“Ketika hati dan pikiran sudah tak sejalan. Maka tak ada logika yang bisa masuk diakal dan menenangkan.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
Pagi-pagi.
Livia perlahan membuka kedua matanya. Ditatapnya langit-langit kamar sambil mengembuskan napasnya pelan. Dia masih di kamar itu. Sebenarnya dia berharap kalau ketika membuka mata berada di gubuk rumah orang tuanya di Indonesia.
Tetapi kenyataan mengatakan kalau dia sekarang berada di dalam kamar yang seharusnya bukanlah kamarnya melainkan kamar kakak kembarnya.
Pergerakan kecil di sampingnya membuat Livia sontak menoleh lalu membulatkan matanya menyadari kalau tangan Nader berada di atas perutnya. Perlahan dia menyingkirkan tangan Nader lalu menaruhnya di atas tempat tidur dengan sangat pelan.
Livia turun dari tempat tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi. Hari-harinya begitu dan akan terus begitu seperti seorang tahanan tanpa bisa menawar, melawan bahkan protes. Ia merasa hidupnya tak berarti apa-apa dan sudah seperti sebuah boneka di tangan pria yang tak lain Kakak iparnya sendiri.
Dia melepaskan pakaian tidur semuanya kemudian masuk ke dalam ruang kaca shower. Livia mengucurkan air ke atas kepalanya, membasahi seluruh tubuhnya itu. Baru saja beberapa hari tinggal di sana, tetapi hatinya rasanya ingin sekali berteriak dan berlari sekencang mungkin pergi dari sana.
Ketika mandi. Pikiran Livia mengembara ke mana-mana. Terlintas lagi bayangan Hiro saat mereka berdua pulang dari acara di balai desa dan sepanjang jalan kehujanan. Hiro mengantarkannya dengan motor dan Livia memeluk Hiro dari belakang di dalam hujan. Romantis bukan untuk orang kampung seperti mereka? Meski Livia jarang membaca novel ataupun menonton film-film romantis, tetapi setahun berpacaran dengan Hiro tak bisa dia lupakan begitu saja.
Tiba-tiba bayangan Hiro mendadak berganti menjadi bayangan Nader. Pelukannya, kecupan panas bibirnya, tatapan tajam matanya, galak, kasar namun berganti menjadi baik, lembut dan juga terlihat sangat khawatir jika dia terluka. Ia pun menggelengkan kepalanya, berharap bayangan pria kejam itu segera menghilang.
Setelah memakai sabun dan shampoo lalu membersihkan seluruh tubuhnya. Livia menyudahi mandinya dan dia bergegas keluar dari kamar mandi dengan bathrobe serta seperti biasa satu handuk lain melingkar menutupi kepalanya. Dia takut kalau Nader bangun dan lama menunggu giliran ke kamar mandi itu.
Benar saja, ketika keluar dari kamar mandi. Nader sudah bangun dan kini dia duduk di sofa sibuk dengan laptopnya.
Livia mengerjap menatap Nader yang sangat fokus berkutat di depan layar laptopnya. Seorang pengusaha apakah semuanya seperti Nader? Bangun tidur kerja sampai tidur lagi, kerja dan kerja. Apa otaknya tak pecah? Batin Livia ngeri membayangkan bagaimana para pengusaha muda itu memutar otaknya.
“Cepat berpakaianlah, hari ini banyak yang harus kita lakukan,” kata Nader tanpa menoleh melihat Livia.
Livia menjadi salah tingkah. Batinnya berkata lagi. Apa dia tahu kalau aku menatapnya dari tadi? Mungkin dia memang punya mata lain di bagian kepalanya sehingga tahu aku menatapnya tanpa melihat ke arahku.
Nader baru menoleh melihat ke arah Livia membuat Livia semakin salah tingkah merasa kalau Nader bisa membaca isi pikirannya atau juga hatinya. Ia pun bergegas meraih pakaian yang tergeletak di atas ranjang dan sudah pasti pilihan Nader. Tetapi kali ini sepatu yang dipilihkan tidak terlalu tinggi dan pas untuknya.
Livia masuk ke dalam ruang pakaian dan Nader segera menutup laptop kemudian bangkit dari duduknya melangkah ke kamar mandi.
Satu jam kemudian. Keduanya sudah siap berangkat.
“Kita sarapan dahulu menemani grandma,” kata Nader seakan takut kalau mereka lupa sarapan lagi seperti waktu itu dan membuat sakit magh istrinya kambuh.
Livia hanya mengangguk sambil mengikuti Nader dari belakang menuruni tangga.
Nenek Maria tersenyum melihat keduanya sudah turun. “Good morning cucu-cucuku. Hari ini kalian terlihat berseri-seri.”
Livia membalas senyum nenek Maria sambil bertanya. “Hari ini pesta tahunan perusahaan. Apa grandma akan datang juga ke gedung perayaan?”
Nenek Maria menggelengkan kepalanya. “Grandma sudah tak kuat untuk menghadirinya. Jadi kalian saja yang bersenang-senang di sana nanti.”
Livia tersenyum canggung sambil melirik sekilas Nader yang tak berkata apa-apa dari tadi. Ia pun sarapan seperti biasanya.
Seusai sarapan.
Livia dan Nader naik mobil menuju ke suatu tempat. Livia mengira kalau mereka akan pergi ke kantor lagi. Tetapi ternyata mereka pergi ke sebuah butik dan juga salon.
Sepagi itu mereka pergi berbelanja dan juga akan pergi ke salon. Padahal acaranya berlangsung sekitar jam 7 malam sampai tengah malam.
Livia disuruh Nader mencoba beberapa gaun untuk malam ini. Dari sepatu yang nyaman dipakainya sampai dengan tas. Nader memang yang memilihkan untuk Livia tetapi kali ini dia membiarkan Livia yang menentukan gaunnya sendiri dari beberapa gaun yang dipilihkannya itu.
Livia merasa banyak pakaian dan gaun di kamarnya yang belum sempat dipakai. Kenapa repot-repot harus membeli lagi? Nader memang orang kaya aneh dan terlalu royal pastinya.
Setelah keperluan mereka beli. Siangnya mereka makan siang terdahulu di sebuah restoran mewah langganan Nader.
Livia melihat daftar menu dan yang membuatnya membelalakan matanya adalah harga yang tercantum di buku menu tersebut. Harga yang begitu tinggi hanya untuk makanan yang dilihatnya sangat sedikit sekali. Secara di daftar menu itu yang tercantum adalah dolar dan jika dijumlah dengan rupiah, mungkin saja satu makanan itu adalah uang satu bulan bekal makanan mereka jika di Indonesia.
Livia mengembuskan napasnya pelan sambil menelan salivanya berat. Dia bahkan bingung harus memesan makanan apa?
“Pesanlah makanan yang kau suka,” kata Nader menyadari kalau dari tadi Lissa hanya menatap buku menu dan tidak memesan apa-apa.
Livia tersenyum malu kala Nader berkata seperti itu. Sesungguhnya kalau dia sudah tahu apa yang akan dipesannya, sudah pasti dia akan memesannya dari tadi.
“Atau tak ada makanan yang kau suka?” Nader memicingkan matanya seolah ingin membaca isi pikiran Livia.
“Akh bukan begitu, hanya saja aku-”
“Saya pesan dua menu biasa saja,” ucap Nader pada pelayan restoran kala melihat istrinya tampak kebingungan. Apa makanan kesukaannya saja dia tak mengingatnya?
Pelayan mencatat menu biasa yang dipesan Nader jika ke restoran itu.
Lagi-lagi Livia hanya tersenyum sambil menutup buku menu lalu memberikannya pada pelayan.
Sepanjang menunggu makanan datang. Livia sesekali mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran.
“Apa kau tak nyaman di restoran ini?” tanya Nader heran melihat tingkah aneh Livia.
“Bukan begitu, hanya saja aku tak mengingat apakah kita (Kakaknya Lissa) sering datang ke sini juga?” jawab Livia mengira kalau Nader bersama kakaknya sering datang dan mengabiskan waktu di restoran itu pastinya.
“Tidak pernah,” jawab Nader dingin.
Jawaban Nader membuat Livia mengernyit heran. “Oh, aku kira kita sering ke sin-”
“Kita jarang pergi bersama seperti ini,” potong Nader cepat.
Memang selama ini Nader dan Lissa jarang sekali menghabiskan waktu bersama. Jangankan untuk berbelanja seperti itu, untuk makan siang atau makan malam saja mereka sangat jarang sekali.
Nader sibuk terus bekerja di kantornya. Makan bersama Lissa terkadang hanya sarapan saja di rumah jika sempat. Makan malam bersama jika ada undangan dari partner kerja Nader yang datang dari Luar Negeri.
Selama hampir dua tahun ini Nader saja tidak mengerti dan bahkan tidak mengingat ke mana saja dan apa saja yang mereka berdua lakukan selain layaknya suami istri jika di Mansion saja. Selanjutnya keduanya sibuk di dunia masing-masing.
Mendengar hal itu, lagi-lagi Livia mengira mungkin kakaknya kesepian karena kurang waktu kebersamaan dengan suaminya dan mungkin karena hal itu mereka akan bercerai.
“Selamat menikmati hidangan kami Nyonya, Tuan.”
Ucapan sang pelayan sontak membuyarkan lamunan Livia.
“Thank you,” kata Livia tersenyum. Dia tak menyadari kalau pelayan sudah datang dan menaruh makanan di meja mereka.
Nader menatap senyumnya. Dia merasa akhir-akhir ini Lissa banyak tersenyum bahkan hampir kepada semua orang. Tak bisa dipungkiri kalau senyumnya itu entah kenapa membuat hatinya terasa tenang dan damai. Namun, lagi-lagi hal itu ditepisnya karena dia tahu kalau senyum itu hanyalah fake yang mungkin hanya untuk memikat hatinya lagi.
“Makanlah, setelah ini masih banyak yang harus kita lakukan,” ujar Nader sembari mulai menyantap makanannya.
Livia mengangguk kemudian menirukan apa yang dilakukan oleh Nader karena menu mereka sama yaitu steak daging sapi dengan sous black pepper. Ditusuk daging itu dengan garfu kemudian diirisnya perlahan. Meski dia awalnya susah melakukannya tetapi dia tak mau membuat Nader curiga kepadanya.
Seusai makan.
Nader mengajak Livia ke salon yang lengkap dengan mandi sauna-nya sehingga mereka bisa rileks sejenak di sana agar nanti malam datang ke pesta terlihat fresh.
Livia masuk ke dalam sauna wanita sementara Nader masuk ke sauna pria dan ada beberapa pasangan yang sedang ke salon itu juga.
Dua jam mandi sauna. Setelah itu Livia langsung di dandani serta memakai gaun di sana. Nader juga sudah memakai setelan jas berwarna favoritnya yaitu biru langit.
Livia perlahan keluar dari ruang ganti. Gaun panjang berwarna senada dengan Nader kini melekat di tubuhnya. Mencetak jelas setiap lekukan tubuh Livia dan bawahnya panjang seperti ikan duyung. Livia merasa gaun itu lebih pantas untuk gaun pengantin ketimbang gaun pesta.
Pernak-pernik gaunnya itu berkilauan tersorot lampu ruangan salon. Rambut yang sepunggung dikeriting gantung dan bagian atasnya diikat serta dibentuk seperti bunga Mawar dengan jepitan kupu-kupu diamond di pinggir kepala tepat di atas telinganya.
Wajah Livia dipoles make-up minimalis tetapi mewah terlihat karena dia tak mau memakai make-up terlalu tebal atau terlalu over.
Semua orang yang melihat Livia terpaku memandang betapa elok dan sempurnanya Tuhan menciptakan makhluk yang satu itu. Apalagi di saat dia tersenyum malu membuat para pria yang ada di sana langsung mendambanya dan para wanita iri melihat kecantikannya.
Nader pun tak sadar menatap tanpa bisa berkedip. Apa selama ini dia baru menyadari kecantikan Lissa yang bisa seelok itu?
“Ehemm, kapan kita berangkat?” Bisikan Livia menyadarkan Nader.
Nader melirik jam tangannya. Sudah jam 6 dan satu jam lagi acara akan dimulai. “Kita berangkat sekarang sebelum para tamu yang lain datang.”
Livia mengangguk mengerti.
Nader menyodorkan siku lengannya agar digandeng oleh Livia tetapi Livia malah memegang sedikit baju lengannya dengan jari tengah dan ibu jarinya. Nader mengembuskan napasnya sambil menarik telapak tangan Livia lalu dilingkarkan di lengannya agar bergandengan.
Keduanya berjalan menuju ke mobil limosin yang sudah parkir di depan salon tersebut.
“Apa kau nyaman dengan sepatumu itu? Jika sakit kita bisa menggantinya dengan yang lain?” tanya Nader tak mau jika istrinya itu lecet-lecet lagi seperti waktu itu.
“Dari semua sepatu yang aku coba tadi. Hanya sepatu ini yang serasi dan nyaman dipakainya. Jadi kau tak usah khawatir, aku takkan mempermalukanmu lagi,” jawab Livia sembari menundukkan kepalanya malu mengingat bagaimana dia jatuh di depan kedua sekretaris Nader.
Nader tak banyak bicara lagi. Dari langkah Lissa dia juga sudah bisa tahu kalau sepatu itu nyaman di kakinya.
Livia terkagum-kagum melihat bagaimana isi mobil panjang itu. Sudah seperti kereta api pendek saja menurutnya. Di dalamnya juga sudah seperti sebuah ruangan tamu. Kursi yang terbuat dari beludru lembut dan empuk dengan bantalan yang empuk juga memanjakan pantatnya. Ada meja dan lemari kecil berisi minuman di dekat penyekat belakang kursi sopir. Ada empat speaker kecil di setiap sudut mobil mungkin untuk memainkan musik jika berpesta di dalamnya.
Livia hanya menunduk melihat Nader duduk berhadapan dengannya. Tatapan Nader memang sulit untuk diartikan dan penuh misteri di dalamnya.
Keduanya diam seribu bahasa di dalam mobil sampai tiba di depan gedung perayaan perusahaan Nader.
Keduanya turun disambut oleh para penjaga dan juga pegawai yang baru sampai di sana juga.
Livia berdiri di belakang Nader. Namun Nader menarik tangannya agar menggandeng lagi lengannya dan berjalan beriringan masuk ke dalam.
Semua yang sudah hadir di sana menyambut kedatangan boss besar mereka beserta istrinya yang menjadi paling cantik dan anggun di pesta itu.
Semua mata menatap dan mengagumi serta memuja kecantikan Livia dan bagi mereka memang tak aneh jika istri sang boss mereka selalu saja paling cantik dan terlihat istimewa.
Hiro juga pastinya datang ke sana dan dia kini sedang membantu Ramon membereskan hadiah pesta tahunan untuk dibagikan kepada para pegawai teladan dan juga semua pegawai yang hadir dan bagi yang tak hadir akan diberikan besok di kantor. Keduanya berada di belakang panggung yang ditutupi gorden besar.
Hiro menumpuk kado-kado hadiah itu. “Apa setiap tahun perusahaan membagikan hadiah kepada seluruh pegawai Alvaro.Crop?” tanyanya pada Ramon yang sibuk mengecek satu persatu nama yang tertera di seluruh kado.
“Ya. Pasti semua pegawai mendapatkan hadiah dari boss tanpa terkecuali,” jawab Ramon tanpa menoleh kepada Hiro.
“Lalu, mobil dan motor yang diberi pita itu termasuk hadiah juga?” tanya Hiro lagi penasaran.
“Benar. Itu juga hadiah dari boss untuk pegawai rajin, teladan tahun ini. Dan jika ada beberapa yang pantas memenangkannya, maka boss besar akan mengundi lalu diberikan pada yang menang. Selain itu yang kalah tetapi masih teladan juga mendapatkan uang yang lumayan.”
Hiro semakin kagum pada perusahaan Nader. Selain setiap tahun dapat bonus akhir tahun, pesta tahunan perusahaan pun membagikan hadiah. Maka dari itu semua pegawai sangat rajin dan juga kompak.
Seandainya dia sudah lama bekerja di sana. Pasti akan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan mobil atau paling tidak motor dari perusahaan itu.
Suara tepuk tangan riuh membuat Hiro heran. Mereka bertepuk tangan untuk apa? Mungkin boss besar datang bersama keluarganya.
“Kita sudah selesai, sebaiknya kita kembali ke depan berkumpul dengan yang lainnya,” ajak Ramon berjalan duluan memutari panggung.
Hiro pun mengikutinya dari belakang.
Nader dan Livia mendekati meja bundar di mana di sana sudah ada kedua sahabatnya Ardell dan Gerald dan beberapa tamu undangan lainnya.
“Woww, coba lihat siapa yang datang?” Seperti biasa Ardell menggoda Nader.
“Pengantin baru pastinya,” timpal Gerald mengangkat gelas wine-nya sambil tersenyum.
Keduanya sudah tahu semua cerita dari Nader dan mereka selama ini memang tak pernah menyimpan rahasia satu sama lainnya. Kini keduanya bahkan bersikap biasa agar Lissa tak curiga apa yang sedang Nader rencanakan di balik rujuknya itu.
Livia mengerjap sambil tersenyum canggung. Kedua pria itu adalah sahabat Nader yang pernah bertemu di pesta pernikahan waktu itu. Tapi, kenapa keduanya mengatakan kalau mereka pengantin baru? Apa karena Nader rujuk kembali dengan dia yang dianggap Lissa.
Ardell menyodorkan tangannya untuk menyalami Livia. “Lama tak bertemu sexi.”
Livia dengan ragu berjabat tangan dengan Ardell. Giliran Gerald yang menyodorkan tangannya. Ia juga menyalaminya tetapi tanpa di duga Gerald hendak mengecup punggung tangan Livia membuat Livia sontak menarik kembali tangannya.
Nader yang melihat tersenyum sinis. Apa Lissa benci atau malu bersentuhan dengan kedua sahabatnya yang sudah tahu betapa buruknya dia.
Gerald juga tersenyum tak menyangka kalau perlakuannya itu bisa membuat Lissa tak nyaman. Sementara dahulu Lissa adalah sang penggila pujian dan juga sering sengaja agar punggung tangannya dikecup setiap pria layaknya seorang Ratu paling cantik.
“Bagaimana kabarmu Lissa?” tanya Ardell basa-basi kepada Livia.
“Ba-baik, maaf aku-”
“Hilang ingatan,” potong Gerald. “Kami sudah tahu hal itu, jadi maaf jika sikap kami membuatmu tak nyaman.”
“Tidak apa.” Hanya jawaban singkat itu yang bisa diucapkan Livia. Dia mengingat pesan Ibunya. Jika ada yang bertanya, jawab atau diam. Karena mereka pasti mengerti kalau dia mengalami amnesia.
Nader mengambil dua minuman yang diedarkan pelayan di sana lalu diberikannya pada Livia. “Minum dan tunggulah di sini. Aku akan memulai acaranya.”
Livia mengangguk canggung. Dia harus berdiri bersama dengan Gerald dan Ardell. Apa dia nanti takkan salah berkata atau keceplosan? Dilihat dari sikap kedua pria di dekatnya itu tampaknya sangat lihai dari menggali informasi atau sebuah rahasia.
Benar saja dugaan Livia. Ketika Nader berjalan menuju ke panggung, Gerald mulai mendekatinya lalu berdiri di sampingnya.
“Sangat disayangkan kecelakaan itu menghilangkan semua ingatan dan kenangan kita semua,” kata Gerald mencoba mengajak bicara Livia tapi tidak menatapnya.
“Akh ya. Aku juga sangat ingin mengingat semua kenangan yang hilang di benakku ini. Namun, Tuhan belum menghendakinya,” jawab Livia terlihat tenang. Padahal seluruh tubuhnya gemetaran, mati-matian dia berusaha untuk menyembunyikannya dan merangkai bahasa Inggrisnya dengan benar.
Ardell kini juga berdiri di sisi satunya. “Kenapa kedua orang tuamu membawamu ke Indonesia untuk terapi? Padahal banyak rumah sakit besar yang terkenal di sini dan juga di Luar Negeri?”
Livia menelan salivanya susah payah. Apa yang harus dia jawab atas pertanyaan itu? Sementara mereka sengaja ke Indonesia untuk menggantikan posisi Lissa dengannya. Mustahil dia harus menjawab kalau Lissa sudah meninggal dan digantikan olehnya.
Livia menatap Nader di depan sana, lalu sebuah jawaban pun dia dapatkan. “Karena kedua orang tuaku tak mempunyai uang banyak, maka dari itu mereka membawaku ke Indonesia untuk terapi di sana. Selain itu Mommy asli Indonesia sekalian berkunjung ke tanah air kelahirannya.”
Gerald dan Ardell saling menatap. Mereka juga tahu kalau perusahaan Tuan Prans akan bangkrut dan kemarin mereka juga mendengar cerita Nader yang sengaja memberi mereka suntikan dana untuk membangkitkannya kembali.
Jawaban Livia memang masuk diakal dan dia memang berharap mereka tak semakin curiga padanya. Dia tak tahu kalau Ardell dan Gerald ternyata memang curiga padanya. Kecurigaan mereka dari penampilan baru dan juga sikapnya itu.
Keduanya tahu jika penampilan berubah karena kemauan dari Nader. Tetapi apakah Nader juga yang merubah sikapnya?
Ketika Ardell hendak bertanya lagi. Nader sudah berdiri di atas panggung di depan mic untuk pengumuman dan pidato singkat.
Hiro berdiri tak jauh di belakang Livia terhalang beberapa orang. Dia penasaran ingin melihat istri boss besarnya yang dari tadi terdengar bisik-bisik atau perbincangan rekan-rekan kerjanya tentang kecantikannya itu. Dia memang tak kepo orangnya, namun mendengar cerita bagaimana para pria mengagumi istri boss mereka membuatnya ingin sekali melihat kecantikannya itu.
Acara dimulai dengan pidato Nader terdahulu di atas panggung. Dia bahkan berterima kasih kepada istrinya yang berdiri di bawah sana sambil menunjuk Livia dengan telapak tangannya yang mengarah padanya.
Livia tersenyum malu.
“Lissa, majulah ke depan,” kata Ardell menyuruh Livia naik ke atas panggung juga.
Livia tampak ragu dan pastinya malu. “Tapi-”
“Ayolah, bukankah setiap tahun kau selalu berfoto dengan suamimu di atas sana,” kata Gerald juga.
Livia menatap Nader yang tampak menunggu dirinya naik ke panggung untuk berdiri bersamanya. Pada akhirnya dengan ragu ia melangkah mendekati panggung.
Hiro diajak maju oleh salah seorang rekan satu mejanya ke depan, tetapi dia menolak karena belum mengenal semua pegawai di sana. Dia hanya melihat Livia dari belakang saja.
Livia akhirnya sampai di depan panggung. Nader menyodorkan tangannya membantu Livia menaiki tiga tangga sampai berdiri di sampingnya.
Ketika Livia menghadap ke depan. Hiro membulatkan kedua mata kemudian menatap tajam padanya. Meski Livia berubah dan wajahnya bermake-up. Namun dia mustahil melupakannya.
Livia? Batin Hiro. Entah kenapa hatinya sontak berdenyut nyeri. Ia pun bertanya kepada temannya yang masih berdiri di sampingnya. “A-apa itu adalah istri boss besar?”
“Tentunya, sudah kukatakan kalau kecantikannya memang pantas dipuja, bukan,” jawab temannya tak menyadari bagaimana ekspresi wajah Hiro yang mulai berubah pucat.
“Maaf, karena aku baru dua hari di sini. Jadi aku tak tahu nama istri boss, siapa namanya?” tanya Hiro lagi semakin penasaran. Pandangannya masih mengarah pada Livia tanpa bisa berkedip sedikitpun.
“Nyonya muda Lissa, nama istri boss Nader adalah Lissa Kiara Vincent,” ujar temannya lagi.
“Oh, nama yang bagus.” Hiro menunduk menyembunyikan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca. Sungguh bodohnya dia menganggap kalau itu adalah Livia. Tetapi tak bisa dipungkiri betapa sangat mirip sekali istri boss-nya dengan Livia.
Hiro takkan bisa melupakan Livia. Kini dia semakin tak bisa melupakannya jika istri sang boss-nya sangat mirip dengan gadis yang sangat dia cintai.
Nader memeluk pinggang Livia dengan sangat erat. Keduanya difoto bersama dengan para partner kerja Nader dan para tamu lainnya.
Hiro mengembuskan napasnya lirih. Seandainya dia tak meninggalkan Livia dikala Ayahnya sedang sakit. Mungkin Livia takkan meninggal dalam kecelakaan itu.
Acara pun dimulai dengan makan-makan lalu berdansa.
Nader mengajak Livia berdansa tetapi Livia menolaknya karena dia tak bisa berdansa.
“Aku tak bisa,” ujar Livia dengan nada pelan.
Nader pun berbicara dengan nada pelan. “Tak apa jika kau lupa caranya berdansa. Ikuti saja langkahku.”
Karena tak enak jika menolak lagi. Livia akhirnya mau berdansa dengan Nader di tengah ruangan di mana di sana ada beberapa pegawai dan tamu yang berdansa juga.
Nader perlahan bergerak diikuti oleh Livia. Meski beberapa kali kaki Livia hampir menginjak kaki Nader. Dengan sabar Nader mengajarinya.
Ketika Livia sudah mulai bisa berdansa meski terlihat kaku saat berputar. Tiba-tiba kedua matanya menangkap seseorang yang berdiri di dekat meja diantara para pegawai lainnya. Seseorang yang dikenalnya.
Awalnya Livia mencoba menyangkalnya. Tapi saat beberapa kali pandangannya tertuju pada pria itu. Dia yakin kalau itu memang pemuda yang dikenalnya.
Hiro?? Jantung Livia berdetak tak keruan. Apa dia mengenalnya? Apa dia akan percaya kalau dirinya adalah Lissa, bukan Livia. Sebisa mungkin dia harus bersandiwara juga di depan Hiro seolah mereka tak pernah saling mengenal.
“A-aku ingin pergi ke toilet sebentar,” kata Livia menghentikan dansanya.
Nader mengangguk. Livia tidak melihat tatapan aneh atau curiga dari Nader semenjak dia menangkap sosok yang tak asing baginya itu. Hiro, mantan pacarnya.
Bersambung.