Ada keputusan-keputusan yang kelihatannya selesai dalam beberapa menit, tetapi hukumannya berlangsung puluhan tahun.
Aku baru benar-benar memahami itu setelah menjadi tua.
Aku akan sampai di sana. Tapi dulu, ada satu keputusan yang harus lebih dulu kuceritakan.
Waktu muda, manusia terlalu sering memberi nama yang terdengar baik pada ketakutannya sendiri. Kita menyebutnya prinsip. Pengorbanan. Kedewasaan. Realisme. Kita membungkus kepengecutan dengan kata-kata yang lebih rapi agar tidak terlalu malu saat bercermin.
Aku pernah melakukan itu.
Dan karena hidup tidak selalu menghukum seseorang dengan cara yang keras, aku sempat percaya keputusan itu benar.
Aku bekerja.
Aku bertahan.
Aku menikah.
Aku punya anak.
Aku membangun rumah.
Aku menjadi laki-laki yang, dari luar, tampak cukup berhasil untuk ukuran hidup yang dulu nyaris tidak memberiku banyak pilihan.
Tetapi ada bagian dari diriku yang berhenti pada hari keputusan itu dibuat.
Bagian yang tetap memakai seragam putih abu-abu.
Tetap berdiri di depan papan pengumuman sekolah.
Tetap memegang kertas kelulusan dengan tangan yang gemetar.
Tetap bertanya, sampai puluhan tahun kemudian: apakah aku benar-benar memilih, atau hanya lari dengan wajah yang terlihat dewasa?
Semester akhir SMA datang dengan cara yang membuat semua orang terburu-buru menjadi dewasa. Guru-guru menyebut nama universitas seperti mantra: Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Depok. Bagi teman-temanku, kota-kota itu terdengar seperti petualangan. Bagiku, semuanya berubah menjadi daftar biaya.
Formulir. Kos. Buku. Makan. Transportasi. Praktikum. Bahkan ketika guru menjelaskan turunan fungsi, yang kulihat justru sisa uang pensiun Bapak setelah beras dibeli, listrik dibayar, dan utang warung dilunasi setengah.
Beasiswa mungkin ada. Guru-guru percaya aku bisa. Kakakku pasti akan berusaha membantu. Semua kemungkinan baik itu justru membuat dadaku makin sesak, karena bantuan hampir selalu datang bersama harapan yang lebih berat.
Di sekolah, semua orang tampak yakin aku akan pergi jauh.
Wali kelasku pernah memanggilku setelah jam pelajaran berakhir. Ruang guru waktu itu panas. Kipas angin berputar malas di langit-langit. Di meja beliau ada tumpukan berkas siswa, gelas teh yang sudah dingin, dan brosur universitas yang sudutnya melengkung.
“Bagas, kamu sudah pikirkan jurusan?”
“Teknik, Bu.”
“Elektro?”
Aku mengangguk.
Beliau tersenyum. Senyum guru yang menemukan alasan untuk tetap percaya pada pekerjaannya.
“Kamu punya peluang besar.”
Aku menunduk.
Kalimat itu seharusnya membuatku bahagia.
Tetapi yang kurasakan justru sesuatu yang menekan dari dalam.
Peluang besar.
Dua kata itu seperti pintu tinggi yang terbuka di depanku, sementara kakiku tidak yakin mampu melewati ambangnya.
“Jangan takut mencoba,” katanya lagi.
Aku mengangguk seperti murid baik.
Padahal di dalam kepala, satu suara kecil menjawab:
Aku bukan takut mencoba.
Aku takut semua orang melihatku gagal setelah mereka yakin aku bisa.
Itu perbedaannya.
Dan perbedaan itu menghancurkan banyak hal dalam hidupku.
Dandi menghadapi masa itu dengan santai yang membuatku iri. “Gue daftar juga deh,” katanya suatu sore di halte. “Universitas.” Andri langsung menoleh. “Lu yakin kampusnya siap?”
Mereka tertawa. Aku ikut tersenyum, tetapi pikiranku jauh. Dandi bisa bercanda tentang masa depan karena jika ia jatuh, lantainya empuk. Aku tidak membencinya karena itu. Aku hanya iri, dan iri kepada orang baik selalu terasa lebih memalukan.
“Lu daftar mana, Gas?” tanya Tika. Aku menjawab, “Belum tahu.” Badru melirik. “Belum tahu atau belum mau ngomong?”
Aku mengangkat bahu. Di ujung jalan, angkot berhenti mendadak dan asapnya memenuhi udara. Sejak tahu adik Tika kadang muncul dari arah gang itu, tempat itu tidak lagi netral. Namun sore itu tidak ada siapa-siapa. Hanya angkot, asap, dan masa depan yang mulai menuntut kulihat terlalu jelas.
Sore lain, hujan turun deras sebelum bel pulang.
Aku dan Badru berteduh di depan koperasi sekolahku. Ia datang menjemput entah siapa, atau mungkin hanya datang karena baginya batas antar sekolah tidak pernah benar-benar penting. Badru selalu punya cara muncul di tempat yang tidak masuk akal, lalu bertindak seolah tempat itu memang menunggunya.
Ia merokok sembunyi-sembunyi, menangkupkan tangan agar bara tidak mati kena percikan air.
“Lu daftar ITB kan?” tanyanya.
Aku memandangi hujan yang memukul halaman.
“Belum tentu.”
“Asal lu tahu, jawaban ‘belum tentu’ dari orang kayak lu itu ngeselin.”
“Kenapa?”
“Karena kalau gue yang bilang belum tentu, orang maklum. Kalau lu yang bilang, orang jadi curiga ada kiamat pribadi.”
Aku tertawa kecil.
Tetapi tawa itu pendek.
Cepat mati.
Badru mengisap rokoknya sekali, lalu membuang pandangan ke arah lapangan yang becek.
“Serius, Gas. Lu kenapa akhir-akhir ini?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Bohong.”
Aku diam.
Hujan membuat suara dunia menjadi rapat. Anak-anak berlari menutupi kepala dengan tas. Guru-guru berjalan cepat ke ruang parkir. Bau tanah basah naik dari halaman, bercampur dengan asap rokok Badru dan aroma gorengan dari warung dekat gerbang.
“Lu kelihatan kayak orang mau tenggelam,” katanya.
Kalimat itu membuat dadaku nyeri.
Karena ada kalanya seseorang yang absurd justru melihatmu terlalu jelas.
Aku ingin mengatakan banyak hal padanya.
Tentang uang.
Tentang kakakku.
Tentang ibu tiri yang menghitung belanja sampai larut.
Tentang surat pendaftaran yang kusimpan di bawah buku matematika karena terlalu takut melihatnya.
Tentang bagaimana setiap pujian guru membuatku ingin kabur.
Tetapi mulutku hanya berkata:
“Gue cuma realistis.”
Badru menoleh.
“Realistis sama takut itu kadang bajunya mirip, Gas.”
Aku tidak menjawab.
Karena aku membenci kalimat itu.
Dan aku membencinya karena ia benar.
***
Di rumah, masa depan tidak pernah dibicarakan dengan bahasa besar. Kakak laki-lakiku pernah bertanya sambil memperbaiki engsel pintu belakang, “Pendaftaran kapan?” Aku menjawab, “Masih lama.”
“Biayanya sudah tahu?” tanyanya. “Belum pasti.” Ia mengencangkan baut terlalu lama untuk satu baut kecil, lalu berkata, “Nanti kita pikirkan.”
Kata “kita” seharusnya menguatkan. Tetapi di rumah kami, “kita” hampir selalu berarti seseorang harus mengurangi sesuatu agar aku bisa mendapat sesuatu.
Malam itu aku duduk di meja belajar, menatap brosur universitas dan hitungan biaya yang kutulis berulang-ulang. Kesimpulannya selalu sama: terlalu berat.
Lalu pikiran licik itu muncul: kalau tidak mencoba, aku tidak akan gagal. Aku membencinya, tetapi ia kembali dengan wajah lebih rapi: kalau tidak pergi, aku tetap bisa menjadi Bagas yang “sebenarnya mampu”, hanya saja memilih jalan lain.
Di situlah bahaya dimulai. Ketakutan paling licik bukan yang membuat kita tampak lemah, melainkan yang memberi alasan agar kita tetap terlihat terhormat.
***