Hari-hari setelahnya tidak berubah menjadi drama besar. Aku tetap sekolah, tetap belajar, tetap berdiri di halte. Tetapi koridor kelas dua mulai terasa berbeda: tempat ia mungkin lewat, tempat aku mungkin melihatnya, tempat aku harus berpura-pura tidak sedang menunggu sesuatu.
Setiap kali melihatnya, yang pertama kurasakan bukan senang, tetapi cemas. Kehadirannya membuatku ingin menjadi lebih baik sekaligus membuatku semakin sadar pada sepatu yang kusam, tas yang jahitannya mulai terbuka, dan masa depan yang terasa seperti lorong panjang tanpa lampu.
Dulu aku mengira rasa suka membuat seseorang merasa lebih hidup.
Tetapi pada orang sepertiku, rasa itu lebih dulu membuatku merasa telanjang.
Kami tidak langsung menjadi dekat.
Tidak ada percakapan panjang setelah pertemuan di rumah Tika. Tidak ada surat rahasia. Tidak ada janji bertemu. Tidak ada peristiwa besar yang membuat hubungan kami berubah bentuk secara jelas.
Yang ada hanya kebetulan-kebetulan kecil.
Atau mungkin aku menyebutnya kebetulan karena waktu itu belum berani mengakui bahwa sebagian darinya mulai kutunggu.
Mungkin karena itu, satu kata yang keluar tanpa rencana sore itu tidak benar-benar pergi dari kepalaku.
Besoknya, di halte sepulang sekolah, Tika menghampiriku lebih dulu.
Hari itu Dandi belum datang. Andri juga belum kelihatan. Iis berdiri agak jauh di depan warung Bu Nani, memilih gorengan sambil mengomel karena minyaknya terlihat terlalu hitam. Badru entah masih di sekolahnya atau sedang melakukan sesuatu yang kelak akan ia sebut sebagai risiko intelektual.
Aku sedang menatap jalan ketika Tika berdiri di sampingku.
“Gas.”
“Apa?”
“Kemarin kamu manggil adikku apa?”
Aku menatap jalan. “Enggak ingat.”
“Bohong kamu tuh kaku banget.”
Aku tidak menjawab.
Tika menurunkan suara.
“Dia biasanya enggak suka dipanggil Teh sama orang luar.”
Aku menoleh. Terlalu cepat.
Tika melihat itu dan hampir tersenyum.
“Tapi kemarin dia diam aja.”
“Mungkin sungkan.”
“Dia jarang sungkan kalau dia enggak suka.”
Sebuah angkot lewat. Suaranya memotong percakapan kami.
Setelah suara itu menjauh, Tika berkata, “Udah. Jangan dibikin besar. Nanti kamu malah mikir semalaman.”
Tentu saja, setelah itu aku memikirkannya semalaman.
Dari kejauhan, Dandi muncul sambil mengipas-ngipasi wajah dengan buku tulis. Iis memanggil Tika karena gorengan pesanannya sudah dibungkus. Dunia halte kembali ramai.
Tetapi sejak sore itu, panggilan Teh tidak lagi terdengar seperti kebiasaan keluarga yang aneh.
Ia menjadi sesuatu yang lain.
Sesuatu yang kecil.
Sesuatu yang seharusnya tidak kupikirkan terlalu lama.
Namun, sebagaimana banyak hal yang kelak menghancurkan ketenanganku, justru karena seharusnya tidak, aku malah membawanya pulang diam-diam.
Suatu siang, aku melihatnya di perpustakaan.
Ruangan itu hampir kosong. Kipas angin di langit-langit berputar dengan suara pelan yang tidak berhasil mengusir panas. Rak-rak buku tua berdiri dengan bau debu dan kertas yang terlalu lama disentuh terlalu sedikit orang.
Aku duduk di meja dekat jendela, pura-pura membaca buku elektronika dasar.
Sebenarnya aku sedang bersembunyi.
Dari suara teman-teman yang membicarakan kuliah.
Dari guru BK yang mungkin akan memanggilku lagi.
Dari Dandi yang akan bertanya soal latihan soal.
Dari Badru yang akhir-akhir ini mulai menatapku seperti orang yang tahu ada sesuatu retak tetapi belum tahu harus mengetuk bagian mana.
Aku hanya ingin berada di tempat yang tidak menanyakan masa depan.
Lalu ia masuk.
Tidak langsung melihatku.
Ia berjalan ke rak sastra lama, mengambil satu buku, membuka beberapa halaman, lalu duduk dua meja dari tempatku.
Cukup jauh untuk tidak terasa sengaja.
Cukup dekat untuk membuatku tidak bisa benar-benar membaca.
Aku menunduk pada bukuku.
Huruf-hurufnya bergerak tanpa makna.
Di luar jendela, langit mulai gelap. Hujan mungkin akan turun lagi. Sekolah di kota kami seperti punya hubungan rahasia dengan hujan; setiap kenangan penting seolah menunggu udara menjadi lembap sebelum berani muncul.
Beberapa menit berlalu.
Ia tidak mengajakku bicara.
Tidak menoleh terlalu sering.
Tidak membuatku merasa harus melakukan sesuatu.
Dan anehnya, justru itu yang membuatku tenang.
Aku terbiasa dengan orang-orang yang memasuki hidupku melalui pertanyaan: nilai berapa, mau kuliah di mana, sudah daftar belum, kenapa diam saja, kenapa murung, kenapa tidak mencoba.
Dia tidak begitu.
Ia hanya duduk.
Membaca.
Sesekali membalik halaman dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara keras.
Hening di antara kami tidak terasa seperti dinding.
Lebih seperti bangku kosong tempat seseorang boleh duduk tanpa harus menjelaskan apa pun.
Setelah beberapa lama, ia bangkit. Aku mengira ia akan pergi.
Tetapi ia berjalan ke meja petugas perpustakaan, lalu kembali dengan selembar kertas kecil.
Ia meletakkannya di tepi mejaku.
Bukan tepat di depan tanganku.
Hanya di sudut, seperti tidak ingin mengganggu.
“Halaman yang kamu cari mungkin di indeks belakang,” katanya pelan.
Aku menatap kertas itu.
Di sana tertulis nomor halaman.
Ternyata ia memperhatikan buku yang kubuka terbalik-balik sejak tadi.
Aku merasa wajahku panas.
“Terima kasih.”
Ia mengangguk.
Tidak tersenyum lebar.
Tidak menunggu percakapan lanjutan.
Hanya kembali ke tempat duduknya.
Perhatian kecil.
Sangat kecil.
Tetapi pada usia itu, ketika hidupku lebih sering terasa seperti rangkaian tuntutan, perhatian yang tidak meminta balasan terasa hampir menakutkan.
Aku membuka halaman yang ia tunjuk.
Benar.
Bagian yang kucari ada di sana.
Tetapi aku tidak lagi bisa membaca.
Hari-hari berikutnya, kehadirannya muncul seperti tanda baca dalam hidupku.
Tidak selalu penting bagi orang lain.
Tetapi mengubah cara kalimat di dalam diriku dibaca.
Kadang ia lewat di koridor bersama teman-temannya dan hanya mengangguk kecil ketika melihatku.
Kadang ia berdiri di papan pengumuman, membaca jadwal ujian, sementara aku pura-pura mencari informasi lain di sebelahnya meski sebenarnya tidak membutuhkan apa pun.
Kadang ia muncul di halte, tetapi tidak selalu bergabung. Jika Tika ada di sana dan suasana tidak terlalu ramai, ia mendekat. Kadang ia datang lebih dulu sebelum Tika, berdiri sebentar di dekat tiang halte sambil memeluk buku ke d**a, lalu tampak lega ketika kakaknya muncul dari arah sekolah tetangga. Kadang sebaliknya: Tika sudah bersama kami cukup lama, sementara ia baru terlihat dari ujung gang ketika angkot yang ditunggunya hampir datang.
Tidak sering.
Tidak cukup sering untuk disebut kebiasaan.
Tetapi cukup untuk membuatku menunggu.
Dan itulah awal dari banyak hal yang tidak berani kuakui.