“Ketika kita menanam kebaikan. Ingatlah, kelak kita sendiri yang akan menuainya. Begitu juga sebaliknya. Maka jangan pernah berhenti untuk berbuat baik pada siapa pun, tanpa mengharap balasan.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
“Masuk Non,” kata Pak satpam itu ramah. Rumahnya yang kecil hanya ada satu kamar dan ruang tengah sangat sempit. Namun Livia bisa merasakan kehangatan di dalam rumah tersebut seperti berada di rumahnya.
“Jangan panggil Non Pak. Panggil Livia saja,” jawab Livia seraya tersenyum kaku ketika masuk ke dalam.
“Siapa Pak?” tanya seorang gadis seumuran dengan Livia.
“Dia yang bekerja di rumah tempat Bapak bekerja Lia. Nasib malang menimpanya, jadi Bapak bawa ke sini untuk menginap semalam karena rumahnya jauh sekali.”
“Akh, benarkah?” tanya Lia tersenyum sembari meraba-raba sesuatu di depannya.
Livia menatapnya aneh.
“Dia buta sejak kecil,” ujar Bapak satpam menunduk sedih.
“Ahh, maaf. Saya-”
“Tidak apa-apa. Istrirahatlah. Bapak mau berganti pakaian dulu,” kata Bapak satpam itu bergegas masuk ke dalam kamarnya.
“Nasib malang apa yang menimpamu Livia?” tanya Lia sambil mencoba menghadap ke arah suara Livia.
“Aku …,” Livia pun menceritakan semua kejadian tadi.
“Bapak juga sering mendapat perlakuan seperti itu,” kata seorang wanita seumuran dengan Ibunya yang baru saja masuk ke dalam. Dia masuk membawa rantang makanan. “Hanya saja mau bagaimana lagi, Bapak bertahan demi kebutuhan pokok di rumah ini, Non.”
“Ibu sudah pulang? Kenapa larut malam? Ini Livia Bu yang dibawa Bapak ke sini untuk menginap semalam ini.” Lia menjelaskan pada Ibunya.
“Hari ini di rumah majikan Ibu ada acara. Jadi banyak pekerjaan,” jawab sang Ibu ramah melihat Livia.
Livia membalas senyuman Ibu itu. “Selamat malam Bu. Maaf saya-”
“Tak apa. Anggap saja rumah sendiri,” jawab Ibu itu sangat ramah tahu apa yang ada di pikiran Livia.
Bapak satpam keluar dari kamar sudah berganti pakaian.
“Pak. Apakah suami si bawel itu berbuat ulah lagi?” tanya Ibu pada suaminya.
“Iya Bu. Sudah banyak yang keluar masuk kerja di sana jadi pembantu. Tetapi tak ada yang betah,” jawab Pak satpam duduk di dekat Lia.
“Apalagi melihat gadis cantik seperti Livia. Pasti langsung tergiur,” canda Ibu itu. “Ibu bawa banyak makanan. Livia makan bareng yuk,” ajaknya lagi menawarkan makanan yang dibawanya pada Livia.
“Tidak usah Bu. Saya tidak lapar,” jawab Livia malu sendiri sudah banyak merepotkan.
“Aku juga tidak lapar Bu. Tadi sudah makan duluan sebelum Bapak pulang,” imbuh Lia.
“Kalau begitu. Kalian tidur saja. Sudah mau setengah satu malam. Jadi, Ibu akan menyiapkan kasur kedua untuk Livia tidur.” Ibu itu bangkit menyiapkan kasur tipis untuk Livia karena kasur mereka semuanya sangat tipis.
Livia dan Lia tidur di ruang tengah. Sementara Bapak dan Ibunya tidur di kamar.
Livia menangis dalam hati merenungi apa yang terjadi padanya. Kemalangan demi kemalangan menimpanya secara bertubi-tubi seolah tak memberinya jarak untuk sekadar bernapas.
Dia kini hanya bisa berdoa dan memohon jalan keluar agar bisa segera mempunyai biaya untuk pengobatan Ayahnya.
﹏﹏☆♥☆﹏﹏
Pagi pun tiba dan sayangnya mata Livia tak terpejam sedikitpun bukan karena rumah itu kecil. Tetapi pikirannya berkecamuk bermacam-macam pertanyaan menumpuk di benaknya dan dari mana dia bisa mendapatkan uang dalam waktu dekat?
Livia bangun dari tidurannya dengan kedua mata yang agak sembap. Dia mengerjap kala cahaya matahari masuk melalui celah-celah dinding bambu itu.
“Pagi Livia,” sapa Lia tersenyum mendengar pergerakan Livia yang bangun.
“Akh, pagi juga.”
“Cuci muka sana Via. Kita sarapan bareng,” kata Ibunya Lia selalu dengan senyumannya.
“Tidak usah Bu. Saya harus segera pulang karena pasti semalaman orang tua saya menunggu di rumah dengan cemasnya,” tolak Livia halus. Dia benar-benar tidak enak hati jika harus merepotkan lebih dari itu.
“Kalau begitu. Bapak antar ya,” tawar Bapak satpam itu.
“Tidak usah Pak. Terima kasih saya harus segera pulang,” jawab Livia pamitan pada Ibu dan Ayah Lia. Sebelum pergi dia berkata. “Semoga kita bisa bertemu lagi dan saat itu saya sudah bisa membalas kebaikan kalian.”
“Tidak usah sungkan Livia. Kapan pun kamu mau main ke sini datang saja. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk siapa saja,” kata Ibunya Lia masih dengan senyuman lebarnya.
Saat memeluk Lia. “Livia, seringlah main ke sini. Aku akan sangat senang jika kau sering main ke sini.”
“Tentu saja. Nanti jika pekerjaan baru mendapat hari libur. Aku pasti akan main ke sini,” jawab Livia merasa berutang sangat banyak pada keluarga kecil itu.
Ayah dan Ibu Lia hanya tersenyum. Begitu lembut dan baik hati gadis itu. Mereka yakin jika pria yang mendapatkannya akan sangat beruntung sekali. Mereka juga memberikan sandal jepit pengganti sandal Livia yang putus dan sebuah jaket tipis untuk menutupi lengan pakaian Livia yang robek.
Livia akhirnya pulang naik ojek lalu naik angkot. Sepanjang perjalanan dia selalu teringat kejadian waktu dia hendak diperkosa semalam. Seandainya Nyonya besar tak membuka pintu. Mungkin dia …, sudahlah lupakan saja. Tetapi tetap saja tak bisa dia lupakan seumur hidupnya. Seolah menancapkan rasa trauma yang sulit untuk dilupakannya.
﹏﹏☆♥☆﹏﹏
Pagi itu.
Di Australia.
Lissa menggeliat di dalam pelukan seorang pria.
“Good morning, honey,” sapa pria itu. Siapa lagi kalau bukan Vicky sang model di perusahaan Alvaro.Entertainment.
“Good morning.” Lissa tersenyum sembari masih bergelayut manja pada Vicky.
“Akh, rasanya tak sabar ingin seperti ini setiap hari,” kata Vicky semakin memeluk Lissa dengan sangat eratnya.
“Aku bilang sabar darling. Kita akan menguasai dulu setengah kekayaan Nader Mourinho Alvaro. Setelah itu, kita akan-”
“Tapi aku sudah bersabar selama dua tahun ini. Kita sudah menjalin hubungan semenjak masuk kuliah. Dan aku masih harus mengalah padanya yang seenaknya saja menikahimu. Jadi, kalau setelah pembagian harta untukmu telah selesai. Maka kau harus segera meminta cerai padanya.” Nada Vicky hampir naik pitam saat mengutarakan rasa jengkelnya kepada Nader.
Lissa mengusap d**a Vicky yang masih telanjang. “Hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi, kita akan-”
Knockk... knockk...
Tinggg... tonkkk...
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan memencet bel kamar terdengar tak sabaran.
“s**t. Siapa yang jam segini berani mengganggu!” gerutu Vicky sambil bergegas memakai pakaiannya.
“Mungkin itu pelayan hotel yang mengantarkan sarapan,” jawab Lissa turun dari ranjangnya lalu memakai lingerie miliknya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Vicky segera mengintip keluar dari lubang kecil di pintu. Dilihatnya seorang pria pelayan hotel berdiri di luar. Dengan masih menggerutu dan hendak memarahi pelayan yang sudah berani mengganggu mereka. Dia membuka pintu.
“KAU …?!”
Belum sempat dia memarahi pelayan hotel itu. Muncul seorang pria lain yang bersembunyi di samping pintu. Kedua mata Vicky langsung membulat.
Bugghhh!
Sebuah tinjuan mendarat tepat di hidung Vicky membuatnya terjengkang ke belakang dan jatuh terduduk di atas lantai.
“Ada apa ini?” tanya Lissa keluar dari kamar mandi. Melihat seseorang yang tak asing lagi berdiri di dekat Vicky membuatnya seolah napasnya tercekat, lidahnya kelu dan kedua matanya membulat. “Na-Nader?”
Ternyata yang datang adalah suaminya, Nader. Dia tidak pergi ke Luar Negeri untuk urusan bisnis seperti biasa, tetapi mengikuti istrinya itu.
Dari kemarin dia mengintai terus Lissa. Selama hampir dua tahun ini dia tak pernah curiga pada Lissa. Tetapi seorang pegawainya pernah melihat istrinya itu bulan yang lalu pergi ke hotel di saat dia pergi ke Luar Negeri. Dari saat itu dia terus menyuruh orang untuk mengintai Lissa.
Benar saja dugaannya. Lissa memang pergi ke rumah kedua orang tuanya untuk menginap di sana, tetapi dia juga pergi ke hotel. Dengan teliti Nader menanyakan di kamar berapa Lissa menginap. Awalnya pegawai resepsionis hotel tak bisa memberikan informasi pribadi tentang pelanggan hotel.
Tetapi karena ancaman akan dilaporkan ke polisi dikarenakan tidak memberitahukan kamar berapa istrinya menginap. Akhirnya sang manager sendiri yang memberitahukan kamar Lissa.
Tepat saat Nader mengetahui kamar Lissa. Saat itu pula Vicky datang dan Nader membiarkan mereka berdua bersenang-senang dulu semalaman, dan pagi itu dia datang dengan bukti yang kuat yaitu terbongkarnya perselingkuhan istrinya itu.
Sebenarnya semenjak Lissa selalu ketahuan berbohong. Nader berulang kali ingin membongkar serta melihat dengan siapa istrinya itu berselingkuh karena setiap hari Lissa selalu sibuk bergosip ria dengan nomor yang diberi nama Naura, padahal ketika Nader menelepon dengan nomor pribadi lain miliknya. Nomor yang bernama Naura ternyata dipegang oleh seorang pria.
Kecurigaannya semakin kuat saat itu dan dia takkan membiarkan perselingkuhan mereka sampai berlarut-larut lamanya dan dia yakin kalau istri dan selingkuhannya itu mempunyai rencana lain.
Akhirnya terungkap sudah siapa kekasih gelap istrinya itu. Vicky. Hanya seorang model di salah satu cabang perusahaannya sudah berani merebut istrinya. Dia tak tahu kalau Vicky dan Lissa sudah menjalin hubungan ketika kuliah tahun pertama sampai saat ini.
Kedua tangan Nader mengepal erat dengan gigi yang gemeretak. Apalagi melihat Vicky yang bertelanjang d**a dan Lissa dengan pakaian tidur sexi-nya. “Lissa, beraninya kau …,” saking eratnya dia mengepalkan tangannya sampai kuku-kuku jarinya menjadi putih.
Dengan wajah pucat, Lissa mendekati Nader. “Honey, dengarkan dulu aku-”
“APA YANG HARUS AKU DENGAR?!” nada bicara Nader meninggi. “Apa kau mau menjelaskan kalau semua ini salah paham, begitu!” masih dengan nada tinggi dia menatap tajam Lissa.
Kedua mata Nader benar-benar merah seakan ingin sekali dia membunuh keduanya saat itu juga.
Vicky masih merintih di atas lantai. Pukulan Nader benar-benar kuat sampai hidungnya terasa remuk dengan cucuran darah yang terus mengalir.
Wajah Nader masih terlihat shock dengan kenyataan kalau istrinya telah berselingkuh dengan pria lain. Wanita yang selama belasan tahun dia dambakan, diidamkan serta diimpikan akhirnya didapatkannya. Kini telah mengkhianatinya.
Nader mengusap wajah frustrasi sampai mengacak rambutnya kasar. “Lissa, kenapa kau tak menghargai perasaanku? Selama ini kau anggap aku ini apa, hah!” lirihnya masih tak menyangka akan memergoki perselingkuhan istrinya.
Lissa mencoba menggengam tangan Nader. Namun, keburu ditepis Nader kasar.
“Jangan sentuh aku!” Nader mundur dua langkah dari Lissa.
Lissa terisak menangis. “Tapi aku mencintaimu Nader. Aku sangat-”
“Bullshit. Aku kini tahu bahwa kau tak pernah mencintaiku. Semua hanya permainan belaka dan juga aku takkan pernah memaafkanmu selamanya.” Nader meneteskan air matanya. Untuk pertama kalinya setelah kematian kedua orang tuanya, air mata yang tak pernah keluar, kini mengalir tak tertahankan.
Rasa sakit yang sangat luar biasa, berhasil merobek-robek serta mengoyak hati dan perasaan Nader.
“Aku mohon honey. Maafkan aku.” Lissa masih mencoba untuk membujuk Nader. Dia tahu kalau suaminya itu sangat mencintainya dan mustahil kalau mereka akan berpisah.
Nader masih mengepalkan tangannya. Ingin sekali dia menampar wanita pengkhianat itu. Tetapi, hati nuraninya masih mencegahnya. Namun, air matanya tak bisa membohongi kalau dia benar-benar terluka dan sangat sakit hati.
Selama ini Nader tak pernah mengeluarkan air mata selain terakhir kalinya dia menangisi kepergian kedua orang tuanya. Dari semenjak meninggal kedua orang tuanya di saat usianya baru 7 tahun. Nader sudah harus belajar tegar dan kuat serta tak mudah menangis demi satu-satunya orang yang masih hidup serta sangat menyayanginya, yaitu Neneknya.
Nader tak kuasa lagi menahan amarahnya. Jika dia tak segera pergi. Mungkin saja keduanya sudah dia habisi saat ini juga. Tetapi memikirkan neneknya. Ia pun bergegas pergi dari Neraka itu.
Sebelum sampai di ambang pintu. Nader berhenti sejenak tetapi tak menoleh ke belakang. “Kalian berdua telah menyalakan api kemarahanku. Kita lihat apa balasan yang pantas untuk kedua penghianat seperti kalian.”
“Honey. Aku mohon jangan pergi. Aku bisa jelaskan semuanya!” Lissa hendak mengejar Nader.
Tetapi Nader sudah berlari pergi dari gedung hotel itu, masuk ke dalam lift lalu turun menuju ke tempat parkiran.
Melihat kepergian Nader. Lissa ambruk begitu saja ke atas lantai dengan air mata yang mengalir juga.
Vicky mendekati Lissa lalu memeluknya. “Maafkan aku, semua adalah salahku.” Ia pura-pura merasa bersalah.
“Tidak. Semua bukan salahmu. Tetapi salah kita yang tak bisa menyembunyikan perasaan serta hubungan ini,” jawab Lissa malah membalas pelukan Vicky dengan erat membuat Vicky menyeringai jahat.
Di tempat parkir.
Nader masuk ke dalam mobil lalu memukul-mukul setir dengan geramnya. “Lissa, takkan kumaafkan kau. Jika itu maumu. Baiklah, aku akan segera menceraikanmu agar kau tahu bagaimana susahnya hidup bersama pria k*****t itu.”
Dia langsung saja menancap gas menuju ke Bandara. Di perjalanan, Nader menyuruh Ramon sekretarisnya untuk membawa tas yang ada di apartemennya dan juga paspornya. Dia akan pergi ke Los Angeles untuk menenangkan pikirannya serta menyusun rencana untuk menceraikan Lissa setelah ulang tahunnya dan juga wasiat jatuh kepada dirinya.
Masalah hal Lissa. Karena dia telah berkhianat, maka yang akan dia berikan hanyalah 15% dari sahamnya. 10% untuk tunjangan perjanjian pra nikah dan 5% untuk fasilitas yang dijanjikan padanya dulu.
Jikalau mereka bercerai bukan karena sebuah pengkhianatan. Maka yang didapatkan Lissa adalah 40%. Sayangnya luka yang diberikan Lissa sangat menganga lebar dan sulit untuk terobati.
Nader hanya menunggu setengah jam di Bandara lalu dia pun terbang memakai pesawat pribadinya menuju ke Los Angeles. Di saat itu pula kedua orang tua Lissa yaitu Nyonya Naresha dan Tuan Prans mendapat kabar kalau Nader akan menceraikan Lissa setelah pulang dari Los Angeles beberapa bulan nanti.
Keduanya sangat terkejut mendengarnya. Lalu Tuan Prans langsung saja menyuruh Lissa pulang saat itu juga.
Lissa yang kacau balau akhirnya terpaksa pulang meninggalkan Vicky yang pergi ke rumah sakit memeriksakan hidungnya yang retak akibat pukulan Nader.
Sesampainya di rumah.
Plaakkk!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Lissa dari Nyonya Naresha. “Bagaimana bisa kau tega mengkhianati suamimu yang Setia serta sangat mencintaimu itu?”
Lissa hanya diam sambil memegang pipinya yang merah akibat tamparan Ibunya barusan. Air mata terus saja mengucur membasahi kedua pipinya.
“Daddy tak habis pikir kau telah berbuat sekeji itu, Lissa.” Kata Tuan Prans tak menyangka kalau anaknya telah main serong di belakang suaminya.
“Ini semua gara-gara Mom and Daddy juga.” Tiba-tiba Lissa melawan keduanya.
“APA?! SALAH KAMI BERDUA?!” Tuan Prans naik pitam mendengar jawaban Lissa. Dia hendak melayangkan tangannya pada Lissa. Namun, keburu ditahan oleh istrinya.
“Jangan pukul dia Prans. Dia tetap anakmu,” cegah Nyonya Naresha.
Tuan Prans menepis tangan istrinya yang memegang tangannya itu. “Apa kau tidak dengar apa yang dia katakan barusan. Dia menyalahkan kita berdua!” masih dengan nada tinggi dia menatap geram pada Lissa.
“Ya. Semua salah kalian berdua. Kenapa dulu kalian menerima lamaran Nader dan memisahkanku dengan kekasihku, Vicky. Apa kalian tidak pernah memedulikan kebahagiaanku selama ini? Kenapa hanya karena tergiur dengan uang miliaran milik Nader kalian tega menjual kebahagiaanku-”
Plaakkk!
Akhirnya telapak tangan Tuan Prans mendarat juga di pipi kiri Lissa. Lalu kedua tangannya memegang kedua pinggir lengan anaknya itu sambil digoyang-goyangkan. “Apa kau tidak tahu kalau dua tahun belakangan ini kita menghadapi masa sulit, hah! Kau pikir dari mana semua kekayaan kita ini jika bukan dari suntikan dana dari suamimu itu. Jika tidak, kita sudah lama menjadi gelandangan!”
Lissa tampak terdiam tak percaya mendengarnya. Jatuh miskin? Dia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang miskin karena dari kecil dia selalu bergelimang harta dan juga tak pernah mengalami hidup susah.
“Haha,” Lissa tertawa dipaksakan disela tangisnya. “Kalian pasti berbohong, kan? Kalian hanya ingin aku terus bersama Nader agar kalian tidak kehabisan uang atau bersusah payah kerja keras-”
“Semua itu benar Lissa. Apa pun yang ada di rumah kita ini adalah milik Nader karena utang kita kepada Bank dia yang melunasi. Dan kini perusahaan Daddy-mu dan juga bisnis passion Mommy sedang dalam masa kritis serta diambang kehancuran sayang,” jelas Nyonya Naresha cemas.
Jika Nader menceraikan Lissa dan mereka tak mendapat apa-apa. Maka yang ada mereka akan ditendang ke jalanan dan mereka harus pergi ke mana lagi? Selama dua tahun terakhir ini memang suntikan dana mengalir dari Nader. Keduanya juga menantikan 200 M dari Nader untuk mengembangkan serta membangkitkan kembali usaha mereka.
Tetapi mungkin takdir menghendaki lain. Kini mereka hanya bisa pasrah dan harap-harap cemas apa yang akan Nader lakukan untuk membalas pengkhianatan Lissa. Belum lagi kalau berita perselingkuhan anaknya itu sampai bocor di muka umum.
Mau disembunyikan di mana muka mereka? Mungkin mereka memang akan mati sengsara. Uang yang diimpikan dari Nader yang 100 M perorang. Kini musnah seketika menjadi abu kertas yang terbang tertiup angin akibat kecerobohan anak kesayangan mereka.
Nyonya Naresha memeluk Lissa. “Sayang. Semua belum terlambat. Cepat minta maaflah kepada Nader suamimu. Bukankah dia sangat mencintaimu. Jadi, pergilah susul dia dan perbaiki semua urusan kalian.”
“Iya sayang. Masa depan Mom and Dad ada di tanganmu,” bujuk Tuan Prans lagi.
“Aku tak mau memohon padanya!” teriak Lissa. Dia sudah ketahuan berkhianat, tetapi harus memohon pada Nader. Itu sesuatu hal yang mustahil.
Nyonya Naresha memegang kedua lengan Lissa. “Jika tidak, kita akan menjadi gelandangan Lissa. Mommy mohon padamu. Pertahankan pernikahanmu sampai-”
“Kalian memang egois!” Kata-kata yang dilontarkan Lissa membuat keduanya menegang. “Ya. Selama ini kalian selalu mementingkan kepentingan diri sendiri. Apakah semenjak aku kecil kalian mengurus serta memperhatikanku, walau sedikit saja?”
Keduanya menatap sayu pada Lissa. “Sedari kecil aku tak pernah merasakan kehangatan kasih sayang kalian. Dan sekarang kalian ingin aku kembali pada Nader demi kepentingan kalian. Aku tidak akan pernah mau!” Dia berlari pergi dari rumahnya itu.
“LISSA! MAU KE MANA KAU?! LISSA!” panggil Nyonya Naresha khawatir melihat Lissa pergi dalam keadaan kacau balau, menangis dan juga terlihat tertekan.
Lissa tanpa mengganti pakaiannya. Naik mobil lalu menancap gas menuju ke pinggiran laut Sydney.
Kembali ke Indonesia.
Livia sampai di rumahnya. Baru saja dia masuk, Ronnie berdiri menatapnya dengan tangisan.
“Ronnie? Ada apa?” tanya Livia cemas. Apakah mereka tahu apa yang menimpanya semalam? Dia mengedarkan padangannya ke sekeliling. “Mana Ayah dan Ibu?”
“A-yah. Ayah dibawa ke rumah sakit Kak.”
“APA?! RUMAH SAKIT?!” Livia sangat terkejut mendengar kalau ternyata Ayahnya dibawa ke rumah sakit. “Kapan dan kenapa? Apakah sakit Ayah bertambah parah?”
“Nanti aku ceritakan semuanya Kak. Kita harus segera ke rumah sakit,” ajak Ronnie.
“Kakak akan berganti pakaian dulu.” Livia bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dia tak mau Ronnie menyadari keadaannya yang kacau balau dan juga memakai sandal serta jaket orang lain.
Setelah Livia berganti pakaian. Keduanya pun langsung pergi ke rumah sakit yang berada jauh dari kampung.
Sepanjang perjalanan Livia tampak kebingungan. Sementara dia takkan menceritakan kejadian yang menimpanya. Selain tidak ingin menambah beban keluarganya. Dia juga tak ingin membuat adiknya banyak pikiran juga.
Ketika ditanya Ronnie kenapa semalam tak pulang. Livia hanya menjawab banyak pekerjaan dan keluarga majikan barunya itu akan pergi ke Luar Negeri dadakan. Jadi dia akan mencari pekerjaan baru lagi.
Sesampainya di rumah sakit. Livia dan Ronnie menghampiri Ibunya yang berada di depan ruang ICU.
“Ibu. Gimana keadaan Ayah?” tanya Livia khawatir.
Ibu Sri menunduk seolah tak bisa menjawab.
“Bu, cepat katakan kenapa dengan Ayah?” tanya Ronnie ikut ketakutan.
Bu Sri menatap Livia dan Ronnie secara bergantian. “Ayah kalian harus dioperasi hatinya. Sementara untuk mendapatkan hati tidak mudah dan juga perlu biaya yang sangat mahal.”
“Jadi, apakah Ayah akan dirawat di rumah sakit ini selama menunggu pendonor hati dan biaya untuk operasi?” tanya Livia tak menyangka kalau ternyata Ayahnya sakit separah itu.
Bu Sri hanya mengangguk. “Kalian jangan khawatir. Ibu akan menjual sapi dan kambing milik kita untuk biaya selama dirawat di sini. Ketika sudah mendapatkan pendonor. Maka Ibu akan menjual tanah semuanya.”
“Apa?! Menjual tanah?” Ronnie dan Livia tampak terkejut mendengar keputusan Ibunya itu.
Keduanya tahu kalau kebun adalah nyawa Ayahnya. Selama berkebun membuat gairah serta wajah Pak Trino berseri-seri. Jika tanah dijual, selain mereka tidak akan mendapat penghasilan lagi dari perkebunan itu. Mereka juga akan kehilangan tanah paling subur di kampung tersebut.
Tapi, nyawa Pak Trino lebih penting daripada tanah. Jadi mereka tak ada yang berani berkata lagi.
Livia berniat dalam hati akan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan baru. Dengan hanya modal ijazah SMA miliknya. Dia akan bekerja apa saja yang penting halal demi meringankan beban kedua orang tuanya. Yang pasti demi biaya kuliah Ronnie juga.
Kembali ke Australia.
Lissa berniat ke Apartemen Vicky untuk menginap di sana. Tetapi di lobby, pandangannya ke arah seorang wanita yang bergelayut manja pada Vicky. Dia juga mengikuti keduanya sampai lorong menuju ke lift.
Kedua matanya terbelalak kala melihat Vicky mencium wanita yang sama-sama model itu. Tanpa pikir panjang. Lissa mendekati keduanya lalu menarik sang wanita kemudian menamparnya keras.
Plaakkk!
“Lissa. Kenapa kau ke sini?” tanya Vicky aneh. Dia mengira kalau Lissa akan dikurung oleh kedua orang tuanya. Maka dari itu, dia membawa wanita lain ke Apartemennya.
Lissa meremas kerah kemeja Vicky. “Kau, teganya kau balik mengkhianatiku!”
“Honey. Dengarkan dulu penjelasanku!”
Lissa tak menggubris teriakan Vicky. Akhirnya dia kembali lagi ke mobil dengan tangisan yang pecah. Lalu dia melajukan kembali mobilnya. Kini, entah ke mana lagi tujuannya? Yang pasti dia saat ini benar-benar sangat bingung.
Dia masih mengemudikan mobilnya dengan laju yang sangat kencang. Membayangkan dia menjadi miskin atau diceraikan oleh Nader tanpa tunjangan apa pun. Serta akan dibuang oleh Vicky membuatnya tak konsen menyetir.
Keadaannya yang kacau serta pikirannya juga yang ikut kacau membuatnya frustrasi seketika. Air mata terus mengalir membasahi wajahnya. Bahkan berulang kali dia hampir tabrakan karena terlalu banyak pikiran.
Baru kini terasa kalau dia menyesal telah menyia-nyiakan kesetiaan dan Cinta Nader padanya. Dia akan menurunkan egonya lalu meminta maaf pada Nader. Ya, dia harus meminta maaf padanya.
Sambil menyetir. Lissa mencoba menghubungi Nader. Tetapi ponselnya tidak aktif. Dia yakin kalau Nader berada di Luar Negeri. Dia mencoba menelepon nomor Luar Negeri tetapi sama saja tak aktif.
Hal itu membuat Lissa benar-benar tertekan. Selain penyesalannya yang besar serta pikirannya yang semakin kalut.
Jauh di depan sana ada lampu merah. Dia memutuskan mengirimkan pesan suara pada Nader.
“Honey, maafkan aku. Kini aku telah menyesal. Jangan biarkan kebencianmu itu mengalahkan Cinta kita. Selama ini Cintaku tulus padamu. Maka dari itu aku menerima lamaranmu.” Satu pesan suara dikirimkan kepada Nader.
“Tolong beri aku satu kesempatan lagi. Terakhir kalinya tolonglah Honey. Aku janji akan menuruti semua perintah, serta keinginanmu. Yang pasti, Cintaku takkan berubah, masih tulus dan demi Tuhan Cintaku tak ada kepalsuan kepadamu.”
Demi Tuhan?
Karena dia berbohong. Akhirnya mobilnya melewati lampu merah dan dari arah lain sebuah mobil truk kontainer menabrak mobilnya.
Ckiitttt... brakkkk... tiiiiddddd...
Gubrakkk... brakkk... sreetttt...
Suara keras itu begitu memilukan. Mobil Lissa terseret serta terguling beberapa meter dari lampu merah. Hancur remuk tak berupa.
Darah mengucur dari dalam mobil terbalik itu.
Bersambung.