“Ada siang dan malam, ada putih dan hitam. Semua tercipta berbeda, begitu juga kita berdua. Kita serupa tetapi kita tak pernah sama.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
23 tahun kemudian.
Livia sudah berpacaran dengan Hiro selama hampir satu tahun. Seorang pemuda keturunan Jepang (Kakek) dan Jawa (Nenek) di kampungnya itu. Hiro awalnya berteman dengan Ronnie adik Livia. Dia tertarik dengan Livia karena kecantikannya yang sederhana dan juga kebaikan hatinya, tak kalah dengan kepintarannya.
Tetapi. Karena Livia hanya orang yang dianggap miskin di kampung itu, apa lagi rumahnya yang terpencil di pinggiran hutan membuatnya tak banyak mempunyai teman atau akrab dengan banyaknya gadis penduduk sana. Hanya beberapa gadis Desa saja yang berteman dengan Livia karena pernah satu sekolah SD dan SMP serta beberapa teman sewaktu SMA.
Maka dari itu. Kedua orang tua Hiro tak merestui hubungan keduanya.
Hiro saat ini tengah menunggu Livia di saung milik Pak Trino. Mereka sering bertemu di sana karena selain ada Ronnie yang membantu Ayahnya bekerja di kebun. Keduanya juga sering mancing di sungai dengan adiknya itu.
Hubungan yang baru saja beranjak satu tahun itu mulai berkembang dan berencana akan ke jenjang yang lebih serius. Pacaran mereka hanya sekadar pegangan tangan atau pacaran sewajarnya karena entah kenapa Hiro tak pernah berani untuk mencium bibir Livia. Hanya keningnya saja dan itu pun, jika mengantarkannya pulang ke rumah dari jalan-jalan ke pasar malam di Balai Desa atau kegiatan karang taruna lainnya.
Siang itu Hiro tak tenang duduk di saung bambu menunggu kedatangan Livia. Dia duduk dengan gelisah tampak ada sesuatu yang ingin sekali dia katakan pada Livia.
Tak berapa lama. Livia datang dari belakang langsung menutup kedua mata Hiro.
“Livia. Aku tahu itu kamu,” kata Hiro dengan senyuman terpaksa.
“Sungguh tak adil. Kenapa kau selalu tahu kalau ini adalah aku?” protes Livia duduk di sampingnya dengan kesal.
Hiro menjadi gemas melihat mimik muka Livia yang seperti itu. Dia menarik kedua pipi Livia sambil tertawa.
“Aawwhh, sakit tahu,” rintih Livia pelan sembari melepaskan kedua tangan Hiro kemudian memukul pelan d**a pemuda itu dengan kedua tangannya.
Hiro memegang kedua tangan Livia. “Ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu.” Ia membelai rambut Livia yang berwarna cokelat muda itu. Livia memang berbeda dari gadis lainnya dan karena kelainannya itu. Orang-orang di sana sering memanggilnya dengan gadis bule terkadang ada juga yang memanggilnya gadis aneh sisa gerhana.
Tetapi, meskipun banyak gunjingan orang-orang kampung, satu hal yang Livia tahu. Perbedaannya itu hanya karena dia hanyalah anak adopsi. Namun, dia tak pernah mau tahu apa dia anak buangan? Atau diambil dari panti asuhan? Sungguh Livia tak pernah peduli akan dari mana dia berasal, hanya satu yang dia pedulikan. Bahwa dia adalah anak Pak Trino dan Bu Sri, serta seorang kakak perempuan dari seorang pemuda bernama Ronnie.
“Apa itu?” tanya Livia. Kedua manik mata berwarna cokelat terang itu menatap sayu membuat Hiro seolah tak tega untuk mengatakan apa yang ada di hatinya.
Hiro melepaskan kedua tangan Livia kemudian menatap nanar ke depan. “Kedua orang tuaku telah menjodohkanku dengan putri Pak Kepala Desa.”
Mendengar hal itu. Livia malah tersenyum. “Aku tahu.”
Hiro terperanjat kaget mendengar kalau Livia ternyata sudah tahu. “Ta-tahu dari ma-na kau, Via?” tanyanya dengan nada gelagapan dan dengan tatapan heran. Bagaimana bisa Livia tak marah atau memakinya saat tahu kalau dia akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya.
“Karena kedua orang tuamu telah datang tadi malam ke rumahku dan menawarkan segepok uang pada Ayah dan Ibu agar aku meninggalkanmu,” ada jeda sejenak di sana karena ego Livia saat itu benar-benar terluka dan juga penghinaan kedua orang tua Hiro semalam takkan pernah dilupakannya. “Maka dari itu. Turuti apa kehendak kedua orang tuamu. Jangan pernah menjadi anak yang durhaka-”
“Tapi aku …?” Hiro menelan salivanya berat. Dia benar-benar bingung saat ini. Di satu sisi dia benar-benar tulus mencintai Livia. Di sisi lain, restu orang tua adalah yang utama dan paling penting baginya.
Livia menggenggam tangan kiri Hiro dengan kedua tangannya. “Berjanjilah untuk bahagia. Jika kau bahagia, maka aku juga ikut bahagia.” Air mata yang dari tadi ditahan dan dibendungnya. Meluncur mulus melewati kedua pipinya. Dari pertama juga dia sudah tahu ujungnya akan seperti ini. Derajat keluarganya dan juga keluarga Hiro memang jauh berbeda dan sudah pasti akan ditentang oleh kedua orang tua Hiro.
Hiro mengusap air mata Livia. “Jadi hubungan kita berakhir sampai di sini?”
Livia menganggukinya meski dengan berat hati.
“Tapi aku akan sangat merindukanmu, aku tak-”
“Kak Livia!” panggil Ronnie bergegas menghampirinya.
Keduanya terkesiap sampai Livia langsung melepaskan genggaman tangannya.
Livia buru-buru mengusap air mata di kedua pipinya. “Ada apa Ronnie?” tanyanya seolah tak ada apa-apa.
“Cepat pulang. Ayah sakit,” kata Ronnie sedikit panik.
“Apa?! Ayah sakit?” Livia langsung saja beranjak dari duduknya dan meninggalkan Hiro yang masih terpaku di tempatnya.
Hiro bangkit hendak menyusul. Tetapi tangan Ronnie seketika menahan dadanya. “Jangan pernah menemui kakakku lagi. Dan lupakan kalau kita pernah saling mengenal.”
“Ronnie. Maafkan kedua orang tuaku. Aku sangat mencintai kakakmu-”
“Hentikan! Aku tak mau lagi mendengar bualanmu itu dan karena penghinaan kedua orang tuamu. Sekarang Ayahku sakit akibat banyak pikiran. Kami juga tidak butuh uang kalian. Sudah cukup bahagia dengan keadaan kami ini.”
“Ronnie!” panggil Livia yang menoleh lagi ke belakang.
Ronnie tanpa banyak bicara meninggalkan Hiro sendirian di sana.
Tak terasa air mata Hiro mengalir begitu saja. Kenapa hubungannya harus berakhir sampai di sini? Di kala Cintanya dan Livia mulai bersemi dan akan menuju ke jenjang yang lebih serius.
Harta, takhta, uang dan dunia? Apakah karena itu mereka tak boleh bersatu? Persetan dengan semua itu. Yang pasti, semampunya. Dia akan menentang keinginan kedua orang tuanya tetapi dengan cara yang halus. Dan suatu saat nanti, dia akan membuktikan ketulusannya pada Livia.
Livia sampai di rumah panggungnya. Melihat Ayahnya terbatuk-batuk sampai mengeluarkan darah tepat saat dia masuk ke dalam. Darahnya itu sengaja disembunyikan oleh Pak Trino agar Livia dan Ronnie tak melihatnya.
“Ayah! Ayah kenapa?” tanya Livia langsung memeluk Pak Trino yang duduk berselonjor di kasur tipis di tengah rumah.
“Ayah hanya batuk biasa, sayang,” jawab Pak Trino menenangkan Livia yang mulai terisak menangis.
“Ayahmu hanya demam dan batuk biasa. Jadi, minum obat dan banyak istirahat saja sudah cukup baginya.” Bu Sri juga membelai lembut rambut Livia mencoba menenangkannya.
“Sebaiknya kita ke rumah sakit saja?” kata Ronnie sedikit memaksa.
“Tidak apa. Ayah sudah minum obat dan Ayah ingin istirahat.” Pak Trino terlihat menghindari pertanyaan kedua anaknya itu. Dia lalu membaringkan tubuhnya kemudian pura-pura tidur. Padahal saat itu dadanya terasa sangat sesak.
Livia tahu kenapa kalau Ayahnya tak mau pergi periksa ke rumah sakit. Bulan ini pengeluaran mereka banyak dan juga baru saja membayar pajak tanah, serta membayar biaya Kuliah Ronnie.
Kedua orang tuanya harus membuat Ronnie sukses dan mendapat pekerjaan yang layak agar menjunjung keluarga. Livia juga disuruh kuliah. Tapi dia menolaknya dengan halus. Untuk apa kuliah jika malah menambah beban kedua orang tuanya itu? Jadi, Livia ingin mengurus kedua orang tuanya dan hanya menamatkan sekolah SMA-nya saja.
﹏﹏☆♥☆﹏﹏
Jauh di Negara Australia.
Lissa duduk di meja rias di kamarnya tampak sedang bersolek diri. Kedua matanya mempunyai manik mata yang berbeda dengan Livia. Hitam pekat mirip seperti Ibunya. Sementara Livia mirip dengan Ayahnya Cokelat terang kebiruan. Namun, dia sangat suka sekali memakai lensa sebab matanya itu minus dikarenakan kecelakaan sewaktu kecil dulu.
Rambut mereka juga sedikit berbeda. Livia cokelat terang sementara Lissa cokelat kemerahan. Hanya saja dia senang rambutnya diwarnai menjadi warna silver, red ombre atau pun warna gold.
Malam itu dia akan pergi ke pesta bersama dengan suaminya. Nader Mourinho Alvaro. Pemilik sekaligus ahli waris Alvaro'Crop dan juga Alvaro'Land. Pabrik dengan segala jenis barang terutama elektronik, kendaraan dan juga tanah untuk pembangunan kompleks.
Kedua orang tua Nader sudah meninggal kecelakaan mobil dan dia dibesarkan oleh sang nenek dari Ayah tercinta. Dia tak mempunyai kakek dan nenek dari Ibu, karena Ibunya dinikahi dari panti asuhan. Kakek dari Ayah pun sudah meninggal dunia.
Di surat wasiatnya, Nader akan memiliki semua warisan dan aset keluarga di usianya yang menginjak 25 tahun dan itu hanya tinggal menghitung beberapa bulan lagi.
Lissa dan Nader telah menikah hampir dua tahun. Nader menikahi Lissa karena Lissa adalah sahabat waktu di sekolah SD-nya.
Ketika masuk SMP. Nader pindah sekolah sampai kuliah di Amerika dan akhirnya dia pulang ke Australia setelah lulus kuliah.
Di usianya yang menginjak 23 tahun dan baru menyandang gelar sarjana teknik universitas Oxford. Dia menikahi Lissa yang waktu itu baru 21 tahun karena usia mereka hanya terpaut dua tahun saja. Lissa adalah Cinta pertamanya dengan alasan dia tak mau lagi berpisah dengan Lissa setelah sekian tahun tak bertemu dan hanya saling menyapa dalam jarak jauh saja.
Tak ada pilihan lain selain menikahi Lissa untuk memiliki wanita itu sepenuhnya meski Lissa saat itu masih kuliah. Itulah Nader yang jika menginginkan sesuatu, dia harus mendapatkannya dan takkan membiarkan orang lain menyentuh secuilpun semua yang telah menjadi miliknya dan selamanya harus menjadi miliknya seutuhnya.
Ketika pernikahan mereka. Tuan dan Nyonya Vincent tahun itu sedang menghadapi masa sulitnya. Perusahaan serta bisnis fashionnya benar-benar akan jatuh. Hanya saja mereka berhasil menyembunyikan keterjatuhannya itu dari semua orang dan menjadikan semuanya terlihat baik-baik saja.
Jadi begitu mudah keduanya menerima lamaran Nader. Sang Billionaire muda serta direktur utama Alvaro'crop tanpa banyak syarat atau juga apa pun darinya meski Nader dengan cuma-cuma menawarkan fasilitas serta apa yang dia punya untuk lamarannya itu.
Pernikahan mereka dua tahun yang lalu benar-benar meriah bahkan sampai Manca Negara disiarkan di televisi. Bagaimana Livia atau keluarganya bisa melihatnya sedangkan mereka tak mempunyai televisi. Bahkan listrik saja sering mati dikarenakan jarak rumah mereka sangat jauh dari perkampungan.
Meski banyak yang bicara kalau Livia mirip Lissa. Tapi mereka selalu menyangkalnya karena di dunia ini, terkadang ada yang hampir mirip dengan artis-artis atau lainnya dan itu hanya kebetulan belaka.
Tiga bulan lagi. Lissa dan Nader akan merayakan anniversary pernikahan mereka yang kedua. Tapi sampai saat ini, Lissa maupun Nader tidak pernah membicarakan tentang niat mereka mempunyai momongan.
Keduanya hanya menikmati kebersamaan pernikahan mereka yang selalu terlihat romantis serta harmonis di mata umum.
Romantis?
Sepertinya tak seperti apa yang diperkirakan oleh semua orang atau Tuan dan Nyonya Vincent lihat. Bahkan Nenek Nader saja tak tahu bagaimana sikap keduanya jika di mansion yang bersebelahan dengannya karena Lissa tak mau tinggal bersama Nenek suaminya itu yang kadang sering sakit-sakitan.
Nader baru saja pulang kerja. Dia tampak kelelahan dan kedua matanya menatap penuh Cinta melihat kecantikan istrinya. Dia melepaskan dasinya lalu dilemparkan ke sembarang. Mengecup-ngecup ceruk leher Lissa membuat Lissa bergelinjang geli.
“Lepaskan. Mandilah, sebentar lagi kita akan pergi ke pesta pernikahan sahabatku dan bukankah pengantin prianya adalah manajer cabang perusahaanmu juga,” kata Lissa sedikit menghindari kecupan Nader.
Nader mengembuskan napasnya lelah. Dia baru saja pulang bekerja dan ingin sekali mendapat pelukan hangat istrinya itu. Namun, seperti setiap harinya, tak ada kecupan atau pelukan penyambutan dari Lissa.
“I hate party,” ucap Nader sambil duduk di ujung kasur yang menghadap ke meja rias menatap punggung Lissa sambil kedua tangannya melepaskan semua kancing kemeja kerjanya.
Bekas luka di punggung Lissa ketika kecil tidak hilang. Bahkan dia mencoba untuk menghilangkannya dengan cara operasi. Tetapi karena terlalu berisiko. Akhirnya dia membiarkan bekas luka di punggungnya itu dan ketika dia memakai gaun punggung terbuka. Bekas lukanya itu dia olesi cream warna kulitnya sehingga tertutupi.
“Oh, come on honey. Jangan bikin aku kesal. Aku sudah berdandan cantik untukmu dan kau membatalkan undangan ini begitu saja?” Lissa cemberut yang dibuat-buat sambil memutar tubuhnya menghadap Nader. Dia langsung menyilangkan kedua tangannya di d**a.
Nader mengembuskan napasnya tak tega. “Oke. Ten minutes. Aku akan segera siap secepatnya,” jawabnya sembari bangkit dari duduknya lalu mengecup kening Lissa sekilas. Ia pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Lissa tersenyum lebar karena selalu berhasil mengendalikan sang Nader yang jika di kantor. Dia adalah CEO sekaligus direktur utama yang kejam, dingin dan tak berperasaan karena dia sangat benci sekali kesalahan sekecil apa pun dalam pekerjaan di kantor dan di semua cabang perusahaannya.
Apalagi jika ada kesalahan yang fatal dari pegawainya. Meski pegawai itu sudah bertahun-tahun bekerja di perusahaan kakeknya sebelum dipegang olehnya. Akan melayang pekerjaannya dalam dua kalimat darinya. “Kau dipecat!” Begitulah kata singkat tapi seperti halilintar itu.
Lissa masih bersolek di depan cermin. Rambutnya yang panjang dan di keriting gantung ujungnya membuatnya sangat terlihat cantik dan anggun. Satu set perhiasan mahal dan terkenal menghiasi tubuhnya. Serasi dengan gaun putih panjang tanpa lengan serta ada belahan di samping kaki kanannya sebatas lutut koleksi desainer terkenal yaitu Ibunya sendiri, membuatnya tambah cantik dan tak ada gaun yang menyamainya.
Tiba-tiba ponsel yang tergeletak di atas meja rias di depannya bergetar tanda ada pesan masuk.
Di pesan itu tertulis nama pengirimnya. Naura.
Naura : Kau masih di mana?
Lissa kembali tersenyum lebar sambil membalas pesan itu. 'Sebentar lagi aku berangkat' .
Naura : Baiklah. Aku akan menunggumu di pesta.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Benar saja kalau Nader mandi dengan cepat agar tak membuat istrinya semakin kesal menunggunya. Ia keluar masih berbelit handuk yang menutupi bawahnya saja. Dari pinggang sampai lutut sehingga bagian perutnya yang six pack atau kotak-kotak berotot itu terlihat jelas.
“Pesan dari siapa?” tanya Nader sambil mengeringkan rambut dengan handuk di pundaknya.
“Dari Naura. Dia berkata sudah menunggu kita di pesta.” Lissa mematikan ponsel lalu menaruhnya kembali di atas meja rias kemudian menyapu kembali kedua pipinya dengan blush on.
Nader tak banyak bertanya lagi karena tahu siapa Naura. Sahabat terbaik istrinya itu. Sebenarnya dia tak terlalu menyukai Naura yang kalau bicara asal jeplak saja. Tetapi, sekali lagi. Demi istri tercintanya ia mau berbaur dengan sahabat-sahabat Lissa. Dia akan menyukai apa yang disukai Lissa dan membenci apa yang dibencinya.
Nader masuk ke dalam ruangan pakaian untuk memilih pakaiannya sendiri.
Sepuluh menit kemudian. Keduanya sudah siap berangkat. Jas biru muda dengan kemeja putih yang sengaja dibuka dua kancing bagian atasnya membuat Nader benar-benar tampan. Apalagi memakai celana senada dengan jas serta sepatu kulit berwarna putih tulang membuat semua mata pelayan di mansion itu tak bisa berkedip menatap Tuan mereka itu saat menuruni tangga bersama dengan istrinya.
Sungguh sempurna dan beruntung sekali yang menjadi istrinya mendapatkan Nader yang mendapat julukan sang Mr.Perfect.
“Keluarkan mobil Limosin. Kami akan pergi dengan mobil itu,” kata Nader kepada kepala pelayan. Sang kepala pelayan yang selalu siap dengan headset bluetooth-nya segera menghubungi sopir di luar Mansion agar mengeluarkan mobil panjang berwarna hitam metalik.
Sebelum pelayan membuka pintu utama. Mobil yang dimaksud sudah parkir di depan halaman yang luas tersebut.
Lissa kembali tersenyum. Kemewahan suaminya itu tidak akan habis. Apalagi di saat ulang tahun Nader yang ke-25 tahun. Semua warisan itu akan jatuh ke tangan suaminya dan dia juga akan mendapatkan 30% dari seluruh aset keluarga Nader. Bahkan Nyonya dan Tuan Prans mendapat bagian juga. Perorang akan mendapatkan uang 100 M.
Hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi. Lissa akan menjadi Nyonya paling kaya dan sudah pasti bukan hanya 30% saja. Jika seandainya mereka bercerai pun. Harta itu akan tetap menjadi milik Lissa ditambah 10% tunjangan hidupnya dari perusahaan dan semuanya menjadi 40%. Benar-benar harta yang menggiurkan bukan. Maka dari itu, Lissa mau menikah dengannya.
Para penjaga sudah berjejer menyambutnya. Kemudian membukakan pintu mobil untuk mereka. Kenapa Nader suka sekali memakai mobil itu ke pesta? Sebenarnya bukan untuk pamer kekayaan, tapi dia sangat suka mobil luas dan tertutup itu agar bisa b******u dahulu dengan Lissa seperti biasanya.
Nader tak bisa menahan libidonya saat melihat tubuh sexy Lissa berbalut gaun terbuka di bagian belahan dadanya itu.
Keduanya duduk bersampingan di dalam mobil. Sang sopir mulai melajukan mobilnya.
Nader mendaratkan tangan kanannya di paha Lissa yang duduk di sampingnya lalu diremas. “Baby …,” desahnya lalu mengecup pipi turun ke ceruk leher Lissa.
“Honey. Pleasee. Nanti make-up aku berantakan,” tolak Lissa sambil perlahan mendorong tubuh Nader agar sedikit menjauh.
Nader mengembuskan napasnya kasar. Sudah hampir setahun ini, Lissa berubah tak seperti ketika pengantin baru. Dimanapun Nader mau, di sana mereka pasti akan melakukannya. Tapi, kini istrinya itu bukanlah Lissa teman sekaligus pujaan hatinya yang dulu.
Nader kembali duduk tegap dengan wajah yang terlihat menahan emosinya. Apalagi juniornya saat itu menuntut untuk pelepasan.
Menyadari kesalahannya. Lissa kembali merayu Nader. “Honey, maafkan aku. Bukan itu maksudku. Nanti saja kalau kita pulang dari pesta, hmmm. Kau boleh memintanya berapa kalipun kau mau.”
Nader tak bisa terlalu lama marah pada Lissa. Akhirnya senyumnya kembali sembari mengecup kening istrinya itu. “Kau memang selalu pandai merayuku.”
“Tentu saja. Aku kan istrimu,” jawab Lissa tersenyum manja.
Handphone Lissa yang hanya diberi getaran tanpa nada ringtone kembali bergetar. Sebenarnya ketika turun dari tangga mansion pun. Ponselnya itu tak berhenti bergetar di dalam tasnya. Tetapi, entah kenapa dia tak mau melihat siapa yang menelepon atau yang mengiriminya pesan.
Nader meraih laptop pribadi yang ada di nakas dekat penyekat antara dia dan sopir. Kedua mata serta kedua tangannya kini sibuk mengetik, mengerjakan pekerjaan di dalam laptopnya itu. Dimanapun juga, Nader selalu saja sibuk dengan pekerjaannya karena baginya waktu benar-benar adalah uang.
Mobil melaju hampir satu jam karena jarak mansion dengan gedung yang berada di dekat pantai Sidney cukup jauh. Sesekali Lissa menoleh melihat kesibukan suaminya itu dan barulah dia mengeluarkan ponselnya melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Naura : Kau di mana? Kenapa lama sekali. I Really Miss U, honey.
Senyum lolos dari bibir Lissa lalu mengetik balasan untuk nama tersebut. 'Sebentar lagi aku sampai. I Miss U Too. Darling'.
“Ehemm.” Nader berdeham sambil menggeliat meluruskan otot lehernya yang hampir satu jam ini berkutat dengan layar laptopnya.
Lissa langsung saja menghapus pesan itu lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya. “Apa sudah selesai?” tanyanya dengan senyuman semanis mungkin.
Nader menoleh kemudian membalas senyum Lissa. “Belum, nanti aku selesaikan setelah pulang dari pesta. Sebentar lagi kita sampai.” Baru saja dia menjawab seperti itu. Mobil telah terparkir di depan gerbang gedung pernikahan yang sangat besar, luas dan mewah.
“Tuan, kita sudah sampai,” kata sang sopir lewat interkom.
“Baiklah. Kita sudah sampai,” ucap Nader pada Lissa sembari memencet tombol pintu otomatis dari dalam.
Tak lama pintu mobil terbuka dan di luar sudah ada beberapa pelayan yang menyambut para tamu di depan gerbang gedung itu.
Nader dan Lissa pun turun. Pesta dirayakan di taman depan gedung itu yang sudah dihias sedemikian rupa. Yang menikah adalah anak milioner Australia. Teman sekelas Lissa waktu kuliah dulu.
Nader melingkarkan lengan kanannya di pinggang ramping Lissa. Berjalan masuk ke dalam pekarangan gedung. Keduanya disambut hangat di sana.
Para tamu undangan mulai bergosip ria memperbincangkan pasangan yang serasi itu. Tak pernah ada gosip ataupun masalah yang menerpa rumah tangga mereka selama menjalani pernikahan hampir dua tahun ini.
Masih terlihat seperti pengantin baru dan terus saja terlihat mesra serta romantis.
“Mana Naura?” tiba-tiba Nader menanyakan sahabat Lissa yang dari tadi menyibukkan istrinya itu dengan pesan-pesan darinya.
“Akh, mungkin ada di dalam gedung bersama pengantin wanita. Aku akan melihatnya sebentar,” jawab Lissa melepaskan tangan Nader di pinggangnya kemudian bergegas masuk ke dalam gedung.
Dua orang pria muda tampan serta bertubuh tegap seperti Nader mendekati Nader.
“Hay Mr.Perfect. Bagaimana keadaanmu?” tanya salah satu pria itu.
“Mr. Alvaro semakin tampan dan gagah saja. Membuatku tergiur ingin menerkammu,” goda satunya lagi.
Nader menonjok pelan perut salah satu dari keduanya membuat pria itu merintih sembari tertawa.
“Haha. Bagaimana keadaan kalian?” tanya Nader menepuk pundak Ardell.
“Yah. Kau lihat sendiri bagaimana kami. Masih senang dengan status single dan menjaga kesucian kami,” canda Ardell.
“Wow. Perkataanmu sudah layaknya orang benar saja,” jawab Gerald geli mendengar jawaban dari Ardell.
Ardell Fabriano dan Gerald Riordan adalah dua sahabat Nader sewaktu kuliah di Universitas Oxford. Mereka bertiga pulang bersama ke Australia. Namun, beberapa bulan belakangan ini mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
“Bagaimana keadaanmu serta istri Sexi-mu itu?” Ardell sangat suka mencandai Nader dengan menyebut Lissa si Sexi.
Belum sempat menjawab. Mendadak kedua mata Nader menatap tajam seorang wanita yang baru saja turun dari mobil.
Ardell yang bertanya tetapi tak digubris oleh Nader menoleh menatap ke arah Nader menatap. Begitu juga Gerald.
Naura? Batin Nader tanda tanya.
Bersambung.