Aku perlu mundur sebentar.
Ada satu sore yang tidak pernah benar-benar hilang dari tubuhku. Tidak besar. Tidak dramatis. Tidak ada pengakuan, tidak ada hujan deras seperti adegan film.
Hidup kadang berubah bukan oleh peristiwa yang mengguncang pintu, tetapi oleh seseorang yang menyodorkan segelas teh dengan cara biasa saja. Sore itu terjadi ketika bayangan perempuan berseragam putih abu-abu dari halte sudah tersimpan di tubuhku, tetapi belum punya nama.
Kami baru saja bubar dari halte. Dandi dan Andri lebih dulu naik angkot, Iis pulang sambil tetap mengomeli Tika, dan Tika sendiri sudah pergi beberapa menit sebelumnya. Tinggal aku dan Badru di bawah atap seng yang masih menyimpan panas sore.
Aku sudah berniat pulang ketika Badru berkata, “Gas, anterin gue ke rumah Tika bentar.”
“Ngapain?”
“Balikin buku. Kalau lebih lama lagi, buku ini bakal punya kehidupan sendiri.”
Aku menolak beberapa kali, lebih karena kebiasaan daripada alasan. Badru, seperti biasa, menang dengan ketekunan yang melelahkan. Ia mengulang permintaan yang sama dalam beberapa bentuk sampai aku menyerah bukan karena setuju, melainkan karena ingin hidupku kembali tenang.
Kami naik angkot pertama yang lewat, lalu berjalan melewati gang kecil yang mulai teduh.
Dalam perjalanan, Badru sempat berkata, “Rumahnya rame. Ibunya baik. Adiknya agak pendiam.”
“Adiknya?”
“Iya. Anak sekolah lu juga kayaknya.”
Aku tidak menaruh perhatian lebih pada kalimat itu. Setidaknya, begitulah yang kuingat.
Rumah Tika berada di gang yang sedikit menanjak, dengan halaman kecil dan pohon jambu air di depan. Cat pagarnya hijau muda, beberapa bagiannya mulai mengelupas. Di teras ada kursi kayu panjang, meja kecil, dan beberapa pot tanaman yang tampak dirawat dengan kesabaran seseorang yang tidak banyak bicara.
Tika sedang duduk di teras ketika kami datang.
Begitu melihat Badru, wajahnya langsung berubah.
“Kamu akhirnya inget punya dosa?” katanya.
Badru mengangkat buku-buku itu seperti membawa persembahan.
“Saya datang membawa itikad baik.”
“Itikad baik kok telat seminggu.”
“Lebih baik telat daripada tidak mengembalikan.”
“Lebih baik tepat waktu daripada sok bijak.”
Aku berdiri sedikit di belakang Badru, merasa canggung dengan cara yang sudah sangat kukenal. Tika baru menyadari kehadiranku setelah selesai menatap Badru seperti ingin melempar sandal.
“Eh, Bagas. Masuk, Gas. Duduk dulu.”
Aku menggeleng cepat.
“Enggak usah. Sebentar aja.”
“Udah sampai sini masa berdiri di pagar. Duduk.”
Perintah Tika, seperti biasa, sulit dibantah karena ia mengucapkannya seolah semua orang sudah sepakat.
Aku duduk di kursi teras. Badru langsung duduk tanpa beban, seperti memang sudah menjadi penghuni tetap rumah itu.
Tika masuk sebentar, lalu muncul lagi dengan dua gelas teh.
“Badru jangan dikasih minum,” katanya sambil meletakkan gelas di meja. “Nanti merasa diterima.”
“Gue memang diterima di banyak tempat.”
“Tempat pembuangan juga menerima banyak hal.”
Badru tertawa.
Aku ikut tersenyum kecil.
Lalu seseorang muncul dari dalam rumah.
Seragam putih abu-abu.
Rambut diikat sederhana.
Buku dipeluk ke d**a.
Untuk beberapa detik, dunia seperti mengulang sebuah potongan yang pernah lewat terlalu cepat di depan mataku.
Ujung gang.
Angkot.
Pintu belakang.
Buku di d**a.
Tetapi waktu itu aku belum mengerti.
Aku hanya menatap sebentar, lalu cepat-cepat menunduk pada gelas teh di meja.
“Teh, sini dulu,” kata Tika sambil menggeser buku-buku di meja teras.
Aku sempat mengangkat kepala.
Teh.
Teteh.
Panggilan itu terdengar aneh di telingaku karena dari yang kutahu, ia lebih muda dari Tika. Tidak jauh memang. Mungkin sekitar satu atau dua tahun. Tetapi tetap saja, dalam susunan umur yang kupahami, seharusnya ia yang memanggil Tika dengan sebutan itu, bukan sebaliknya.
Badru, tentu saja, menangkap keherananku lebih cepat daripada yang kuinginkan.
“Jangan mikir keras begitu, Gas. Nanti jidat lu berasap,” katanya.
Tika melirikku, lalu tertawa kecil.
“Oh iya, ini adikku. Di rumah memang suka dipanggil Teh,” katanya, seolah menjelaskan sesuatu yang sudah lama biasa bagi mereka. “Kebiasaan dari kecil. Dia lebih muda, tapi kelakuannya lebih tua dari aku.”
Adiknya menunduk sedikit, tidak terlihat malu sepenuhnya, hanya seperti seseorang yang sudah terlalu sering mendengar penjelasan itu.
“Bukan lebih tua,” katanya pelan. “Kamu aja yang terlalu ribut.”
Tika langsung menunjuknya.
“Tuh kan. Lihat? Nada bicaranya aja kayak guru BP.”
Badru tertawa.
Aku hanya tersenyum kecil.
Sejak saat itu, panggilan “Teh” menempel di ingatanku dengan cara yang aneh. Ia bukan sekadar kelucuan keluarga. Ia menjadi tanda pertama bahwa ia berbeda dari Tika: lebih pelan, lebih tenang, seperti seseorang yang sejak kecil terbiasa menjadi tempat orang lain sedikit mereda.
Baru kemudian aku tahu bahwa justru ketenangan semacam itu sering membuat orang lain salah paham.
Mereka mengira seseorang kuat hanya karena ia tidak banyak meminta.
“Sering lihat kamu di sekolah,” katanya.
Aku menegang sedikit.
“Oh.”
Hanya itu yang keluar.
Oh.
Satu suku kata yang memalukan.
Badru langsung menatapku seolah ingin tertawa, tetapi Tika lebih dulu menyikut lengannya.
“Bagas emang irit ngomong,” kata Tika.
Adiknya tidak tertawa mengejek.
Ia hanya mengangguk kecil.
“Kelihatan,” katanya.
Nada suaranya tidak merendahkan.
Aneh sekali. Kata yang sama, jika diucapkan orang lain, mungkin akan membuatku merasa semakin canggung. Tetapi darinya, kalimat itu terdengar seperti pengamatan biasa. Bukan celaan. Bukan label. Hanya sesuatu yang ia lihat dan terima.
Ia menyodorkan salah satu gelas teh ke arahku.
“Minum dulu. Masih panas.”
Aku menerimanya.
Tangan kami tidak bersentuhan.
Tetapi aku masih ingat panas gelas itu di telapak tanganku.
Percakapan setelah itu sebagian besar terjadi tanpa diriku.
Badru dan Tika kembali masuk ke persoalan buku yang sebenarnya menjadi alasan kami datang. Ada buku catatan bersampul cokelat di atas meja, beberapa halaman belakangnya terbuka, dan dari tempatku duduk aku bisa melihat coretan-coretan kecil yang tampak seperti seseorang menggambar sambil tidak benar-benar sadar tangannya sedang bergerak.
“Ini apa, Dru?” tanya Tika, menunjuk salah satu halaman.
Badru mencondongkan tubuh, melihatnya sebentar, lalu berkata dengan yakin, “Mind map. Peta pikiran.”
Tika menatapnya.
“Peta pikiran?”
“Iya.”
“Peta pikiran bapak lo,” rutuk Tika. “Dru, ini bentuknya kayak ayam tersambar petir.”
“Itu karena pikiran gue kompleks.”
“Kompleks atau rusak?”
Badru mengangkat tangan seperti orang yang difitnah di ruang sidang.
“Tolong bedakan antara kerusakan dan kreativitas.”
Tika mendengus. “Kreativitas lu mending sungkem minta maaf ke buku gue sekarang.”
Aku tersenyum kecil di balik gelas teh.
Ia masih duduk di dekat pintu, tidak terlalu jauh dari kakaknya, tetapi juga tidak benar-benar masuk ke dalam perdebatan. Ia membuka buku di pangkuannya, sesekali mengangkat kepala jika suara Tika mulai terlalu tinggi atau Badru mulai terlalu percaya diri. Ia tidak menertawakan mereka dengan keras. Hanya tersenyum sebentar, lalu kembali menunduk.
Ada ketenangan tertentu dalam cara ia hadir.
Seolah ia tidak perlu memenuhi ruangan agar orang tahu ia ada di sana.
Tika masih mengomel ketika salah satu kertas dari buku itu terlepas dan jatuh ke lantai, dekat kaki adiknya.
Ia menunduk hendak mengambilnya.
Entah kenapa, aku bergerak lebih dulu.
“Biar aku aja, Teh.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tidak kurencanakan.
Tidak kupikirkan.
Bahkan aku baru menyadari apa yang kukatakan setelah suaraku sendiri selesai menggantung di udara.
Teh.
Aku memanggilnya begitu.
Seolah kata itu sudah lama menunggu di lidahku dan hanya perlu sedikit kelengahan untuk keluar.
Teras mendadak terasa sedikit lebih sempit.
Tidak ada yang benar-benar berhenti. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada suara yang mendadak hilang dari dunia. Badru masih memegang buku catatan itu. Tika masih setengah kesal karena halaman belakang bukunya dipenuhi sesuatu yang oleh Badru disebut peta pikiran.
Tetapi Tika mendelik.
Pertama kepadaku.
Lalu kepada adiknya.
Sudut bibirnya bergerak, tetapi ia menahannya.
Ia hanya menatapku sebentar.
“Enggak apa-apa,” katanya pelan.
Aku baru sadar tanganku masih menggantung.
“Maaf. Refleks.”
“Iya,” katanya. “Aku tahu.”
Tika cepat-cepat menoleh lagi kepada Badru.
“Nah, lanjut. Kamu belum jelasin kenapa ada ayam kesetrum di buku aku.”
“Bukan ayam,” kata Badru.
“Terus apa?”
Badru diam sebentar.
Mungkin baru sadar pembelaannya tidak punya arah yang cukup aman.
“Burung,” katanya akhirnya.
Tika menatap gambar itu, lalu menatap Badru lagi.
“Burungnya habis kena masalah hidup?”
Badru membuka mulut hendak membalas, tetapi kali ini tidak menemukan kalimat yang cukup cepat.
Aku hampir tertawa.
Hampir.
Namun sebagian diriku masih tertinggal pada satu kata yang baru saja keluar dari mulutku sendiri.
Teh.
Ia kembali membuka bukunya.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Tetapi sebelum menunduk sepenuhnya, aku melihat sudut bibirnya bergerak sedikit.
Senyum kecil.
Hampir tidak ada.
Dan justru karena hampir tidak ada, aku mengingatnya terlalu lama.
Setelah itu, percakapan kembali bergerak ke hal-hal biasa.
Tika mengeluh tentang tugas sekolah. Badru mengarang teori bahwa guru kimianya sebenarnya tidak membenci murid, hanya membenci kebahagiaan. Tika memukul lengannya dengan buku catatan. Adiknya beberapa kali diminta mengambil sesuatu dari dalam rumah: sendok kecil, kain lap, buku lain yang tertinggal di ruang tengah.
Setiap kali ia lewat, aku menunduk sedikit lebih cepat daripada yang seharusnya. Bukan karena tidak ingin melihatnya; justru karena aku terlalu sadar sedang ingin melihat.
Sebelum pulang, ibu Tika muncul sebentar dari dalam rumah. Ia ramah, bertanya namaku, sekolahku, daerah rumahku. “Bagas, Bu,” kata Tika. “Temennya Badru. Anak sekolah sebelah. Pinter banget.”
Kata itu lagi: pintar. Di banyak tempat, kata itu dipakai untuk memujiku. Lama-lama ia terasa seperti pagar; orang-orang melihatku dari baliknya, yakin aku berada di tempat lebih tinggi, padahal aku sendiri sering merasa terkunci di dalam sesuatu yang tidak bisa kubuka.
Ketika aku dan Badru akhirnya pamit, hari sudah lebih sore dari rencana. Tika mengantar sampai pagar. Adiknya berdiri di teras, memegang buku di d**a.
“Makasih,” kataku kepadanya.
Ia mengangguk. “Sama-sama.”
Dua kata yang biasa saja, tetapi cara ia mengatakannya tidak membuatku merasa menjadi tamu yang canggung. Ia hanya membiarkan kalimat itu ada, lalu selesai dengan sendirinya.
Dalam perjalanan pulang, Badru berkata tanpa menoleh, “Adiknya Tika baik, ya?” Aku menjawab terlalu cepat, “Biasa aja.” Ia tertawa kecil. “Lu kalau bilang biasa aja, artinya otak lu lagi bikin rapat darurat.”
Sejak sore itu, rumah Tika berubah menjadi titik kecil di peta ingatanku: teras, gelas teh, pohon jambu air, suara Tika dan Badru yang saling memotong kalimat, dan seseorang yang menyodorkan minum tanpa membuatku merasa berutang.
Aku tidak langsung menyebutnya suka.
Anak laki-laki sepertiku terlalu pandai menunda nama untuk perasaan yang membuatnya takut.
Aku menyebutnya kebetulan.
Menyebutnya kesan baik.
Menyebutnya rasa nyaman yang wajar karena rumah orang itu memang ramah.
Tetapi tubuhku tahu.
Tubuh memang sering tahu lebih dulu.
Sejak sore itu, setiap kali Tika menyebut adiknya di halte, aku mendengarkan sedikit lebih sungguh-sungguh.
Setiap kali ada anak perempuan berseragam putih abu-abu berjalan dari arah sekolahku dengan buku dipeluk ke d**a, mataku bergerak sebelum pikiranku sempat melarang.
Setiap kali hujan turun menjelang pulang sekolah, aku mengingat teras rumah itu dan cara seseorang berkata, “Minum dulu. Masih panas.”
Hal-hal kecil.
Selalu hal-hal kecil.
Sering kali hidup berubah karena seseorang masuk pelan-pelan melalui celah yang bahkan tidak kita sadari terbuka.
Aku tidak tahu, waktu itu, bahwa sore di rumah Tika akan menjadi salah satu tempat yang paling sering dikunjungi penyesalanku kelak. Yang kutahu hanya satu: ada seseorang yang tidak membuatku merasa harus menjadi apa-apa, dan bagi anak laki-laki yang sepanjang hidupnya merasa harus menjadi sesuatu agar layak diterima, itu sangat berbahaya.