“Hati takkan tahu jika cinta adalah sebuah perasaan halus yang akan perlahan-lahan menembus pertahan diri dan menetap sendiri. Dan cinta pula akan pergi di saat sang pemilik hati sudah mulai merasa tersakiti dan terlukai.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
“KAU …!” Kalimat tinggi Nader tertahan di tenggorokannya kala melihat darah mengucur dari tangan Livia. Sebenarnya luka bekas duri itu tak seberapa dalam, hanya saja karena terkena air hujan jadi terlihat mengucur banyak. “Kau memang ceroboh.” Nada bicaranya menjadi normal kembali.
Nader menarik kembali tangan kiri Livia yang tak terluka. Membawanya masuk ke dalam Mansion. Semua pelayan tak ada yang berani bertanya atau mendekati keduanya yang sudah basah kuyup serta tangan Nyonya muda mereka berdarah.
“Divo, siapkan makan malam dan suruh salah satu pelayan membawakan kotak P3K ke kamarku.” Nader memerintah Divo tanpa berhenti berjalan sambil masih menarik Livia yang berjalan mengikuti di belakangnya.
Livia sering bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya apa mau Kakak iparnya itu? Apa hendak menyiksanya atau apa yang diinginkannya? Dia sama sekali tak mengerti? Sering kali Nader seakan ingin memukulnya, tetapi ketika dia terluka langsung panik dan segera mengobatinya.
Sabar, pasrah. Hanya dua kalimat itu yang saat ini Livia jalani sampai waktunya tiba.
Setibanya di dalam kamar. Nader dengan isyarat menyuruh Livia untuk duduk dulu. Namun, Livia menolak dengan menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak apa-apa, semua pakaianku basah jadi aku akan berganti pakaian. Kamu juga jangan terlalu lama memakai pakaian basahmu itu, nanti kau sakit.” Setelah mengatakan hal itu, Livia bergegas masuk ke dalam ruang pakaian kemudian tak lama membawa baju tidur ke dalam kamar mandi tanpa menghiraukan bagaimana ekspresi wajah Nader kala dia menolaknya.
Nader mengembuskan napasnya berat. Dia pun segera mengganti pakaiannya di ruang pakaian.
Livia keluar dari kamar mandi dengan wajah lesu. Kakinya sudah tak pincang lagi dan memang sudah sembuh. Melihat tangannya juga tak kenapa-napa.
Tiba-tiba Nader menarik tangan Livia dan seperti tadi tanpa kata dia menyuruhnya duduk di pinggiran ranjang. Livia hendak berontak tetapi Nader segera menahannya.
“Diamlah, nanti luka bekas duri bunga menjadi infeksi,” kata Nader menakut-nakuti sembari membawa kotak P3K lalu duduk di samping Livia.
“Tapi lukanya sudah menghilang. Hanya tertusuk saja dan sudah tak berdarah,” jawab Livia pelan. Sejak kapan luka bekas duri bunga menjadi infeksi? Memangnya aku mempunyai penyakit darah gula. Lanjut batinnya aneh.
Nader tak menghiraukan jawaban Livia, dia menarik lalu membuka telapak tangan Livia. Memperhatikan dengan teliti telapak tangan bagian mana yang masih merah bekas tusukan duri tangkai bunga rose tadi.
Dengan perlahan Nader mengolesi obat luka ke bekas tusukan duri di tangan Livia. Di dalam hati Livia hanya bisa tersenyum, mungkin Nader tidak sejahat yang dia bayangkan. Tetapi sikap misteriusnya itu masih menyisakan teka-teki sebenarnya bagaimana sikap asli Nader karena terkadang dia kasar dan berubah menjadi lembut serta baik sekali?
Baru pertama kali Livia bertemu dengan pria seperti Nader. Entahlah, karena hal apa Nader membenci kakaknya Lissa? Tak ada yang memberitahunya inti permasalahan dari niat perceraian mereka.
“Besok lusa adalah pesta tahunan perusahaan, aku harap kau sudah sembuh dari luka-luka ini,” kata Nader sambil menempelkan plester luka di jari tangan Livia.
“Aku sudah tidak apa-apa,” jawab Livia pelan sembari menunduk tak berani menatap Nader.
Nader bangkit dari duduknya. “Apa kau ingin makan di bawah atau menyuruh pelayan membawakannya ke sini-”
“Makanlah di sini,” potong nenek Maria muncul di balik pintu yang terbuka sedikit.
“Grandma? Bagaimana pemeriksaannya?” tanya Livia langsung bangkit dari duduknya lalu menghampiri nenek Maria.
Nenek Maria tersenyum. “Lancar seperti biasa, tubuh ini sudah terlalu tua.”
“Grandma jangan berbicara begitu, masih sangat muda dan kuat dan lihatlah wajah grandma, masih cantik sekali,” goda Livia sembari nyengir.
Nenek Maria terkekeh geli mendengarnya. Dia memegang tangan Livia. “Yang aku inginkan hanya satu dari kalian.”
“Dari kami?” Livia mengernyitkan keningnya sembari menoleh ke arah Nader yang terdiam dari tadi menatapnya dan nenek Maria.
“Ya. Aku ingin melihat dan menimang anak-anak kalian. Oh, my grandchild dari kalian pasti akan sangat lucu-lucu.” Nenek Maria tersenyum membayangkan menimang cicitnya.
Livia mengerjap dengan kedua pipi yang memerah. Di dalam hatinya dia hanya bisa meminta maaf karena tak bisa mengabulkan keinginan nenek Maria disebabkan mereka hanya berkumpul beberapa bulan ke depan. Setelah itu dia akan menghilang dari hadapan mereka untuk selamanya.
“Aku lapar,” kata Nader membuyarkan lamunan nenek Maria dan Livia.
“Akh, aku hampir lupa,” kata nenek Maria tersenyum menoleh ke arah pintu. “Pelayan, cepat bawa makanan ke sini.”
Tak lama Divo masuk bersama dua pelayan membawa roda dan nampan di atasnya makan malam. Dia menaruh makanan di atas meja depan sofa panjang.
“Apa grandma makan bersama kami?” tanya Livia berharap.
Nenek Maria menggelengkan kepalanya. “Kalian makanlah. Aku perlu istirahat, rasanya ngantuk dan lelah.”
Livia mengangguk mengerti. “Kalau begitu istirahatlah. Biar aku antarkan ke bawah.”
“Tidak usah,” tolak nenek Maria halus sembari tersenyum. “Cepat kalian makan dan istirahatlah.”
Hati Livia benar-benar tak tahan telah membohongi nenek yang sangat baik hati itu. Tapi semua itu sungguh di luar kehendaknya. Bibirnya ingin menjerit segera mengakhirinya, tetapi hati nurani mencegahnya kala mengingat berapa banyak pengorbanan orang tua asuhnya. Dia kini hanya bisa menangis di dalam hati.
“Duduk dan makanlah,” kata Nader sembari mendekati meja lalu duduk di sofa duluan.
Livia dengan ragu duduk di sofa kecil di dekat sofa panjang. Dengan keadaan tenang keduanya makan malam bersama.
***❤***
Malamnya Livia lagi-lagi ingin tidur di sofa. Ia seperti biasa menyamankan bantal serta selimutnya. Namun, kali ini Nader takkan membiarkannya. Baru saja Livia duduk.
Nader duduk di pinggir ranjang sambil menatap tajam ke arah Livia. “Lissa, jika kau terus tidur di sofa atau kita setiap malam tidur terpisah. Maka besok kau kembalilah ke rumah orang tuamu dan aku akan membatalkan kontrak kerja bersama dengan Daddy-”
“Jangan!” seru Livia bangkit dari duduknya. “Baiklah, aku akan tidur di atas tempat tidurmu itu,” ujarnya sembari bergegas menggulung selimut dan menarik bantal kemudian melangkah mendekati ranjang.
Nader memutar matanya bosan. Sampai kapan wanita itu akan berpura-pura bodoh dan penakut seperti itu? Mana Lissa yang agresif dan pemberani? Mana Lissa yang selalu saja menaikkan suaranya jika merasa keberatan atau protes kepadanya.
Livia duduk di samping ranjang sebelah Nader dengan jantung tak beraturan.
“Tidurlah,” kata Nader sontak mengagetkan Livia.
“Akh, kau juga tidurlah,” jawab Livia langsung baringan sambil menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut lalu berbalik membelakangi Nader.
Nader menatap dalam punggung Livia yang tertutupi selimut. Ia pun mulai merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan helaan napas panjangnya.
Sementara Livia belum bisa memejamkan matanya. Dia tampak gelisahan karena tak terbiasa tidur dengan pria lain.
“Tidurlah.”
Livia terkesiap saat mendengar ucapan Nader barusan. Ia pun menelusupkan kepalanya lebih dalam ke bantal.
“Jika nanti kau pindah ke sofa, kedua orang tuamu-”
“Baiklah, aku takkan pindah,” potong Livia cepat.
Nader tersenyum miring lalu tertidur dengan tenangnya.
***❤️***
Pagi harinya.
Nader sudah berangkat ke kantor untuk menyelesaikan segala pekerjaannya karena besok adalah pesta tahunan perusahaan miliknya. Jadi dia tak mau jika besok masih ada pekerjaan yang belum selesai.
Livia seharian juga menemani nenek Maria di Mansion. Dirinya sudah seperti burung di dalam sangkar emas. Tak bisa ke mana-mana tanpa seizin Nader.
Hiro sudah mulai bekerja dengan Nader dan membuat Nader merasa puas atas pekerjaannya itu. Ramon juga merasa Hiro terlihat rajin dalam bekerja dan selalu cepat menyelesaikan satu pekerjaan ke tugas lainnya.
Meski baru sehari. Hiro juga merasa betah bekerja di perusahaan barunya itu dikarenakan setiap pegawai dan staff yang ada di sana selalu kompak dalam hal apa pun. Tidak membedakan yang baru dengan yang lama dan saling membantu juga. Ia kini baru mengerti pantas saja perusahaan itu semakin maju karena cara bekerja mereka memang berbeda dengan perusahaan yang lain yang diketahuinya. Selain itu mereka mempunyai seorang boss yang hebat serta genius.
Nader masih duduk di kursi kerjanya, ia tampak merenggangkan badannya dari rasa pegal seharian setelah bekerja.
Tak lama masuk Ramon membawa sebagian map dan berkas yang telah selesai.
“Ramon, pastikan kalau besok lancar seperti biasanya,” kata Nader sembari menandatangani sebagian berkas itu.
“Pastinya Sir. Anda jangan khawatir,” jawab Ramon mengangguk mengerti.
Nader melirik jam tangannya sudah jam pulang. Namun pekerjaannya belum selesai juga.
“Sir. Apa Anda akan pulang sekarang?” tanya Ramon melihat Nader berulang kali melirik jam tangannya.
“Tidak, pekerjaan belum selesai dan tampaknya malam ini aku akan lembur. Jika kau sudah selesai, pulanglah.”
“Belum, saya juga belum menyelesaikan semuanya, Sir. Jadi saya akan menemani Anda sampai selesai nanti,” ujar Ramon membawa berkas yang baru saja ditandatangani Nader untuk diselesaikan semuanya.
Nader meraih ponselnya kemudian menelepon Divo.
“Hallo Tuan muda.”
“Apa Nyonya muda dan grandma sudah makan malam?” tanya Nader khawatir kalau mereka belum makan karena menunggunya, sebab dari tadi ia belum memberi kabar ke rumah.
“Mereka belum makan Tuan. Tampaknya menunggu Anda pulang. Bukankah sebentar lagi Anda akan pulang dari kantor?”
“Katakan pada mereka untuk makan malam duluan. Aku akan pulang terlambat.”
“Baik Tuan.”
“Akh Divo. Katakan pada Nyonya muda tak usah menungguku. Biarkan dia tidur duluan dan pastikan grandma minum obatnya dengan teratur.”
“Anda tak usah khawatir Tuan. Itu sudah kewajiban saya. Anda juga jangan telat makan Tuan. Akhir-akhir ini cuaca berubah tak menentu.”
“Terima kasih Divo,” jawab Nader segera menutup panggilannya.
Knockk knockk.
“Masuk.”
Pintu terbuka, tak lama masuklah Hiro.
“Ada apa Hiro?”
Hiro membawa dua map yang sudah selesai. “Sir. Saya datang ke ruangan Ramon, tetapi dia tak ada di ruangannya. Jadi maaf saya membawa berkas ini ke sini seperti yang Anda minta tadi.”
“Kalau begitu, taruhlah di atas meja. Nanti aku lihat.” Nader kembali membuka berkas yang belum selesai.
Hiro menaruhnya di sudut meja kemudian hendak pergi. Baru saja dia membalikkan badannya.
“Hiro.”
“Ya sir. Ada apa?” Hiro kembali membalikkan badannya menghadap Nader.
“Apa kau sudah makan atau belum?”
“Kalau makan siang sudah, Sir. Kalau makan malam nanti saja pekerjaan saya sedikit lagi selesai,” jawab Hiro tersenyum malu. Boss dinginnya itu kenapa bertanya apakah dia sudah makan atau belum?
“Kalau begitu, makanlah bersamaku dan Ramon. Sebentar lagi makanan datang. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Tentu saja, Sir. Dengan senang hati dan saya malah merasa tersanjung di hari pertama saya bekerja bisa makan malam bersama Anda.” Hiro tampak semangat. Dari semua pegawai, dia yang diajak makan malam bersama Nader.
“Kalau begitu, duduklah.” Nader mempersilakan Hiro duduk di sofa dan dia pun bangkit lalu mengambil sebotol vodka kemudian duduk di sofa juga.
Kala Nader menuangkan vodka ke dua gelas.
“Maaf, saya tak minum, Sir,” kata Hiro menggaruk kepalanya tak gatal.
“Minumlah, hanya sedikit takkan membuatmu mabuk.” Nader masih menuangkan vodka seperempat gelas kemudian menyodorkannya pada Hiro.
Hiro tak enak jika menolaknya lagi. Dia pun menerimanya lalu menunggu Nader mengangkat gelasnya.
Nader mengangkat gelas lalu meneguknya sekali tandas. Hiro juga akhirnya meminumnya tetapi hanya sedikit saja.
“Apa kau sudah menikah Hiro?” tanya Nader tiba-tiba.
Hiro tersenyum sambil membayangkan wajah Livia. “Sir. Boleh saya jujur?”
Nader mengangguk siap mendengarkan.
Hiro menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. “Beberapa bulan lalu saya berniat menikahi seorang gadis di kampung saya. Tetapi karena perbedaan keluarga membuat kedua orang tua saya menjodohkan saya dengan gadis yang tidak saya cintai dan dengan terpaksa saya memutuskan gadis yang saya cintai itu.” Ia kembali mengembuskan napasnya penuh penyesalan.
“Perbedaan keluarga?” Nader tampak berpikir. “Apa maksudmu pacarmu dari keluarga kaya? Atau miskin?”
Hiro mengangguk membenarkan perbedaan keluarga itu. “Ya. Mereka hanya keluarga sederhana. Hanya karena keluarga saya dianggap orang berada dan sifat kedua orang tua saya yang selalu mengangap orang tak punya itu rendah, akhirnya hubungan saya berakhir begitu saja.”
“Lalu, apa kau menerima perjodohan tersebut dan bagaimana nasib pacarmu itu?” tanya Nader menatap sekilas Hiro sambil menuangkan lagi vodka ke gelasnya lalu meneguk kembali minumannya.
“Gadis yang saya cintai telah meninggal dan saya menolak perjodohan itu. Karena itu saya menerima pemindahan pekerjaan ke Negara ini, Sir.”
Nader tampak tak enak karena merasa telah mengorek luka pemuda itu. “Ahh, maaf. Bukan maksudku-”
“Tak apa, Sir. Saya mengerti dan jika boleh saya berkata. Seandainya ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Saya takkan pernah meninggalkan gadis itu apa pun yang terjadi.” Kedua mata Hiro tampak berkaca-kaca tetapi dia segera mengusapnya dengan telapak tangannya. “Maaf, Sir. Saya jadi banyak bicara.”
“Tak apa, aku lah yang bertanya duluan,” jawab Nader sembari tersenyum tipis.
Hiro merasa boss yang desas-desusnya galak, dingin dan jarang bicara itu tak seperti yang mereka katakan. Dia kini melihat sisi lain dari boss barunya itu.
Datang Ramon membawa makanan ke dalam. “Sir. Makanan yang Anda pesan sudah datang dan saya menambahkannya untuk Hiro juga.” Ia tadi menerima pesan dari Nader, bahkan sebelum Hiro datang ke ruangannya.
“Duduklah Ramon. Banyak yang harus kita bicarakan (masalah pekerjaan).” Nader menyuruh Ramon duduk di dekatnya.
Hiro merasa canggung dan tak enak sendiri takut mereka membicarakan masalah pribadi, jadi ia pun pamit. “Kalau begitu, saya makan di meja saya saja, Sir.”
“Tak usah. Makanlah di sini bersama kami. Aku juga ingin membicarakan masalah aplikasi yang kau buat itu dan tampaknya kita akan meluncurkannya dengan handphone keluaran baru kita setelah perayaan tahunan perusahaan besok,” ujar Nader kembali menuangkan vodka ke gelasnya.
“Dengan senang hati, Sir.” Hiro membukakan makanan untuk Nader. Ramon merasa Hiro punya akhlak yang tinggi meski dia datang dari pedesaan.
Mereka bertiga makan sambil sesekali membicarakan masalah pekerjaan dan terkadang Hiro menceritakan tentang keadaan pedesaannya.
Di Mansion.
Livia sudah selesai makan malam bersama dengan nenek Maria. Dia sangat senang karena seharian bisa mengobrol dengan Ronnie dan kedua orang tuanya di rumah sakit. Yang paling membahagiakan adalah melihat Pak Trino sudah mulai terlihat sehat.
Nenek Maria menguap. “Aku akan istirahat karena obat yang diminum membuatku mengantuk sekali.”
“Kalau begitu, aku akan mengantar grandma ke kamar.” Livia bangkit dari duduknya.
“Tapi-”
“Sudahlah grandma. Ayo.” Livia membantu nenek Maria beranjak dari duduknya kemudian menggandengnya menuju ke kamar yang tak jauh dari mereka.
Nenek Maria tersenyum. Begitu lembutnya sikap Lissa padanya dan kalau boleh egois, dia tak mau Lissa mengingat semuanya dan kembali kejam serta keras kepala seperti dulu. Dia berharap kalau Lissa seperti itu terus meski mengalami hilang ingatan untuk selamanya.
Nenek Maria berbaring di atas tempat tidur dan Livia langsung menyelimutinya layaknya menyelimuti anak kecil. Ketika dia hendak beranjak dari kamar. Tiba-tiba tangannya dipegang dan ditarik oleh nenek Maria.
“Aku ingin kau memperbaiki hubunganmu dengan suamimu Lissa, aku tahu kau tak mengingat kesalahanmu pada Nader. Tetapi selagi ada kesempatan, perbaikilah dan aku yakin kalau cucuku sangat mencintaimu dan sebesar apa pun kesalahanmu, dia pasti akan memaafkanmu karena rasa cintanya lebih besar dari rasa bencinya padamu.” Nasihat nenek Maria membuat Livia mengeryit bingung tapi dia mencoba menyembunyikan kebingungannya itu.
“Aku tahu Nader orang baik grandma. Jadi grandma jangan khawatir, aku akan berusaha memperbaiki hubungan kami meski tak mengingat semuanya. Walaupun nanti dia tetap akan menceraikanku, aku pasti akan menerima semuanya karena mungkin inilah jalan takdirku.”
Jawaban Livia membuat nenek Maria tersenyum bangga. Dia melepaskan tangan Livia kemudian memejamkan kedua matanya.
Livia mencondongkan tubuhnya lalu mengecup sekilas kening nenek Maria. “Good night, grandma.”
Terlihat kalau nenek Maria tersenyum tipis. Livia pun melangkah pergi dari kamar itu mematikan lampu kemudian menutup pintu.
Seharian tanpa melihat Nader terasa nyaman baginya, tetapi entah kenapa ada sesuatu di hatinya yang terasa kosong dan hilang.
Apa itu?
Entahlah!
Livia meraba dadanya merasa mungkin kekosongan itu karena berjauhan dengan kedua orang tua asuhnya dan juga adiknya.
Ketika Livia baru saja sampai ke depan pintu kamarnya. Sebuah panggilan masuk dari Nyonya Naresha. Ia pun segera masuk lalu menutup pintu.
“Ya Mom, ada apa?”
“Apa Nader sudah memberitahukan kalau besok ada pesta tahunan perusahaan?” Nada bicara Nyonya Naresha terdengar khawatir di telinga
“Ya. Dia sudah memberitahuku, memangnya kenapa? Mom terdengar khawatir seperti itu?”
“Mommy yakin kalau Naura akan datang ke sana.”
“Naura? Siapa dia?” Livia baru mendengar nama itu.
Nyonya Naresha pun menceritakan semuanya. Meski semua orang tahu kalau Lissa hilang ingatan, apakah mereka akan percaya kalau dia juga melupakan sahabat dari kecilnya, Naura. Dia juga sedikit menceritakan bagaimana hubungan Lissa dan Naura sebatas sepengetahuannya saja supaya Livia tidak terlalu kaku, canggung dan mencurigakan jika berhadapan dengan Naura.
Setelah pembicaraan selesai.
Livia duduk kemudian merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia benar-benar tak tahu masalah apa lagi yang tengah menantinya di depan sana? Sanggupkah dia bertahan dalam lingkaran orang-orang yang tak dikenalnya itu.
Sambil menatap langit-langit kamar. Terlintas bayangan Hiro di depan matanya. Livia mulai memejamkan kedua matanya sambil membayangkan kalau Hiro mungkin sudah menikah dengan gadis pilihan kedua orang tuanya.
Ya. Dia yakin hal itu dan dia tak berani bertanya pada Ronnie tentang Hiro karena sudah pasti adiknya itu tidak akan suka jika tahu kalau dirinya masih memikirkan Hiro dan mungkin Cinta yang masih ada di dalam hatinya itu akan selalu menjadi duri yang menancap tajam, terus melukainya. Tak terasa ia pun tertidur dengan kedua kaki ke bawah.
Sekitar pukul 22.30 PM.
Akhirnya pekerjaan Nader selesai juga.
Ramon menawari tumpangan pulang pada Hiro dikarenakan dorm tempatnya tinggal lumayan jauh dari perusahaan.
Nader pun pulang dengan wajah lesu karena lelah sekali. Seharian bekerja membuat kepalanya sedikit pening dan juga kedua matanya pedih.
Ketika sampai di Mansion. Seperti biasa dia hanya disambut oleh pelayan. Sambil memberikan tas kerjanya pada seorang maid ia lalu bertanya pada Divo. “Apa grandma sudah tidur?”
“Ya Tuan, beliau sudah tidur,” jawab Divo mengangguk pelan.
“Di mana Lissa?”
“Nyonya muda dari tadi sudah masuk ke dalam kamar.”
Nader mengembuskan napasnya.
Divo melihat ada gurat kelelahan di wajahnya. “Tuan, apa Anda ingin saya buatkan minuman hangat?”
Nader memijit tengkuk lehernya. “Tidak usah Divo, saya akan pergi mandi dan langsung tidur. Hari ini lelah sekali.”
“Selamat istirahat, Tuan,” ucap Divo menatap punggung Nader yang mulai menaiki tangga.
Nader sampai di kamar, ia membuka pintu kemudian masuk. Dilihatnya Lissa tertidur dengan kedua kaki masih ke bawah. Dia yakin kalau tadi Lissa sedang duduk kemudian tiduran dan tertidur beneran. Dia bahkan tak memakai selimut.
Nader menggendong Livia kemudian membaringkannya ke tempat tidur lalu menyelimuti setengah d**a. Kedua matanya kini menatap bibir Livia yang merah muda meski tak memakai polesan lipstik. Bibir yang entah sejak kapan membuatnya kecanduan.
Perlahan dia mencondongkan tubuhnya lalu mengecup sekilas bibir Livia. Setelah itu dia tersenyum sinis. Jika aku tak bisa membuatmu mengaku bahwa saat ini kau berpura-pura hilang ingatan. Aku pasti akan membuatmu menderita dan mengingat semua apa yang telah kau lakukan padaku. Dan nanti penyesalanmu takkan ada artinya lagi. Kalian berdua akan bertekuk lutut di bawah kakiku untuk meminta pengampunanku. Batinnya geram sekaligus misterius.
Bersambung.