Hari pengumuman kelulusan seleksi datang dengan langit yang terlalu cerah.
Sekolah ramai sejak pagi. Anak-anak berkumpul di depan papan pengumuman. Ada yang tertawa terlalu keras, ada yang komat-kamit, ada yang pura-pura santai sambil kakinya tidak berhenti bergerak.
Aku berdiri agak jauh.
Dandi di sampingku, berkeringat meski udara belum panas.
“Kalau gue enggak lulus, lu tetap temenan sama gue kan?” katanya.
“Enggak.”
“Jahat.”
“Biar kamu termotivasi.”
Ia tertawa gugup.
Badru muncul entah dari mana, padahal itu bukan sekolahnya.
“Gue datang sebagai saksi sejarah,” katanya.
“Sejarah apa?” tanya Dandi.
“Entah. Yang penting nanti bisa cerita.”
Ketika daftar nama akhirnya ditempel, kerumunan bergerak seperti air bah. Suara-suara meninggi. Ada yang berteriak. Ada yang menangis. Ada yang langsung berlari mencari telepon umum untuk mengabari rumah.
Aku mendekat pelan.
Mencari namaku.
Dan menemukannya.
Bagas.
Teknik Elektro.
Universitas negeri ternama.
Untuk beberapa detik, semua suara hilang.
Tidak ada sorak.
Bangga dan lega tidak datang. Yang ada hanya kosong.
Benar-benar kosong.
Lalu tubuhku bereaksi aneh.
Telapak tangan dingin.
Perut seperti jatuh.
Tenggorokan mengering.
Dandi memelukku dari samping sampai hampir membuatku tersandung.
“Gila, Gas! Lulus!”
Badru menepuk punggungku berkali-kali.
“Gue bilang juga apa! Otak lu tuh investasi negara!”
Guru-guru menyalamiku. Wali kelasku berkaca-kaca. Seseorang berkata Bapakku pasti bangga. Seseorang lain berkata ini awal hidup baru.
Aku tersenyum.
Mengangguk.
Menerima ucapan selamat.
Menjadi anak pintar yang seharusnya bahagia.
Tetapi di dalam kepala, angka-angka mulai berlari lebih cepat daripada suara orang-orang.
Uang masuk.
Kos.
Makan.
Buku.
Transport.
Praktikum.
Kalau gagal?
Kalau tidak kuat?
Kalau semester pertama saja aku sudah tertinggal?
Kalau semua orang akhirnya tahu bahwa aku hanya pintar di kota kecil ini, tetapi biasa saja di tempat yang lebih besar?
Kalau…
Kalau…
Kalau…
Napas pendek.
Terlalu banyak suara.
Terlalu banyak tangan menepuk bahu.
Terlalu banyak harapan.
Aku mundur dari kerumunan.
“Gas?”
Aku tidak tahu siapa yang memanggil.
Mungkin Dandi.
Mungkin Badru.
Mungkin guru.
Aku hanya tahu aku harus keluar dari sana sebelum wajahku memperlihatkan sesuatu yang tidak pantas ditunjukkan oleh orang yang baru saja menerima kabar baik.
Di rumah, kakakku tersenyum lebar ketika mendengar kabar itu.
Senyum yang jarang sekali kulihat.
Ia memegang kertas pengumuman itu lama-lama, seolah takut tulisan di atasnya berubah kalau ia berkedip.
“Bapak pasti bangga,” katanya.
Aku mengangguk.
Ibu tiriku berdiri di pintu dapur. Ia tidak banyak bicara, tetapi hari itu ia memasak telur dadar lebih tebal dari biasanya. Itu caranya merayakan sesuatu.
Kami makan malam dengan lauk sederhana, tetapi suasananya terasa sedikit lebih terang.
Dan justru itu yang menghancurkanku.
Karena untuk pertama kalinya aku melihat dengan jelas: mereka benar-benar berharap.
Mereka tidak memaksa atau menekan. Mereka hanya berharap.
Dan harapan yang lahir dari cinta sering kali jauh lebih berat daripada tuntutan.
Malamnya aku tidak tidur.
Aku duduk di kamar, memandangi surat kelulusan yang terlipat di meja belajar.
Di luar, suara jangkrik panjang dan monoton. Dari ruang tengah terdengar dengkur pelan kakakku. Rumah kami tidur dengan kelelahan yang sama seperti biasa, tetapi malam itu aku merasa seluruh rumah sedang menunggu keputusanku.
Aku mengambil pensil.
Menulis hitungan lagi.
Menghapus.
Menulis lagi.
Menghapus lagi.
Semakin lama, surat kelulusan itu tidak lagi terlihat seperti pintu.
Ia terlihat seperti jurang.
Dan aku berdiri di tepinya sambil semua orang di belakangku berkata, “Lompat, kamu bisa.”
Mungkin aku memang bisa.
Mungkin aku hanya perlu melompat.
Mungkin hidupku akan berbeda.
Mungkin.
Tetapi kata “mungkin” tidak cukup kuat untuk mengalahkan ketakutan yang sejak kecil kubesarkan sendiri.
Menjelang subuh, aku membuat keputusan itu.
Tidak dengan teriakan.
Tidak dengan tangis.
Tidak dengan adegan besar.
Hanya dengan tubuh lelah yang akhirnya berhenti melawan.
Aku tidak akan mengambilnya.
Aku akan bekerja dulu.
Membantu keluarga.
Kuliah bisa nanti.
Kalimat-kalimat itu terdengar baik.
Terdengar dewasa.
Terdengar seperti pengorbanan.
Dan karena terdengar baik, tidak ada yang tahu bahwa di dalamnya ada seorang anak lelaki yang sedang bersembunyi.
Beberapa hari setelah aku mengatakan keputusan itu, banyak orang mencoba membujukku.
Wali kelas.
Guru BK.
Dandi.
Badru.
Kakakku, dengan cara paling hati-hati, bahkan menawarkan menjual motor tuanya.
Aku menolak semuanya.
Semakin mereka membujuk, semakin aku mengeras.
Bukan karena yakin.
Tetapi karena orang yang sudah terlanjur takut sering kali salah mengira keras kepala sebagai keberanian.
“Lu yakin?” tanya Badru di halte suatu sore.
Aku mengangguk.
“Gue kerja dulu.”
“Kerja apa?”
“Apa aja.”
“Kalau apa aja, berarti lu belum punya rencana.”
Aku menatap jalan.
Angkot belum datang.
Langit mulai gelap.
Tika dan Iis berdiri tidak jauh dari kami. Dandi duduk di pagar rendah sambil memainkan plastik bekas gorengan. Andri sedang membeli minum di warung.
Aku bisa merasakan mereka semua mendengar, meski pura-pura tidak mendengar.
“Enggak semua orang bisa kuliah, Dru.”
Badru mengisap napas panjang.
“Gue tahu.”
“Nah.”
“Tapi enggak semua orang yang bilang enggak bisa itu benar-benar enggak bisa.”
Aku menoleh tajam.
Ada rasa panas naik ke wajahku.
“Lu enggak ngerti.”
Badru tidak mundur.
“Mungkin.”
“Lu enggak hidup di rumah gue.”
“Iya.”
“Lu enggak tahu rasanya—”
Aku berhenti.
Karena kalau kulanjutkan, mungkin aku akan mengatakan sesuatu yang terlalu jujur.
Terlalu telanjang.
Terlalu memalukan.
Badru memandangku lama.
Lalu, untuk pertama kalinya sore itu, ia tidak menjawab dengan kalimat absurd.
Ia hanya berkata pelan, “Gue cuma takut lu nyerah sambil nyebutnya berkorban.”
Kalimat itu tinggal dalam tubuhku lebih lama daripada yang mau kuakui.
Bahkan sekarang.
Puluhan tahun kemudian.
Yang paling menyakitkan bukan kemarahan orang-orang.
Bukan kekecewaan guru.
Bukan pertanyaan tetangga.
Yang paling menyakitkan adalah wajah seorang perempuan yang waktu itu belum benar-benar kupahami tempatnya dalam hidupku.
Ia berdiri beberapa langkah di belakang Tika ketika kabar keputusanku sampai ke telinganya.
Tidak banyak bicara.
Tidak menuntut penjelasan.
Tidak memandangku seperti orang yang gagal.
Itulah yang paling menyiksa.
Karena kemarahan mungkin bisa kulawan.
Kekecewaan bisa kubantah.
Tetapi kelembutan membuat semua alasan yang kususun terasa rapuh.
Sore itu, setelah yang lain bubar, kami sempat berjalan berdua sebentar di dekat gang menuju halte. Hujan baru selesai. Jalan masih basah. Air menggenang di lubang-lubang kecil aspal. Udara membawa bau tanah, daun, dan knalpot angkot yang lewat terlalu dekat.
Ia berjalan di sampingku, tidak terlalu dekat.
Cukup dekat untuk membuatku sadar pada diamnya.
“Aku dengar kamu enggak jadi ambil kuliah,” katanya.
Aku menatap jalan.
“Iya.”
“Karena keluarga?”
Pertanyaan itu memberiku jalan keluar yang mudah.
Aku bisa saja menjawab iya.
Sebagian memang benar.
Dan kebenaran yang hanya sebagian sering menjadi kebohongan paling nyaman.
“Iya,” kataku.
Ia diam.
Aku menunggu ia mengangguk, menerima, lalu selesai.
Tetapi ia tidak langsung bicara.
Langkah kami melambat.
Dari kejauhan terdengar Tika memanggil namanya, tetapi ia belum menoleh.
“Kamu yakin cuma karena itu?” tanyanya pelan.
Aku berhenti berjalan.
Dada terasa sempit.
“Apa maksudnya?”
Ia menatapku.
Tidak tajam.
Tidak menuduh.
Justru lembut.
Dan kelembutan itu membuatku ingin marah karena tidak tahu harus bersembunyi di mana.
“Aku cuma ngerasa,” katanya hati-hati, “kamu tuh lebih takut gagal daripada sebenarnya enggak mampu.”
Aku tertawa kecil.
Kering.
“Itu sok tahu.”
Mungkin kalimat itu melukainya.
Mungkin tidak.
Yang kuingat, ia menunduk sebentar, lalu mengangguk pelan seperti menerima batas yang baru saja kupasang.
“Iya. Mungkin.”
Aku langsung menyesal.
Tetapi gengsi selalu bergerak lebih cepat daripada permintaan maaf.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Ia memegang tali tasnya dengan kedua tangan.
Lalu berkata, sangat pelan, hampir hilang di antara suara kendaraan:
“Enggak semua orang harus kuat sendirian, Gas.”
Aku membenci kalimat itu.
Bukan karena salah.
Tetapi karena terlalu benar.
Karena saat itu aku tahu, lebih dari siapa pun, bahwa aku sebenarnya ingin sekali berhenti kuat.
Ingin sekali ada yang melihatku tanpa gelar anak pintar, tanpa beban harapan keluarga, tanpa tuntutan harus berhasil; hanya sebagai anak laki-laki yang takut dan tidak tahu harus bagaimana.
Tetapi ketika kesempatan itu ada di depanku, ketika seseorang hampir menyentuh bagian paling rapuh dari diriku dengan hati-hati, aku justru mundur.
Aku memilih marah.
Memilih diam.
Memilih terlihat tegar.
Karena lebih mudah kehilangan seseorang daripada membiarkan ia melihat betapa kecilnya dirimu di dalam.
Sekarang, setelah puluhan tahun berlalu, aku sering bertanya-tanya apakah hidupku benar-benar dibelah pada hari aku menolak kuliah.
Mungkin tidak.
Mungkin hidup tidak pernah retak hanya karena satu keputusan.
Mungkin retakan itu sudah ada jauh sebelumnya: sejak Bapak meninggal, sejak uang pensiun dihitung di meja makan, sejak aku belajar bahwa dicintai berarti tidak boleh merepotkan, sejak nilai bagus menjadi cara termudah untuk membuat orang melihatku dengan bangga.
Keputusan itu hanya suara keras dari sesuatu yang sudah lama pecah pelan-pelan.
Tetapi tetap saja, ada hari-hari tertentu yang menjadi penanda.
Hari ketika seorang anak laki-laki memilih tidak melompat.
Hari ketika ia menyebut ketakutannya sebagai pengorbanan.
Hari ketika ia mulai menjauh dari orang-orang yang sebenarnya ingin menolongnya.
Hari ketika ia gagal memahami bahwa ada perempuan muda di dekatnya yang tidak sedang menunggu ia menjadi hebat.
Hanya menunggu ia jujur.
Dan aku tidak sanggup melakukan itu.
Tidak pada usia tujuh belas.
Tidak di halte itu.
Tidak di hadapan mata yang terlalu lembut untuk kebohongan-kebohonganku.