Pagi selalu datang dengan cara yang kejam.
Ia tidak peduli seberapa buruk tidur seseorang, seberapa kacau isi kepalanya, atau seberapa dalam sesuatu sedang retak di bagian yang tidak bisa ditunjukkan kepada siapa pun. Matahari tetap naik. Adzan tetap selesai. Tetangga tetap menyapu halaman sambil bicara keras-keras tentang harga cabai. Anak-anak sekolah tetap lewat dengan motor matic dan tas besar di punggung, tertawa seperti dunia belum punya cara untuk mengecewakan mereka.
Aku berdiri di depan cermin kamar mandi lebih lama dari biasanya pagi itu.
Busa cukur menempel di separuh wajahku. Air keran mengalir kecil karena stop krannya memang sudah lama bermasalah. Di kaca yang sedikit berkabut, wajahku tampak seperti milik seseorang yang kukenal, tetapi tidak sepenuhnya kupercaya.
Garis di bawah mata.
Rambut putih di pelipis.
Leher yang mulai mengendur.
Dan tatapan itu.
Tatapan laki-laki yang selama bertahun-tahun berhasil meyakinkan orang lain bahwa ia baik-baik saja, sampai suatu pagi ia sendiri lupa bagaimana rasanya benar-benar baik-baik saja.
Aku mengangkat pisau cukur, lalu berhenti.
Di luar kamar mandi, rumah terlalu sunyi.
Biasanya pada jam seperti ini Laras sudah bergerak di dapur. Bunyi piring. Bunyi tutup magic com. Suaranya memanggil Mega agar tidak terlambat sekolah. Kadang ia mengetuk pintu kamar mandi pelan, mengingatkan aku agar tidak terlalu lama melamun di depan wastafel.
“Mas, airnya jangan dibiarkan jalan terus.”
Aku sering menjawab, “Iya,” dengan nada orang yang merasa terganggu.
Baru ketika suara itu tidak ada, aku sadar betapa banyak hal kecil dalam hidupku yang selama ini bekerja tanpa kuminta, tanpa kuperhatikan, tanpa pernah cukup kuhargai.
Laras bukan perempuan yang banyak menuntut.
Mungkin itu sebabnya aku terlalu sering lupa bahwa orang yang tidak menuntut bukan berarti tidak pernah terluka.
Aku membilas wajah.
Air dingin menyentuh kulit, tetapi tidak membuat kepalaku lebih jernih.
Mimpi itu masih ada.
Tidak dalam bentuk gambar utuh. Hanya sisa. Lorong. Hujan. Suara perempuan yang memanggil namaku. Suku kata yang patah di ujung lidah. Dan tubuhku—tubuh tua yang sudah melewati terlalu banyak pagi—masih bereaksi seperti anak tujuh belas tahun yang baru saja ketahuan menyimpan rahasia.
Telapak tanganku basah.
Tenggorokanku kering.
Dada menyempit.
Aku menatap wajah sendiri di cermin.
“Cuma mimpi,” kataku pelan.
Tetapi bahkan suaraku sendiri tidak terdengar percaya.
Mega sedang duduk di meja makan ketika aku keluar kamar.
Seragam putih abu-abunya masih terlihat terlalu baru. Anak bungsuku itu baru kelas satu SMA, usia yang secara kejam membuat ingatanku akhir-akhir ini lebih mudah terseret ke tempat yang tidak seharusnya. Ia makan roti tawar dengan selai cokelat sambil menatap layar ponsel. Rambutnya diikat asal-asalan, beberapa helai jatuh di dekat pipi.
“Ayah jadi ke kantor pagi?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.
“Jadi.”
“Katanya semalam ada gangguan?”
“Link di Ciamis putus nyambun. Udah ditangani anak-anak.”
Ia mengangguk. Mengunyah. Lalu hening. Percakapan kami sering begitu. Pendek. Aman. Fungsional.
Seperti dua orang yang tinggal di rumah yang sama, saling menyayangi, tetapi tidak selalu tahu cara memasuki dunia masing-masing.
Aku duduk di hadapannya.
“Kamu sudah sarapan cukup?”
Mega akhirnya melihatku. Ada sedikit heran di wajahnya, mungkin karena pertanyaan itu biasanya keluar dari mulut ibunya.
“Cukup. Tumben nanya?”
“Ibu pesan supaya Ayah cek.”
“Oh.” Ia tersenyum kecil. “Ibu mah emang gitu, overthinking terus.”
Aku ikut tersenyum, tetapi ada sesuatu yang terasa menekan di d**a.
Laras tetap hadir bahkan saat tidak ada di rumah. Lewat pesan. Lewat kebiasaan. Lewat cara Mega tahu di mana ibunya menyimpan obat maag, baju seragam cadangan, uang kecil untuk ojek. Rumah ini masih berjalan karena perempuan itu menjaga banyak hal agar tidak tampak seperti pengorbanan.
Dan aku?
Aku terlalu sering merasa sudah cukup hanya karena membayar cicilan dan pulang sebelum tengah malam.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Laras.
Mas, Mega jangan lupa dibawakan uang kas kelas. Kemarin dia bilang belum bayar. Tolong ingatkan juga dia bawa map biru.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Lalu menoleh ke Mega.
“Uang kas kelas sudah?”
Mega langsung menepuk jidat.
“Ya ampun. Lupa.”
Aku mengambil dompet, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menyodorkannya. Ia menerima sambil tersenyum malu.
“Map biru?” tanyaku lagi.
“Di kamar. Nanti aku ambil.”
Aku mengangguk.
Hal-hal kecil.
Selalu hal-hal kecil yang membuat seseorang menjadi rumah.
Dan justru karena itu, rasa bersalahku terasa lebih rumit. Karena tidak ada yang salah dengan Laras. Tidak ada yang rusak secara besar dalam pernikahan kami. Tidak ada drama, tidak ada kebencian, tidak ada luka yang bisa kujadikan alasan.
Yang ada hanya rutinitas panjang yang pelan-pelan membuat kami lupa saling melihat.
Dan aku takut, sangat takut, bahwa mimpi-mimpi itu datang bukan karena hidupku kosong, melainkan karena ada bagian diriku yang tidak pernah belajar menerima hidup yang sudah penuh.
Di perjalanan menuju kantor, kota terlihat seperti seseorang yang baru selesai mandi tetapi belum benar-benar segar.
Jalan utama mulai padat. Angkot tua berhenti sembarangan di dekat pertigaan. Toko-toko besi membuka rolling door. Warung bubur di depan minimarket penuh oleh pegawai berseragam. Di kejauhan, perbukitan tampak kabur oleh sisa embun.
Enam tahun lalu, ketika aku kembali ke kota ini, aku sempat merasa hidup memberiku kesempatan untuk pulang.
Bukan pulang yang megah.
Tidak ada sambutan besar.
Tidak ada keberhasilan spektakuler.
Aku datang sebagai senior network engineer di sebuah perusahaan telekomunikasi lokal yang sedang bertumbuh, atas rekomendasi teman lama dari perantauan yang kebetulan kenal salah satu pimpinannya. Gajinya tidak sebesar pekerjaanku sebelumnya di luar kota. Fasilitasnya lebih sederhana. Timnya kecil. Masalahnya banyak.
Tetapi waktu itu aku senang.
Aku bisa membangun rumah di pinggiran kota.
Aku bisa membawa Laras dan anak-anak tinggal tidak terlalu jauh dari akar yang dulu kutinggalkan.
Aku bisa melewati sekolah lamaku tanpa harus merasa benar-benar gagal.
Setidaknya itu yang kuyakini.
Sekarang, setiap kali mobil melewati jalan menuju pusat kota, ada bagian dari diriku yang seperti menahan napas. Bukan karena macet. Bukan karena pekerjaan. Tetapi karena kota ini menyimpan terlalu banyak pintu kecil menuju masa lalu, dan aku tidak pernah tahu pintu mana yang pagi itu akan terbuka tanpa izin.
Lampu merah di dekat pasar membuat mobil berhenti.
Di luar jendela, kota kelahiranku ini telah banyak berubah.
Dulu, di sudut persimpangan ini ada deretan warung soto beratap terpal tempat kami kadang berteduh.
Sekarang, sudut itu telah diratakan, diganti oleh ruko-ruko kaca modern dan minimarket bercat terang yang menyala dua puluh empat jam.
Pohon-pohon ketapang besar yang dulu meneduhi trotoar sudah ditebang habis, menyisakan tiang-tiang beton dan juntaian kabel listrik yang semrawut.
Kota ini terus bergerak maju.
Ia tanpa ampun menggusur masa lalunya sendiri, menumpuk batu bata baru di atas kenangan lama agar fungsinya tetap berjalan.
Orang-orang di trotoar itu melangkah cepat, tidak peduli pada apa yang pernah berdiri di sana puluhan tahun lalu.
Seharusnya, manusia juga bisa beroperasi seperti itu.
Membongkar bangunan lama di kepalanya, lalu mendirikan sesuatu yang baru.
Tetapi tubuhku mengingat dengan cara yang berbeda.
Di sisi kiri jalan, beberapa anak SMA berjalan bergerombol. Seragam mereka rapi. Sepatu putih. Tas mahal. Salah satu dari mereka tertawa sambil menunduk melihat ponsel.
Tiba-tiba, tanpa alasan jelas, aku mencium bau hujan di seng halte.
Padahal pagi itu tidak hujan.
Aku mendengar derit rem angkot.
Padahal kaca mobil tertutup rapat.
Aku merasakan koin receh di genggaman tangan, telapak yang basah, dan rasa malu karena sepatu sekolahku dulu selalu tampak lebih kusam dibanding sepatu orang lain.
Tubuhku mengingat sebelum kepalaku sempat memilih.
Lampu berubah hijau.
Mobil belakang membunyikan klakson.
Aku tersentak.
Menekan gas terlalu cepat.
Jantungku berdebar.
Sial.
Sial.
Sial.
Aku bukan anak SMA lagi.
Aku laki-laki hampir lima puluh tahun.
Aku punya pekerjaan. Rumah. Anak. Istri. Tanggung jawab.
Tetapi pagi itu, di dalam mobil yang bergerak pelan melewati kota kelahiran sendiri, aku merasa seperti seseorang yang sedang menyetir tubuh dewasa dengan tangan anak tujuh belas tahun yang masih gemetar.
***