“Marahnya orang pendiam lebih mengerikan daripada marahnya orang yang terbiasa marah-marah. Karena orang yang pendiam tak bisa mengontrol emosinya sebab mereka jarang sekali bisa mengekpresikan seberapa besar kemarahannya itu.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
Livia terbangun di pagi harinya. Perutnya lapar sekali karena dari kemarin siang belum makan. Ketika dia bangkit dari tidurnya. Dilihatnya Nader seperti biasa tidur di sampingnya sehingga membuatnya terkejut bukan main. Livia. Apa yang kau lakukan? Bodohnya kau sampai tak sadar dan tertidur lelap sekali. Rutuknya dalam hati.
Sebelum Nader terbangun. Livia bergegas turun dari ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lama Nader bangun kemudian langsung duduk untuk menyadarkan dirinya. Dia juga dari kemarin siang tak makan jadi merasa lapar sekali. Melirik jam masih terlalu pagi untuk siap-siap pergi ke kantor. Ketika menoleh ke samping, terkejut melihat Lissa sudah tidak ada di sana. Langsung bangkit untuk mencari pergi ke mana Lissa sepagi itu?
Nader membuka ruang pakaian tak ada di sana. Kemudian dia hendak membuka kamar mandi. Namun mendengar suara gemericik air membuatnya sedikit tenang. Ia kemudian kembali masuk ke dalam ruang pakaian. Tak berapa lama ia keluar dari sana membawa pakaian sehari-hari Livia kemudian ditaruhnya di atas ranjang.
Livia keluar dari kamar mandi menjadi salah tingkah kala melihat Nader sudah berdiri di dekat ranjang. “Ka-kau sudah bangun? Mau masuk ke kamar ma-mandi ini juga?” Entah kenapa kalau bicara dengan Nader selalu membuatnya gelagapan.
Nader menunduk melihat kaki Livia. “Apa kakimu sudah tak apa-apa? Kenapa tak membangunkanku agar aku-”
“Sudah baikan. Cream yang diberikan dokter kemarin membuat lukanya cepat sekali sembuh dan sudah tak sakit,” potong Livia cepat. Dia tak mau jika harus dipangku terus oleh Nader.
“Baguslah, hari ini tinggallah di rumah jangan ke mana-mana sebelum kakimu sembuh total.” Nada bicara Nader selalu saja dingin dan datar.
Tapi itu sudah biasa bagi Livia. Meski baru dua hari tinggal bersama Kakak iparnya itu, Livia sudah bisa mengerti sikap dan sifat Nader walau sedikit demi sedikit serta perlahan-lahan.
Nader masuk ke dalam kamar mandi karena sudah malas menggunakan kamar mandi di kamar lain. Sementara Livia mengembuskan napasnya jengah melihat pakaian untuk hari itu sudah disiapkan juga oleh Nader. Dengan enggan dia memakainya.
Livia turun duluan untuk ikut menyiapkan sarapan serta menyapa nenek Maria.
Nader sudah siap pergi ke kantor. Dia turun untuk sarapan dahulu. Dilihatnya Lissa tampak sedang bercanda dengan neneknya di meja makan. Itu adalah pertama kalinya Nader melihat neneknya seceria sampai tertawa terbahak-bahak setelah sekian lama ini.
Nenek Maria menoleh melihat kedatangan Nader. “Ahaha, cucuku. Apa kau pernah mendengar kalau istrimu membuat lelucon yang sangat lucu sekali?”
Ekspresi wajah Nader tetap saja datar. Sejak kapan Lissa bisa mengeluarkan lelucon yang lucu?
Seorang pelayan menyodorkan sepiring nasi goreng pada Nader.
Nader tampak heran dan terlihat marah. “Siapa yang mengganti menu sarapan pagi ini? Cepat panggil chef ke sini!”
Nenek Maria tersenyum dan sudah tahu kalau Nader pasti akan kesal. “Itu istrimu yang membuatnya. Sekali-kali makanlah masakan istrimu dan mengganti menu sarapan. Jangan makan roti terus.”
Nader semakin heran. Sejak kapan pula Lissa bisa memasak? Apa dia sedang di dalam mimpi.
“Cobalah, ternyata masakan istrimu enak sekali,” kata nenek Maria lagi.
“Aku tidak lapar dan sudah terlambat ke kantor.” Nader segera bangkit dari kursi bergegas pergi meninggalkan neneknya dan Livia yang bengong melihat sikapnya.
Nenek Maria kembali tersenyum tipis. Dia tahu kalau Nader sangat lapar tetapi egonya masih mencegahnya untuk luluh di hadapan Lissa.
Nader naik ke dalam mobil kemudian membuka laptop. Seharusnya kemarin ia menyelesaikannya tetapi karena mabuk dan ikut tertidur jadi terbengkalai. Dia harus segera menyelesaikan hari itu juga masalah perusahaan di Los Angeles tanpa harus pergi ke sana karena itu bukan saatnya pergi lagi meninggalkan Lissa sebelum semua jelas baginya.
Di dalam Mansion.
Dari pagi sampai tengah hari, Livia hanya berkeliling di dalam Mansion atau menonton televisi. Tak ada yang bisa dia lakukan di sana. Sungguh membosankan, sangat membosankan. Jika dia di kampungnya. Bisa melakukan segudang kegiatan. Bisa membantu Ayahnya di kebun saat Ayahnya masih sehat. Bisa memancing di sungai bersama Ronnie sepulang sekolah. Bisa membantu Ibunya memetik sayuran. Sungguh ingin sekali dia segera pulang apalagi Ayahnya sudah hampir baikan dan akan segera sembuh.
Livia berjalan ke arah jendela melihat halaman belakang yang masih kosong karena akan di renovasi. Karena dia sedang jenuh, jadi dia akan merenovasi halaman kosong itu saja agar menjadi taman yang dia inginkan.
“Lissa.” Nenek Maria mendekatinya.
“Ya grandma, ada apa?”
“Aku akan pergi ke rumah sakit untuk periksa rutin. Karena kakimu belum sembuh total, jadi tinggallah di rumah jangan ke mana-mana. Jika ada apa-apa, segera hubungi suamimu atau langsung saja beritahu butler yang ada di sini.”
“Grandma jangan khawatir, di sini banyak orang jadi tidak akan terjadi apa-apa padaku,” jawab Livia tersenyum senang. Jika keduanya tak ada di rumah, dia bisa menelepon Ronnie untuk berbicara dengan kedua orang tuanya.
Nenek Maria hendak pergi bersama dua pelayannya.
“Grandma,” panggil Livia.
“Hmmm?” Nenek Maria kembali menoleh pada Livia.
“Bolehkan aku yang menghias halaman kosong itu menjadi taman?” tanya Livia ragu takut tak diizinkan.
Nenek Maria menoleh ke arah jendela menatap halaman. “Di rumah ini ada banyak pegawai kebun, jadi kenapa kau repot-repot mengurusnya?”
Livia menggenggam tangan nenek Maria dengan kedua tangannya untuk memohon. “Grandma, aku sangat senang sekali menanam bunga. Jadi izinkan aku untuk melakukannya.” Dengan tampang memelas, Livia menatap nenek Maria.
Nenek Maria memang sedikit heran. Tapi melihat ekspresi bosan Lissa dari tadi pagi, ia pun mengangguk mengizinkan.
“Ahh, benarkah. Thank you grandma.” Saking senangnya Livia memeluk nenek Maria membuatnya terbatuk-batuk. “Maaf,” ucapnya tersipu malu.
“Pergilah, tapi ingat jangan terlalu kelelahan. Nanti suamimu bisa marah melihatnya dan hati-hati dengan kakimu,” kata nenek Maria menepuk-nepuk pelan punggung tangan Livia.
“Kira-kira sekitar jam berapa Nader pulang dari kantor?” tanya Livia belum tahu jadwal pulang Nader karena kemarin mereka pulang cepat sebelum jam pulang.
“Nader biasa pulang sekitar jam lima sore.”
“Jam lima, masih banyak waktu dan aku bisa menyelesaikan taman sebelum jam lima sore pastinya,” kata Livia yakin. Taman kecil itu akan dia hias seindah mungkin.
“Ingatlah, suruh pegawai agar membantumu supaya kau tidak terlalu kelelahan.” Nenek Maria melepaskan pegangan tangan Livia sembari tersenyum.
Livia hormat sembari tersenyum. “Laksanakan grandma.”
Nenek Maria akhirnya pergi untuk check-in rutin ke rumah sakit.
Livia berjingkrak kegirangan. Ia segera mengambil ponselnya kemudian pergi ke halaman belakang. Dilihatnya ada banyak bibit bunga rose dan yang membuatnya heran, kenapa hanya ada red rose saja di sana? Tak ada jenis bunga lainnya. Jika diperhatikan memang seluruh taman itu hanya ditumbuhi bunga Mawar saja.
Livia bertanya pada pegawai kebun. “Maaf, kenapa seluruh taman hanya ada bunga rose saja? Apa tidak ada jenis bunga lain di kota ini?”
“Oh, banyak Nyonya. Tapi sebulan terakhir ini, Tuan Nader menyuruh kami hanya menanam bunga rose saja dan yang paling utama red rose,” jawab pegawai itu mengira kalau Nader sangat menyukai bunga Mawar merah saja atau sejenis Mawar.
Livia mengernyitkan keningnya sekilas. Sebulan terakhir, berarti ketika perpecahan antara kakaknya dan Nader.
“Nyonya?”
“Akh ya?” Livia terkesiap kala pegawai kebun memanggilnya.
“Apa ada bunga yang ingin Anda tambahkan selain bunga-bunga ini?” tanya pegawai melihat kalau selera Nyonya Mudanya itu berbeda dengan Tuannya Nader.
Livia tampak berpikir. “Bunga rose memang indah. Tetapi taman akan tampak hidup jika ditanam bunga yang berbeda. Kalau begitu, tolong tanam berbagai jenis bunga lain supaya taman ini semakin indah.”
Para pegawai kebun heran sekaligus ikut tersenyum. Selama bertahun-tahun bekerja di Mansion itu dan untuk pertama kalinya Nyonya muda mereka sangat mempedulikan taman. Dulu jangankan mengurus taman, memperhatikannya saja tak pernah.
Semuanya tampak semangat bekerja dan mendatangkan berbagai jenis bunga dari tempat pembibitan mereka.
Livia tak lupa menelepon video kedua orang tuanya di Indonesia dan mengobrol penuh dengan haru dan canda tawa. Akhirnya dia melihat kembali tawa Pak Trino dan dia terus berdoa semoga Ayahnya itu segera sembuh.
Di kantor.
Nader sering sekali memikirkan tingkah laku aneh Lissa. Perubahan yang sangat besar baginya dalam waktu sesingkat itu. Masih banyak rahasia yang belum terungkap dan juga masih ada satu puzzle yang hilang yang harus segera dia temukan untuk melengkapi puzzle lainnya.
Dia masih bertanya-tanya. Jika Lissa berpura-pura, kenapa saat dirinya menawarkan warisan yang menggiurkan ditolak begitu saja olehnya? Apa itu hanya untuk meluluhkan lagi hatinya? Atau hanya sandiwara semata untuk mempertahankan harga dirinya?
Harga diri?
Nader tersenyum sinis kala memikirkan harga diri. Baginya Lissa sekarang hanyalah sebuah boneka untuk membalas sakit hatinya. Dia ingin Lissa merasakan juga bagaimana tersiksanya dia selama sebulan terakhir ini.
Pengkhianatannya benar-benar tak bisa dimaafkan tetapi tak bisa juga dibiarkan berbunga dengan musuhnya Vicky. Jika dia cepat menceraikan Lissa. Sudah pasti Vicky akan mendapatkannya dengan mudah sekali. Apa salahnya dia membiarkan sepasang burung Cinta itu tak cepat bersatu dan merasakan penderitaan terdahulu atas pembalasannya.
Knockk knockk.
“Masuk.”
Ramon masuk dengan sebuah map. “Sir. Pegawai pindahan dari Indonesia sudah datang. Apa Anda ingin segera menginterview-nya atau suruh dia datang besok pagi?” Dia kini berdiri di dekat meja Nader.
Nader berpikir sejenak. “Biarkan dia masuk.”
Ramon mengangguk sembari menyodorkan map yang dia bawa ke hadapan Nader kemudian kembali ke pintu menyuruh seorang pria yang dari tadi berdiri gelisah di depan pintu kantornya untuk segera masuk.
“Masuklah.” Ramon menyuruh pemuda itu masuk. Seorang pemuda dengan kemeja berwarna biru muda serta tas laptop di tangannya melangkah masuk ke dalam. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang kantor Nader kemudian membungkuk sedikit memberi hormat pada Nader. “Senang bisa bertemu langsung dengan Anda, Tuan Nader.”
Nader menatap pemuda itu dari atas sampai bawah. Terlihat kalau dia baru saja sampai ke Negaranya kemudian langsung datang ke kantornya karena mungkin tahu kesibukan Nader yang tak pernah membuang waktu dan pemuda itu tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas yang dia berikan padanya.
Ramon menutup pintu kemudian mendekati keduanya.
“Duduklah.” Nader menyuruh pemuda itu duduk lalu membuka map data diri pemuda tersebut.
Hiro Karezi Merro? Nader membaca nama yang terpampang di map itu. Tentang lulusan dan juga presentasinya. “Apa kau asli keturunan Jepang?”
“Ya. Ayah asli Jepang tapi saya lahir di Indonesia.” Ternyata itu adalah Hiro. Mantan pacarnya Livia yang berhasil menarik perhatian Nader karena sebuah aplikasi yang dia ciptakan baru-baru ini di perusahaannya di Indonesia.
Awal pertama Nader melihat aplikasi yang diciptakan oleh Hiro adalah ketika di Los Angeles. Partner kerjanya menawarkan sebuah aplikasi baru dari perusahaan cabang sahabatnya yang berada di Indonesia. Setelah diteliti dengan baik, Nader tertarik lalu menawarkan pekerjaan untuk di Tim Pengembang di perusahaannya.
Setelah seminggu menunggu. Akhirnya karena tawaran Nader menjadikan perusahaan tempat Hiro bekerja untuk menjadi cabang mereka satu-satunya di Indonesia. Dengan senang hati, boss Hiro menerima tawaran itu lalu mengoper Hiro bekerja di perusahaan Nader di Australia sebagai perwakilan mereka juga.
Hiro tampak diam terus memperhatikan apa yang Nader baca.
“Sudah berapa lama kau bekerja di perusahaanmu itu?”
“Maaf, kalau perlu dijelaskan. Saya tak bekerja di perusahaan yang berada di Jakarta tetapi di cabangnya yang ada di sebuah pedesaan selama beberapa tahun lalu. Kemudian baru dua minggu ini saya dapat panggilan oleh boss yang ada di Jakarta dan sekarang saya ada di sini memenuhi tawaran Anda,” jelas Hiro ragu. Apakah dia bisa diterima oleh boss besar dan terkenal seperti yang berada di hadapannya saat ini?
Selama ini Hiro mendengar kalau pegawai di perusahaan yang satu gedung dengan Nader tersebut adalah pegawai pilihan semua, jadi tak ada yang bisa masuk sembarangan bekerja ke sana. Jantungnya berdebar kencang karena kini berada di perusahaan hebat tersebut.
“Apa boss-mu sudah menjelaskan semuanya?” tanya Nader masih sibuk membaca dengan teliti map identitas Hiro.
“Ya. Boss saya sudah menjelaskan semuanya kenapa saya dipanggil ke perusahaan Anda. Jadi, apakah-”
“Tunjukkan detail aplikasi yang telah kau buat itu,” potong Nader menutup map lalu menatap Hiro.
“Oh, tentu saja Sir. Dengan senang hati.” Hiro mengeluarkan laptopnya kemudian mengetik-ngetik sesuatu di sana. Dia membalikkan laptop agar menghadap ke arah Nader.
Ramon yang dari tadi terdiam kini berpindah ke samping kursi Nader dan berdiri di sana untuk ikut melihatnya. Keduanya sesekali saling melirik melihat bagaimana cara kerja aplikasi baru yang dibuat original oleh Hiro.
Video tersebut hanya beberapa menit saja. Setelah selesai. Hiro menelan salivanya berat. Dia merasa aplikasinya takkan masuk ke dalam perusahaan besar tersebut.
“Ramon, bagaimana menurutmu?” tanya Nader memecah keheningan di ruangannya itu.
“Bagus. Meski masih ada beberapa kelemahan dan kekurangan aplikasi itu. Menurut saya, akan bagus untuk disempurnakan dan nanti melengkapi ponsel baru yang akan kita luncurkan beberapa bulan ke depan, sir,” jawab Ramon mengeluarkan semua pendapatnya.
“Kau benar,” jawab Nader tampak berpikir. Dia menoleh menatap Hiro yang masih tegang dari tadi. “Apa kau mempunyai ide untuk aplikasi baru lain?”
“Sebenarnya banyak, Sir. Tapi karena satu aplikasi ini saja belum sempurna dan masih banyak yang harus diperbaiki. Jadi ide lain belum saya kembangkan lagi,” jawab Hiro tegang namun mencoba terus terlihat tenang.
Nader kembali berpikir. “Baiklah, mulai besok kau boleh masuk kerja dan akan ditempatkan di Tim Pengembang. Ramon akan menjelaskan semuanya bagaimana cara kerja serta semua peraturan di perusahaan ini yang akan tertera di kontrak kerja nanti dan kau tinggal menandatanganinya.”
Senyum Hiro mengembang seketika mendengar akhirnya dia diterima di sebuah perusahaan hebat seperti perusahaan Alvaro.Crop.Company.
“Sa-saya senang bisa diterima di perusahaan ini, Sir. Saya akan berusaha semaksimal mungkin mencurahkan kemampuan saya di perusahaan ini.” Hiro akhirnya bisa bernapas lega karena diterima juga di sana.
“Selamat bergabung di perusahaan kami, Hiro,” ucap Ramon tersenyum sementara Nader tampak sedikit melamun.
Ramon tahu apa yang mengganggu pikiran Nader akhir-akhir ini sehingga membuatnya sering sekali melamun. Ia pun mengajak Hiro untuk ke ruangannya menandatangani kontrak kerja membiarkan Nader berpikir dengan tenang di dalam kantornya itu.
Hiro hanya membungkuk sekilas tak berani mengganggu boss barunya itu lalu mengikuti Ramon.
Nader mengembuskan napasnya pelan. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Bahkan makan siang pun di dalam kantor.
Hari sudah hampir petang dan langit terlihat mendung.
Karena dari tadi tak merasa tenang, akhirnya Nader menelepon Divo apa yang dilakukan Lissa saat itu.
Divo mengatakan kalau dari tadi siang. Nyonya mudanya berada di halaman belakang.
“Apa dia sudah makan siang dan meminum obatnya?”
Divo tampak ragu untuk menjawabnya.
“Divo?” Nada bicara Nader hampir saja tinggi karena yakin kalau Lissa pastinya belum meminum obatnya dan benar saja Divo menjawab kalau Lissa belum makan siang atau meminum obatnya.
Sebenarnya bukan kesalahan para pelayan karena dari tadi mereka sudah menyediakan makan siang serta obatnya. Namun, begitulah Livia. Jika sudah berurusan dengan tanaman akan lupa segalanya meski para pelayan membujuknya untuk makan siang dahulu dan meminum obatnya.
Nader tahu kalau hari itu adalah hari neneknya periksa rutin ke rumah sakit dan diinfus sampai beberapa kantong cairan infusan sehingga dia pasti akan pulang sedikit malam. Diliriknya jam, satu jam lagi dia akan selesai pekerjaannya. Namun, kala mendengar kalau Lissa belum makan siang dan meminum obatnya. Ia pun segera menutup map kemudian membereskan tas kerjanya.
Knockk knockk.
“Masuk.”
Ramon masuk ke sana membawa berkas yang lain tetapi bukan berkas tentang pekerjaan.
“Ada apa Ramon?”
Ramon tampak heran melihat Nader terburu-buru membereskan semua berkas dan laptop ke dalam tasnya. “Apa Anda akan pulang, Sir. Apa ada masalah?” tanyanya sebelum menjelaskan tentang berkas yang dibawanya.
“Ya, karena Lissa …,” ucapannya menggantung dan mustahil kalau dia harus mengatakan akan cepat pulang karena istrinya belum makan. “Berkas apa itu?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Oh, ini adalah berkas keuangan dari departemen keuangan. Bukankah dua hari lagi akan diadakan pesta tahunan perusahaan. Jadi ini adalah laporan untuk biaya dan semuanya,” jelas Ramon menyodorkan berkas itu pada Nader.
Nader terlihat mengembuskan napasnya berat. Dia sungguh lupa kalau dua hari lagi pesta tahunan perusahaannya. Sudah pasti akan banyak yang harus dikerjakan. “Kalau begitu, kau urus saja semuanya dan sisanya aku yang akan membereskannya.”
“Baik Sir. Ada lagi yang hendak dikerjakan?” tanya Ramon masih menunggu di sana.
Nader bangkit dari duduknya sambil meraih jas yang menggantung di belakang kursinya. “Aku akan pulang cepat hari ini, jika ada berkas penting yang belum sempat aku tandatangani. Kau antarkan saja ke Mansion.”
Ramon mengangguk mengerti.
Nader memakai jas kemudian menjinjing tasnya melangkah pergi dari ruangannya itu.
Semua sekretarisnya berdiri dan mereka sudah bisa menerka kalau boss-nya itu pulang cepat karena khawatir pada istrinya semenjak kejadian kemarin tentang kaki Lissa.
Di Mansion.
“Hah, akhirnya selesai juga,” kata Livia menatap seluruh halaman kosong telah disulapnya menjadi taman indah dengan berbagai macam bunga warna-warni. Apalagi kalau sudah tumbuh dan berbunga banyak pastinya akan semakin indah dipandang
Tikkk ... tikkk.
Tiba-tiba tetesan air hujan mulai turun, dan Livia baru sadar kalau langit sudah mendung dari tadi.
Nader sudah sampai di sana langsung menanyakan di mana istrinya sambil menyodorkan tasnya agar disimpan di ruang kerjanya.
Para maid mengatakan kalau Nyonya muda mereka masih ada di halaman belakang.
Nader bergegas menuju ke pintu halaman belakang.
Livia saat itu tengah berlari menghindari tetesan hujan. Karena saking fokus berlari sembari menunduk tanpa melihat ke depan, tak sengaja dia menubruk tubuh Nader yang baru saja keluar.
Buugghhh!
Tubuh Livia oleng dan hampir jatuh. Untung saja kedua tangan Nader segera merangkul pinggangnya menahannya agar tak terjatuh. Kini tubuh keduanya merapat seolah berpelukan.
Livia mendongak menatap Nader dengan intens, begitu juga Nader menatap kedua mata Livia turun ke bibirnya.
Livia sedikit berontak melepaskan diri dari kedua tangan Nader. “Ka-kau sudah pulang?”
Nader tak menjawab malah menoleh menatap perubahan halaman belakang Mansionnya itu. “Siapa yang menyuruh menanam bunga yang berbeda-beda?” Nada bicaranya masih terdengar dingin tetapi menusuk seperti biasa. Tandanya dia sedang menahan emosinya.
“Karena di sini hanya ditanam satu macam bunga, jadi-”
“SIAPA?!” Bentak Nader membuat Livia sontak terkejut bukan main. Itu adalah pertama kalinya Nader meninggikan suaranya.
“A-aku.” Livia mulai kembali gemetaran. Apa ada yang salah? Memangnya kenapa jika taman ditanami berbagai macam bunga yang berbeda?
Nader mencengkeram kedua pinggir lengan Livia dengan telapak tangannya. “Siapa yang menyuruhmu menanami semua tanaman itu?” Giginya terlihat gemeretak masih menahan emosinya.
Dengan nada gemetaran sambil menunduk, Livia menjawab. “Ja-jadi kau tak suka-”
“YA. AKU TIDAK SUKA!”
Air mata mulai menggenang di kedua pelupuk mata Livia. “Baiklah, jika kau tak suka.” Ia segera menepis kedua tangan Nader yang ada di pinggir lengannya kemudian tanpa diduga, dia berlari masuk menerobos ke dalam hujan yang mulai deras.
“Lissa?!” Nader memanggil Livia yang berlari ke arah taman.
Di bawah hujan. Livia mulai mencabuti kemudian membuang semua tanaman bunga yang baru saja ditanamnya itu, dilemparkannya ke sembarang. Sebenarnya saat itu dia tengah menangis tetapi karena terguyur hujan, jadi air matanya tak terlihat bercampur hujan.
Di dalam hatinya dia menjerit. Berapa lama lagi dia akan bertahan? Sampai kapan dia harus menerima serta diam saja atas perlakuan Kakak iparnya itu? Seandainya waktu bisa diulang, mungkin saja dia takkan ikut Nissa temannya datang ke kota untuk melamar pekerjaan sehingga tak bertemu dengan Kakak sepupunya Ricko. Mungkin saat ini dia takkan berada dan tersiksa oleh Nader.
“Akkhh!” Ketika tangan kanannya menggenggam batang bunga rose yang hendak dicabutnya. Malah terkena duri-durinya dan ia pun terluka.
Mendengar jeritan Livia, Nader segera ikut menerobos hujan mendekatinya lalu langsung saja menggenggam tangan Livia kemudian ditariknya.
Livia mencoba melepaskan tangan Nader namun sia-sia karena pegangannya itu begitu kuat.
Nader terus menarik tangan Livia kembali ke teras Mansion. Setelah itu dia melepaskan tangannya. “KAU …?!”
Bersambung.