenek Maria bergegas keluar dari kamarnya itu.
Nader terpaku di tempatnya. Sebenarnya dia benci jika bertemu dengan mertuanya yang sebentar lagi akan menjadi mantan mertuanya. Tetapi, omongan neneknya itu ada benarnya. Apa yang akan dikatakan orang tentangnya jika tak hadir dan mungkin gosip tentang perceraiannya itu akan segera menjadi rahasia umum.
Ia pun melemparkan handuk ke sembarang kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Ditatapnya langit-langit kamar sambil membayangkan semua kenangannya bersama Lissa di kamar itu dan jika diingat kembali kalau selama ini mungkin kenangan indahnya bisa dihitung. Hampir setiap hari mereka bertengkar dan dia lah yang sering mengalah.
Tak terasa karena seharian tidak tidur akibat perjalanan dari Los Angeles. Akhirnya dia pun tertidur lelap sampai melewatkan makan malam dan nenek Maria membiarkannya beristirahat.
﹏﹏☆♥☆﹏﹏
Keesokan harinya tepat di malam hari.
Livia berputar di depan kaca besar di kamarnya. Dia memakai gaun tak berlengan berwarna vanilla dengan rambut yang dikuncir kuda.
Make-up minimalis menghiasi wajahnya. Sebenarnya yang mendandani adalah pelayannya karena dia memang tak bisa berdandan.
Lipstik berwarna peach menambah sexy bibirnya yang sedikit tebal bagian bawahnya sekaligus manis. Ditatap wajahnya yang sangat berbeda, serasa mimpi di dalam mimpi bagaikan cinderella yang siap berdansa dengan Pangeran di pesta nanti.
Namun, dia tertawa geli membayangkan siapa yang mau berdansa dengannya? Bahkan dia harus berpura-pura hilang ingatan.
Nyonya Naresha masuk ke dalam lalu tersenyum melihat cantiknya Livia. Wajah Livia dan Lissa memang sama tetapi melihat Livia yang sekarang jauh berbeda dengan Lissa yang selalu saja terlihat glamor. Livia terlihat sederhana namun sekaligus cantik.
“Putri Mommy sudah siap?” Naresha memeluknya dari samping.
Livia tersenyum sembari mengangguk. “Aku gugup Mom.”
“Jangan gugup dan takut. Ada Mommy di sana dan kamu jangan lupa untuk menyebut namamu Lissa bukan Livia.” Sekali lagi Naresha mengingatkan Livia.
Lagi-lagi Livia hanya mengangguk pasrah. Apa yang terjadi nanti di pesta, terjadilah. Dia hanya membayangkan kalau pesta pernikahan orang kaya seperti yang di ceritakan teman-temannya. Karena dia sama sekali jarang melihat televisi.
Maka dari itu Livia yakin kalau pesta itu akan berakhir baik-baik saja dan setelah itu dia bisa pulang dan tertidur dengan lelapnya di kamar barunya itu.
“Daddy mana?” tanya Livia. Dia hanya melihat Ayahnya pagi hari saja ketika sarapan. Sampai malam seperti itu Tuan Prans tak terlihat batang hidungnya.
“Daddy-mu sibuk sekali. Jadi dia akan menyusul ke sana nanti dan sebaiknya kita segera berangkat, sebentar lagi acara pasti akan dimulai,” ajak Naresha penuh semangat.
Tanpa berbincang lebih lama lagi. Naresha dan Livia berangkat menuju ke gedung pernikahan.
Entah kenapa. Nader yang tadinya tak mau pergi ke pesta itu. Ternyata kini sudah berada di pesta duluan bahkan dari satu jam yang lalu.
Mendengar kalau Lissa dan keluarganya akan datang. Sepulang bekerja, Nader langsung bersiap-siap kemudian meluncur ke sana.
Kini dia berdiri dengan gelas wine di tangannya. Sesekali dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari Lissa. Tamu mulai berdatangan tetapi dari tadi dia belum melihat Lissa atau kedua orang tuanya.
Kedua sahabatnya menghampiri Nader.
“Bukankah tadi kau mengatakan tidak akan datang?” tanya Gerald tahu permasalahan Nader dan kenapa dia lama berada di Los Angeles.
Ardell menepuk pundak Nader. “Kami tahu akhir-akhir ini kau banyak masalah. Tetapi kau jangan khawatir, rahasiamu aman bersama kami sampai tiba waktunya nanti.”
Nader hanya tersenyum miring. Kedua sahabatnya itu memang yang terbaik dan paling mengerti dirinya.
Ardell juga tampak kesal mendengar cerita Nader. “Jika aku melihat pria itu saat ini. Entah apa yang akan aku lakukan padanya-”
“Jangan,” ucapan Ardell dipotong oleh Nader. “Kalian tak usah ikut campur urusanku. Aku bisa menyelesaikannya dengan caraku sendiri.”
“Apa kau yakin?” tanya Gerald merasa cemas pada Nader.
“100% yakin. Aku bisa menyelesaikannya tanpa ada yang akan mengetahui rahasia dan aib keluargaku.”
Gerald dan Ardell hanya bisa mengembuskan napasnya pelan. Sahabat mereka yang satu itu memang tak pernah mau mencampur adukkan semua urusan dalam waktu yang bersamaan. Mereka yakin jika Nader sudah mengeluarkan keputusan, pastinya semua itu sudah dipikirkan dengan sangat matang.
Tak berapa lama mobil Nyonya Naresha parkir di depan gedung kemudian Naresha dan Livia turun dari mobil.
Naresha tahu betapa tegang dan gugupnya Livia. Dia memegang tangan kanan Livia. “Sudah Mommy katakan, jangan tegang.”
Livia mendongak menatap gedung pernikahan yang tinggi dan besar serta berhiasan pernak-pernik, lampu warna-warni mewah di sana. “Aku tahu Mom. Jangan khawatir.”
“Ayo kita masuk,” ajak Naresha.
Perlahan Livia melangkah masuk bersama dengan Ibunya.
Nader tengah meneguk Wine-nya kala Ardell menyenggol pelan sudut lengannya. Kedua mata ketiganya menatap seorang wanita yang masuk dengan anggunnya. Bukan hanya mereka saja tetapi seluruh tamu undangan serta kedua mempelai pun menatap kedatangan Livia.
Mereka melihat Lissa benar-benar berubah dari terakhir kali bertemu yaitu pernikahan sahabatnya beberapa minggu yang lalu.
Mereka sudah tahu kalau Lissa hilang ingatan dari berita-berita yang beredar baru-baru ini di Australia. Jadi beberapa orang yang kenal dekat dengan Lissa atau kenal keluarga Vincent menghampirinya.
“Maaf, dia benar-benar hilang ingatan.” Hanya kata-kata dari Nyonya Naresha yang menjawab banyaknya pertanyaan. Sementara Livia menunduk malu, gugup dan entah perasaan apa lagi kini bercampur aduk di dalam dirinya.
Tiba-tiba sudut pandang Livia menangkap sesosok pria yang berdiri tak jauh darinya. Sosok pria itu tengah menatapnya sangat tajam seolah menusuk langsung ke jantungnya. Dia malah semakin gugup karena kini menyadari kalau bukan pria itu saja yang menatapnya melainkan semua orang.
Nyonya Naresha memperkenalkan kedua mempelai seolah Lissa benar-benar hilang ingatan dan Livia terpaksa berakting di depan mereka layaknya orang yang amnesia.
Berulang kali sudut mata Livia menangkap pria tadi masih menatapnya. Dia pun berbisik pada Naresha. “Mom, yang mana Nader itu? Aku tidak bisa mengenali aslinya.”
Naresha mengedarkan pandangannya. Dia sedikit kaget kala pandangannya melihat Nader memang sudah berubah. Rambutnya yang hitam pekat di cat warna ombre serta rambutnya itu tampak sedikit pendek setelah bercukur tadi pagi sehingga Livia pasti takkan mengenalinya jika secara bertatapan langsung begitu.
Dia saja hampir tak mengenali sosok Nader yang sudah banyak berubah dalam waktu singkat seperti itu. Ia pun menjawab dengan nada pelan. “Kau lihat tiga pria di dekat meja minuman. Pria yang berdiri memakai jas warna turquoise itulah suamimu, dia adalah Nader Mourinho Alvaro.”
Livia menoleh sekilas pada tiga pria yang masih menatap ke arahnya. Dia tampak mengingat-ingat pria yang memakai jas warna turquoise itu. Tak lama dia mengingatnya. Bukankah pria itu adalah pria yang ditabraknya waktu di bandara.
Akh, mati saja kau Livia. Kenapa kau sampai bertabrakan dengan kakak iparmu sendiri? Pertemuan pertama yang mengacaukan. Apa dia akan curiga padaku atau tidak? Yang jelas waktu di bandara kemarin aku memang sangat bodoh karena tak langsung mengenalinya. Livia menunduk sambil memejamkan matanya erat saat merutuki kebodohannya itu.
“Kamu kenapa Lissa? Apa kepalamu pusing lagi?” tanya Naresha cemas melihat Livia menunduk terus.
“Akh, tidak Mom. Aku hanya ingin pergi ke toilet sebentar,” jawab Livia mencoba menenangkan hatinya itu.
“Baiklah. Pergilah bersama pelayan.” Naresha memanggil satu pelayan untuk mengantarkan Livia ke toilet.
Livia benar-benar tak berani menatap Nader. Sepanjang berjalan ke toilet dia menunduk terus membuat Nader, Ardell dan Gerald heran melihatnya sampai hilang di balik pintu menuju ke toilet.
“Apa dia benar-benar hilang ingatan?” tanya Ardell heran dan masih tak percaya.
“Mungkin dia memang berpura-pura. Buktinya dia malu melihat kita,” jawab Gerald yakin kalau Lissa hanya berpura-pura saja.
Nader menaruh gelas di tangannya ke atas meja. “Aku akan segera kembali.”
Keduanya mengerti dan membiarkan Nader mengikuti Lissa. Mereka tahu kalau Nader akan membicarakan tentang sidang perceraiannya dengan Lissa dan dia juga akan tahu kalau Lissa sedang berpura-pura.
Nyonya Naresha tidak menyadari kalau Nader sudah pergi menyusul Lissa alias Livia ke toilet. Dia tampak asyik memperbincangkan masalah collection barunya yang akan segera dikeluarkan untuk tahun ini.
Livia masih berjalan di lorong cukup sepi bersama pelayan yang mengantarkannya.
“Kita sudah sampai Nona.” Pelayan itu berhenti tepat di depan pintu toilet wanita.
“Terima kasih,” ucap Livia tersenyum ramah kemudian masuk ke dalam toilet. Sesampainya di dalam, dia masuk ke dalam toilet yang disekat.
Terdengar beberapa wanita masuk juga ke sana. Awalnya dia cuek saja. Namun, mereka tengah memperbincangkan seorang model yang semakin naik daun bernama Vicky.
Livia benar-benar acuh karena dia tak mengenal model tersebut sehingga terdengar satu wanita masuk ke dalam dengan cekikikan sambil berkata.
“Apa kalian melihat pria yang berdiri di depan toilet ini?”
“Siapa?” tanya wanita yang tadi membicarakan Vicky.
“Pengusaha muda itu loh. Siapa lagi kalau bukan Tuan muda Nader.”
“Benarkah?”
“Ya. Sayang sekali dia menikah masih sangat muda. Tetapi dia selalu tampan dan akhir-akhir ini dia terlihat menyibukkan diri di Los Angeles dan istrinya tak pernah dibawanya.”
“Itulah pengusaha. Suamiku juga sering sekali berangkat ke Luar Negeri tanpa membawaku.”
“Risiko punya suami pengusaha.”
Deggg.
Jantung Livia kini berdetak semakin kencang. Jadi Nader ada di depan sana. Apa dia sengaja menunggunya? Atau dia menunggu wanita lain yang masuk ke dalam toilet itu juga?
Livia yang sudah selesai buang air kecil pun terpaksa mendekam dulu di dalam toilet. Sangat bingung apa yang yang harus dia lakukan?
Terdengar kalau para wanita itu keluar dari toilet dan kini hanya tinggal dia seorang.
Livia membuka pintu toilet sedikit untuk melihat kalau para wanita itu sudah tidak ada di sana, baru dia mau keluar. Ditatapnya wajahnya di cermin wastafel toilet.
“Wajah ini yang menjadi masalah kami. Karena wajah ini lah aku sekarang di sini (Australia).” Livia menepuk-nepuk pelan kedua pipinya kemudian mengembuskan napasnya perlahan. Akhirnya dia memutuskan untuk diam dulu di sana beberapa saat sampai Nader pergi.
Merasa sudah lama di sana. Livia yakin kalau Nader sudah pergi dari depan toilet karena mustahil Nader akan terus menunggu.
Livia membuka pintu toilet sedikit mengintip keluar. Dilihatnya tak ada orang. “Akh, ternyata sudah pergi.” Ia pun berani keluar dari toilet.
Namun, baru saja dia keluar. Sebuah tangan kekar menarik tangannya lalu tubuhnya di dorong disandarkan di dinding.
“Kyaaa, siapa kau?” Livia berontak ketakutan sampai memejamkan kedua matanya. Tubuhnya kini tersudut di dinding dengan kedua tangan yang dipegang dan ditempelkan di dinding oleh orang tersebut.
Tiba-tiba sesuatu yang dingin mendarat di bibirnya membuatnya langsung membuka mata sekaligus.
Karena saking terlalu dekat. Livia tak melihat dengan jelas wajah siapa itu, yang dia rasakan hanyalah lumatan bibir pria tersebut begitu panas sekaligus kasar.
Keduanya sampai hampir kehabisan napas dan berulang kali Livia mencoba melepaskan diri dari pria tersebut, namun tenaganya kalah besar dengan orang itu. Setelah merasa puas melumat bibir Livia. Baru saat itu pria tersebut melepaskan bibirnya dengan napas terengah-engah begitu juga Livia menarik napas dalam-dalam memenuhi pasokan udara di organnya.
Pelecehan?
Livia merasa dilecehkan.
Tetapi saat pria itu menjauhkan bibirnya. Manik mata biru kecokelatan pria tersebut bertemu dengan netra cokelat terang Livia. Keduanya mengerjap tak percaya.
“Apa kau tak memakai lensa, Lissa?” tanya Nader aneh melihat manik mata Lissa yang berbeda tetapi tampak jelas kalau itu bukanlah lensa melainkan warna netra mata aslinya.
Livia diam terpaku menatap wajah Nader, bahasanya Inggris membuat Livia bingung untuk menjawab namun tentu saja dia mengerti. Dia adalah kakak iparnya, hatinya terus berontak jangan sampai bersentuhan dengannya. Tetapi barusan? Apa yang terjadi barusan? Ciuman pertamanya telah direnggut oleh pria itu. Kakak iparnya sendiri.
“Aku bertanya, apa kau kini tak memakai lensa?” Nader mengulangi pertanyaannya. Selama ini Lissa selalu bergonta-ganti lensa semenjak mereka bertemu kembali karena Lissa mempunyai mata minus sehingga membuatnya selalu mengenakan lensa berbeda-beda dan dilepaskan ketika Nader sudah tertidur, jadi Nader hampir melupakan warna netra asli Lissa. Tapi kali ini Nader melihat jelas warna manik mata Lissa yang aslinya.
“Ti-tidak,” cicit Livia tak berani menjawab dengan nada normal karena masih gugup.
“Kenapa manik matamu kini berbeda?”
Livia membulatkan kedua matanya. Bukankah dia sekarang adalah Lissa, jadi pasti perbedaan mereka ada di kedua mata dan juga rambutnya yang sedikit mencolok itu. Dia benar-benar lupa tidak memakai lensa dengan warna mata yang sama dengan Lissa atau yang berbeda yang sudah disiapkan oleh Ibunya. Bahkan Naresha pun melupakan hal itu saking terburu-burunya berangkat.
“Akh, i-iya. Waktu itu aku memakai lensa dan sekarang dokter telah menyatakan kedua mataku sembuh. Jadi, aku tak perlu lagi memakai lensa,” jawab Livia gelagapan dengan bahasa Inggris yang tak teratur. Apakah Nader akan percaya kepadanya? “Dan inilah warna netra mataku yang sesungguhnya.”
Nader melepaskan pegangan tangannya namun masih menatapnya aneh dan penuh keheranan. Benarkah Lissa hilang ingatan? Apa benar dia lupa warna asli manik mata Lissa? Bahkan nada bicara serta kelakuannya benar-benar sangat berbeda seolah wanita di hadapannya itu adalah wanita yang lain.
“Apa kau masih mengenaliku?” tiba-tiba Nader bertanya seperti itu sambil menempelkan kedua telapak tangannya di dinding mengunci tubuh Livia agar tak pergi ke mana-mana. Wajah mereka berdekatan hanya berjarak beberapa senti saja.
Livia diam sejenak sambil memalingkan wajahnya ke samping saat merasakan embusan napas Nader yang terasa hangat menyapa kulit wajahnya. Apa yang harus dia jawab? Apa dia harus berkata 'Ya, tentu saja aku mengenalimu. Kau adalah suamiku' atau harus menjawab 'maaf aku hilang ingatan'. Akhirnya dia teringat tentang koran yang tadi pagi dia baca. Meski di dalam koran penampilan Nader memang sangat berbeda dengan yang sekarang berada di depannya itu. “Tentu saja. Kau adalah pria yang masuk koran tadi pagi karena kesuksesan-”
“Aku adalah suamimu,” potong Nader seolah mencoba mengingatkan Lissa.
Livia mendorong tubuh Nader. “Maaf. Aku harus segera pergi.” Ia merasa sangat terpojok saat itu. Semua rangkaian kata yang sudah dihafalnya lenyap seketika di otaknya seolah disapu bersih tanpa sisa dan tanpa bisa menjawabnya. Dia khawatir kalau-kalau dia akan keceplosan mengatakan siapa dia sebenarnya.
Daya tarik Nader benar-benar tak bisa ditahan atau dilawannya.
Nader tak menghalangi atau mengejarnya sedikitpun membuat Livia mengembuskan napasnya lega.
Padahal di hati Nader sangat yakin kalau Lissa saat itu sedang berpura-pura. Tetapi kehangatan bibir Lissa berbeda dari sebelum-sebelumnya. Apakah itu karena mereka hampir satu bulan ini tak bertemu atau bersentuhan?
Livia menghampiri lagi Ibunya.
“Kenapa kau lama sekali di dalam dan kenapa wajahmu berubah pucat seperti itu?” tanya Naresha aneh.
Livia membisikkan kalau dia bertemu dengan Nader dan dia malah menjadi kelabakan karenanya. Tetapi dia tak mengatakan kalau Nader telah mencium bibirnya. “Mom, sebelum kakak ipar curiga. Sebaiknya aku pulang duluan.”
“Baiklah. Sebaiknya kita pulang saja-”
“Honey!” Datang Tuan Prans bersama dua rekan kerja barunya serta istri mereka.
“Dad.” Livia memeluk Ayahnya itu.
“Dia Lissa anakku itu dan ini istriku.” Prans memperkenalkan Livia dan Naresha.
“Oh, anak dan istrimu adalah wanita tercantik di seluruh wanita yang ada di pesta ini.” Goda salah satu rekan kerja Prans.
“Anda bisa saja,” jawab Naresha sambil tersenyum.
“Mom.” Livia menyenggol lengan Ibunya memberi isyarat bahwa Nader sudah ada di sana bersama kedua sahabatnya lagi. Dia takut kalau-kalau Nader akan membuat masalah.
Naresha juga berpikir begitu. Saat itu dia juga tak bisa berbuat apa-apa melihat Livia sangat gugup. Itu hanya akan membuat Nader semakin curiga pada mereka.
Naresha membisikkan sesuatu kepada suaminya. Tetapi Prans malah menahannya karena tak enak jika dia tidak bersama dengan istrinya itu di depan dua rekan barunya tersebut.
Karena bingung. Akhirnya Livia dibiarkan pulang duluan dengan alasan kesehatannya belum begitu stabil karena kecelakaan waktu itu.
Livia keluar dari gedung sendirian. Ia pulang sendiri diantarkan oleh sopir.
“Aku pulang duluan,” kata Nader tak mau menyapa kedua mertuanya itu.
“Hey. Pestanya baru saja dimulai. Kita bahkan belum minum sampai puas,” kata Gerald heran.
“Apa kau tidak mengerti?” Ardell memberi isyarat pada pintu keluar di mana Lissa tergesa-gesa pergi dari sana.
“Oh, pergilah. Good luck,” ucap Gerald kini mengerti.
Nader pamitan pada kedua mempelai sembari memberi selamat. Ia pun bergegas pergi dari gedung tersebut.
Livia masuk ke dalam mobil kemudian sopir pun melajukan mobil menuju arah pulang ke rumah keluarga Vincent.
Tak lama mobil Nader juga pergi dari gedung tersebut.
Livia masih mencoba menenangkan hati dan pikirannya itu. Bahkan tanpa sadar menyentuh bibirnya yang tadi dicium secara panas oleh Nader. Bibir dingin Nader terasa seperti es yang mendarat di bibir hangatnya itu.
Saat bersentuhan dengan tangan Nader. Ada getaran yang berbeda. Sangat berbeda ketika bersentuhan tangan dengan Hiro. Apa yang terjadi dengannya? Dia kan hanya menjalankan apa yang harus dia lakukan yaitu menyelamatkan perusahaan Ayah dan Ibunya. Serta mengangkat kembali nama Lissa di depan suaminya sehingga suatu saat nanti dia akan menghilang dari sana selamanya dengan memulai hidup baru bersama kedua orang tua asuhnya serta adiknya di tempat lain.
Di saat Livia sedang melamun. Hujan turun di sepanjang jalan. Tiba-tiba sebuah mobil menyusul dan mendahului mobilnya itu membuat sang sopir mengerem dadakan kala mobil tersebut berhenti menyilang menghalangi mobil yang ditumpangi Livia.
“Ada apa Pak?” tanya Livia aneh.
“Ada orang gila Non, main berhenti saja di depan.” Sang sopir geram. Namun dia tak berani keluar karena khawatir kalau mobil itu mau merampok mereka.
Tak berapa lama. Turun seorang pria memakai jaket hitam tak memakai payung menghampiri mobil.
Dugghh dughh!
Pria itu bukan Nader dan Livia tak mengenalinya. Livia hanya menatap aneh sekaligus takut pada pria yang masih menggedor-gedor kaca jendela mobilnya itu.
“Buka pintu atau aku akan memecahkan kacanya!” teriak pria itu yang tak lain adalah Vicky.
“Siapa dia Pak?” tanya Livia memang tak mengenali Vicky.
Pak sopir itu tahu siapa pemuda itu. “Bukankah itu temannya Non Lissa?” dia tahu kalau Lissa hilang ingatan dan tahu kalau Vicky teman Lissa. Tetapi tetap tak berani membuka pintu tanpa perintah.
“Benarkah?”
Sang sopir mengangguk ragu.
Karena mendengar itu adalah teman Lissa. Akhirnya Livia membuka jendela mobilnya.
“Lissa, aku ingin bicara.” Pemuda itu tampak menggigil di bawah hujan deras itu.
Livia akhirnya membuka pintu mobil dan hendak menyuruh Vicky masuk ke dalam mobil karena diluar hujan. Namun, mendadak Vicky menarik tangan Livia sampai keluar dari mobil kemudian dia memeluk tubuh Livia dengan sangat erat di bawah hujan.
Bersambung.