Sebelumnya cuma mau berkata. Bijaklah dalam membaca jhehe. Tapi tenang saja, di setiap ceritaku tak ada adegan yg terlalu hot-hot. Sllu di skip, maafkeun jheee. N enjoy
*****
“Setiap orang hanya akan percaya dengan apa yang dilihat dan dirasakannya. Bukan yang hanya didengarnya. Karena pendengaran bisa membohongi penglihatan, tetapi penglihatan tidak akan pernah membohongi pendengaran. Namun, terkadang apa yang kita lihat, bukan berarti itulah kenyataannya.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
Livia berjalan menuju ke toilet bertepatan dengan Naura yang datang ke sana tampak mencari-carinya. Semenjak kecelakaan itu, Naura belum sempat menjenguk atau bertemu lagi dengan sahabat baiknya itu.
Naura hanya melihat Nader yang berdiri bersama dengan Gerald dan Ardell. Dengan ragu dia mendekatinya untuk bertanya ke mana Lissa.
Seperti biasa Livia bersembunyi sejenak di dalam toilet. Otaknya benar-benar buntu saat ini. Selain dari tadi merangkai kata jika bertemu dengan Naura. Kini dia di hadapkan dengan Hiro yang tak habis pikir bagaimana Hiro bisa ada di sana? Dia yakin itu adalah Hiro. Lalu, ada urusan apa Hiro ada di pesta perayaan tahunan perusahaan Nader? Bagaimana nasibnya nanti jika dihadapkan dengan kedua orang tersebut? Naura dan Hiro.
Livia berjalan bolak-balik di depan kaca wastafel toilet. Dia bingung, gugup dan takut. Bagaimana jika Hiro mengenalinya? Tapi dia kini sudah berubah dan mungkin saja Hiro tak mengenalnya atau menyangkal kalau dia adalah Livia. Secara di mata orang-orang sekampungnya dia sudah meninggal.
Lalu Naura? Bagaimana jika dia bertanya sesuatu yang tidak bisa dia jawab? Apakah dia harus mengatakan kalau dirinya benar-benar hilang ingatan? Atau …
“Nyonya, Anda di sini? Boss dari tadi menunggu Anda untuk pembagian hadiah.” Merri masuk ke dalam toilet dan melihat Livia bolak-balik gugup di sana.
“Akh ya. Maaf, aku sangat gugup hari ini Merri,” jawab Livia tersenyum menyembunyikan kegelisahannya.
“Apa Anda sakit? Apa perlu saya bilang ke boss kalau Anda tak enak badan?” kata Merri khawatir melihat wajah Livia sedikit pucat.
“Tidak ... tidak. Aku tidak apa-apa. Sekarang kita ke sana.” Livia segera keluar dari toilet. Dia tak mau membuat Nader kesal lagi padanya.
Di lorong Livia berpapasan dengan Hiro yang ingin pergi ke toilet pria yang bersebelahan dengan toilet wanita. Bahkan keduanya hampir bertabrakan.
Kini keduanya saling menatap ke dalam manik mata masing-masing seolah mencari jawaban di sana.
“So-sorry,” ucap Livia langsung menunduk tak berani terlalu lama menatap kedua mata Hiro.
“No problem, Miss ...?” Hiro sengaja menggantung ucapannya dan tak menyebutkan nama Lissa. Entah kenapa hatinya mengatakan kalau itu adalah Livia. Bukan Lissa istri boss besarnya saat ini.
“Lissa?” Tiba-tiba datang Nader dari belakang Hiro. “Dia istriku.”
Hiro sontak menoleh ke belakang. “Akh, Sir. Maaf, saya belum mengenal istri Anda.”
“Tak apa, kau baru saja dua hari bekerja di perusahaanku. Jadi sudah pasti takkan mengenali istriku ini.” Nader mendekati Livia kemudian menggenggam tangannya.
Jadi Hiro bekerja di perusahaan Nader. Bagaimana ini? Apa dia benar-benar tak mengenaliku? Apa dia percaya kalau aku adalah Lissa. Dalam hati Livia, dia berharap kalau Hiro sungguh mengganggapnya Lissa. Istri dari Nader.
“Ayo sayang. Aku akan memperkenalkan salah satu tamu kehormatan yang baru saja datang,” ajak Nader menarik tangan Livia. Sebenarnya hatinya merasa sedikit kesal kala ada pria lain yang mendekati istrinya itu. Terkecuali Ardell dan Gerald yang sudah biasa dekat-dekat dengannya.
Nader takkan membiarkan Lissa dekat lagi dengan pria lain dan mungkin perselingkuhannya akan terulang lagi. Masalah dengan Vicky saja belum selesai, bagaimana bisa dia membiarkannya menggoda pria lain lagi.
Livia menoleh sekilas melihat Hiro yang terpaku menatapnya. Ia tahu ada kerinduan serta ketidak percayaan terpancar di kedua matanya itu. Sebenarnya dia juga ingin sekali memeluk Hiro dan lari bersamanya kembali ke kehidupannya yang dulu. Dia sudah tak tahan atas perlakuan Nader serta orang-orang di sekitarnya itu.
Hiro mengembuskan napasnya. Dia harus menerima kenyataan bahwa itu adalah Lissa bukan Livia. Meski wajah mereka sangat mirip, tetapi keduanya dari dunia yang berbeda. Ia pun berjalan masuk ke toilet pria.
“Kenapa kau lama sekali di toilet?” tanya Nader masih menarik tangan Livia menuju ke tengah-tengah para tamu.
“A-aku ….” Belum sempat Livia menjawab. Seseorang memanggilnya.
“Lissa!” Naura memanggil Livia kemudian menghampirinya.
Nader baru melepaskan tangannya. “Aku akan menunggumu di sana,” tunjuknya ke meja Ardell dan Gerald tadi.
Livia hanya mengangguk.
Naura memeluk erat Livia. “Lissa, lama tak berjumpa. Aku sangat khawatir dan mencemaskan keadaanmu. Apalagi semenjak aku mendengar kabar kau tabrakan dan kritis. Waktu itu aku sedang di Luar Negeri. Tapi, syukurlah jika kau sekarang terlihat baik-baik saja.”
Livia hanya menepuk-nepuk punggung Naura pelan. “Maaf Naura, aku-”
“Aku tahu kau hilang ingatan. Tak usah khawatir. Kita akan membuat banyak kenangan baru dan lupakan saja masa lalu. Ok.” Naura tahu kabar itu. Jadi dia memaklumi sikap dingin Lissa saat ini. Sebenarnya dia juga tahu tentang perselingkuhan Lissa dengan Vicky, hanya saja dia bersyukur jika Lissa dan Nader masih baik-baik saja dan perselingkuhan itu tak terungkap.
Livia tersenyum sembari melepaskan pelukan Naura. “Bagaimana kabarmu dan juga suamimu?”
“Suami?” Naura menatap sambil tersenyum geli mendengar kata suami dari mulut Lissa. Sementara dia belum menikah.
Livia menggigit lidahnya sendiri pasti dia salah bicara. Dia benar-benar lupa apakah Naura sudah menikah atau belum?
“Hahaha. Aku belum menikah honey,” ujar Naura tak tahan menahan tawanya.
Livia tampak bingung, tetapi berusaha mencari pembicaraan lain. “Bukankah waktu itu …?”
Naura mengingat sesuatu dan seketika wajahnya menjadi murung. “Ya. Kau benar, seharusnya aku sudah menikah dari dua minggu yang lalu. Tetapi tunanganku lari bersama wanita lain bersama uangku.”
“Apa?! Jadi dia kabur membawa uangmu.” Livia kaget mendengarnya. Meski dia tak mengenal Naura, namun dia kasihan mendengar kalau Naura tertipu oleh seorang pria juga dan dia sebenarnya tidak tahu menahu tentang masalah itu. Kebetulan Naura memang hendak menikah namun malah ditipu tunangannya sendiri. “Berengsek,” ucap Livia kesal bukan main-main atau pura-pura.
Naura tersenyum mendengar Lissa berkata berengsek dengan ekspresi wajah kesalnya dan dia merasa Lissa tak berubah semuanya karena itulah ekspresi jika dia sedang kesal. Ia pun lalu berbisik di dekat telinga sahabatnya itu. “Tapi kau jangan khawatir, meskipun aku terlihat santai. Namun, aku takkan melepaskan pria b******n itu walau bersembunyi di lapisan bumi ke tujuh pun.”
“Maksudmu?” Livia tidak mengerti apa yang dimaksud Naura.
“Dia akan aku jebloskan ke penjara bersama dengan wanitanya itu, hahaha!” Naura tertawa lepas ketika mengatakan hal itu.
Livia hanya tersenyum kaku. Ternyata Naura tak sebaik yang dia kira dan wanita pendendam.
Naura menggandeng tangan Livia. “Sebaiknya kita duduk di sana karena banyak yang ingin aku ceritakan dan aku juga ingin mendengar bagaimana kau melewati masa terapimu di Indonesia?”
Livia mengembuskan napasnya berat. Mau tak mau dia harus berbincang dengan sahabat kakak kembarnya itu.
Keduanya duduk di kursi meja kosong. Nader juga melihatnya sambil berbincang dengan kedua sahabatnya serta tamu yang datang ke sana.
Ketika berbincang dan bercanda dengan Naura. Tak sengaja Livia melirik Hiro yang ternyata menatapnya dari tadi membuatnya menjadi salah tingkah. Tatapannya itu membuat Livia seakan ditusuk-tusuk pisau seolah hendak memaksanya untuk mengatakan siapa dirinya sebenarnya.
Salah seorang pegawai wanita mendekati Hiro. “Hay, kita satu departemen tetapi kita belum saling mengenal satu sama lainnya. Bolehkan kita berbincang sebentar?”
“Oh, tentu saja. Kita memang sering berpapasan tetapi kita belum saling mengenal,” jawab Hiro tak keberatan karena semakin banyak teman satu departemen dengannya, maka pekerjaannya akan semakin mudah dan tak canggung.
“Pelayan, bawakan sampanye ke meja ini,” kata Naura kepada pelayan yang lewat.
“Tolong bawakan juga aku air putih,” imbuh Livia merasa haus.
“Apa kau tak mau minum?” Naura heran dari tadi Lissa tak menyentuh minuman lain selain air putih atau jus buah-buahan.
“Aku …,” Livia kini melihat sekilas Hiro tengah berbincang sangat akrab dengan seorang wanita cantik. Melihat betapa akrabnya membuat hatinya mendadak panas.
Apa aku cemburu? Mustahil! Di dalam hatiku sudah tak ada perasaan itu lagi. Batin Livia merasa jantungnya berdebar kencang bercampur perasaan kesal.
Pelayan datang membawa beberapa gelas minuman dan juga air putih pesanan Livia.
Wanita yang berbincang dengan Hiro menepuk pundaknya, kemudian mengusap atau bahkan terkadang terlihat intim dengan Hiro membuat hati Livia seakan terbakar. Ia mengambil secepat kilat segelas minuman sampanye yang dikiranya adalah air putih yang dipesannya. Bahkan meneguknya hingga tandas.
“Uhukk uhukkk. Jus apa ini?” Livia mengerjapkan matanya sambil menggelengkan kepalanya baru menyadari kalau itu bukan air putih.
“Ahahaha! Itu bukan air sayang. Itu sampanye pesananku.” Naura tertawa geli melihat Lissa mengernyitkan keningnya.
“Maaf Nyonya,” ucap pelayan itu masih berdiri dengan nampan minuman.
Livia juga ikut tertawa. “Hahaha. Benarkah ini bukan air. Akh bodohnya aku.” Ia melirik lagi pada Hiro yang semakin terlihat akrab. Kali ini dia sengaja mengambil segelas sampanye lain di atas nampan itu kemudian meneguknya lagi sampai habis.
“Hey, kau kenapa?” Naura mencoba menghentikan Livia yang sudah meneguk tiga gelas sampanye. Ia merebut gelas keempat di tangan Livia.
Entah kenapa perasaan Livia bercampur aduk melihat Hiro dekat dan akrab atau baginya mereka sangat mesra dari sekadar teman biasa saja. Dalam hati Livia menggerutu. Hiro, bukankah kau sudah mempunyai istri. Sekarang baru saja dua hari kau datang ke Negara ini sudah ingin memikat wanita lain lagi.
Naura menaruh gelas di atas nampan pelayan yang dari tadi tak boleh pergi oleh Livia. Ia menyuruhnya agar segera pergi tetapi lagi-lagi dicegah oleh Livia.
“Biarkan aku minum. Aku sangat bahagia malam ini.” Karena Livia jarang minum minuman beralkohol. Ia pun cepat mabuk hanya dengan empat gelas sampanye saja.
Naura menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya kini sudah mabuk dan dia tahu betul. Jika Lissa mabuk, maka akan berbuat ulah di manapun dia berapa.
Ada kesamaan dari Livia dan Lissa yang tak orang ketahui. Jika keduanya minim alkohol atau lebih tepatnya cepat mabuk.
Benar saja dugaan Naura. Livia yang sudah mabuk dan setengah sadar hendak bangkit dari kursi tetapi tubuhnya sempoyongan sehingga mendadak jatuh dari kursi dan dia berpegangan pada sarung meja. Pada akhirnya semua benda yang ada di atasnya ikut terjatuh juga bersamanya.
Prankk prakkk bruukkk!
Semua yang ada di sana sangat kaget termasuk Nader, Gerald, Ardell dan Hiro.
Naura mencoba membantunya berdiri tetapi Livia menolaknya.
Livia duduk di atas karpet di dekat meja yang berantakan. “Lepaskan aku, kepalaku rasanya pusing sekali,” ia mendongak melihat Naura yang masih ingin membantunya berdiri. “Hmmm?” Ia memiringkan kepalanya ke kanan menatap Naura. “Why your face double? Oh no, triple. No no no, but four, and five? Hehehe.”
Naura menggelengkan kepalanya.
“Ayo kita lihat ke sana,” ajak Gerald penasaran kenapa dengan Lissa dan mereka belum tahu kalau Lissa mabuk.
Semuanya berdiri mengelilingi Livia yang cengengesan sambil menghitung jari tangannya. “Naura, kau menjadi banyak sekali sekarang.” Ia masih saja meracau.
Ramon menyuruh semua orang sedikit menjauh dan memberi Lissa udara. Hiro yang terkejut juga ikut berdiri di sana melihat kelakuan istri boss-nya, kenapa mirip sekali dengan Livia?
Hiro sangat mengingat waktu Livia dijaili oleh sahabatnya ketika kelulusan SMA. Waktu itu mereka belum pacaran. Livia diberi minuman campuran alkohol dan mabuk. Ketika dia mabuk persis sama dengan Lissa saat ini.
Mungkin semua yang terlalu mabuk akan seperti itu. Setengah sadar apa yang dia lakukan. Tetapi saat Hiro melihat Lissa berkali-kali menggosok bawah hidungnya tepat di atas bibirnya lalu menghitung jari tangannya sendiri. Livia juga melakukan hal yang sama waktu itu.
Livia? Benarkah itu kau? Batin Hiro ingin menyangkal, tetapi sikap istri boss-nya itu membuat hatinya ingin meyakini kalau itu adalah Livia.
Hiro hendak mengulurkan tangannya ingin merasakan bersentuhan dengan tangan wanita itu dan dia tak lupa bagaimana rasanya bersentuhan tangan dengan Livia. Tetapi Nader sudah berdiri di hadapan Livia sambil mengembuskan napasnya berat.
Naura mendekati Nader. “Maaf, semua salahku karena aku membiarkan-”
“Jangan salahkan Naura. Aku yang salah, mengambil gelas air ternyata bukan air hehe ... hikkk?” Livia membela Naura dan masih cengengesan sambil hendak berdiri.
Nader akhirnya membantunya berdiri kemudian memeluk pinggangnya agar tak jatuh. “Kenapa kau mabuk sampai seperti ini?”
“Sudah kukatakan aku salah mengambil gelas, jangan marah.” Livia mengerucutkan bibirnya dan berkata dengan manja sekali membuat Nader tak bisa marah apalagi mustahil dia memarahi istrinya di depan banyak orang seperti itu.
Hati Hiro menjadi panas. Tapi apa haknya? Keduanya adalah suami istri dan dia bukanlah Livia.
“Jangan marah Kakak- maksudku suamiku. Kau adalah suamiku bukan?” Livia masih saja bicara ngelantur sambil bergelayut di tengkuk Nader.
“Sebaiknya kita pulang saja.” Nader terpaksa harus pulang tanpa menyelesaikan pesta itu. “Ramon, aku serahkan semuanya padamu. Hanya tinggal pembagian hadiah saja dan beritahu aku jika ada masalah sekecil apa pun itu.”
Ramon mengangguk mengerti dan pesta itu memang belum selesai dan pembagian hadiah pun belum dilaksanakan. Tetapi melihat istri boss-nya itu sudah sangat mabuk. Akhirnya dia yang akan menangani semuanya.
“Kenapa pulang? Pestanya belum selesai?” kata Livia terlihat merajuk.
Nader menggendong Livia ala bridal style lalu dibawanya keluar gedung.
Livia menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Nader. “Kau tahu, ternyata minuman membuatku bisa melupakan sejenak semua masalahku.”
Masalah? Nader mengira mungkin dalam keadaan mabuk Lissa akan mengatakan semuanya kalau dia tak hilang ingatan.
“Lissa, apa kau berpura-pura hilang ingatan?” tanya Nader mencoba mengorek informasi dari istrinya itu. Dan jika benar dia berpura-pura, Lissa pasti akan jujur dalam keadaan mabuk, maka dia akan menambah penderitaan istri pembohong sekaligus pengkhianatnya itu.
“Hilang ingatan?” Livia mengangkat wajahnya lalu menatap Nader dengan tatapan sayu seorang yang mabuk. “Aku tidak hilang ingatan.”
“Benarkah?” Tubuh Nader seketika menegang sampai dia berhenti di dekat mobil dengan tubuhnya yang membeku.
Livia tersenyum. “Aku tidak hilang ingatan, tapi aku tak mengingat siapa kalian. Kau, nenek di istanamu itu. Bahkan keluarga Vincent aku tak mengenalnya. Lissa, namaku juga sangat asing bagiku.”
Nader mengembuskan napasnya berat kala mendengar jawaban Lissa. Berarti dia memang benar-benar hilang ingatan. Buktinya dia terlihat berkata jujur sekali saat mabuk.
Penjaga membukakan pintu mobil lalu Nader masuk ke dalam mendudukkan Livia di dalam mobil limosinnya.
Ramon menyusul keduanya ke dalam mobil. “Sir. Tas Nyonya Lissa ketinggalan dan ada sesuatu yang ingin saya bicarakan sebentar dengan Anda.”
Nader menerima tas, menaruhnya di dekat Livia kemudian keluar dulu dari mobil. “Ada apa?”
Para penjaga menjauh tak mau mendengarkan pembicaraan pribadi mereka.
“Tamu dari perusahaan baru yang ada di dalam sangat tidak terima jika Anda pergi meninggalkan pesta begitu saja. Mereka merasa tak Anda hargai. Jadi, apa yang harus saya lakukan dengan tamu itu?”
“Batalkan kontrak kerja dengannya. Istriku lebih berharga dari pada perusahaannya.” Dengan tegas Nader menjawab.
Berharga? Ramon bahkan sampai tersenyum sangat tipis mendengarnya. Dia juga sebenarnya tak mengerti apa arti berharga bagi Nader, sementara dia tahu jika Nader bahkan hendak menceraikannya.
Diam-diam Livia turun dari mobil dan karena Nader serta Ramon tampak serius membicarakan hal itu serta para penjaga tak melihat Livia turun dari mobil. Livia semakin berjalan menjauh dari mobil dan gedung itu.
Ramon baru menyadari kala satu penjaga mendekati keduanya lalu mengatakan kalau Nyonya Lissa keluar dari mobil.
Nader sontak menoleh melihat Lissa sudah jauh dari mereka. “Kau masuklah dan segera bereskan semuanya. Aku tak mau ada kesalahan di pesta itu.”
“Baik, Sir,” jawab Ramon segera kembali ke dalam gedung, sementara Nader berjalan mengikuti Lissa di belakang. Dia bahkan menyuruh sopir untuk mengikuti mereka di dalam mobil.
Livia berjalan gontai sambil sesekali tertawa. Mendongak ke langit menghitung Bintang kemudian berputar di pinggir jalanan besar yang lumayan sepi karena jalan menuju gedung pribadi itu jauh dari keramaian.
Nader hanya berjalan mengikutinya dari belakang. Tingkah Lissa begitu lucu sehingga berkali-kali dia tertawa sendiri. Ketika Lissa hendak jatuh tersandung batu. Ia ingin segera menolongnya tetapi Lissa tak jadi terjatuh malah mengomeli batu tersebut.
Livia membungkuk mengomeli batu sambil menunjuknya. “Kau jangan diam terus di sana. Selain kau diinjak orang, kau juga bisa melukai orang-orang. Menyingkirlah dan diamlah di pinggiran saja agar kau tak diinjak. Hehe.”
Nader sudah berdiri di belakangnya. “Ayo pulang.”
Livia sontak menoleh. “Ka-kau mengikutiku? Hikkk.” Dia masih saja cegukan akibat minuman itu.
“Ya,” jawab Nader singkat dan datar. Pertanyaan bodoh apa itu?
Livia tak bisa berdiri tegak. Ia beberapa kali hampir saja terjatuh dan Nader hendak menahannya agar tak terjatuh ke atas jalan. Namun, Livia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya. “Pulanglah sendiri. Aku tak mau pulang ke neraka itu.”
Nader tampak mencoba bersabar pada istrinya itu. “Kau tak usah khawatir. Neraka itu akan aku ubah menjadi surga,” jawabnya asal.
“Surga? Haha. Jika diubah menjadi surga. Pasti aku akan menjadi malaikat yang bersayap banyak karena aku sudah menyelamatkan keempat orang tuaku.”
Keempat? Nader masih mengira karena mabuk jadi ucapan Lissa pasti ngelantur.
Livia menunjuk Nader sambil tersenyum geli sembari memainkan kedua jari tangannya. “Kau tidak tahu kan, hikkkss. Aku punya dua Ayah dan dua Ib-”
“Sudahlah, ayo pulang.” Nader jengah dengan ucapan tak masuk diakal Livia. Ia menarik tangan Livia namun langsung ditepis olehnya.
“Pulang saja sana. Aku akan pulang ke rumah kedua orang tuaku!”
Nader mencoba menarik lagi tangan Livia tetapi lagi-lagi ditepisnya. Bahkan saat dia memaksanya, Livia tiba-tiba menggigit tangannya itu.
“Aakkhhh, ka-kau sejak kapan main gigit?” Nader merintih melihat tangannya yang ada jejak gigitan Livia.
“Kau mau menculikku, kan? Kau ingin aku tidur sekasur lagi dengan monster itu. Aku menolak, aku tidak mau!” Livia malah semakin parah bahkan berteriak di tengah jalan. Hampir saja beberapa kali dia tertabrak mobil yang lewat.
Nader benar-benar jengah atas kelakuan Livia. Ia pun membungkuk lalu memanggul Livia di pundaknya.
“Kyaaa! Turunkan aku penjahat. Aku tak mau kembali ke rumah monster itu yang tak membiarkan aku menanam bunga berbeda. Dia orang aneh, benar-benar aneh!” Livia berontak di atas pundak Nader namun Nader takkan menurunkannya. Karena bisa jadi dia akan menggigit lagi tangannya jika ditarik.
Sang sopir yang melihatnya terkekeh geli. Boss besar yang terkenal galak dan sadis itu sungguh kalah oleh istrinya. Bahkan untuk marah pun sepertinya dia tak bisa.
Mendadak kepala Livia terasa berdenyut, apalagi angin malam mulai terasa dingin menusuk. Ia pun tertidur di atas pundak Nader.
“Lissa, kau memang benar-benar bodoh.” Nader membawa tubuh Livia masuk ke dalam mobil.
Perlahan mobil-pun melaju dengan kecepatan sedang.
Nader membiarkan Livia tiduran di kursi mobil dengan jasnya sebagai selimut lalu membuka sepatunya serta langsung memeriksa apakah kakinya lecet lagi atau tidak. Kemudian setelah itu ia pun duduk dengan tenang. Ditatapnya wajah istrinya itu yang terlihat damai sambil memikirkan perkataan Lissa tadi.
Apa maksudnya mengatakan 'aku tidak hilang ingatan tetapi aku tak mengenal semuanya'. Mana mungkin dengan kedua orang tuanya saja dia tak kenal? Apa ucapannya tadi jujur atau …? Apa mungkin amnesia yang dialami Lissa berbeda dari yang lainnya? Apa kecelakaan itu benar-benar menghapus semua memori di otaknya itu?
Nader terus memikirkan hal itu. Semakin dipikirkan semakin tak masuk di akal dan juga dia semakin tak mengerti.
Sepanjang perjalanan Nader menatap wajah Livia dengan pikiran yang mengembara ke mana-mana. Beberapa kali dia mengusap wajahnya dengan telapak tangannya sendiri dan tampak semakin frustrasi memikirkan semua itu.
Sesampainya di Mansion dia menggendong Livia. Divo dan beberapa maid sedikit terkejut atas kedatangan keduanya di luar jadwal pulang dari pesta perusahaan.
“Kenapa dengan Nyonya muda, Tuan?” Divo memburunya dan mengira terjadi apa-apa pada Nyonya-nya itu.
“Dia tak kenapa-napa. Hanya mabuk saja,” jawab Nader berhenti sejenak di dekat Divo. “Tolong masukkan tas dan juga sepatu Nyonya yang ada di dalam mobil.”
Divo mengangguk mengerti lalu menyuruh satu maid mengambil barang milik Lissa.
Nader kembali berjalan menaiki tangga. Sudah berapa kali dia menggendong tubuh Livia masuk ke dalam Mansion. Membawanya naik tangga menuju ke kamarnya.
Ketika dia masuk ke dalam kamar. Angin malam masuk lewat jendela yang terbuka memainkan rambut Livia yang terurai berantakan. Ia segera mendekati ranjang lalu membaringkan tubuh Livia ke atas tempat tidur mereka kemudian berjalan menutup pintu, berputar mendekati jendela untuk menutupnya juga.
Livia mendadak bangkit dari tidurannya lalu turun dari ranjang.
Nader terkejut melihatnya. “Mau ke mana kau?”
“Aku ingin ke kamar mandi. Rasanya perutku mual,” jawab Livia setengah sadar. Bahkan berjalan pun dengan kedua mata yang terpejam membuat Nader terpaksa membantunya masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Livia tak muntah hanya mual-mual saja. Nader mendekati interkom di dalam kamar mandi hendak menyuruh Divo membuatkan minuman hangat untuk Livia.
Ketika Nader berdiri membelakangi Livia meraih telepon interkom. Livia berjalan masuk ke dalam ruang kaca shower lalu menyalakan keran air sehingga kini tubuhnya tersiram air.
Nader terkejut sontak membalikkan badannya melihat Lissa sudah menyiram diri dengan gaunnya itu di shower. “s**t. Apa yang dia lakukan?!” Ia belum sempat memanggil Divo karena memburu Livia di dalam sana.
Nader mematikan keran air kemudian membantu Livia keluar dari sana. Ia memeluk pinggang Livia dengan sebelah tangan Livia dikaitkan di tengkuknya.
“Biarkan aku mandi. Tubuhku terasa sangat panas.” Livia berontak lagi di pelukan Nader.
Nader sudah terlihat malas dan jengah menjawabnya. Ia terus membawa Livia keluar dari kamar mandi.
Livia sedikit sadar saat kepalanya tersiram air tadi. Namun, mabuknya masih mengendalikan kesadarannya itu.
Nader mendudukkan Livia di atas sofa karena gaun yang dia kenakan hampir basah semua. “Cepat ganti pakaianmu atau aku suruh pelayan untuk membantumu.”
“Tidak usah, aku bisa sendiri. Hiikkks.” Livia mencoba membuka ritsleting belakang gaunnya itu. Tapi nihil dia tak bisa membukanya.
Nader mengembuskan napasnya keras-keras lalu mendekati Livia. Dia duduk di sebelahnya kemudian membantu membuka ritsleting gaun tersebut.
Livia mendadak langsung menurunkan gaunnya itu sampai dadanya.
Nader menatap punggung Livia dengan menelan salivanya berat. Tiba-tiba kedua matanya mengernyit karena baru menyadari kalau tanda hitam bekas kecelakaannya tak ada di punggungnya itu.
Ke mana hilangnya goresan bekas kecelakaan waktu kecil Lissa? Bukankah Lissa pernah berkata kalau goresan hitam di punggungnya bekas dia kecelakaan mobil bersama dengan kedua orang tuanya dulu. Punggungnya itu terkena pecahan kaca, tetapi dia tak mau di operasi. Jadi bekas luka itu masih ada dan hanya ditutupi dengan cream dan bedak saja ketika mengenakan gaun bolong bagian punggungnya.
Lalu, ke mana bekas luka itu? Apa saat kecelakaan waktu bulan kemarin membuatnya operasi juga menghilangkan bekas luka itu?
Di saat Nader sedang menerka-nerka. Tanpa sadar Livia berdiri lalu melepaskan semua gaun basahnya itu dan kini hanya menyisakan underwear-nya saja.
Nader tanpa bisa berkedip menatap punggung mulus Livia. Dengan masih mengira kalau Lissa operasi plastik ketika kecelakaan waktu itu. Dia pun bangkit dari duduknya lalu memeluk Livia dari belakang.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Livia kaget sontak membalikkan tubuhnya menghadap Nader yang tak melepaskan tangan di tubuhnya itu.
“Apa yang aku lakukan?” Nader terkekeh geli bercampur sinis mendengarnya. “Aku adalah suamimu. Apa kau hanya ingin disentuh oleh pria b******n itu?”
Karena setengah tak sadar. Livia malah memeluk balik Nader lalu menepuk-nepuk pelan punggung Nader. Di dalam benaknya itu adalah Hiro. “Aku tahu kalau kau terpaksa melakukan itu (perjodohan kedua orang tua Hiro) jadi kita lupakan saja masa lalu dan mulailah dengan halaman baru.”
Nader mengira Lissa berkata begitu karena dia terpaksa memaafkannya. Memulai halaman baru? Ia tersenyum sinis. Akan aku tunjukkan halaman baru itu seperti apa?!
Nader menggendong tubuh Livia kemudian dibaringkan di atas tempat tidur. Ditatapnya gunung kembar yang mulus serta menggiurkan milik Livia. Kau yang telah membuatku melakukan semua ini. Aku akan menghukummu karena membiarkan seluruh tubuh milikku ini disentuh pria b******n itu.
Nader mulai mengecup kening Livia, lalu turun ke hidung dan berakhir di bibir ranumnya itu. Bibir yang selalu saja membuatnya kecanduan.
Selain itu, Nader juga mulai mengecup hampir seluruh tubuh Livia penuh amarah sekaligus nafsu. Marah ketika membayangkan bagaimana istrinya bermain ranjang dengan pria berengsek itu. Dan nafsu sebab entah berapa lama dia tak menyentuh tubuh sexi Lissa.
Setelah itu Nader mulai menandai bagian leher serta d**a Livia dengan kissmark, dia malam ini akan menghukum Lissa dengan hukuman yang takkan bisa dibayangkan wanita itu.
Kamar Lissa dan Nader malam ini telah menjadi saksi bisu di mana Nader mulai mencumbui tubuh Livia yang masih dianggapnya sebagai Lissa.
Mustahil?
Kedua mata Nader tiba-tiba membulat seketika.
Bersambung.