Parkiran kantor sudah hampir penuh ketika aku tiba.
Gedung perusahaan kami tidak besar. Tiga lantai, cat putih yang mulai kusam, papan nama biru di depan yang menyala terlalu terang saat malam. Di belakang gedung ada tower kecil dan ruang perangkat yang selama enam tahun terakhir lebih sering kutemui daripada ruang keluargaku sendiri.
Aku mematikan mesin mobil, tetapi tidak langsung turun.
Di layar ponsel, ada pesan dari Dandi.
Pak Engineer, masih hidup? Badru bilang lu semalam balas chat kayak orang habis lihat setan.
Aku menghela napas.
Badru memang tidak pernah bisa menyimpan kekhawatiran sendirian. Ia selalu membaginya kepada orang yang salah dengan cara yang salah, lalu menganggap itu bentuk persahabatan.
Aku membalas singkat.
Kurang tidur.
Dandi langsung menelepon.
Aku menatap nama itu beberapa detik sebelum mengangkat.
“Pagi, Pak Sepuh,” katanya, suara khasnya langsung penuh seperti radio yang volumenya kebesaran. “Lu kenapa lagi?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Jawaban orang yang jelas kenapa-kenapa.”
Aku memijat pangkal hidung.
“Kerjaan aja.”
“Gas, kita temenan dari SMP. Kalau lu bohong, nada napas lu berubah.”
Aku diam.
Di seberang sana, Dandi juga diam sebentar. Untuk ukuran Dandi, itu sesuatu yang serius.
“Lu mimpi lagi?” tanyanya, kali ini lebih pelan.
Aku menoleh ke luar kaca. Dimas, engineer junior di timku, baru datang dengan motor dan melambai dari jauh. Aku membalas dengan anggukan kecil.
“Badru cerita apa?”
“Enggak banyak. Cuma bilang lu lagi aneh.”
“Badru juga aneh dari lahir.”
“Nah, kalau orang aneh bilang lu aneh, berarti situasinya darurat.”
Aku hampir tertawa.
Hampir.
Tetapi yang keluar hanya napas panjang.
“Dan, nanti aja.”
“Lu gapapa?”
Pertanyaan itu lagi.
Pertanyaan yang seharusnya mudah dijawab oleh orang dewasa yang hidupnya tertata.
Aku melihat pantulan wajahku di kaca mobil.
“Enggak tahu,” jawabku akhirnya.
Dandi tidak langsung bicara.
Lalu suaranya turun, lebih manusiawi daripada biasanya.
“Kalau udah enggak tahu, jangan sendirian terus, Gas.”
Aku menelan sesuatu yang pahit.
“Nanti aku telepon lagi.”
“Janji?”
“Dan.”
“Iya, iya. Masuk kerja sana. Jangan lupa makan. Umur segini lambung bukan aset yang bisa diajak kompromi.”
Sambungan terputus.
Aku duduk beberapa detik lagi sebelum akhirnya keluar dari mobil.
Udara kantor terasa hangat dan berdebu. Dari kejauhan terdengar suara genset cadangan sedang dites. Semua normal. Semua biasa.
Justru itu yang membuatku semakin takut.
Karena dari luar, tidak ada yang berubah.
Dan mungkin itulah bagian paling mengerikan dari keruntuhan batin: dunia tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.
Ruang server di lantai dua selalu terlalu dingin.
Dulu aku menyukainya.
Suara kipas perangkat, lampu indikator yang berkedip, kabel-kabel fiber yang tertata, layar monitoring yang menampilkan grafik trafik—semuanya terasa seperti bahasa yang bisa kupahami. Dunia mesin selalu lebih mudah ditenangkan daripada manusia. Kalau ada gangguan, cari penyebab. Kalau link putus, tracing. Kalau routing kacau, cek konfigurasi. Kalau power bermasalah, pindah sumber.
Semua ada prosedurnya.
Manusia tidak begitu.
Tidak ada SOP untuk penyesalan.
Tidak ada diagram topologi untuk rasa malu.
Tidak ada log yang bisa menunjukkan tepat pada detik keberapa seseorang mulai membenci dirinya sendiri.
“Pak Bagas?”
Aku tersadar.
Dimas berdiri di samping rack server sambil memegang tablet.
“Bapak tadi saya panggil dua kali.”
“Oh.” Aku berdeham. “Kenapa?”
“Link Ciamis flapping terus dari jam dua pagi, Pak. Sudah saya trace dari sisi router kita, tapi aneh. Kayaknya bukan physical.”
Aku mendekat. Melihat grafik. Membaca log.
Packet loss.
Latency spike.
Route berubah.
Masalah biasa.
Aku seharusnya bisa menyelesaikannya sambil setengah tidur.
Tetapi pagi itu angka-angka seperti bergerak terlalu cepat. Baris log menjadi lorong. Lampu indikator menjadi titik-titik hujan di kaca kelas. Suara kipas server berubah menjadi suara angkot tua yang menunggu penumpang.
Aku berkedip.
Sekali.
Dua kali.
“Pak?”
“Tolong kirim log lengkap ke email saya,” kataku.
“Sekarang?”
“Iya. Sama capture route sebelum dan sesudah flapping.”
Dimas mengangguk, tetapi ia masih memandangku.
“Bapak sakit?”
“Enggak.”
“Keliatan pucat.”
Aku tersenyum tipis.
Senyum otomatis. Senyum yang sudah kupakai bertahun-tahun untuk menutup percakapan sebelum masuk terlalu jauh.
“Kurang kopi.”
Dimas tertawa kecil, lalu pergi.
Begitu pintu ruang server tertutup, aku duduk pelan di kursi dekat meja kerja.
Dingin AC menempel di kulit.
Aku menatap layar laptop yang masih terbuka pada halaman monitoring.
Dan di tengah garis grafik yang naik turun, satu kalimat lama muncul begitu saja.
Ada sesuatu yang selalu membuatku merasa harus mundur. Sampai sekarang aku masih belum tahu namanya..
Aku memejamkan mata.
Jangan.
Tidak sekarang.
Tidak di sini.
Tetapi kalimat itu datang lagi.
Lebih pelan.
Lebih jelas.
Aku tidak pantas.
Itu bukan suara orang dewasa.
Itu suara anak lelaki yang duduk di bangku kelas dekat jendela, berpura-pura membaca buku, padahal sedang menghitung seberapa jauh jarak antara mimpinya dan isi dompet keluarganya.
Aku menggenggam tepi meja.
Buku-buku jariku memutih.
Ada banyak hal yang bisa kuhitung dalam hidup ini: bandwidth, kapasitas perangkat, estimasi biaya, waktu tempuh, cicilan, kebutuhan anak. Tetapi aku tidak pernah berhasil menghitung berapa banyak hidupku yang hilang hanya karena satu keyakinan buruk yang kutelan terlalu muda.
Aku membuka aplikasi catatan di laptop.
Kursor berkedip.
Kosong.
Menunggu.
Tanganku bergerak sebelum kepalaku sempat melarang.
Hujan. Halte. Lorong sekolah. Seseorang yang tidak pernah memintaku menjadi apa-apa.
Aku menatap kalimat itu.
Lalu menghapusnya.
Tidak.
Aku bukan remaja.
Aku bukan penyair gagal yang sedang menulis surat untuk masa lalu.
Aku lelaki dewasa yang harus menyelesaikan gangguan jaringan sebelum siang.
Tetapi beberapa detik kemudian, aku mengetik lagi.
Ada orang yang membuat hidup terasa lebih luas, justru ketika aku merasa diriku terlalu sempit untuk menampungnya.
Aku tidak menghapus kalimat itu kali ini.
Aku hanya menatapnya sampai mata terasa panas.
Menjelang makan siang, ponselku bergetar.
Pesan dari Dandi masuk. Bukan sekadar teks, melainkan sebuah foto: semangkuk salad sayur dengan d**a ayam rebus yang terlihat sangat pucat.
Di bawahnya ada keterangan: Menu makan siang bos katering hari ini. Kolesterol gue naik lagi, Gas. Tolong kasih tahu gue kenapa waktu SMA kita bisa makan enam gorengan Bu Nani sekaligus tanpa ngerasa mau mati?
Aku tersenyum kecil melihat layar itu.
Dandi kini memiliki usaha katering dan restoran yang lumayan ramai di kota ini.
Sungguh sebuah ironi.
Dulu, ia adalah remaja yang sanggup melahap apa saja di halte tanpa memikirkan lingkar perut.
Sekarang, sahabatku itu adalah pria paruh baya yang setiap hari dikelilingi makanan enak di dapurnya sendiri, namun harus takluk pada ancaman asam lambung dan peringatan dokter.
Membaca keluhan Dandi menyadarkanku pada satu realitas telak.
Waktu benar-benar telah berlalu dan mengubah hidup kami secara fisik.
Dandi sudah beranjak, berkompromi, dan beradaptasi dengan usianya yang menua.
Jika dunia di sekitarku sudah bergerak sejauh ini, lalu kenapa hanya aku yang masih membiarkan kepalaku tertinggal di lorong sekolah itu?
Aku sempat sedikit tersentak ketika beberapa saat kemudian Laras menelepon.
Aku hampir tidak mengangkat.
Bukan karena tidak ingin bicara dengannya. Justru karena aku takut suaranya akan membuat semua yang sedang kusembunyikan terasa lebih nyata.
Tetapi aku mengangkat juga.
“Mas sudah makan?”
Pertanyaan pertama.
Selalu itu.
“Belum. Nanti.”
“Nanti itu jam berapa?”
Aku tersenyum kecil.
“Sebentar lagi.”
Di seberang sana terdengar suara ramai, mungkin rumah kakaknya. Piring, anak kecil, televisi, percakapan perempuan-perempuan dewasa yang saling memotong kalimat.
“Mega sudah berangkat bawa map?”
“Sudah.”
“Uang kas?”
“Sudah juga.”
“Bagus.”
Hening sebentar.
Lalu suara Laras melembut.
“Mas suaranya capek.”
Aku menatap layar laptop.
Grafik trafik bergerak stabil. Dunia mesin sudah kembali tenang.
“Aku cuma kurang tidur.”
“Belakangan kamu sering bilang begitu.”
Aku diam.
Kalimat itu tidak menuduh.
Tidak curiga.
Tidak menekan.
Justru karena itu, dadaku terasa semakin berat.
“Banyak kerjaan,” kataku akhirnya.
“Iya. Tapi jangan semua dipikir sendiri.”
Aku memejamkan mata.
Kalimat itu datang dari masa kini, dari istriku, dari perempuan yang hidup bersamaku dan tahu betapa sering aku menghilang ke dalam kepala sendiri.
Tetapi entah kenapa, ia memantul ke masa lalu.
Ke perpustakaan kosong.
Ke hujan tipis di jendela.
Ke suara perempuan lain yang pernah berkata, puluhan tahun lalu, bahwa tidak semua orang harus kuat sendirian.
Aku membuka mata cepat-cepat.
“Mas?”
“Iya.”
“Kamu dengar?”
“Dengar.”
“Kamu baik-baik aja?”
Pertanyaan yang sama.
Kali ini dari orang yang paling berhak mendapat jawaban jujur.
Dan aku tetap tidak bisa memberikannya.
“Iya,” kataku pelan. “Aku baik-baik aja.”
Setelah sambungan berakhir, aku menaruh ponsel di meja.
Lama sekali aku hanya menatapnya.
Rasa bersalah tidak selalu datang seperti badai.
Kadang ia datang sebagai pesan makan siang.
Sebagai suara istri yang bertanya apakah kau cukup tidur.
Sebagai kenyataan bahwa orang yang paling dekat denganmu justru menjadi orang yang paling sulit kauceritakan tentang bagian terdalam dari dirimu.
Aku menunduk.
Di luar ruang server, kantor bergerak seperti biasa. Orang-orang tertawa. Printer berbunyi. Seseorang memanggil nama Dimas dari lorong.
Aku membuka catatan tadi.
Kalimat itu masih ada.
Ada orang yang membuat hidup terasa lebih luas, justru ketika aku merasa diriku terlalu sempit untuk menampungnya.
Aku membaca ulang berkali-kali.
Lalu menambahkan satu kalimat di bawahnya.
Dan mungkin itulah sebabnya aku lari.