“Kepercayaan itu seperti kertas. Sekali kau remas, maka takkan utuh seperti semula. Begitu juga cinta, sekali kau lepas, sulit untuk kau menggapainya lagi.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
Nader melihat wanita yang baru turun dari mobil itu dengan tatapan aneh membuat kedua sahabatnya berpikiran yang tidak-tidak.
“Hey, kau sudah mempunyai istri. Kenapa menatap wanita itu dengan tatapan serigala?” tanya Gerald melihat sekilas pada Nader lalu menatap lagi wanita yang memakai gaun selutut berwarna abu-abu dengan belahan dadanya yang terekspos jelas.
Nader masih belum menggubris kedua sahabatnya itu. Dia masih ingat perkataan Lissa yang mengatakan kalau Naura yang mengiriminya pesan dan sudah menunggunya di pesta itu.
Lalu, kenapa Naura baru datang ke sana?
Nader menaruh gelas sampanye di atas meja bundar lalu bergegas masuk ke dalam gedung.
Sementara kedua sahabatnya tampak saling menatap sekilas dengan penuh pertanyaan di benak masing-masing. Lalu melihat lagi punggung Nader yang sudah hilang masuk ke dalam gedung.
Lissa masih berjalan menelusuri lorong gedung pernikahan. Tiba-tiba saja di sebuah tikungan, tangannya ada yang menarik lalu seorang pria mendorongnya sehingga membentur dinding.
“Hey, kau kasar sekali,” kata Lissa tetapi dengan senyuman sambil menghirup aroma parfum khas pria yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Tubuh Lissa bersandar di dinding sambil kedua tangannya melingkar di tengkuk pria sedikit lebih tinggi dari Nader itu.
“Honey, kenapa kau lama sekali?” tanya pria itu sembari merapatkan tubuhnya dengan tubuh Lissa.
“Kau harus bersabar. Karena aku tak sebebas dulu, darling,” jawab Lissa. Sebelah tangannya membelai rambut rapi pria itu.
“Harum tubuhmu ini yang sangat aku rindukan. Kenapa kau belum berpisah dengan suami sialanmu itu? Sampai kapan aku harus menunggu untuk memilikimu seutuhnya?” tanya pria itu lagi dengan nada kesal.
“Tunggu sebentar lagi. Setelah aku memiliki hak warisan atas pernikahanku dengannya. Aku pasti akan segera meninggalkannya,” jawab Lissa seraya mulai mencium serta melumat bibir pria tinggi tersebut yang membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Lissa.
Pria itu pun melumat rakus bibir Lissa tanpa takut ada yang melihatnya. Tangan Lissa meremas sesuatu yang keras di bawah sana milik sang pria itu sambil mendesah.
Pria itu pun meremas kedua p******a Lissa yang mulai menegang dan hendak membawa Lissa ke toilet sepi untuk pria yang ada di samping mereka.
Hampir saja mereka melakukannya di sana kalau saja tidak ada suara sepatu memenuhi lorong sepi tersebut membuat keduanya kembali ke kesadaran masing-masing.
Pria itu mengintip sedikit di balik dinding tikungan itu. Seketika membulatkan matanya melihat sosok pria yang kini berjalan mendekat ke arahnya. Dia berbisik pada Lissa lalu langsung saja berlari masuk ke dalam toilet pria.
“Beby?” Nader hendak berbelok tetapi setengah terkejut melihat Lissa bersandar di dinding sembari membungkuk membenarkan sepatu high heels-nya.
“Akh, hay honey.”
“Sedang apa kau di sini?” tanya Nader aneh. Bukankah tadi dia hendak pergi ke ruang pengantin wanita. Kenapa kini istrinya itu ada di lorong sepi tersebut?
Lissa hanya nyengir. “Sepatu baru ini terasa sakit. Jadi aku hendak pergi ke toilet dulu untuk membenarkannya. Mau ke mana kau?” tanyanya aneh padahal mengalihkan pembicaraan.
“Aku mencarimu dari tadi. Seorang penjaga ruang pengantin berkata kau belum masuk ke sana. Jadi aku mencarimu ke sini,” ujar Nader tak mengatakan kalau Naura baru saja datang.
Lissa segera menggandeng lengan Nader. “Kalau begitu kita keluar. Acaranya pasti akan segera dimulai.”
Nader masih menatap khawatir pada Lissa. “Apakah kau benar tak kenapa-napa?”
“Tidak apa. Hanya sepatunya saja yang masih baru jadi masih terasa sedikit sakit dipakainya,” jawab Lissa sambil menyandarkan kepalanya di lengan Nader yang lebih tinggi darinya.
Nader dan Lissa berjalan keluar lorong itu. Sementara seorang pria yang tadi, keluar dari toilet dan kini berdiri terpaku menatap tajam punggung Lissa sambil bergumam. “Kau terlalu menggiurkan Lissa, dan membuatku selalu menginginkanmu. I hate that man.”
Lissa dan Nader keluar dari gedung dan bergabung dengan Ardell serta Gerald.
“Hay Lissa, kau semakin cantik dan hot,” canda Ardell membuat Lissa memukul pinggir lengannya pelan.
“Kau selalu membuatku malu Mr. Ard,” jawab Lissa terkekeh kecil.
“Tapi itu kenyataannya,” imbuh Gerald membuat Lissa mendelik gemas padanya.
Nader hanya diam mendengar candaan kedua sahabatnya pada istrinya itu.
Acara pun dimulai. Kedua pengantin mengucapkan janji suci dilanjutkan dengan acara dansa dan makan-makan.
Nader, Lissa, Naura, Gerald dan Ardell berbincang sebentar lalu mereka maju ke depan mendekati kedua pengantin baru itu.
Nader dan Lissa maju ke depan duluan untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Sang pengantin pria adalah Manager di salah satu cabang perusahaan Nader. Sementara mempelai wanita adalah sahabat baik Lissa seperti Naura yang pernah satu kampus.
“Selamat menempuh hidup baru untuk kalian berdua,” kata Lissa memeluk pengantin wanita.
“Happy wedding for you two,” ucap Nader menyalami mempelai pria.
“Thanks Mr. Alvaro atas kehadiran kalian berdua. Suatu kehormatan bagi kami atas kedatangan Anda beserta istri Anda ke acara pernikahan kami ini,” ucap pengantin pria. Meski dia Manager di cabang perusahaan Nader. Tetapi dia sudah dipercaya oleh kakek Nader sejak dulu dan kini mendapatkan istri dari anak kedua salah satu Miliarder di Australia.
Nader hanya tersenyum biasa sambil menjawab. “Your Welcome.” Ia melirik ke samping pengantin pria di mana di sana berdiri seorang pria sedikit lebih tinggi darinya.
“Oh, perkenalkan. Dia adalah model utama di perusahaan sekaligus sahabat saya namanya Vicky Raonar Matius.” Pengantin pria mengenalkan pria jangkung itu pada Nader.
Vicky mengulurkan tangannya pada Nader. Sebelum Nader menyalami tangannya, ia menatap dahulu pria itu dari bawah sampai ujung rambutnya lalu dia menyalaminya sekilas.
“Senang bisa berkenalan dengan Anda, Mr. Alvaro,” ucap Vicky melirik dengan sudut matanya ke arah Lissa yang sedang berbincang dengan pengantin wanita dan Naura.
Nader hanya mengangguk kecil. Tak suka dengan tatapan pria itu pada istrinya. Ia mendekati Lissa dan langsung saja menggenggam tangan istrinya itu kemudian melangkah pergi.
“Hey, kalian mau ke mana? Acara baru saja dimulai?” tanya Naura kaget melihat Lissa dibawa pergi oleh Nader tanpa pamitan dahulu kepada mereka.
Lissa menoleh menatap Naura dan mengangkat tangannya membentuk gagang telepon di dekat telinga tanda dia akan meneleponnya nanti. Padahal isyarat itu dia tunjukkan pada pemuda jangkung bernama Vicky, dan kedua sahabat Nader mengira isyarat itu untuk Naura.
“Dasar pecemburu.” Gerald menggelengkan kepalanya geli.
“Selalu,” jawab Ardell terkekeh geli mengira jika Nader marah karena kecemburuannya yang besar dan selalu saja seperti itu. Pulang tanpa pamit jika merasa kesal dengan para pria yang menatap penuh mendamba pada Lissa.
“Honey, kau kenapa?” tanya Lissa aneh melihat kelakuan Nader yang tiba-tiba saja menariknya. Dia menoleh ke belakang melihat lagi Vicky menyeringai masih menatapnya.
Lissa mengedipkan sebelah matanya pada Vicky sambil tersenyum menggoda membuat Vicky memicingkan matanya kesal.
Ketika masuk ke dalam mobil.
Lissa menatap aneh pada Nader yang duduk di sebelahnya sambil sandaran ke kursi. “Honey?”
“Kepalaku pusing dan tubuhku lelah sekali,” jawab Nader sembari memijit pelipisnya pelan.
“Apa gula darahmu menurun?” tanya Lissa sedikit panik.
“Tidak,” jawab Nader menoleh menatap Lissa.
“Lalu kenapa?”
“Karena aku …,” Nader membisikkan sesuatu membuat Lissa melenguh kesal tapi senang.
“Kenapa kau tak mengatakannya dari tadi, honey,” kata Lissa langsung saja beranjak lalu duduk di pangkuan Nader.
Nader tersenyum dan langsung saja meremas gunung kembar Lissa membuat Lissa mendesah lalu mencium panas bibir suaminya itu.
Keduanya bergumul di dalam mobil sampai Nader siap untuk memasuki surga istrinya. Tetapi ternyata mereka sudah sampai di depan mansion.
“Kita lanjutkan di dalam saja, honey,” ucap Lissa turun dari pangkuan Nader kemudian merapikan serta menurunkan gaun yang terangkat sampai ke pinggangnya barusan.
Nader mengembuskan napasnya frustrasi sambil menutup ritsleting celananya kembali.
Lissa tersenyum nakal lalu memencet tombol untuk membuka pintu mobil.
Para penjaga menyambut kedatangan keduanya di depan mansion kemudian kepala pelayan serta para pelayan juga menyambut mereka di dalam.
Nader kembali menggenggam tangan Lissa dan tampak tergesa-gesa menarik tangan istrinya itu menaiki tangga sampai masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar. Nader langsung saja menutup pintu lalu mendorong tubuh Lissa sampai bersandar ke daun pintu. Ia mencium bibir Lissa penuh penuntutan dan juga dengan rakusnya membuat Lissa benar-benar hampir kehabisan oksigen.
Di sela Lissa dan Nader menghirup udara banyak-banyak. “Sabar sayang. Minumlah dulu obatmu, aku ingin ke kamar mandi dulu sebentar.”
Lagi-lagi Nader mendengus kesal membuat Lissa mendelik manja lalu berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Nader melepaskan semua kancing kemejanya kemudian duduk di pinggir ranjang. Mengambil botol obatnya lalu menuangkan air ke dalam gelas. Setelah itu dia langsung meminum obatnya.
Nader berniat tiduran menunggu Lissa keluar dari kamar mandi. Tetapi entah karena saking kelelahan terlalu banyak bekerja. Akhirnya kedua matanya terasa berat lalu tertidur tepat saat Lissa keluar dari kamar mandi.
Lissa hanya menyeringai kemudian keluar dari kamar menuju balkon membawa ponselnya. Dia langsung saja mendial nomor yang bernama Naura.
Deringan kedua. Ponsel pun diangkat dari seberang.
“Hallo darling. Apa kau masih di pesta?”
“……”
“Maafkan aku. Suamiku langsung mengajakku pulang. Mungkin dia cemburu saat kau terus mencuri-curi pandang padaku,”
“……”
“Haha. Aku hanya bercanda. Dia takkan tahu itu kamu. Sudahlah, besok lusa dia akan pergi ke Luar Negeri untuk urusan bisnis barunya, kau juga tahu kan. Jadi, aku akan menginap di rumah kedua orang tuaku dan kita bisa bertemu di tempat biasa,”
“……”
“Aku janji. Apakah kau sudah tak percaya pada janjiku?”
“……”
“Baiklah. Kau pulanglah dan sampai bertemu nanti. See u darling.” Lissa langsung menutup panggilannya itu kemudian masuk kembali ke kamar.
Melepas sepatu Nader, mengangkat kedua kaki suaminya itu ke atas ranjang kemudian menyelimutinya sebatas d**a, lalu ia duduk di meja rias membayangkan sentuhan pria tadi di lorong. Sentuhannya dan juga kecupannya benar-benar berbeda dari Nader, sebab Nader selalu sedikit kasar serta tak ada kelembutan sedikitpun.
Lissa menoleh menatap wajah Nader yang sudah tertidur lelap sekali. Dia merasa bosan dengan sentuhan Nader dan kekasarannya itu. Yang dia bayangkan saat ini adalah pria tinggi, gagah dan juga idamannya serta sentuhannya yang selalu memberi sejuta sensasi dan juga …?
Sudahlah lupakanlah. Dia harus bertahan beberapa saat lagi demi obsesinya dan juga kekayaan yang sebentar lagi akan jatuh ke dalam genggamannya itu.
﹏﹏☆♥☆﹏﹏
Kembali ke Indonesia.
Pagi itu hari baru saja terang. Livia sudah siap-siap pergi untuk bekerja di sebuah kompleks perumahan jauh dari kampungnya. Dia berani bekerja menjadi asisten rumah tangga hanya untuk memenuhi kebutuhan di rumahnya.
Melihat kalau Pak Trino sakit. Mustahil kalau Ayahnya itu akan bekerja di kebun dan akhirnya diputuskan kalau Livia bekerja saja.
Awalnya Ayah dan Ibunya tak mengizinkan Livia bekerja. Tetapi Livia ngotot karena tak mau merepotkan keduanya. Apalagi alasannya bekerja untuk membantu membiayai Ronnie. Akhirnya dia diizinkan juga bekerja jauh dari kampungnya.
Livia naik angkot sampai terminal, lalu dari terminal naik lagi ojek menuju ke kompleks tujuannya, karena letak kompleks sangat jauh dari perkampungan jadi dia harus pergi pagi-pagi sekali. Setelah turun dari ojek. Kini dia berdiri di depan pagar sebuah rumah yang besar dengan secarik kertas kecil berisi alamat rumah tersebut.
Satpam sang pria paruh baya penjaga di depan menghampirinya. “Maaf Non, cari siapa ya?” tanyanya ramah melihat wajah cantik sederhana Livia.
“Sa-saya-”
“Biarkan dia masuk!” seru seorang wanita dari teras rumah.
Livia mengangguk sopan pada sang satpam lalu satpam itu membuka pintu pagar.
Seorang wanita muda menatapnya dari atas sampai bawah. “Apakah kau yang mau bekerja di rumah ini menjadi pembantu?” ucapannya begitu sinis tanpa senyum sedikitpun. Semalam dia mendapat telepon dari pembantu lamanya kalau seorang gadis akan bekerja di rumah itu menggantikan dia yang cuti hamil.
Livia mengangguk sembari tersenyum.
“Kalau begitu masuk. Pekerjaan di dalam sudah menumpuk.” Tanpa basa-basi. Wanita yang lebih tua dari Livia bertaut empat tahun itu langsung menyuruh Livia masuk.
Livia mengikat rambutnya yang sepunggung ke atas. Kemudian mengikuti wanita muda itu ke dalam.
Dia disuruh menaruh tas kecilnya di kamar kecil yang ada di belakang mirip dengan gudang. Kemudian wanita muda itu mulai menyuruh Livia mengerjakan ini dan itu dengan sesekali dilihat cara kerjanya.
Berawal dari mengelap perabotan, meja dan hiasan setiap ruangan dari debu. Setelah itu menyapu dan mengepel lantai. Meski rumah itu hanya satu lantai tidak tingkat. Tetapi rumah tersebut sangat besar dengan banyaknya kamar dan ruangan-ruangan lainnya.
Setelah selesai semua. Livia disuruh membersihkan semua kamar mandi dan toilet hampir seluruh rumah.
Terkadang wanita itu marah kala Livia melakukan kesalahan yang tak disengaja saat bekerja dan sering kali Livia meminta maaf padanya. Dia bertahan demi Ayah, Ibu serta Ronnie.
Berjam-jam Livia membereskan serta membersihkan rumah. Belum cucian pakaian sangat menumpuk dan itu akan dikerjakan besok karena hari itu tak ada waktu untuk mengerjakannya.
Siangnya dia disuruh memasak makanan banyak dikarenakan kedua orang tua, kakak serta saudaranya akan pulang dari aktivitas masing-masing.
Dan Livia pun masak menurut apa yang diminta oleh wanita muda itu. Sebagaimanapun kasarnya, wanita muda itu adalah majikannya. Jadi, Livia masih menghormatinya.
Benar saja. Hari menjelang sore.
Semua penghuni rumah itu pulang dan mereka langsung menyantap makanan yang baru saja dimasak oleh Livia. Sekitar ada delapan orang kini duduk di atas meja makan panjang.
Pujian dan sanjungan datang dari Tuan dan Nyonya serta saudara wanita muda tadi pada Livia karena masakannya sangat enak. Mereka beruntung mempunyai pembantu baru yang sopan, baik dan juga pintar masak pastinya.
Ketika semua mengucapkan terima kasih. Tidak dengan suami wanita muda tadi yang diam saja dari semenjak dia datang. Tanpa ada yang menyadari kalau pria berusia 35 tahun itu memperhatikan terus Livia.
Punggung, p****t dan juga lekuk tubuh Livia terus saja ditatapnya dan itu dengan curi-curi pandang dari istrinya. Meski Livia memakai pakaian longgar dan juga rok panjang. Tetap saja pria itu tergiur dengan kecantikan serta manisnya bibir Livia ketimbang istrinya yang kurus dan juga tak menarik sama sekali.
Livia mencuci piring sampai membereskan dapur hingga malam tiba. Perjanjian kemarin dengan orang yang mencari pembantu adalah sampai jam 4 saja.
Tapi, hari itu dia bekerja sampai jam 8 malam.
Livia yang baik tak mempersalahkan masalah itu. Mungkin hari itu adalah hari pertama dia bekerja di sana. Sehingga pekerjaan banyak dan jika dikerjakan setiap hari tidak akan sebanyak itu. Pikirnya dengan sabar menekuni pekerjaannya.
Karena hari sudah malam dan jam sudah menunjukkan pukul 9 kurang. Ibu wanita muda itu menyuruh Livia menginap saja semalam ini dikarenakan pastinya takkan ada ojek atau angkot ke kampungnya.
Livia yang harusnya bekerja pulang pergi. Terpaksa menginap malam itu dikarenakan memang takkan ada angkot di jam segitu menuju ke kampungnya. Ia pun akhirnya menginap dan berharap kalau kedua orang tuanya tidak khawatir padanya.
Livia tidur di kamar sempit dengan berbagai barang bekas di sana lebih tepatnya sebuah gudang. Meski begitu, Livia mulai membiasakan dirinya tidur di tempat itu karena dia yakin kalau sewaktu-waktu pasti akan menginap jika bekerja sampai larut malam begitu.
Jam menunjukkan pukul 11 malam. Entah kenapa Livia masih saja gelisah dan merasa sesuatu yang buruk akan terjadi menimpanya. Berkali-kali dia menepis perasaan itu.
Rumah tampak sepi. Semuanya sudah tertidur jam segitu karena esok pagi mereka berangkat kepada aktivitas masing-masing sangat pagi sekali.
Tokk tokk.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu kamarnya itu. Awalnya Livia menganggap kalau itu hanya khayalan saja. Ia terus mencoba memejamkan kedua matanya.
Tokkk tokk tokk.
Ketukan kedua pun terdengar jelas.
Livia langsung bangkit dari atas ranjang mengira kalau Tuan rumah atau wanita muda tadi membutuhkan bantuannya. Tanpa rasa curiga, Livia membuka pintunya.
Baru saja kunci dibuka. Mendadak pintu didorong dari luar dengan kasar sehingga membuat Livia terjengkang dan jatuh ke atas kasur.
“Tu-tuan. Apa yang Anda lakukan di sini malam-malam begini?” tanya Livia gemetaran melihat sorot mata yang tajam itu.
Suami wanita tadi berdiri berkacak pinggang. “Kenapa kau sangat menggoda? Sayang sekali jika datang ke sini hanya untuk menjadi pembantu. Bagaimana kalau kau kujadikan istri muda simpananku dan hal itu akan dimulai malam ini juga.”
“Jangan, aku mohon Tuan.” Livia menyatukan kedua telapak tangannya di d**a masih terus memohon.
Tetapi, dengan buasnya pria itu menubruk dan menindih tubuh Livia lalu membekap mulut Livia.
Livia terus berusaha berontak sambil ingin meminta tolong. Tenaganya sebagai seorang wanita benar-benar lemah sampai pria itu berhasil merobek pakaian bagian lengannya dan juga ujung rok bawahnya.
Livia menangis dan masih terus berontak sehingga tiba-tiba saja tubuh pria itu oleng dikarekan seseorang mendorongnya dari belakang sampai kepalanya terbentur dinding.
“Nyonya, tolong saya!” Livia akhirnya bisa lolos dari cengkraman pria b******n itu. Kini dia memeluk kaki Nyonya besar.
Nyonya besar sang Ibu mertuanya menatap marah pada pria itu. “Apa yang kau lakukan di kamar ini? Apa kau mau memperkosanya hah!” bentaknya benar-benar marah besar.
Karena teriakannya itu. Semua orang terpaksa bangun untuk melihat kegaduhan apa itu sampai istri pria tersebut juga ikut bangun dan bergegas ke sana.
“Ada apa ini?”
“Ribut apaan sih?”
“Kenapa malam-malam begini ribut sekali?”
Semua pertanyaan mereka saat mendatangi kamar Livia atau lebih tepatnya gudang itu.
Ketika melihat Livia menangis di bawah sambil memeluk kaki Nyonya besar.
“Mommy. Ada apa ini?” tanya wanita istri pria itu.
“Dia-”
“Sayang, jangan dengarkan mereka. Dengarkan apa kataku saja karena aku dijebak wanita sialan itu!” pembicaraan Nyonya besar dipotong langsung oleh pria berengsek itu.
“Dijebak? Siapa yang menjebakmu, Tuan?” tanya Livia dengan cucuran air mata yang semakin deras.
Istri pria itu tampak geram. “Cepat jelaskan semuanya sebelum aku bunuh kalian berdua!”
Pria itu memegang kepalanya yang sakit akibat terbentur tadi lalu bangkit berdiri menghampiri istrinya. “Sayang, dari tadi sore. w************n itu sengaja menggodaku dengan lenggokkan tubuhnya serta senyuman m***m dan juga tatapan menggodanya. Pria mana yang tidak ketutup mata saat mendapat godaan seperti itu-”
“Itu bohong! Semua tidak benar!” teriak Livia tidak terima atas fitnahannya itu.
“Semua benar. Mami lihat sendiri kan kalau aku tidak ingin memperkosanya. Tetapi dia sendiri yang memasrahkan tubuhnya.” Sangkal pria berengsek itu pintar bersilat lidah.
“Nyonya besar. Tolong jelaskan kepada mereka semua bahwa saya tidak menggodanya. Saya- Akkhhh!” rintih Livia karena mendadak istri pria itu meremas serta menjambak rambutnya dengan kasar.
“Kau! Dasar wanita genit. Dari awal aku sudah menduga kalau kau berniat tidak baik di rumah ini. Beraninya kau menggoda suamiku hah! Dasar murahan!” bentakan dan hardikan wanita itu semakin menjadi dan kini menyeret Livia sampai ruang depan.
“Lepaskan saya Nyonya muda. Saya benar-benar tak menggoda suami Anda.” Meski dicaci, dihina dan difitnah. Livia tetap saja sopan dalam memanggil mereka.
Livia menatap Nyonya besar yang ternyata malah diam saja dari tadi karena ternyata dapat ancaman dengan isyarat dari menantunya itu. Karena di sana pria berengsek itu yang berkuasa atas uang pokok sehari-hari mereka.
“Nyo-Nyonya besar …?” Livia sungguh tak mengerti kenapa Nyonya besar yang mengetahui kejadian itu kini hanya diam saja dan menunduk. Sementara pria berengsek itu malah menyeringai dan tersenyum puas karena tak ada yang mempercayainya.
Kini kerah baju Livia yang ditarik sampai keluar dari pintu. “Mulai malam ini juga. Kau kupecat!”
“Tapi-”
“Cepat pergi dari sini. Aku tak mau melihat wajahmu lagi. Dasar w************n!” Masih dengan nada tinggi. Wanita itu memaki-maki Livia.
Sandal dan juga tas kecilnya dilemparkan sampai memukul wajah Livia membuatnya semakin sakit hati. Ia bangkit dari teras sambil memungut sandal jepit yang entah kapan talinya putus atau mungkin sengaja diputuskan oleh mereka.
Isak tangis Livia tak berhenti sampai satpam yang terkejut membukakan pintu gerbang untuknya. “Nona tak apa-apa?”
“Heh! Jangan berbaik hati pada wanita sialan itu. Cepat tutup pintu dan juga usir dia dari kompleks ini. Semoga seumur hidup aku takkan bertemu lagi denganya supaya kesialan pergi dari rumah ini!” gerutu wanita itu.
Braakkkk...!!
Wanita itu sengaja menutup pintu dengan membantingnya.
Livia berjalan tanpa alas kaki. Malam itu jam sudah menunjukkan pukul 11.45. Sebentar lagi tepat tengah malam. Dia akan pergi ke mana mencari ojek dan angkot menuju ke kampungnya? Sudah pasti tidak akan ada angkot malam-malam begitu.
Ketika dia sudah berjalan jauh keluar dari kompleks dan kakinya sudah mulai lelah.
Tiddiiiddd...!!
Livia terkejut mendengar suara klakson motor datang dari belakangnya. Saat dia membalikkan badannya, lampu depan motor sangat menyilaukan kedua matanya sampai ia menutup sedikit matanya itu.
“Nona. Pulang ke mana? Akan Bapak antar,” kata satpam penjaga rumah tadi tetap ramah.
“Ba-Bapak kan berjaga di sana? Bagaimana bisa Bapak mengantarkan saya?” tanya Livia sesegukan karena tak bisa menahan tangisnya.
“Tugas Bapak sudah selesai sampai jam dua belas dan teman ganti Bapak yang tugas malam sudah datang. Jadi Bapak sengaja nyusul Nona ke sini.”
Livia tampak ragu dan masih ketakutan.
“Non, jangan takut. Bapak sudah tahu ceritanya tadi. Jadi Bapak hanya kasihan pada Non jam segini pergi ke mana? Karena pasti takkan ada angkot atau ojek ke terminalnya,” jelas Bapak satpam itu tahu keraguan Livia.
“Percayalah. Bapak melihat Nona seperti anak Bapak sendiri karena Bapak juga punya anak gadis di rumah seumuran dengan Nona.”
Livia tampak berpikir. Jika dia pulang tengah malam begitu dalam keadaan baju, rok yang robek serta sandal yang putus. Apa nanti yang dipikirkan kedua orang tuanya dan dia tak mau menambah beban mereka. Apalagi Ronnie yang gampang marah. Dia pasti akan berbuat masalah dengan keluarga yang memfitnahnya tadi.
“Tolong Bapak antarkan saja saya ke terminal. Saya akan menunggu angkot subuh di sana karena letak kampung saya sangat jauh Pak.” Pinta Livia segera menghapus air matanya.
“Nona jangan menunggu di terminal. Di rumah Bapak saja bagaimana?”
Livia masih tetap ragu dan takut.
“Ayo naik Non. Sudah mau tengah malam nanti ada setan gentayangan lagi. Lagi pula rumah Bapak dekat dari sini. Jadi tak usah takut,” bujuk Bapak itu lagi.
Akhirnya Livia terpaksa ikut naik motor Bapak satpam itu. Meski di dalam hatinya takut kalau Bapak itu juga akan berbuat jahat padanya. Tetapi, lebih menakutkan berada di terminal sendiri tengah malam begitu.
Bapak itu tersenyum lalu melajukan kembali motornya menuju ke perkampungan yang ada di sebelah kompleks tersebut tetapi masih sedikit jauh dari jalan besar menelusuri gang kecil hanya cukup untuk motor.
Bersambung.