“Tidak ada yang namanya kesempatan terakhir. Tetapi yang ada kesempatan kedua dan seterusnya. Selama kata akhir itu belum ada, jadi kesempatan akan selalu berharga.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
Livia membulatkan matanya kala Vicky memeluknya sangat erat di bawah hujan. “Tolong lepaskan aku.”
“Ke mana saja kau Lissa? Aku sangat merindukanmu.” Vicky tetap tak mau melepaskan pelukan dan malah mempereratnya.
Livia menjadi aneh. Bukankah sopir tadi mengatakan bahwa pria itu adalah teman kakak kembarnya. Lalu, kenapa dia memeluknya sangat erat seperti itu? “Sekali lagi tolong lepaskan aku.” Ia masih tetap mencoba berontak.
“Aku takkan melepaskanmu lagi. Maafkan aku Lissa, aku sangat menyesal.” Vicky malah hendak mencium bibir Livia dan Livia terpaksa menahan bibir Vicky dengan tangannya.
“Apa-apaan kau ini? Maaf, aku tak mengenalimu. Jadi jangan paksa aku!” Livia mencoba berontak tetapi Vicky masih terus berusaha untuk menciumnya.
Pak sopir segera turun dan mencoba membantu Livia, namun sebuah pukulan dari Vicky mendarat di wajahnya membuat sang sopir terjengkang dan kini merintih di dekat trotoar jalan.
“Hahh, kenapa kau memukulnya?” Livia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, menjadi kasihan pada sang sopirnya.
Vicky tak menggubrisnya malah langsung menarik tangan Livia yang hendak menolong sopirnya. “Sekarang kau harus ikut denganku!”
“Aaakh, lepaskan aku! Help! Help me!” Livia berontak di bawah hujan. Tangannya yang masih ditarik Vicky secara paksa itu mulai terasa sakit.
“Kenapa meminta tolong? Aku akan membawamu ke tempat di mana kau akan cepat mengingat semua kenangan kita dan mengingat aku lagi.” Vicky juga sudah mengetahui kalau Lissa hilang ingatan. Jadi itu adalah kesempatan baginya untuk merayu lagi Lissa. Ia masih saja menyeret Livia dan Livia masih tetap tak mau ikut dengannya.
“Lepaskan!”
Tiba-tiba sebuah tangan memegang tangan Livia yang ditarik oleh Vicky.
Livia dan Vicky menoleh ke orang tersebut.
Nader? Pandangan Livia sedikit kabur karena selain di bawah hujan. Jalanan juga temaram oleh lampu sekitar.
“Lepaskan dia.” Nada bicara Nader masih terlihat biasa tetapi dingin dan menusuk.
“Kau lagi. Bukankah kau akan mencerai- bugghhh!” Sebuah pukulan dari kepalan tangan Nader menghentikan kalimat Vicky sehingga dia terjengkang ke atas jalan beraspal dan terpaksa melepaskan tangan Livia.
“Sudah kukatakan lepaskan dia,” kata Nader gemeretak geram. Dia kini menarik tangan Livia kemudian membawanya menuju ke mobil yang parkir tak jauh dari mereka. Setelah itu ia menyuruh Livia masuk ke dalam mobilnya.
“Masuk,” perintah Nader pada Livia yang masih berdiri di depan pintu mobil. “Aku bilang masuk!” Nadanya sedikit meninggi kala melihat Livia masih berdiri di dekat pintu mobil kehujanan sekaligus kebingungan.
Livia dengan ketakutan masuk juga ke dalam disusul oleh Nader yang ikut masuk juga.
“Nona?!” Sang sopir takut dimarahi oleh Tuan Prans, jadi dia menyusulnya dan menggetuk jendela mobil.
Nader membuka kaca jendela mobil lalu menyuruh sopir untuk pulang saja.
“Tapi-”
“Jangan khawatir. Aku yang akan mengantarkannya pulang.” Jawaban Nader membuat sang sopir mengerti karena dia memang masih suami sah Nona-nya itu.
Vicky bangkit hendak mengajak duel Nader. Tetapi mobil Nader langsung saja melaju tak menghiraukannya. “s**t. Damn it!” rutuknya kesal.
Ternyata dari tadi Nader juga mengikuti mobil yang ditumpangi Livia. Saat mobil Vicky menghentikan mobil Livia. Nader tahu dan membiarkannya. Bahkan di dalam hatinya dia mengira kalau Lissa masih tetaplah Lissa takkan berubah dan dia pasti akan ikut bersama dengan Vicky pergi ke hotel lagi.
Dari kejauhan Nader memperhatikan apa yang mereka lakukan. Namun, kala melihat Lissa ditarik paksa dan hendak dicium di bawah hujan deras tetapi terus menolak. Melihat pemberontakan Lissa menolak Vicky. Akhirnya Nader turun dari mobilnya kemudian terjadilah apa yang terjadi barusan.
Livia masih menunduk di dalam mobil tak berani menatap Nader yang sedang menyetir mobil.
Nader tampak masam mukanya dan juga tampak menahan amarahnya dari tadi.
“Ma-maaf. A-aku-”
“Tidak usah dijelaskan. Aku sudah tahu semuanya,” jawab Nader datar dan dingin.
Dia tahu apa? Kenapa Kakak ipar dingin sekali? Livia bertanya-tanya dalam hati. Bukankah Nyonya Naresha dan Tuan Prans menjelaskan kalau sikap Nader selalu baik serta pengertian. Kenapa Nader yang bersamanya sangatlah jauh berbeda dari apa yang dikatakan mereka? Sebisa mungkin dan mencoba menghilangkan canggungnya, Livia berusaha berbicara bahasa Inggris dengan terlihat normal meski dalam hatinya gemetaran takut bahasanya tak dimengerti Nader.
Mungkin saja kesalahpahaman kakaknya Lissa penyebab berubahnya Nader. Batin Livia masih menerka-nerka. Padahal dia tak tahu kesalahan fatal apa yang telah dilakukan Lissa sehingga membuat Nader berubah menjadi dingin dan sedikit kejam seperti itu? Bahkan mereka akan bercerai.
Mendadak mobil berhenti di depan sebuah rumah yang lebih besar dari rumahnya. Livia mengedarkan pandangannya ke sekeliling di mana hujan masih belum berhenti namun mobil itu berhenti di halaman yang dinaungi oleh beton rumah sehingga tak terhujani.
Nader bukan mengantarkan Livia ke rumah kedua orang tuanya tetapi membawanya ke mansionnya.
“Di mana ini? Kenapa kau membawaku ke sini? Ru-rumah siapa ini?” pertanyaan Livia membuat Nader mengernyitkan keningnya. Apakah benar kalau dia hilang ingatan?
“Turunlah.” Hanya itu yang keluar dari mulut Nader dan dia turun duluan disusul oleh Livia yang dibukakan pintu oleh penjaga.
Livia hanya menurut saja turun dari mobil dengan gaunnya yang basah kuyup itu. Tak berapa lama, banyak pelayan serta seorang nenek tua yang menyambut kedatangan mereka di depan pintu.
Ketika melihat nenek tua tersenyum menyambut mereka. Dengan nada pelan. “Siapa dia?” tanya Livia berjalan menyusul Nader dan mensejajarkan langkah dengannya.
“Nenekku.” Selalu saja singkat jawaban yang dikeluarkan Nader.
Livia menelan salivanya berat. Kenapa dia sampai lupa siapa nenek tua yang berada di rumah Nader yang telah diceritakan oleh kedua orang tuanya.
“Lissa?” nenek Maria terlihat sedikit terkejut melihat kedatangan Nader bersama Lissa, wanita yang akan diceraikannya.
Livia mencoba tersenyum dan hampir keceplosan memanggil nenek Maria dengan panggilan nenek (Indonesia). “Ne-”
“Grandma. Dia akan menginap malam ini di sini,” kata Nader memotong perkataan Livia saat Livia hendak memanggilnya dengan panggilan nenek.
Livia bengong. Kapan dia berkata akan menginap di sana? “Tapi-”
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Lagi-lagi ucapan Livia dipotong Nader dan Livia tak bisa protes lagi.
Untung saja Livia tak memanggil dengan sebutan nenek. Tetapi meski begitu, semua orang menganggapnya hilang ingatan jadi meski dia selalu salah, mereka memakluminya.
Livia tersenyum kikuk. Jadi sebutan wanita tua itu grandma, nenek dalam bahasa Inggris.
“Kenapa kalian basah kuyup begini? Apakah kalian sudah melakukan syuting film India?” goda nenek Maria membuat Livia menunduk malu. Sementara Nader hanya berdecak.
“Ckk, nanti akan aku jelaskan semuanya. Jadi, segera antarkan Nyonya Muda ke kamarnya.” Nader menyuruh salah satu maid mengantarkan Livia ke kamar yang berada di lantai dua.
“Baik Tuan Muda,” jawab salah satu pelayan.
“Ikutlah dengannya dan mandilah, nanti kamu sakit, Lissa.” Nenek Maria selalu saja perhatian membuat Nader memutar matanya jengah.
Livia kembali tersenyum sembari mengangguk. Akhirnya dia menurut saja mengikuti satu pelayan. Sepanjang berjalan menuju kamarnya yang di lantai dua. Livia selalu terkagum-kagum melihat isi rumah itu lebih mewah dari pada rumah orang tuanya. Pantas saja kedua orang tua kandungnya melakukan segala cara agar bisa menyelamatkan perusahaan mereka. Kini dia mengerti kenapa mereka terpaksa menyuruhnya untuk menyamar menjadi Lissa. Karena kunci mereka ada pada Nader dan perjanjian itu akan berakhir sebentar lagi.
“Silakan masuk Nyonya Muda.” Pelayan itu berhenti di depan salah satu pintu-pintu yang saling bersampingan lalu membukakan pintu untuknya.
Livia tersenyum sambil mengucapkan terima kasih lalu masuk ke dalam kamar. Ia mengerjap beberapa kali melihat seisi kamar itu. Begitu luas dan besar melebihi kamar di rumah kedua orang tuanya, ada sofa panjang dan satu sofa biasa di dekat jendela serta televisi yang besar pula. Dua pintu lain tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
“Sebaiknya aku mandi dahulu sebelum sakit.” Livia memutuskan untuk mandi terdahulu. Ia membuka satu pintu dan ternyata itu hanya ruang pakaian. Berarti kamar mandinya pintu sebelahnya lagi.
Livia menutup pintu ruang pakaian lalu melangkah menuju pintu satunya. Ketika dibuka. Ada Bathtub berbentuk bundar besar di tengah kamar mandi seperti kolam. Di meja kaca yang bersusun terdapat banyak sekali jenis sampoo dan sabun tetapi satu merek.
Ada shower room dengan dinding kaca sebagai penyekat. Toilet dan juga wastafel berada di sudut lain kamar mandi tersebut. Begitu rapi, mewah dan harum pastinya.
“Kamar tamu seperti kamar utama,” gumamnya tersenyum lalu langsung membuka pakaiannya kemudian mandi di tempat shower karena tubuhnya mulai terasa kedinginan sekali.
Nader pun pergi ke kamar yang lain kemudian mandi sebelum menjelaskan semuanya kepada nenek.
Seusia mandi.
Livia keluar memakai bathrobe dengan handuk di kepalanya. Ia terkejut melihat Nader sedang duduk di pinggir ranjang dengan sebuah amplop besar berwarna cokelat terang di tangan kanannya dan satu setel baju tidur sudah dipersiapkan di atas tempat tidur.
Nader sudah berpakaian rapi karena dia sengaja menyelesaikan mandinya dengan cepat karena ada sesuatu yang hendak dibicarakan dengan Livia yang pasti dianggapnya Lissa itu.
Livia mengerjap kemudian membalikkan badannya membelakangi Nader. “Ke-napa kau ada di sini?” tanyanya malu karena masih memakai mantel handuk.
“Kenapa aku ada di sini?” Nader malah mengulangi pertanyaan Livia seraya tersenyum miring. “Apa benar kau hilang ingatan, Lissa? Bukankah ini kamar kita berdua?” ujarnya sembari bangkit berdiri. Nadanya masih menunjukkan ketidak percayaannya kalau Lissa benar-benar hilang ingatan.
Lagi-lagi Livia menelan salivanya berat. Jadi kamar itu bukan kamar tamu melainkan kamar Nader dengan kakaknya Lissa. Itu berarti apakah dia harus sekamar dengannya juga? Itu sudah pasti, pertanyaan bodoh apa yang kini berputar di otaknya itu? Bukankah dia ke sana memang harus berpura-pura menjadi Lissa. Namun, apakah dia sanggup bertahan serumah dan sekamar bersama Kakak iparnya itu. Bagaimana jika ...?
“Hey, aku bicara kepadamu?!” Nada sedikit tinggi dari Nader membuyarkan semua lamunan Livia.
“Bi-sakah kau keluar dulu sebentar? Aku akan memakai pakaianku dulu,” pinta Livia benar-benar malu. Sebagaimana pun juga, pria itu adalah Kakak iparnya dan perannya hanya sebagai pengganti Lissa, bukan menjadi istri sungguhannya dan dia berpura-pura sampai batas waktu yang ditentukan.
Nader malah menatap tajam pada punggung Livia lalu berjalan mendekatinya. Ketika berdiri tepat di belakang punggung Livia. Harum sabun rempah-rempah menyeruak masuk ke dalam penciuman Nader membuatnya memejamkan kedua matanya antara rindu dan juga benci hadir sekaligus di dalam hatinya.
“Baiklah, aku akan keluar sebentar lalu kita bicarakan semuanya. Bacalah baik-baik kertas yang ada di amplop ini kemudian beritahu apa keputusanmu nanti.” Nader menyodorkan amplop besar itu ke samping tanpa berhadapan dengan Livia lalu segera diterima oleh Livia dari samping juga tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
Setelah memberikan amplop tersebut. Nader keluar dari kamar berjalan menuju ke bawah untuk menemui neneknya yang ada di mansion sebelahnya.
Livia memukul-mukul pelan kepalanya. Seharusnya dia tahu kalau itu kamar Lissa dan Nader dari pakaian yang ada di ruang ganti yang dibukanya tadi. “Kau memang bodoh Livia, bagaimana kau bisa sekampungan ini?”
Sebelum Nader masuk ke sana dan dia belum berpakaian juga. Livia menaruh amplop di atas ranjang lalu bergegas masuk ke dalam ruang ganti kemudian memakai baju asal saja yang penting agak tertutup. Pakaian sehari-hari Lissa.
Setelah memakai pakaian. Livia keluar dari ruangan itu, duduk di pinggir ranjang membuka amplop lalu mengeluarkan isinya yang terdiri dari beberapa kertas kemudian membacanya.
Ternyata kertas perceraian. Dia membacanya dengan teliti meski tulisannya semuanya Inggris dan dia tak sebodoh itu, dari perjanjian pra nikah dulu. Lissa akan mendapatkan 40% dari harta yang dimiliki oleh Nader di saat ulang tahun Nader yang hanya tinggal dua bulan lagi. Selain itu, tercatat juga 100 M milik Tuan Prans dan Nyonya Naresha.
Namun, karena ulang tahun Nader masih dua bulan lagi dan juga ulang tahun pernikahan mereka yang hanya tinggal 10 hari lagi. Akhirnya Lissa hanya bisa mendapatkan 15% dari perjanjian pra nikahnya setelah bercerai nanti.
Livia tampak mencerna setiap kata di dalam kertas itu. Apakah jika dia menandatangani kertas perceraian itu, perusahaan kedua orang tuanya akan selamat dan tidak akan bangkrut? Jika begitu, itu berarti dia tak usah berpura-pura menjadi Lissa dan dia akan segera berkumpul kembali dengan kedua orang tua serta adiknya di kampung.
Ketika dia sudah hampir selesai membaca. Nader yang sudah menjelaskan apa keputusannya pada neneknya itu kembali lagi masuk ke dalam kamar dan lagi-lagi Livia selalu kaget atas kedatangannya.
“Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dahulu?” tanya Livia karena kaget.
“Mengetuk pintu? Ini kamarku dan juga rumahku, jadi aku bebas untuk masuk kemanapun aku mau.” Selalu saja jawaban Nader terdengar dingin dan sadis.
Livia selalu malas untuk berdebat.
Nader duduk di kursi sofa satunya sambil menatap tajam Livia. “Apa kau sudah membaca semuanya?”
Livia mengangguk cepat.
“Apa kau menyesali apa yang sudah kau lakukan padaku? (berkhianat dan berselingkuh dengan Vicky).”
Livia tampak tak mengerti. Sebenarnya apa kesalahan Lissa sehingga Nader sangat marah padanya sampai hendak menceraikannya seperti itu? “Aku memang tak mengingat apa yang telah aku lakukan padamu dan kesalahan apa yang telah aku perbuat sehingga menyakitimu. Tapi, jika ini memang maumu. Baiklah, aku setuju dan aku hanya minta satu syarat kepadamu.”
“Apa itu?” tanya Nader menyilangkan kedua tangannya di d**a sambil sandaran ke sofa. Dia yakin jika Lissa akan meminta bagian dari hartanya yang 40% pastinya. Atau meminta salah satu hotel miliknya untuk dikelola.
“Aku tak mau menerima uang apa pun darimu dan menolak 15% dari harta warisanmu. Aku hanya ingin kau menstabilkan saham serta perusahaan kedua orang tuaku. Untukku itu sudah cukup, selain itu aku tak meminta apa-apa lagi darimu,” ujar Livia. Tujuannya memang hanya membantu kedua orang tuanya dan itu terjadi sangat cepat tak seperti yang dia bayangkan dan dia malah bersyukur karena tak perlu berpura-pura menjadi Lissa lagi jika mereka bercerai.
Nader tampak pucat wajahnya serta terlihat kalau rahang kekarnya menegang seketika mendengar jawaban Lissa. Sejak kapan istrinya itu mementingkan perusahaan kedua orang tuanya ketimbang dirinya sendiri? Bahkan dengan lantangnya dia telah menolak 15% dari harta warisan yang dia tawarkan. Apa Lissa lupa dan tak tahu berapa banyak 10% dari warisan serta 5% dari penghasilan perusahaannya itu setiap bulannya? Atau memang benar kalau Lissa sungguh hilang ingatan?
“Apa kau yakin?” Nader bertanya sekali lagi.
Livia mengangguk penuh keyakinan. “Jika itu maumu. Apa yang bisa aku lakukan lagi? Kedua orang tuaku berada di ambang kehancuran, aku tak mungkin mementingkan diriku sendiri di atas kebahagiaan orang tuaku itu.” Ia menjawab sembari menunduk pasrah. Itulah hal utama yang harus dia lakukan yaitu menyelamatkan kedua orang tuanya dengan mendapatkan suntikan investasi dari Nader.
Nader terlihat santai kembali dengan wajah yang mulai datar lagi. “Sekali lagi aku tanya, apa kau tak mau 15% dari semua ini?” Dia masih belum bisa percaya atas keputusan besar Lissa.
Masih dengan penuh keyakinan, Livia mengangguk cepat tanpa terlihat keraguan atau kepura-puraan sedikitpun. “Sebelumnya aku hanya bisa meminta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu. Aku memang tak mengingat semua masa lalu bersamamu. Tetapi, di masa depan nanti. Aku takkan mengulanginya lagi dan setelah kita bercerai. Sudah pasti aku takkan membuatmu kesal atau marah lagi karena ulahku.”
Begitu panjang lebar Livia meminta maaf pada Nader. Dia sungguh-sungguh meminta maaf dari dalam lubuk hatinya yang sangat dalam atas nama kakak kembarnya, Lissa. “Jadi, di mana aku harus menandatangani surat perceraian ini?” tanyanya memperhatikan kertas.
Nader bangkit dari sofa mendekati Livia.
“Di sini kah?” Livia menunjuk garis lurus yang kosong dan di bawahnya ada nama Lissa Kiara Vincent.
Ketika Livia hendak menandatangani surat itu. Mendadak tangan Nader menyambar kertas tersebut membuat Livia heran. “Why?”
“Aku masih harus memikirkan semua ini, jika kau lelah tidurlah dan jika lapar, panggil salah satu pelayan di bawah yang akan melayanimu 24 jam,” jawab Nader dingin sembari meraih amplop kemudian memasukkan kembali kertas perceraian itu ke dalam.
Dia langsung berbalik badan membelakangi Livia.
Livia merasa heran sembari menatap punggung Nader yang membelakanginya. Sebenarnya apa yang ada di dalam pikirannya saat ini? Bukankah jika dia menceraikan Lissa, maka dia akan membebaskan almarhum kakaknya itu sekaligus menyelamatkan perusahaan keluarganya.
Tanpa banyak kata lagi. Nader segera pergi keluar dari kamar itu meninggalkan Livia sendirian yang terlihat masih kebingungan.
Jika Nader berubah pikiran seperti itu. Apa mungkin ada rencana lain yang sedang disusunnya saat ini?
Karena bingung, Livia segera menghubungi Ibunya yang saat itu baru saja pulang dari pesta dan sampai di rumahnya.
Livia terpaksa menelepon Ibunya lewat telepon duduk di kamar itu karena tas serta ponselnya ketinggalan di mobilnya tadi.
Dia duduk di atas karpet samping nakas tempat telepon duduk. Baru saja terdengar deringan sambungan, Ibunya langsung saja mengangkatnya.
“Hallo, siapa ini?”
“Mom, ini aku. Li-Lissa.” Livia takut kalau ada yang mendengar pembicaraan mereka karena itu telepon duduk rumah jadi bisa di dengar juga lewat semua telepon duduk yang ada di mansion Nader. Maka dari itu dia menyebut namanya Lissa bukan Livia.
“Sayang, kamu di mana? Mommy dan Daddy dari tadi meneleponmu dan pelayan mengatakan kau belum sampai di rumah. Kamu sekarang di mana dan apa yang terjadi?” tanya Naresha khawatir. Ternyata dia dari tadi menghubungi ponsel Livia yang tertinggal di mobil untuk menanyakan keberadaannya tetapi tidak diangkat.
Ketika hendak menelepon sopir yang baru juga sampai di sana. Ada panggilan masuk dari nomor yang hampir dilupakannya. Nomor telepon rumah Nader.
Livia mengedarkan pandangannya untuk memastikan tak ada Nader di sana. “Mom, aku sekarang ada di rumah besar Nader-”
“APA?! SEDANG APA KAU DI SANA?” Ada nada terkejut dari Nyonya Naresha mendengar kalau Livia kini berada di mansion Nader.
Tuan Prans yang mendengarnya langsung saja merebut ponsel dari tangan istrinya. “Lissa, pulanglah jangan di sana. Daddy khawatir kalau Nader akan memperlakukanmu dengan kasar.” Dia bahkan tak peduli jika ada yang mendengar pembicaraan mereka saking khawatir pada Livia.
“Tapi Dad ...?” Livia mendongak dan kaget melihat kalau Nader sudah masuk lagi ke sana dan dia berdiri tak jauh darinya. “Nanti kita sambung lagi, malam ini aku akan menginap di rumah Mr. Nader.”
Mr. Nader? Menggelikan. Batin Nader tersenyum sinis mendengarnya.
Livia segera mematikan panggilan secara sepihak takut kalau Nader mendengar kedua orang tuanya keceplosan memanggilnya dengan nama Livia. “Maaf, aku hanya menelepon Daddy dan Mommy kalau aku akan menginap di sini-”
“Tidurlah. Aku juga mau tidur. Besok aku akan mengantarkanmu pulang dan akan menjelaskan semuanya kepada mereka,” kata Nader datar seolah tak ada pertengkaran yang terjadi antara dia dan Lissa.
“Sleep here?With you?” Livia menjadi gugup dan gelagapan serta baru menyadari kalau Nader sudah memakai piyama tidur dan kini berjalan ke arahnya.
Livia menelan salivanya berat. “Bu-bukankah kita akan segera bercerai? Jadi bolehkah aku tidur di sofa untuk sementara waktu?” Keringat dingin mulai bercucuran membasahi keningnya.
Nader berjalan ke pinggir ranjang kemudian menoleh menatap Livia. “Lissa, apa kau bisa tidur di sofa?”
“Atau aku tidur di kamar lain saja?” usul Livia masih terlihat gugup.
“Baiklah, terserah kau saja jika kau nyaman tidur di sofa.” Nader baringan di tempat tidur sementara Livia mencari selimut di lemari khusus seprai. Setelah menemukan selimut dan bantal lain. Dia membawanya ke arah sofa panjang dan besar itu.
Nader hanya memperhatikan apa yang dilakukan olehnya dan ketika Livia menoleh melihat ke arahnya. Dia pura-pura memejamkan kedua matanya.
Livia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain lalu baringan di sofa. Menyelimuti seluruh tubuhnya sampai menutupi kepalanya juga. Saat itu dia terus berdoa agar Kakak iparnya itu tak berbuat macam-macam padanya.
Nader kembali membuka kedua matanya melihat ke arah sofa, tersenyum miring kala melihat Lissa menutupi seluruh tubuhnya. Dia menopang belakang kepalanya dengan kedua tangannya yang dilipat kemudian dijadikan untuk bantalannya.
Nader tak menyangka kalau Lissa benar-benar berubah drastis seperti itu? Tadi ketika berbicara dengan nenek Maria. Neneknya itu menasihatinya kalau dia harus memberi Lissa satu kesempatan lagi, apalagi Lissa kini mengalami hilang ingatan. Mungkin dengan tinggal bersama lagi akan membuatnya mengingat semua kenangan mereka dan mungkin saja saat itu Lissa benar-benar memang sudah berubah akan baik dan lugu seperti itu terus.
Nenek yakin kalau Lissa yang sekarang bukanlah Lissa yang dulu. Banyak perubahan di tubuhnya, dari gaya rambut, manik mata serta sikapnya. Selama ini Lissa tak pernah mau menyapa nenek Maria karena kecerewetannya itu. Tetapi Lissa yang sekarang ramah dan tadi menyapanya duluan.
Apakah benar kalau Lissa hilang ingatan? Hanya itu yang kini berputar di dalam otaknya. Tetapi sebelum dia mendapatkan jawaban dan kebenarannya tentang yang dialami serta yang menimpa Lissa. Dia takkan tenang bersama dengan wanita yang kini masih sah menjadi istrinya itu.
Bersambung.