“Salah satu balas dendam yang sangat menyiksa terhadap orang yang mengkhianati kita bukanlah melepaskan, tetapi mempertahankannya. Menggenggam hatinya lagi lalu menghancurkannya seperti dia telah menghancurkan hati kita.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
Kicauan burung terdengar merdu menyambut pagi hari. Livia terbangun dari tidurnya karena bermimpi buruk tentang hal semalam. Kini dia duduk dengan rambut acak-acakan.
Sambil memegang dadanya. “Siapa sebenarnya pria itu?” ia masih terbayang perlakuan kasar Vicky. Tapi dia belum tahu nama pria itu. Mengedarkan pandangannya dan baru sadar kalau dia kini sudah tertidur di atas ranjang. Mencoba mengumpulkan ingatannya sambil melirik ke arah kursi sofa di mana selimut sama bantalnya masih ada di sana, namun kini dia berada di atas ranjang?
Mulut Livia menganga tak percaya. Apakah dia berjalan di dalam tidurnya sehingga berpindah ke atas ranjang? Atau sengaja dipindahkan oleh Nader? Rasanya mustahil jika Nader memindahkannya ke atas kasur.
Ckleekkk.
Suara pintu kamar mandi terbuka. Nader keluar dari sana dengan hanya mengenakan bathrobe dan rambutnya yang masih basah bercucuran air. Handuk lain sengaja dilingkarkan di tengkuknya agar air tidak berceceran di lantai.
Livia mengerjap lalu tak lama membulatkan matanya kemudian lagi-lagi memalingkan wajahnya seperti semalam. Kedua pipinya mulai terasa panas.
“Kau sudah bangun. Mandilah, supaya kau terlihat segar,” ucap Nader sambil menggosok rambutnya dengan handuk untuk mengeringkannya.
“Bagaimana aku bisa berpindah ke sini?” tanya Livia penasaran. Dia takut jika dia pindah di dalam tidurnya.
“Aku yang memindahkanmu ke atas ranjang karena semalam berulang kali kau hampir terjatuh dari sofa sempit itu.”
“Jadi kau dan aku tidur se-seranjang?” Livia menelan salivanya berat.
“Kita masih sah menjadi suami istri bukan. Jadi sudah sepatutnya kita tidur bersama lagi.”
“Tapi-”
“Aku tak suka kau terus menghindariku.” Nada dingin menusuk itu membungkam mulut Livia. Apalagi kala netra biru kecokelatan itu menatap tak suka pada Livia yang selalu saja menolak semua perlakuannya.
Tetapi sesaat Livia tampak terpesona dengan karisma yang terpancar dari Nader. Untuk pertama kalinya dia bertemu dengan pria sesempurna Nader di matanya itu. Apalagi rambutnya yang basah serta dadanya yang sedikit terbuka sampai perutnya tak tertutup bathrobe semua membuatnya tak bisa berkedip melihat d**a bidang serta sick pack itu.
“Cepalah mandi. Setelah itu kita sarapan.” Nader membalikkan badannya kemudian berjalan masuk ke dalam ruang pakaian.
Livia tampak menggelengkan kepalanya sambil bergumam. “Sadar Livia, kau tak boleh terpesona padanya. Dia adalah kakak iparmu dan kau harus tahu tujuanmu berada di sini.” Sebelum Nader selesai berpakaian. Livia sudah beranjak dari ranjang masuk ke dalam kamar mandi.
Seusai mandi. Livia mengintip sedikit ke dalam kamar untuk memastikan kalau Nader tak ada di sana. Merasa tak ada orang, dia mulai berani keluar dari kamar mandi.
Livia melihat satu setel baju jumpsuit berwarna putih bercorak hitam lengkap dengan tas dan sepatu hak tingginya, dia berpikiran mungkin pelayan yang menyiapkan untuknya. Ia merasa tak mau diatur oleh siapa pun dan merasa pakaian itu tak cocok dipakainya. Akhirnya dia masuk ke dalam ruang ganti mencari pakaian Lissa yang sedikit tertutup dan ternyata Nader sudah keluar dari kamar tak ada di ruang pakaian.
Ketika sudah selesai. Livia keluar dan terkejut melihat Nader sudah ada lagi di dalam kamar. Ia kini duduk di sofa panjang. Batin Livia bergumam, apakah dia tak punya kerjaan lain selain mengagetkan orang dan masuk serta keluar kamar semaunya. Setidaknya dia berkata atau memberi isyarat kalau datang. Tidak seperti hantu saja seperti itu membuat jantungku hampir melompat saja.
“Kata siapa kau memakai baju itu?” Suara bariton nada khas Nader yang dingin dan agak serak itu membuat Livia serasa merinding disko.
“Bukankah ini -- ini memang bajuku? Ke-kenapa aku harus memakai baju itu?” tanya Livia aneh dan gugup lagi. Dia mengira kalau pakaian di atas ranjang itu pelayan yang memilihkannya. Ternyata Nader yang sengaja membeli pakaian itu dan terlihat jelas masih ada labelnya juga.
“Lepaskan bajumu itu.” Nader menatap tak suka pada Livia membuat Livia malah menyilangkan kedua lengan di dadanya mengira yang tidak-tidak pada Nader.
“Aku bilang lepaskan sekarang juga.” Nader terlihat menegang dengan rahang yang mengeras menunjukkan otot lehernya serta kepalan tangannya.
“Memangnya kenapa dengan baju ini?” tanya Livia berkukuh tak mau melepaskan baju kakaknya itu apalagi terasa nyaman dipakainya saat ini.
Nader bangkit dari kursi mendekati Livia dengan tatapan mengerikan membuat Livia terpaksa berjalan mundur sampai menubruk dinding dekat pintu.
“Aku bilang lepaskan sekarang juga!” Nada bicara Nader mulai sedikit meninggi sampai Livia tersentak kaget. “Kalau tidak dilepaskan juga ….”
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Livia mulai gemetaran kala keduanya berdiri berhadapan.
Sreeeekkkk krooeekkk.
Kedua tangan Nader tiba-tiba merobek bagian lengan atasan Livia membuat Livia setengah berontak.
“Apa yang kau lakukan? Ke-kenapa kau-”
“Mulai saat ini, kau harus menuruti apa yang aku katakan dan jangan membantah sedikitpun. Kalau tidak, hidup kedua orang tuamu akan hancur. Tapi, jika kau menurut. Maka aku akan segera membantu perusahaan kedua orang tuamu itu sampai bangkit berdiri lagi dan menyelamatkan mereka dari ambang kehancuran.”
Livia menelan salivanya berat. “Ja-jadi kau sudah tahu apa yang terjadi pada perusahaan kedua orang tuaku?” ia hampir tak percaya kalau di balik pesona pria itu ada sesosok pria mengerikan dan terlihat kejam.
Nader menyeringai. Dia segera mundur beberapa langkah dan kini berdiri sedikit jauh dari Livia. “Kau tahu Lissa, meski selama hampir dua tahun ini kedua orang tuamu berhasil menyembunyikan kehancuran perusahaan kalian. Tetapi, takkan bisa selamanya disembunyikan dariku.”
Nader membalikkan badannya lalu berjalan menuju sebuah laci besar di dekat sofa. Ia mengeluarkan map berwarna merah tua lalu membukanya kemudian berdiri menghadap Livia lagi. “Kau tahu apa isi dalam berkas ini?”
Livia menggelengkan kepalanya dengan tubuh sedikit gemetaran.
“Map ini adalah penentu masa depan perusahaan ayahmu serta bisnis passion Ibumu. Sekali aku mengeluarkan perintah. Maka dalam hitungan menit saja semua aset keluargamu akan disita oleh Bank dan kalian akan menjadi geladangan.”
“Jangan lakukan itu, kumohon,” kata Livia. Kedua orang tuanya itu sudah berusaha menyembuhkan ayah angkatnya yaitu Pak Trino demi dirinya. Jika dia gagal dalam menjalani rencana kedua orang tuanya. Maka dia takkan bisa menampakkan batang hidungnya kepada keempat orang yang kini disayanginya itu.
“Mohon? Apa aku tak salah mendengar? Kau bilang mohon?” Nader tersenyum meremehkan mendengar permintaan mohon dari Livia.
“Ya. Aku mohon jangan lakukan itu. Jika kau dendam kepadaku atau kau belum bisa memaafkan kesalahanku, maka biarkan aku yang menanggung semuanya. Kau boleh memperlakukan aku seperti yang kau mau, tapi jangan sakiti atau hancurkan kehidupan kedua orang tuaku.” Masih dengan nada bergetar karena menahan tangis. Livia menyatukan kedua telapak tangannya di depan d**a tanda memohon dengan sangat.
Nader tersenyum penuh kemenangan dan Livia mulai meneteskan air matanya.
“Jadi kau akan menuruti semua yang aku katakan?” tanya Nader menutup kembali berkas di tangannya.
Livia mengangguk pasrah.
Nader mendekati Livia kemudian menghapus air matanya dengan tangan kanannya sementara tangan kiri masih memegang map. “Berkas ini akan aman untuk sekarang ini, tetapi jika kau melanggar atau melakukan kesalahan yang fatal lagi. Maka map ini bisa terbuka kapan saja.”
Livia menatap tak suka pada pria itu. Apakah karena sikap kasarnya itu sehingga Lissa tak tahan hidup berumah tangga dengannya dan juga terus berontak. Tanpa tahu kebenarannya, Livia langsung menilai Nader adalah pria kejam dan tak punya perasaan serta berbuat semaunya.
Cupp.
Lamunan Livia seketika buyar kala bibir Nader menyentuh bibirnya sekilas. “Gantilah pakaianmu itu di kamar mandi. Aku akan menunggumu di bawah untuk sarapan.”
Livia malah terpaku di tempatnya. Sudah dua kali sang Kakak iparnya itu mencuri ciuman bibirnya dan tanpa disadarinya setiap kali berdekatan dengan Nader, jantungnya berdetak tak keruan.
Hanya dua bulan saja dia harus bertahan dengan perlakukan Nader karena menunggu keputusan pengadilan. Tetapi, bodohnya dia. Kenapa baru terpikirkan olehnya jika Nader tak menceraikan Lissa, itu berarti dia harus tinggal bersama Nader sampai batas waktu yang ditentukan oleh kedua orang tuanya. Dan dia tak menyangka jika Nader akan mengundur-undurkan kasus perceraian juga.
Tadi malam Nader mengatakan kalau dia hanya menginap semalam saja di sana. Apakah hari ini dia akan dikembalikan atau di antar ke rumah kedua orang tuanya? Mungkin saja karena Nader masih marah pada Lissa dan Tuan Prans juga tak mengizinkannya untuk tinggal di sana sebelum urusan mereka beres atau sebelum Nader memaafkan Lissa.
Mungkinkah Ayahnya itu takut kalau Nader akan memukulnya atau mungkin pula Nader memang suami kasar yang suka memukul? Karena itu Lissa tak tahan dengan perlakuan suaminya itu.
“Jangan lama-lama. Karena kita masih banyak urusan.”
Lagi-lagi Livia terhenyak kaget karena Nader ternyata masih di sana dan baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan pakaian casual dan bukan jas untuk bekerja.
Livia bergegas meraih pakaian di atas ranjang kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia tak bisa berkutik menghadapi pria kejam dan dingin itu.
Nader tampak memikirkan sesuatu, ia memanggil beberapa pelayan lewat interkom untuk datang ke kamarnya itu lalu membereskan semua pakaian Lissa tanpa ada sisa satupun di ruang ganti dan dibawa ke bawah ke halaman.
Tak lama para pelayan yang dipanggil masuk ke dalam ruang pakaian lalu membereskan semua pakaian milik Lissa termasuk semua barang-barangnya dan membawanya ke bawah sesuai perintah.
Nader masih berdiri di sana menunggu Livia keluar dari kamar mandi. Tak berapa lama Livia keluar dengan pakaian yang di pilihkannya.
Nader menyodorkan tangannya meminta pakaian yang tadi dipakai Livia yang telah disobeknya itu.
Livia memberikan pakaian itu pada Nader.
“Sekarang ikut denganku ke bawah. Akan aku tunjukkan sebuah pertunjukkan yang menakjubkan,” ajak Nader berjalan duluan diikuti Livia.
Para pelayan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Nader yaitu membawa semua pakaian, sepatu, tas Lissa ke halaman dan ditaruh di atas ubin halaman dekat taman.
Semuanya merasa heran, apa yang hendak dilakukan oleh Tuannya itu? Sementara nenek Maria hanya tersenyum tipis melihatnya.
Livia masih mengikuti Nader sampai ke halaman. Terkejut melihat tumpukan pakaian milik kakaknya di sana. Apa Nader hendak …?
Benar saja apa yang dipikirkan mereka. Nader meminta bensin serta korek api kepada kepala pelayan.
Livia segera berdiri di depan Nader untuk mencegahnya. “Jangan, aku mohon. Semua pakaian ini adalah milik Ka- maksudku milikku. Kenapa kau mau membakarnya?”
Nader menyingkirkan tubuh Livia ke samping sambil berkata. “Jadi kau tak hilang ingatan? Kau masih mengingat semua barang-barang kesukaanmu ini? Mengaku sajalah kalau kau berpura-pura hilang ingatan.”
“Kalau kau tak mempercayainya terserah padamu. Namun, kau tak perlu membakarnya, kau bisa memberikan semua barang-barang milikku kepada yang membutuhkan.” Livia masih membujuk Nader.
“Membutuhkan?” Nader tertawa geli namun terlihat kalau tawanya itu adalah tawa mencemooh. Dia lalu mencondongkan sedikit tubuhnya seperti hendak memeluk Livia namun ternyata dia hanya berbisik di dekat telinga Livia. “Aku harus membakar semua masa lalu kelammu dan jika aku melihat kau memakai pakaian-pakaian lamamu itu, entah kekejaman apa lagi yang akan aku perbuat kepadamu.”
Livia hanya bisa menelan salivanya berat. Masa lalu kelam? Sebenarnya apa yang dimaksud oleh Nader? Bagaimana sebenarnya masa lalu Lissa bersamanya? Sementara Nyonya Naresha dan Tuan Prans tak pernah menceritakan semua kepadanya.
Ckeess blurrr.
Setelah menyiramkan bensin. Nader mulai menyalakan korek kemudian melemparkan ke arah tumpukan barang-barang Lissa sambil berkata dalam hati. Apakah kau masih berpura-pura hilang ingatan? Kau diam melihat semua barang kesayanganmu dibakar di hadapanmu. Biasanya kau paling tidak suka seseorang menyentuh semua barang kepunyaanmu. Tetapi sampai detik ini kau belum berontak kepadaku. Aku ingin tahu sampai mana kau bertahan dalam kepura-puraanmu itu.
Livia hanya bisa diam mematung saja di tempat melihat barang-barang kesayangan kakaknya dibakar di hadapannya. Dalam hati dia pun berkata. Kakak Lissa, maafkan aku tak bisa melindungi semua barang-barangmu. Kuharap semua barang yang dibakar ini sampai kepadamu.
Livia meneteskan air matanya dan dari sudut mata Nader melihatnya. Nader mengira kalau Lissa menangisi semua barang kesayangannya padahal Livia menangisi kakaknya yang telah tiada.
Asap hitam mengepul dari pembakaran itu. Setelah hampir semua terbakar, Nader menyuruh semua pelayan mematikan api lalu membuang barang yang hampir terbakar semua itu ke tong sampah.
Nader menggenggam tangan kanan Livia. “Sekarang kau ikut aku.”
“Ke mana?” tanya Livia heran. Hendak dibawa ke mana lagi dia? Apakah akan diantarkan ke rumah kedua orang tuanya? Atau akan dibawa ke mana lagi oleh pria kejam itu? Tampaknya Nader memang belum puas untuk menyiksa batinnya.
“Masuklah.” Nader menyuruh Livia masuk ke dalam mobilnya yang lain.
Lagi-lagi Livia hanya bisa menurut, ia masuk dan duduk di depan. Nader pun ikut masuk duduk di kursi kemudi lalu membawa mobilnya itu diikuti satu mobil bodyguard di belakangnya.
Mereka melaju ke arah rumah Tuan Prans.
Dalam hati Livia sedikit merasa lega. Mungkin Nader berubah pikiran dan akan membawanya pulang ke rumah kedua orang tuanya dan meninggalkannya di sana sampai perceraian nanti.
Sepanjang perjalanan. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Nader hanya sesekali melirik ke arah Livia sementara Livia masih terbayang saat Nader mengecupnya tadi pagi dan saat merobek pakaiannya.
Tak terasa akhirnya mobil parkir di depan halaman rumah Tuan Prans.
Nader turun duluan sementara pintu Livia bodyguard Nader yang membukakannya.
Ternyata di dalam rumah.
Tuan Prans dan Nyonya Naresha sudah menunggu kedatangan Livia. Semalaman keduanya khawatir dan cemas akan keadaan Livia dan hari itu mereka memutuskan untuk mengatakan siapa sebenarnya gadis itu daripada harus membiarkan anak keduanya itu tersiksa. Dia bukan Lissa melainkan Livia adik kembarnya yang bertahun-tahun hilang. Ditemukan baru-baru ini sementara Lissa sudah meninggal dua minggu yang lalu.
Keduanya sudah pasrah jika harus kehilangan segalanya.
Melihat mobil berhenti dan Livia serta Nader turun. Keduanya langsung saja memburunya dan melihat Nader membawa sebuah berkas berwarna biru muda.
Jantung Livia berdebar-debar melihat Nader membawa map. Jika keluarganya hancur, biaya rumah sakit Ayahnya Pak Trino pasti tidak akan berlanjut lagi karena sampai saat ini biaya masih ditanggung oleh Ayah kandungnya Tuan Prans.
Taruhan kesehatan Pak Trino dan perusahaan Tuan Prans kini ada di tangan Nader.
Tuan Prans menyapa dengan ramah seperti biasa. “Selamat siang Nader. Semalam-”
“Ada yang ingin saya bicarakan dengan kalian berdua khususnya Anda Tuan Prans.” Tak ada lagi sebutan Ayah mertua atau Pather yang artinya Nader akan menceraikan Lissa dan menghancurkan perusahaan mereka.
Nyonya Naresha mendekati Livia yang terlihat sedih kemudian memeluknya. Dengan nada pelan dia bertanya. “Apa kau tak kenapa-napa sayang?”
Livia menggelengkan kepalanya.
Semuanya masuk ke dalam kemudian duduk di ruang tamu.
Naresha memanggil pelayannya. “Pelayan, tolong ambilkan minuman untuk-”
“Tidak usah,” potong Nader. “Saya cuma sebentar di sini.” Nada dingin Nader mulai membuat Tuan Prans dan Nyonya Naresha gemetaran begitu juga Livia.
Nader dengan santainya menyodorkan berkas yang langsung diterima oleh Tuan Prans. Ketika membaca apa isinya, dia langsung terbelalak.
“Apa benar semua ini?” tanya Tuan Prans tak percaya.
“Ya, aku akan berinvestasi dana untuk perusahaan Anda dengan satu syarat. Kalau perceraian saya dengan Lissa ditunda dan mulai hari ini dia harus tinggal lagi bersama saya,” jawab Nader masih dengan nada santai. Dia tak mengatakan kalau dirinya sudah tahu jika perusahaan Tuan Prans dan bisnis passion Nyonya Naresha sedang di ambang kehancuran.
Melihat Tuan Prans hanya terdiam seolah memikirkan sesuatu. Nader kembali berkata. “Don't worry. Saya juga akan menambah dana untuk bisnis Ibu mertua, dengan begitu perusahaan serta bisnis kalian akan semakin maju dan lancar.”
Tuan Prans mengembuskan napasnya. “Masalah perceraianmu dengan Lissa, sebenarnya Lissa-”
“Saya tak mau membahas masalah itu lagi. Yang lalu biarlah berlalu dan saya sudah memaafkan kesalahan Lissa. Saya akan memberikannya satu kesempatan lagi dan bukankah ulang tahun saya hanya tinggal dua bulan lagi dan anniversary pernikahan kami hanya tinggal sepuluh hari lagi. Jadi, saya tak mau jika gosip tak enak menerpa perusahaan serta rumah saya dan juga rumah kalian ini.”
Mendengar penjelasan Nader yang panjang lebar. Tuan Prans jadi tak tega mengatakan yang sesungguhnya. Apalagi meski Lissa sudah ketahuan selingkuh di depan kedua matanya. Nader masih mau memaafkan dan kini malah membantu kesulitannya.
Tuan Prans menoleh menatap istri dan anaknya itu. Jika bukan demi mereka serta nasib orang tua yang telah merawat Livia selama ini. Akhirnya Tuan Prans menyetujuinya. “Baiklah, aku memang tak bisa ikut campur urusan rumah tangga kalian. Dengan mendengar kalau kau mau memaafkan Lissa dalam keadaan hilang ingatan. Maka aku akan menyetujui rujuknya kalian.”
Nader tersenyum miring. Akhirnya dia berhasil mempertahankan Lissa dan mereka sungguh tak mengetahui niat serta tujuannya mempertahankan rumah tangganya. Bukan demi Lissa namun demi egonya yang tinggi. Apa pun yang sudah menjadi miliknya tidak boleh ada yang memilikinya, selamanya.
Dan karena hal itu dia takkan membiarkan Lissa lepas lagi dari genggamannya serta sudah pasti akan berbahagia dengan Vicky selingkuhannya itu jika dia ceraikan. Dia takkan membiarkan hal itu terjadi. Lissa harus menerima penderitaan yang sama dengan sakit hati yang dideritanya kala melihat dan mengetahui perselingkuhan mereka.
Ketika Tuan Prans hendak menandatangani kontrak kerja dan menerima saluran dana dari Nader. Mendadak Nyonya Naresha menarik tangannya agar ikut bersamanya. “Maaf, sebelumnya kami akan membicarakan hal ini empat mata.” Dia membawa suaminya masuk ke ruang kerja tak jauh dari ruang tamu.
Livia berdiri canggung melihat ekspresi wajah Nader yang berubah tak suka karena merasa mereka membuang-buang waktu saja.
“Lissa, ambilkan aku jus jeruk fresh buatan tanganmu,” perintah Nader menoleh menatap Livia yang masih berdiri gugup.
Livia tak menjawab iya atau menolaknya, hanya langsung berjalan menuju dapur. Nader sebenarnya tidak terlalu haus. Dia hanya ingin menguji terus kesabaran Lissa dan dia yakin jika Lissa berpura-pura dia akan marah karena egonya pasti akan terluka karena diperintahnya terus dan saat itu terbongkarlah kebohongan mereka.
Namun jauh dari sangkaan. Lissa melenggang menuju dapur kemudian mencuci beberapa buah jeruk untuk diperas dengan alat pembuat jus fresh.
Nader berdiri di ambang pintu dapur melihat Lissa membuat jus jeruk untuknya. Bahkan tanpa menyuruh pelayan atau koki yang ada di sana.
Melihat Lissa selesai membuat jus. Nader bergegas kembali ke ruang tamu tanpa diketahui olehnya dengan berpura-pura tak mengikutinya barusan.
Livia menaruhnya di atas meja. Namun, Nader mengulurkan telapak tangannya ingin diberikan langsung kepadanya.
Livia hanya mengembuskan napasnya sembari memberikan gelas jus langsung ke tangan Nader.
“Katakan kepada kedua orang tuamu, aku tak bisa menunggu,” kata Nader lalu meneguk jus jeruknya.
Di ruang kerja.
“Suamiku, apakah kita harus mengorbankan anak kedua kita tinggal bersama kakak iparnya dan berpura-pura menjadi istrinya? Bagaimana kalau semua ini hanya tipuan serta tak-tik Nader untuk menjebak kita. Setelah itu dia akan berbuat kejam pada Livia karena dia mengira kalau itu adalah Lissa.” Naresha merasa keberatan kalau Livia tinggal seatap dengan Nader sang kakak iparnya.
“Aku tahu hal itu dan aku juga takut semua yang kamu katakan itu terjadi. Tapi posisi kita berada di tangga kehancuran yang kapan saja bisa membuat kita bangkrut serta tak mempunyai apa-apa. Sementara kita harus membayar kebaikan orang yang telah mengurus Livia dengan baik yang saat ini masih memerlukan biaya banyak dari kita. Jika kita bangkrut, bagaimana nasib mereka di Indonesia?” Prans juga menjelaskan alasannya dengan panjang lebar.
Naresha tampak berpikir. “Lalu, bagaimana dengan nasib anak kita Livia? Dia belum resmi menjadi istri Nader dan dia hanya adik iparnya, bukan istrinya.”
“Mommy tak usah mengkhawatirkan aku.” Datang Livia masuk ke dalam dan mendengar semua pembicaraan mereka. Ia segera menutup pintu kembali takut Nader mendengar semua ucapan mereka.
“Sayang. Kalau kamu tak sanggup dan takut dengan Kakak iparmu itu, jangan pernah mengambil risiko sebesar ini. Kami tidak akan pernah memaksamu jika kamu tak mau. Kami benar-benar bodoh telah menuruti ide Ricko untuk menjadikanmu sebagai Lissa demi kepentingan pribadi.” Nyonya Naresha memeluk Livia erat dan menyadari kesalahannya.
“Mom, aku bilang semua ini demi kalian dan aku bisa jaga diri di sana. Apalagi dengan kebencian Nader pada Lissa membuatnya tak berani menyentuhku sedikitpun. Bahkan pagi ini dia membakar semua pakaian serta barang-barang kakak.” Livia menjelaskan bagaimana malam tadi dan pagi tadi. Dia menjelaskan namun menyembunyikan kebenarannya agar kedua orang tuanya tak khawatir padanya dan dia juga menjelaskan kalau mereka tidak tidur sekasur dan malah tidur di kamar terpisah.
Livia hatinya tersentuh kala Tuan Prans mengatakan kalau kedua orang tua asuh serta adiknya masih memerlukan biaya banyak dan dia tak bisa mengingkari janji serta tanggung jawab untuk menyembuhkan Pak Trino. Maka dari itu Livia harus bertahan juga.
Tak berani menyentuhnya? Livia tak berani mengatakan kalau Nader sudah dua kali menciumnya dan memindahkannya dari sofa ke atas kasur. Mendengar kalau Pak Trino masih memerlukan biaya rumah sakit sampai sembuh nanti dan Ronnie adik kesayangannya perlu biaya kuliah. Maka Livia terpaksa berbohong pada keduanya.
“Benarkah seperti itu?” tanya Naresha hampir tak mempercayainya.
"Mom dan Dad tenang saja. Aku sudah besar dan sudah bisa menjaga diri sendiri. Sampai saatnya tiba (perceraian dan perpisahannya dengan Nader yang akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan) aku pasti akan menjaga diriku sendiri. Mustahil jika dia berani menyentuhku jika hatinya belum bisa memaafkan kak Lissa sepenuhnya.”
“Kau dengar itu Honey. Putri kita ini tahu tata krama dan dia juga sadar kalau Nader adalah kakak iparnya. Jadi, sebelum perusahaan kita stabil serta Pak Trino sembuh total dan biaya kuliah Ronnie lancar. Kita terpaksa harus menjalankan rencana yang telah kita susun sampai sekarang,” bujuk Prans pada istrinya.
Naresha tampak berpikir kembali.
Bersambung.