Ada masa ketika orang-orang percaya aku akan menjadi seseorang.
Aku tidak tahu apakah kalimat itu seharusnya terdengar sebagai doa atau beban. Waktu masih muda, aku menerimanya seperti pujian. Guru-guru menyebut namaku dengan nada yakin. Tetangga menepuk pundakku setiap kali rapor dibagikan. Orang-orang yang bahkan tidak benar-benar mengenalku ikut merasa berhak berharap sesuatu dari hidupku.
“Bagas mah beda.”
Begitu kata mereka.
Aku tidak pernah tahu sebenarnya beda yang seperti apa.
Yang kutahu hanya satu: nilai bagus bisa membuat orang berhenti mengasihani hidupmu.
Dan aku membutuhkannya.
Sangat membutuhkannya.
Karena di rumah, aku tidak pernah benar-benar merasa sebagai seseorang yang utuh.
Bapak meninggal ketika aku berumur sepuluh tahun, tidak mendadak, melainkan pelan-pelan: batuk malam, bau obat, kain sarung yang makin longgar, dan wajah orang dewasa yang tersenyum terlalu hati-hati setiap kali aku masuk kamar.
Sejak itu, uang di rumah kami selalu lebih pendek daripada bulan. Bapak hanya meninggalkan buku-buku lama, beberapa kemeja putih yang menguning di kerah, dan pensiun kecil yang membuat dapur tetap menyala dengan cara paling sederhana.
Aku anak keempat dari empat bersaudara, yang paling kecil dan paling lama merasa asing. Tiga kakakku lahir dari ibu yang berbeda; aku memahami kenyataan itu bukan dari satu penjelasan besar, tetapi dari jeda dalam percakapan keluarga, tatapan saudara jauh ketika lebaran, dan kalimat orang dewasa yang mendadak berhenti saat aku lewat.
Ibu tiriku bukan perempuan jahat. Ia hanya lelah. Ia memasak, mencuci, menghitung uang belanja, menyuruhku makan, memastikan aku berangkat sekolah. Tetapi ia jarang bertanya apakah aku takut. Mungkin karena hidupnya sendiri sudah terlalu penuh oleh ketakutan.
Maka aku belajar lebih cepat membaca suasana daripada membaca buku pelajaran: kapan harus diam, kapan tidak meminta, kapan pura-pura kenyang, kapan masuk kamar sebelum orang dewasa mulai bicara soal uang.
Sekolah menjadi tempat pelarian yang tampak terhormat. Di sana aku bukan anak dari rumah yang rumit. Aku adalah Bagas yang pintar. Dan menjadi pintar ternyata bisa membuat seseorang kecanduan, karena nilai bagus dapat membuat orang berhenti mengasihani hidupmu.
Tetapi pelarian itu punya harga. Setiap pujian guru terasa seperti kunci yang sekaligus membuka dan mengunci pintu. Semakin sering namaku disebut dengan bangga, semakin takut aku bahwa mereka akan melihat bagian yang kusembunyikan: uang saku yang dihitung terlalu teliti, buku yang kubeli bekas, dan rasa malu yang datang setiap kali teman-teman bicara tentang les tambahan seolah itu hal paling wajar di dunia.
Di rumah, aku jarang menangis. Bukan karena kuat. Karena menangis membutuhkan tempat yang aman, dan aku tidak selalu merasa punya tempat semacam itu. Maka aku mengubah tangis menjadi belajar, mengubah takut menjadi nilai, mengubah rasa tidak layak menjadi kebiasaan menjawab pertanyaan guru dengan benar.
Orang dewasa menyebutnya prestasi. Aku, diam-diam, menyebutnya cara bertahan.
Mungkin dari sanalah keyakinan buruk itu tumbuh: bahwa aku baru boleh disayangi jika berguna, baru boleh dilihat jika berhasil, baru boleh berada di tengah orang lain jika tidak merepotkan siapa pun.
Aku mengenal Dandi sejak SMP, tetapi kami baru benar-benar dekat ketika diterima di SMA yang sama. Ia sering muncul saat istirahat atau sebelum pulang, membawa soal matematika, keluhan, dan rasa lapar yang seperti tidak pernah selesai.
“Gas, lu ngerti matematika bab limit?” tanyanya suatu siang. Ketika kujawab sedikit, ia berkata, “Sedikit versi lu itu bisa nyelametin nyawa gue enggak?” Aku menjawab, “Nyawa enggak. Nilai mungkin.”
Dandi anak orang berada, tetapi lebih suka duduk di warung gorengan bersama kami daripada bergabung dengan kelompok yang pulang dijemput mobil. Ia membuat jarak sosial terasa sedikit lebih tidak memalukan.
Pertemanan kami dengan anak-anak sekolah tetangga dimulai di halte angkot dekat warung Bu Nani. Dari Dandi aku mengenal Andri; dari Andri, Tika, Iis, dan Badru. Tidak ada hari peresmian. Kami hanya berdiri di tempat yang sama terlalu sering sampai ketidakhadiran seseorang terasa janggal.
Badru masuk ke lingkaran itu seperti orang yang sudah lama diundang padahal tidak ada yang mengundangnya. Suatu sore ia berkata ingin membuat radio komunitas. “Modalnya?” tanya Dandi. “Semangat,” jawab Badru. “Pendengarnya?” Badru menunjuk kami satu-satu. “Minimal kalian. Dipaksa.”
Tika tertawa paling keras, Iis mengomentari paling tajam, Andri selalu menemukan cara agar makanan orang lain jatuh ke mulutnya, dan aku duduk di pinggir, lebih banyak mendengarkan daripada ikut bicara.
Mereka tidak memaksaku menjadi ramai. Tidak membuat diamku terasa seperti cacat. Untuk beberapa jam kecil setiap sore, halte itu memberiku tempat menjadi anak laki-laki yang tidak perlu terus-menerus membuktikan apa pun.
Sore-sore di halte punya bau yang sampai sekarang masih bisa muncul tiba-tiba: tepung gorengan yang mulai dingin, asap knalpot, debu jalan, seng panas, dan teh manis dari warung Bu Nani. Tidak ada yang istimewa dari sana, tetapi justru karena tidak istimewa, tempat itu terasa aman.
Dandi biasanya membeli gorengan lebih banyak daripada yang sanggup ia habiskan, lalu membagikannya seolah itu alasan resmi untuk tidak terlihat terlalu baik. Andri selalu punya cara mengambil bagian lebih banyak sambil menyebutnya “takdir”. Iis mengeluh, tetapi tetap berdiri bersama kami. Tika datang dengan energi yang membuat sore terasa bergerak lebih cepat.
Badru, tentu saja, berbicara seolah dunia hanya akan bertahan jika ia terus mengomentarinya. Pada hari-hari tertentu ia membuatku lelah. Pada hari lain, justru suara absurdnya menyelamatkanku dari kepalaku sendiri.
Di antara mereka, diamku tidak dianggap persoalan. Sesekali Tika menarikku masuk ke percakapan, sesekali Badru melempar candaan hanya untuk memastikan aku masih hidup. Mereka tidak selalu mengerti aku, tetapi mereka membiarkanku ada. Untuk remaja yang terbiasa merasa harus membuktikan diri, dibiarkan ada saja sudah terasa seperti kebaikan besar.
Hal-hal seperti itu berlangsung sejak kelas satu.
Berulang.
Biasa.
Sampai akhirnya, ketika aku kelas dua semester akhir, ada satu adegan kecil yang seharusnya tidak berarti apa-apa.
Waktu itu kami sedang menunggu angkot seperti biasa. Tika datang lebih dulu dari sekolahnya, lalu Iis menyusul beberapa menit kemudian. Badru entah sedang dihukum guru atau sedang membuat masalah baru. Andri membeli minuman di warung. Dandi sibuk mengeluh karena uang jajannya sudah habis sebelum angkot datang.
Sore itu tidak hujan.
Langit hanya mendung tipis, dengan cahaya matahari yang mulai kusam di balik kabel-kabel listrik. Jalanan berdebu. Dari kejauhan terdengar suara klakson angkot yang tidak sabar.
Kami sedang tertawa karena Tika menuduh Dandi terlalu boros untuk ukuran orang yang selalu mengaku kelaparan.
“Aku lapar karena metabolisme,” kata Dandi.
“Metabolisme kamu namanya rakus,” kata Iis.
Tika tertawa.
Aku ikut tersenyum.
Lalu, dari ujung gang dekat halte, seseorang berjalan ke arah kami.
Aku tidak benar-benar memperhatikannya.
Tidak pada awalnya.
Hanya ada gerakan kecil di pinggir pandangan.
Seragam putih abu-abu.
Rambut diikat sederhana.
Buku dipeluk ke d**a.
Ia berhenti sebentar, seperti seseorang yang hampir memutuskan untuk menghampiri.
Barangkali ia melihat seseorang di antara kami.
Ia bisa saja ingin menunggu angkot di halte ini seperti kami.
Atau ia hanya ragu karena kami terlalu ramai.
Aku tidak tahu.
Karena tepat saat itu angkot datang, berhenti dengan suara rem pendek di depan halte.
Pintunya terbuka.
Aku melihat seseorang naik dari pintu belakang.
Seragam putih abu-abu.
Rambut diikat sederhana.
Buku dipeluk ke d**a.
Hanya sekilas.
Lalu pintu angkot ditutup.
Angkot itu pergi sebelum aku sempat benar-benar menoleh.
Waktu itu, kejadian tersebut tidak tinggal sebagai peristiwa.
Ia hanya lewat.
Seperti angkot-angkot lain.
Seperti puluhan siswa lain.
Seperti sore-sore lain yang tidak punya alasan untuk dianggap penting.
Aku kembali mendengar Tika dan Iis berdebat. Dandi kembali mengeluh soal lapar. Andri datang membawa minuman. Badru akhirnya muncul dengan wajah seolah dunia berutang penjelasan kepadanya.
Sore berjalan seperti biasa.
Justru karena terlalu biasa, ingatan itu tidak menandai dirinya sendiri.
Baru jauh kemudian—setelah teras rumah Tika, setelah gelas teh, setelah aku tahu siapa adiknya, setelah hidup berkali-kali membuktikan bahwa hal kecil bisa menjadi pintu besar—adegan itu kembali kepadaku.
Aku tidak tahu kenapa ingatan itu baru terasa jelas setelah puluhan tahun.
Masa lalu sering kali tidak memberi tahu mana bagian yang penting ketika ia sedang terjadi.
Ia hanya menyimpannya diam-diam, lalu mengembalikannya saat kita sudah tidak punya kesempatan memperbaiki apa pun.
Dan yang paling menyakitkan adalah ini: waktu itu aku juga anak yang merasa tidak terlihat.
Namun aku tetap gagal melihat seseorang yang berdiri sebentar di pinggir hidupku, sebelum memilih naik angkot dan pergi.
Sesudah sore itu, ia sesekali muncul di tepi dunia kami. Kadang hanya sampai ujung gang. Kadang melihat ke arah halte lalu urung mendekat. Kadang langsung naik angkot pertama yang lewat.
Aku tidak memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Waktu itu duniaku terlalu penuh oleh suara Badru, kelaparan Dandi, omelan Iis, tawa Tika, dan rasa aman kecil karena bisa duduk di pinggir tanpa ditanya terlalu banyak.
Baru jauh kemudian aku tahu bahwa anak perempuan yang beberapa kali urung menghampiri halte itu adalah adik Tika, satu sekolah denganku, satu tingkat di bawahku. Waktu itu ia hanya seseorang yang naik angkot lebih dulu. Dan masa muda memang penuh oleh orang-orang yang kita biarkan pergi tanpa sempat bertanya ke mana.
Aneh, karena aku sendiri selalu merasa hidup di pinggir. Seharusnya aku lebih mudah mengenali orang lain yang berdiri di tepi keramaian. Tetapi masa muda punya kebutaannya sendiri: kita terlalu sibuk merasa tidak terlihat sampai gagal melihat orang lain yang juga sedang menunggu ditemukan.
Hidupku di sekolah berjalan dalam dua lapisan. Di permukaan, aku murid baik: nilai tinggi, jarang terlambat, jarang bermasalah, jenis anak yang membuat guru merasa pekerjaannya masih punya hasil.
Di dalam, sesuatu retak pelan-pelan. Aku mulai malu pada sepatu yang terlalu kusam, seragam yang warnanya kalah dari milik teman-teman, dan pembicaraan tentang bimbingan belajar, biaya kos, jurusan impian, Bandung, Jakarta, Yogyakarta. Bagi mereka, masa depan adalah tempat yang akan didatangi. Bagiku, masa depan adalah tagihan yang belum tahu harus dibayar dengan apa.
Aku tidak mengatakan itu kepada siapa pun. Tidak kepada Dandi. Tidak kepada Badru. Tidak kepada kakakku. Aku menyimpannya di kepala, dan kepala anak tujuh belas tahun tidak cukup luas untuk menampung ketakutan sebesar itu.
Suatu malam aku pulang membawa nilai ujian terbaik seangkatan. Kakakku membaca kertas itu lama, lalu menepuk pundakku sekali. “Bagus,” katanya. Satu kata, tetapi cukup untuk membuat dadaku penuh sekaligus berat.
Malam itu, sambil mendengar air jatuh dari talang bocor ke ember plastik—tok, tok, tok—aku menyadari sesuatu yang menakutkan: aku lelah menjadi harapan. Bukan karena tidak ingin berhasil, tetapi karena aku tidak yakin masih punya hak untuk gagal.