Aku tidak langsung tahu bahwa perasaan bisa datang tanpa pengumuman.
Aku dulu mengira rasa suka selalu dimulai dengan sesuatu yang jelas: percakapan panjang, tatapan yang disengaja, surat yang diselipkan di buku, atau setidaknya kejadian yang cukup dramatis untuk dikenang dengan mudah.
Ternyata tidak.
Kadang ia datang dari hal-hal yang terlalu kecil untuk dibela sebagai peristiwa.
Dari cara seseorang menaruh kertas kecil di tepi meja, bukan tepat di depan tanganmu, karena ia tidak ingin mengganggu.
Dari cara seseorang berkata “kelihatan” tanpa membuat diam seseorang terasa seperti kekurangan.
Dari cara seseorang tidak memaksamu menjelaskan kenapa wajahmu tampak lelah, padahal hampir semua orang lain merasa berhak bertanya.
Dan yang paling berbahaya, dari cara seseorang membuatmu merasa boleh ada tanpa harus segera menjadi apa-apa.
Aku tidak punya bahasa untuk itu waktu itu.
Jika ada yang bertanya, aku mungkin akan berkata bahwa aku hanya merasa nyaman.
Nyaman.
Kata yang terdengar aman.
Kata yang bisa dipakai tanpa mengaku terlalu banyak.
Tetapi kenyamanan, bagi anak laki-laki yang sepanjang hidupnya lebih sering merasa dirinya harus berguna agar boleh dicintai, bukan sesuatu yang sederhana.
Ia terasa seperti ruangan asing.
Hangat.
Tetapi menakutkan.
Karena di dalam ruangan itu, semua alasan untuk membenci diri sendiri mulai terdengar terlalu keras.
Aku tahu namanya dari Tika, tentu saja.
Aku mengenal nama itu bukan dari perkenalan yang rapi atau kalimat, “Ini adikku,” melainkan dari panggilan yang beberapa kali terlontar di rumah itu.
“Teh, ambilin gelas.”
“Teh, buku aku lihat enggak?”
“Teh, nanti jangan lupa bilang ke Ibu.”
Nama itu awalnya hanya informasi.
Tiga huruf yang menempel pada sosok yang pendiam, pada buku yang selalu dipeluk ke d**a, pada tatapan yang tidak terburu-buru menilai.
Tetapi semakin sering aku mendengarnya, semakin nama itu berubah menjadi sesuatu yang sulit kutempatkan.
Namanya tidak panjang atau aneh. Tetapi setiap kali kusebut dalam hati, ada bagian dari diriku yang seperti berjalan lebih pelan.
Di sekolah, aku mulai melihatnya lebih sering.
Atau mungkin ia memang selalu ada di sana, dan akulah yang baru belajar melihat.
Ia satu tingkat di bawahku.
Kelas dua.
Anak-anak kelas dua biasanya terasa seperti dunia yang sedikit terpisah dari kami yang sudah mulai diburu urusan kelulusan, seleksi masuk perguruan tinggi, dan percakapan-percakapan besar yang sebenarnya terlalu berat untuk usia tujuh belas tahun.
Tetapi sejak mengenalnya, jarak satu tingkat itu terasa seperti jarak yang aneh.
Dekat.
Namun tetap membuatku sadar bahwa ada batas-batas kecil yang tidak bisa kulewati seenaknya.
Aku melihatnya di koridor dekat ruang guru, membawa tumpukan buku bersama dua temannya.
Aku melihatnya di halaman belakang, berdiri di bawah pohon ketapang sambil membaca selebaran kegiatan sekolah.
Aku melihatnya di kantin, membeli air mineral, lalu langsung pergi sebelum suasana terlalu ramai.
Setiap kali itu terjadi, tubuhku bereaksi lebih cepat daripada pikiranku.
Punggung menegang.
Telapak tangan terasa basah.
Mata pura-pura melihat ke arah lain.
Lalu setelah ia lewat, aku menyesal karena tidak menyapa.
Atau lega karena tidak menyapa.
Aku tidak tahu.
Masa remaja memang sering berupa kebingungan yang kita kira hanya terjadi pada diri sendiri.
Padahal mungkin semua orang sedang berjalan dengan tubuh yang sama canggungnya, hanya saja sebagian lebih pandai menyembunyikannya.
Dia pandai menyembunyikan banyak hal.
Itu kesan yang perlahan kupahami.
Ia tidak sedingin yang dikira orang yang hanya melihatnya dari jauh. Ia bisa tersenyum. Bisa tertawa kecil jika Tika mengatakan sesuatu yang terlalu berlebihan. Bisa menjawab Badru dengan kalimat pendek yang membuat Badru kehilangan bahan untuk melawan. Tetapi ia tidak pernah boros menunjukkan diri.
Seolah sejak kecil ia belajar bahwa terlalu terlihat bisa melelahkan.
Atau mungkin aku hanya sedang membaca diriku sendiri melalui dirinya.
Aku tidak tahu.
Yang jelas, di dekatnya aku merasa ada sesuatu yang mereda.
Bukan masalahku.
Masalahku tetap ada.
Uang tetap menjadi pikiran.
Masa depan tetap terasa seperti lorong panjang.
Rumah tetap sunyi dengan cara yang membuatku harus berhati-hati saat bernapas.
Tetapi di dekatnya, semua itu tidak langsung hilang.
Hanya menjadi sedikit tidak sendirian.
Setelah pertemuan di perpustakaan itu, perasaanku tidak langsung menjadi sesuatu yang bisa kutunjuk. Ia hanya menetap dalam kebiasaan-kebiasaan kecil: cara aku menunggu ia lewat di koridor, cara aku mendengar nama Tika dengan perhatian yang tidak wajar, cara hujan membuatku kembali mencari bangku dekat jendela meski tidak ada lagi halaman yang benar-benar k****a.
Perasaan itu tumbuh bukan seperti api.
Lebih seperti lumut.
Pelan.
Diam.
Menempel di tempat-tempat lembap dalam ingatan.
Pada mulanya aku masih bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Aku tetap berdiri bersama teman-teman di halte, mendengarkan Badru berdebat dengan Tika, Dandi mengeluh lapar, Andri mencari kesempatan memakan sesuatu yang bukan miliknya, Iis merapikan poni sambil mengomel bahwa semua laki-laki di dunia ini punya bakat menyebalkan.
Aku tetap tertawa kecil saat mereka menarikku masuk ke percakapan.
Tetap membantu Dandi mengerjakan soal.
Tetap menjawab pertanyaan guru.
Tetap pulang ke rumah dengan langkah yang sama.
Tetapi ada bagian dari diriku yang tidak lagi kembali sepenuhnya ke tempat semula.
Bagian itu tertinggal di perpustakaan.
Di halte.
Di teras rumah Tika.
Di setiap tempat yang pernah ia singgahi sebentar lalu tinggalkan sesuatu yang tidak bisa kusebut dengan nama yang aman.
Badru mulai menyadarinya lebih cepat daripada yang kuharapkan.
Suatu sore, ketika kami berdiri agak jauh dari yang lain di halte, ia menyenggol lenganku dengan bahunya.
“Lu kalau lagi lihat sesuatu, pura-puranya jelek, Gas.”
Aku menatap jalan.
“Ngomong apa?”
“Pura-pura enggak lihat.”
“Aku memang enggak lihat apa-apa.”
Badru mendengus.
“Kalau lu bohong, kalimat lu jadi terlalu rapi.”
Aku diam.
Di seberang jalan, dia sedang berbicara dengan Tika. Ia memegang buku di d**a, kepalanya sedikit menunduk, mendengarkan kakaknya yang bicara dengan gerakan tangan berlebihan. Sesekali dia mengangguk. Sesekali dia tersenyum kecil.
Tidak ada yang istimewa.
Tidak ada yang seharusnya membuat d**a seseorang terasa sempit.
Namun aku tidak bisa berhenti menyadarinya.
Badru mengikuti arah pandangku, lalu berkata pelan, “Dia baik.”
Aku langsung menoleh.
“Siapa?”
“Jangan g****k selektif.”
Aku ingin membantah.
Tidak jadi.
Badru menatap jalan, suaranya kali ini lebih rendah.
“Tapi hati-hati.”
Aku mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Hati-hati sama diri lu sendiri.”
Aku tidak mengerti waktu itu.
Atau mungkin aku mengerti, tetapi memilih tidak.
Badru jarang berbicara serius. Karena itu, setiap kali ia melakukannya, aku justru ingin menganggapnya bercanda.
“Tumben bijak,” kataku.
“Gue selalu bijak. Cuma kalian terlalu dangkal untuk memahami.”
Aku tersenyum kecil.
Pembicaraan itu selesai di sana karena Dandi datang sambil membawa gorengan dan langsung menuduh Badru mencuri tempat duduknya di halte, padahal halte itu milik umum dan Dandi bahkan belum datang sebelumnya.
Tetapi kalimat Badru tertinggal.
Hati-hati sama diri lu sendiri.
Aku baru tahu puluhan tahun kemudian bahwa ada orang-orang yang bisa melihat bahaya bukan dari apa yang terjadi, tetapi dari cara seseorang mulai berbohong kepada dirinya sendiri.
Dan aku sedang mulai melakukan itu.
Aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku hanya senang punya teman baru.
Bahwa dia hanya adik Tika.
Bahwa ia baik kepada semua orang.
Bahwa aku tidak sedang menunggu apa pun.
Bahwa rasa nyaman bukan berarti apa-apa.
Bahwa aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal semacam itu karena hidupku sudah terlalu penuh oleh urusan yang lebih nyata.
Uang.
Sekolah.
Kelulusan.
Masa depan.
Rumah.
Kakakku.
Ibu tiri.
Harapan guru-guru.
Biaya yang belum tahu dari mana akan datang.
Aku menumpuk semua alasan itu seperti buku-buku di atas meja, berharap perasaan kecil yang bergerak di bawahnya akan kehabisan udara.
Tetapi perasaan tidak mati hanya karena kita menindihnya dengan alasan.
Ia hanya belajar bernapas lebih pelan.
Ada satu hari ketika hujan turun deras setelah jam sekolah.
Aku tertahan di koridor dekat perpustakaan. Sebagian murid sudah pulang dengan menutupi kepala memakai tas. Sebagian lain bergerombol di depan kelas, menunggu hujan reda sambil tertawa terlalu keras. Bau tanah basah naik dari halaman, bercampur dengan aroma papan tulis basah dan sepatu yang menginjak lantai lembap.
Aku berdiri sendiri, memegang tas di depan d**a.
Lalu dia muncul dari tangga.
Ia berhenti ketika melihatku.
Tidak lama.
Hanya cukup untuk membuatku merasa harus memikirkan cara berdiri yang benar.
“Belum pulang?” tanyanya.
“Belum.”
“Hujannya deras.”
“Iya.”
Percakapan kami sering begitu.
Pendek.
Seperti dua orang yang sama-sama takut membuat sesuatu menjadi terlalu jelas.
Ia berdiri di sampingku, tidak terlalu dekat. Dari tempat itu, kami bisa melihat halaman sekolah yang berubah menjadi genangan kecil. Air menetes dari ujung atap dengan irama rapat. Di kejauhan, seorang guru berlari menuju ruang parkir sambil memegang map di atas kepala.
Aku ingin mengatakan sesuatu.
Apa saja.
Tentang hujan.
Tentang buku.
Tentang Tika.
Tentang bagaimana aku sering melihatnya di perpustakaan dan pura-pura tidak melihat.
Tetapi yang keluar hanya, “Tika udah pulang?”
“Belum. Katanya mau nunggu di gerbang sekolah.”
“Oh.”
Aku membenci diriku sendiri setiap kali berkata oh.
Dia menoleh sedikit.
“Kamu sering jawab begitu.”
“Apa?”
“Oh.”
Aku merasa wajahku panas.
“Maaf.”
Ia tersenyum kecil.
“Enggak apa-apa. Setidaknya konsisten.”
Untuk pertama kalinya, aku tertawa di dekatnya tanpa merasa terlalu bersalah.
Tawa itu kecil.
Cepat hilang.
Tetapi cukup untuk membuat sesuatu di udara berubah.
Ia menatap hujan lagi.
“Kamu kalau diam, kadang kelihatan seperti sedang menghitung sesuatu.”
Aku terdiam.
Karena ia benar.
Aku memang hampir selalu menghitung sesuatu.
Biaya.
Kemungkinan.
Risiko.
Jarak.
Berapa lama seseorang bisa bertahan sebelum ketahuan bahwa dirinya tidak sehebat yang disangka orang lain.
“Apa yang dihitung?” tanyanya.
Aku mengangkat bahu.
“Banyak.”
Ia tidak mendesak.
Tidak berkata, “Cerita aja.”
Tidak berkata, “Jangan dipendam.”
Tidak melakukan hal-hal yang biasanya membuatku semakin ingin menutup diri.
Ia hanya berkata, “Capek ya?”
Dua kata itu hampir membuatku runtuh.
Bukan karena dramatis.
Justru karena terlalu sederhana.
Aku memandangi hujan, menelan sesuatu yang tiba-tiba terasa berat di tenggorokan.
“Lumayan,” kataku.
Ia mengangguk.
“Kalau capek, berhenti dulu.”
Aku menoleh.
Ia tidak melihatku.
Ia hanya menatap hujan, seolah kalimat itu bukan nasihat besar, bukan usaha menyelamatkan, hanya sesuatu yang masuk akal.
Kalau capek, berhenti dulu.
Pada usia itu, tidak banyak orang mengatakan hal semacam itu kepadaku.
Orang-orang lebih sering berkata aku harus maju, harus mencoba, harus berani, harus mengambil kesempatan, harus membuktikan bahwa aku bisa.
Tidak banyak yang mengatakan bahwa aku boleh duduk.
Boleh berhenti sebentar.
Boleh tidak menjadi kuat selama beberapa menit.
Aku ingin mengucapkan terima kasih.
Tetapi mulutku tidak bergerak.
Tidak apa-apa.
Ia sepertinya tidak menunggu.
Dan justru karena tidak menunggu, aku merasa kalimat itu tinggal lebih lama.
Hujan reda hampir setengah jam kemudian.
Tika datang menjemput dari arah gerbang, mengeluh karena sandalnya basah. Badru muncul bersamanya entah dari mana, membawa payung rusak yang lebih banyak meneteskan air daripada melindungi kepala. Mereka berdebat sepanjang jalan menuju halte.
Aku berjalan beberapa langkah di belakang.
Dia berjalan di samping Tika.
Sesekali ia menoleh ke arahku.
Tidak banyak.
Hanya cukup untuk memastikan aku masih ada.
Dan anehnya, itu membuatku merasa seperti seseorang yang untuk sementara tidak tertinggal.
Sejak hari itu, aku mulai takut pada perasaanku sendiri.
Bukan karena dia melakukan sesuatu yang salah.
Ia tidak melakukan apa-apa selain menjadi dirinya.
Justru itu masalahnya.
Ia tidak memintaku menjadi lebih pintar.
Tidak memintaku menjelaskan rencana masa depan.
Tidak memandangku seperti proyek yang harus berhasil.
Tidak kagum secara berlebihan pada nilai-nilaiku.
Tidak kasihan secara terang-terangan pada diamku.
Ia hanya ada.
Dan keberadaannya membuat bagian-bagian diriku yang selama ini berusaha kusembunyikan mulai ingin keluar.
Itu menakutkan.
Karena aku tidak tahu apakah seseorang masih akan tinggal jika melihatku tanpa semua lapisan yang selama ini kupakai untuk tampak pantas.