“Jika Tuhan menghilangkan apa yang kita suka, percayalah kalau Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik dan tanpa diduga-duga.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
Livia yang masih duduk di bangku rumah sakit menemani Ibunya, tiba-tiba saja merasakan dadanya menjadi sakit. Jantungnya berdetak sangat kencang, napasnya seolah tercekat sampai keringat dingin mulai membasahi seluruh pelipisnya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah dia ikut sakit? Atau karena udara dingin dari lorong rumah sakit itu? Entah kenapa dia merasakan mual yang tiada tara sampai memaksanya berlari ke arah toilet rumah sakit.
Ronnie dan Bu Sri mengerjap menatap Livia yang berlari. Apa yang terjadi kepadanya?
Ronnie pun menyusul Livia dan kini menunggu Kakaknya itu di depan toilet wanita. Ketika Livia keluar.
Ronnie langsung menanyainya. “Kak Liv. Kenapa? Apa kakak sakit?”
“Kakak tak tahu Ron. Kakak ….” Belum sempat Livia menjawab. Kepalanya mendadak pusing dan akhirnya dia jatuh pingsan.
“Kak Liv?!” Ronnie langsung saja menggendongnya ke arah ruang dokter untuk diperiksa. Setelah selesai diperiksa.
“Dok, bagaimana keadaan anak saya?” tanya Bu Sri cemas.
“Oh, keadaannya baik. Hanya saja dia masuk angin dan juga perutnya masih kosong. Badannya sedikit demam biasa. Tapi Ibu jangan khawatir setelah diberi makan dan obat dia akan segera sembuh,” jawaban dokter membuat hati Bu Sri dan Ronnie menjadi lega.
Bu Sri menyuruh Ronnie membeli bubur dan minuman di kantin rumah sakit untuk Livia agar segera meminum obatnya.
Jauh di Los Angeles.
Nader sudah sampai di Los Angeles pada malam harinya atau di sana memang masih malam. Tanpa pergi ke apartemennya. Dia dan Ramon langsung saja menemui klien tanpa kenal lelah. Dia kini duduk di meja sebuah restoran bersama dengan Ramon dan juga beberapa kliennya. Kepalanya berdenyut sakit dari tadi tetapi ditahannya. Memikirkan pengkhianatan Lissa membuatnya tak bisa berkonsentrasi dalam bekerja.
Masih belum menyangka kalau Lissa setega itu padanya. Sebenarnya apa kekurangan dia? Kenapa Lissa lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain yang dirasanya sangat jauh berbeda dari segalanya.
Dari tampang, harta dan juga kedudukan. Dia lah yang paling unggul. Tetapi kenapa Lissa lebih memilih berselingkuh dengan pria yang hanya seorang model yang bekerja di cabang perusahaannya? Belum lagi pria itu banyak sekali digosipkan dekat dengan para artis wanita atau model wanita lainnya.
Nader tak tahu tentang kejadian kecelakaan Lissa. Bahkan dia sudah tak mau tahu apa yang terjadi kepadanya.
“Mr. Alvaro? Bagaimana menurut Anda?” tanya salah satu klien.
Nader masih tampak diam termenung.
“Mr. Al.” Ramon menyenggol sedikit lengan Nader membuyarkan semua lamunannya itu.
“Akh, what?” tanya Nader benar-benar tak bisa konsentrasi.
“Mr. Alvaro. I'II looking you very sick. Are you OK?”
“Yeah. I'm fine thanks. Maybe I'II a little sick because very long in the air and maybe very busy and less sleep,” jawab Nader memijit pelipisnya sedikit kala merasakan pusing.
Ramon menjelaskan kalau mereka datang dari bandara langsung ke sana. Para kliennya tahu kalau Nader seorang CEO yang tak pernah membuang waktunya. Seluruh waktunya adalah uang. Maka dari itu mereka salut dan sangat kagum atas usaha pekerjaannya yang dalam waktu singkat bisa memajukan perusahaan mendiang kakeknya dengan sangat pesat.
Orang hanya menilai dari luarnya saja. Mereka tak tahu apa yang terjadi kepadanya serta bagaimana tertekannya Nader karena ribuan nasib pegawai ada di pundaknya saat ini dari semenjak dia kecil.
Ramon berbisik kepadanya. “Boss. Sebaiknya minum obat Anda dulu untuk meringankan pusing kepala Anda itu.”
Nader mengangguk. Dia mengeluarkan botol obat yang dia bawa dari kamarnya ketika di Australia. Obat biasanya tertinggal di kantor jadi dia membawa yang ada di nakas kamarnya sebelum mengintai Lissa. Ia pun meminum obat itu agar sedikit bisa menghilangkan pusingnya.
“Mr. Alvaro. Kami atas nama perusahaan sangat berterima kasih kepada Anda karena …,” ucapan salah satu klien terputus kala melihat Nader menguap.
Nader tanpa sadar sudah menguap beberapa kali dari tadi. Tetapi dia terlihat menahannya. Dia tak mau kalau konferensi itu gagal karena kesalahan sedikit saja.
Ramon menjadi heran kenapa dengan Boss-nya itu? Tak biasanya Nader terlihat sangat kelelahan seperti itu? Dia pun berusaha memberikan yang terbaik dengan menutupi sedikit-sedikit kesalahan Nader.
Satu jam kemudian. Akhirnya semua itu selesai dengan lancar dan semua kliennya menyalami Nader.
“Congratulations. Kami sangat senang bisa berbisnis dengan Anda, Mr. Alvaro,” jawab salah satu klien. Meski sangat terlihat kelelahan, Nader masih bisa menghendel semuanya dengan baik.
“Kami juga sangat senang atas kerja sama dan juga kepercayaan kalian kepada perusahaan kami,” jawab Nader menyalami mereka satu per satu.
Salah satu klien menyalami serta menepuk pinggir lengannya. “Pergilah istirahat Mr. Al. Anda terlihat kurang baik hari ini.”
“Ya. Terima kasih atas perhatiannya. Mr. Rodriek.” Nader tersenyum kecil sebagaimana ciri khasnya jika sedang berbisnis dengan klien dari manapun.
Setelah semua kliennya pergi. Nader ambruk ke atas kursinya. ”Rasanya ngantuk sekali.”
“Kalau begitu sebaiknya kita segera ke apartemen, boss,” kata Ramon membantu Nader bangkit dari kursinya. Bahkan dia menyuruh beberapa pelayan di sana untuk membawakan tas dan juga berkas-berkas yang lainnya ke dalam mobil.
Di dalam mobil. Nader terlihat tidur dengan tak wajarnya membuat Ramon curiga. Hanya sepuluh menit, mereka sampai di depan gedung Apartemen milik Nader.
“Boss. Kita sudah sampai,” kata Nader menggoyangkan tubuh Nader, tetapi dia tampak tertidur lelap sekali.
“Boss?” sekali lagi Ramon menggoyangkan tubuh Nader. Karena tak ada jawaban dan khawatir atas kesehatan Nader. Ramon menyuruh sopir untuk pergi ke rumah sakit. Sepertinya Nader kurang sehat.
Akhirnya Ramon membawa Nader ke rumah sakit.
﹏﹏☆♥☆﹏﹏
Kembali ke Australia.
Tiittt... titttt... tittt...
Alat pendeteksi jantung terlihat lemah. Alat bantu pernapasan pun sangat tidak teratur. Tuan Prans dan Nyonya Naresha kini berada di depan ruang ICU. Menatap Lissa yang terlihat sangat parah akibat kecelakaan tadi.
“Apa kita harus memberitahukan kejadian ini pada Nader?” tanya Tuan Prans.
“Jangan. Pikiran Nader sedang kacau dan kita tak mau kalau terjadi apa-apa padanya juga,” cegah Nyonya Naresha. Setidaknya memberi waktu kepada Nader untuk berpikir. Apalagi dokter mengatakan kalau kemungkinan besar Lissa akan mengalami koma jika masa kritisnya tidak lewat juga.
Tabrakan tadi membuat Lissa terluka parah. Lehernya patah, wajahnya rusak terkena pecahan kaca serta kepalanya juga robek. Tangan dan kakinya juga mengalami luka dan patah tulang. Kecelakaan hebat itu membuat semua tulangnya hampir remuk dan patah.
Mereka membayangkan jika Lissa mati, apakah mereka akan menjadi gelandangan? Bagaimana cara agar Nader berubah pikiran? Jika Lissa sembuh apakah Nader mau memaafkannya? Kini berbagai pertanyaan dan juga berbagai sangkaan bersarang di benak keduanya.
Satu-satunya harapan mereka adalah Nader. Jika Nader menceraikan Lissa dan anaknya itu tak mendapatkan apa-apa. Maka keduanya memang harus menerima kebangkrutan serta disitanya semua aset oleh Bank.
Jadi. Sebelum Lissa sadarkan diri, mereka akan menyembunyikan dahulu masalah keadaan Lissa yang sebenarnya dari Nader. Sebisa mungkin mereka harus menyembunyikan keadaan Lissa yang sebenarnya bahkan dari wartawan juga.
Tadi siang wartawan hanya meliput kejadian tabrakannya dan ketika Lissa dibawa ke rumah sakit. Semuanya ditahan di depan pintu demi kenyamanan para pasien. Jadi mereka tak ada yang tahu bagaimana keadaan Lissa saat ini.
﹏﹏☆♥☆﹏﹏
Malamnya Nader terbangun. Dia merasa aneh kenapa sekarang berada di rumah sakit? Tangannya bahkan di infus. Apakah dia sakit? Atau tak sadarkan diri tadi?
Ramon yang dari tadi menjaganya tersenyum senang melihat Nader sudah sadar.
“Mr. Al. Anda sudah sadar?” kata Ramon membantu Nader bangun dari baringannya.
“Ramon. Kenapa aku ada di sini?” tanya Nader aneh mengedarkan pandangannya ke sekeliling melihat dinding-dinding putih di sana.
Ramon menunduk bingung harus menjelaskan apa.
“Ramon?”
Di saat itu Dokter masuk ke sana. “Hallo, Mr. Al. How are you now?” tanya sang dokter tersenyum.
“I'm fine Doctor. But, why I'm here?” tanya Nader karena Ramon tak menjelaskan apa-apa.
“Oh. Apa Anda tak menyadari semuanya?” tanya dokter heran.
Nader malah bertambah heran, apa yang terjadi kepadanya? Apa dia hanya kelelahan saja?
“Anda hanya tertidur. Mungkin karena Anda kurang istirahat dan banyak mengkonsumsi obat tidur,” ujar sang dokter sembari memeriksa selang infusan.
Obat tidur? Nader tampak berpikir. Selama ini dia tak pernah meminum obat tidur. “Sorry dokter. Saya tidak pernah meminum obat tidur. Never.”
Dokter mengernyit heran. “Bukankah botol ini punya Anda? Saya juga heran. Kenapa Anda memasukkan obat tidur di botol obat gula darah Anda?”
Kedua mata Nader membulat. Sementara Ramon terus menunduk dari tadi.
“Bagaimana bisa? Siapa yang berani menyabotase obat saya?” Nader tampak berpikir ke masa-masa lalu.
Tak berapa lama dia mengepalkan tangannya erat. “Lissa.” Dia yakin kalau Lissa yang sengaja mengganti obatnya dengan obat tidur. Pantas saja selama hampir setahun lebih, di saat dia meminum obatnya itu terkadang rasa kantuk yang berlebihan langsung saja menyergapnya.
Memang obat yang dibawa ke kantor adalah obatnya. Tetapi dia tak tahu kalau memang Lissa yang sering menggonta-ganti botol obatnya. Jika Nader hendak ingin meminta haknya sebagai suami. Lissa baru mengganti dengan obat tidur.
Kini semua itu baru di sadarinya. Di dalam hati dia sangat geram. Lissa. Kau akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatanmu padaku selama ini.
﹏﹏☆♥☆﹏﹏
Pagi-pagi.
Livia sudah menyiapkan tasnya. Kebetulan salah satu temannya sewaktu SMA menawarkan lowongan kerja untuknya di kota Jakarta. Dia bertemu dengan temannya itu di rumah sakit lalu menceritakan semuanya terutama keadaan Ayahnya. Karena kasihan, Nissa temannya menawarkan lowongan kerja pada Livia.
Dengan izin dari Ibu Sri. Meski dengan berat hati akhirnya Livia akan pergi ke kota mengadu nasib.
Pagi itu. Livia hanya membawa tas selendang kecil berisi tiga setel pakaiannya serta keperluan sehari-harinya. Dia akan berangkat dengan Nissa yang kebetulan sedang liburan ke kampungnya itu.
Ronnie juga sangat berat melepaskan Livia seolah mereka akan sangat lama sekali bertemu lagi. Meski Nissa meyakinkan mereka kalau setiap bulan akan ada dua hari libur untuk pergi mengunjungi mereka di kampung.
Tetapi. Entah kenapa hati Ronnie dan Ibu Sri sungguh berat melepaskan Livia pergi jauh dan itu adalah pertama kalinya mereka berpisah serta berjauhan.
Livia mengecup pipi dan belakang punggung tangan Ibu Sri. “Ibu, doakan selalu Via agar sukses di sana nanti dan bisa membantu biaya operasi Ayah.”
Ibu Sri memeluknya erat. “Ibu pasti akan selalu mendokanmu nak. Ingatlah, jika tak betah pulanglah ke rumah, kami akan selalu menunggu kepulanganmu. Bawa uang atau tidak yang penting kau selamat dan sehat-sehat saja sayang.”
Livia mengangguk mengerti. Tetesan air mata tak bisa dibendungnya. Ia pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Dengan memakai sepatu bekas milik Ronnie. Akhirnya dia pergi ke jalan di mana Nissa sudah menunggunya. Mereka berdua pun langsung menuju ke terminal.
Di dalam bus. Nissa menjelaskan bagaimana kerja di perusahaan itu. Bukan sebagai pegawai kantoran melainkan lowongan kerja yang ditawarkan adalah menjadi cleaning service di sana.
Bagi Livia bekerja apa saja tak menjadi masalah asalkan gajinya lancar, lumayan dan juga bebas tak seperti di rumahan. Sepertinya kejadian kemarin masih berbekas di hatinya dan membuatnya sedikit trauma. Dia tak mau menjadi terlalu ramah kepada pria asing apalagi melihat pria yang cuek dan dingin karena dia menilai pria diam-diam seperti itu yang berbahaya.
Sepanjang perjalanan Livia melamun dan terus berdoa. Semoga dia bisa membiayai Ayahnya sampai operasi nanti.
Dari kampungnya ke Kota Jakarta memakan waktu hampir 9 jam perjalanan Bus. Belum lagi dari terminal ke kontrakan Nissa. Setengah jam perjalanan naik angkot. Akhirnya mereka sampai sore hari dan sebentar lagi akan gelap.
“Kamu menginap saja dulu di kamar kontrakanku ini. Besok pagi, kita akan sama-sama pergi ke kantor untuk menemui bossku,” kata Nissa mempersilakan Livia masuk ke kamarnya karena jika diterima, Livia akan mempunyai kamar kontrakan sendiri dari perusahaan.
Livia tersenyum dan tak lupa selalu mengucapkan terima kasih pada sahabat baiknya itu.
Nissa pergi mandi duluan. Setelah itu giliran Livia. Kontrakan Nissa adalah rumah susun. Kamarnya itu berada di lantai dua. Jadi di sana tampak ramai oleh penghuni rumah susun lainnya. Terdiri dari muda-mudi atau yang sudah berkeluarga.
Tampaknya rumah susun itu memang khusus untuk semua pegawai kantor Nissa bekerja. Buktinya di saat berpapasan dengan penghuni lainnya. Mereka menyapa Nissa dan menanyakan bagaimana keadaan kampung serta pekerjaan besok bagian malam atau pagi?
Seusai mandi. Nissa meninggalkan pesan di meja dekat kasurnya kalau dia pergi dulu membeli makanan untuk mereka. Livia merasa sungguh sudah banyak merepotkan orang akhir-akhir ini.
Livia pergi ke balkon melihat mobil lalu lalang di sekitaran bawah sana. Lampu-lampu jalanan, dan juga banyak orang yang masih keluyuran di jalanan.
Kota yang tak pernah tidur. Apakah benar? Kota Metro adalah kota yang banyak orang sibuk siang dan malam.
Nissa kembali dengan membawa makanan. Ia membuka pintu balkon. “Ayo makan Liv. Kamu pasti lelah dan lapar, kan.” Dia membawa nasi bungkus dua dengan kerupuk serta minuman.
“Maaf ya, belum apa-apa aku sudah merepotkanmu,” kata Livia masuk kembali ke kamar.
“Tak apa lah Liv. Kita kan sahabatan dari dulu. Siapa tahu nanti aku yang sedang kesulitan dan membutuhkan bantuanmu,” kata Nissa tertawa geli dan itu hanya candaannya saja seperti biasa.
Livia hanya tersenyum juga.
Di Los Angeles.
Nader tak mau dirawat di rumah sakit. Akhirnya dia pulang ke Apartemennya. Baru saja dia membuka laptopnya. Puluhan e-mail masuk, belum lagi ponsel yang terus berbunyi.
Yang pertama dilihat adalah e-mail dari perusahaannya di Australia. Lalu melirik ke ponselnya yang baru saja diaktifkannya. Terlihat beberapa pesan dan miscall dari Lissa. Belum lagi ada pesan suara darinya.
Dia mengembuskan napasnya jengah. Pasti Lissa hanya mengirim pesan yang tak berarti atau permohonan maaf saja dan dia sedang malas untuk membukanya.
Mendadak kedua matanya pada satu e-mail berbeda datang dari orang suruhannya yang mengintai Lissa. Karena penasaran, akhirnya dia membuka e-mail itu.
Ketika membaca, ternyata Lissa kemarin kecelakaan mobil dan sekarang sedang kritis di rumah sakit. Hati Nader kembali tergugah, tetapi ego-nya yang terluka mencegahnya untuk segera pulang. Mau ditaruh di mana harga dirinya jikalau dia kembali pulang dan memaafkan pengkhianatan istrinya itu.
Akhirnya dia hanya membalas e-mail itu agar memberinya kabar setiap harinya. Setelah itu meraih ponsel membuka pesan yang dikirimkan Lissa serta ada dua pesan suara.
Satu pesan suara dibukanya dan memang permohonan maaf. Dan yang kedua adalah perjanjian Lissa untuk tidak akan pernah berkhianat lagi padanya dan meminta kesempatan terakhir. Namun, kedua matanya membulat kala ada suara mobil mengerem sekaligus serta teriakan Lissa dan juga suara kaca pecah terekam serta terkirim di pesan suara itu membuat Nader mengepalkan tangannya.
Apa yang harus dia lakukan? Setelah dipikir kembali. Dia akan menunggu kabar dari orang suruhannya dan berharap kalau tabrakan itu hanya tabrakan biasa serta Lissa bisa melewati masa kritisnya. Dia pun menutup laptop serta ponselnya lalu pergi istirahat. Meski hatinya tetap tak bisa tenang.
﹏﹏☆♥☆﹏﹏
Pagi harinya.
Livia dan Nissa sudah bersiap-siap.
Nissa meminjamkan baju resminya untuk lamaran pekerjaan Livia. “Kamu sudah siap, kan?” tanya Nissa meyakinkan serta memberi semangat pada Livia. Berharap kalau Livia akan mendapatkan pekerjaan tersebut sekaligus menjadi teman satu gedungnya itu.
“Ya. Aku siap, semoga aku bisa mendapatkan pekerjaan itu,” jawab Livia berdoa dan penuh harap.
Keduanya naik mobil bus jemputan kantor khusus untuk pegawai.
Sesampainya di gedung kantor, keduanya naik ke lantai tiga. Nissa menyuruh Livia untuk duduk menunggu di sebuah bangku di lorong dekat sekretaris boss-nya.
“Tunggu di sini. Nanti kalau boss sudah datang dan memanggilmu, kau langsung masuk dan interview,” ujar Nissa tetap memberinya semangat.
Ternyata boss besar memang sudah datang ke kantornya dan sedang mengobrol di ponselnya.
“Ya paman Prans. Tenang saja aku pasti akan membantu kalian. Jika ada apa-apa segera hubungi aku atau jika kalian mempunyai masalah di perusahaan kalian. Datanglah ke perusahaanku dan semoga anakmu segera sembuh,” ucap Boss besar itu.
“Ya. Aku juga berharap kalau anakku tidak koma. Jika koma dan terjadi apa-apa pada anakku. Entah apa yang harus aku jelaskan pada menantuku? Dia mungkin akan tetap menceraikannya.”
“Baiklah. Kita sudahi dulu pembicaraan ini, aku masih banyak pekerjaan.”
Akhirnya keduanya menutup telepon masing-masing.
Knockk... knock...
“Masuk.”
Sang sekretaris wanita masuk ke dalam. “Mr. Ricko. Pelamar baru yang ingin melamar pekerjaan menjadi cleaning service sudah menunggu di luar.”
Pria berusia 37 tahun itu menatap tajam pada sekretarisnya itu. “Apakah memasukkan pegawai biasa saja harus aku yang menanganinya? Memangnya manajer ke mana?” nadanya menjadi tinggi kala mendengar pegawai rendahan saja harus dia yang menginterview.
“Maafkan saya Mr. Pak manager sedang cuti dua hari karena sakit. Jadi saya sengaja mendatangi Anda. Apakah gadis itu akan ditolak atau diterima?” jawab sekretarisnya bingung.
“Baiklah. Taruh saja berkas lamarannya di mejaku ini nanti aku lihat, sekarang kau boleh keluar.”
Setelah menaruh berkas lamaran Livia ke atas meja di depan boss-nya itu. Sang sekretaris itu bergegas keluar dari sana dan berkata kepada Livia kalau boss-nya akan melihat dulu surat lamaran kerjanya tadi.
Livia mengangguk mengerti dan dengan penuh kesabaran dia masih menunggu.
Ternyata saking sibuknya. Ricko melupakan Livia yang masih menunggu bahkan sampai jam istirahat.
Nissa menghampiri Livia. “Apa kau sudah di interview?”
Livia menggelengkan kepalanya.
Nissa menoleh menatap sekretaris boss-nya. Dan sang sekretaris hanya mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu juga. Dia sebenarnya merasa kasihan pada Livia yang menunggu dari pagi sampai siang hari. Kalau bukan demi Ayahnya, Livia tak mau menunggu selama itu.
“Kalian makan siang saja dulu. Nanti kalau boss memangil, saya beritahu lagi. Mungkin boss juga akan makan siang dulu,” kata sang sekretaris .
Nissa mengajak Livia makan siang dulu di kantin perusahaan yang terletak di lantai satu.
Ricko menggeliat sambil memijit tengkuknya. Ternyata dia baru saja menyelesaikan pekerjaan dan jalan keluar untuk Prans saudara dari Ayahnya itu atau lebih tepatnya pamannya sendiri.
Tak sengaja dia menyenggol beberapa map dan surat lamaran Livia sampai berserakan di bawah meja. Dengan enggan dia memunguti berkas-berkas itu.
Kedua matanya mengerjap melihat foto yang terpampang di surat lamaran. Dia pun langsung menyambar serta membacanya.
“Livia Sebbera Haryono?” Keningnya mengernyit mencoba mengingat nama yang tampak tak asing lagi baginya itu.
“Livia Sebbera?” kedua matanya semakin membulat mengingat nama itu. “Jangan-jangan dia …?”
Bersambung.