Aku terbangun sebelum subuh benar-benar selesai menjadi gelap.
Langit di luar jendela kamar tampak seperti kertas abu-abu yang diremas pelan. Kota kabupaten ini masih tidur dengan cara yang kukenal sejak kecil: perlahan, lembap, dan sedikit murung. Tidak ada suara motor ojek dari ujung gang. Belum ada truk sayur yang lewat menuju pasar. Hanya angin kecil yang menggesek daun pisang di samping pagar, dan suara jangkrik dari kebun belakang yang mulai kalah oleh pagi.
Aku duduk di tepi ranjang cukup lama tanpa bergerak.
Sisi ranjang yang satunya kosong.
Sudah tiga hari.
Laras pergi ke rumah kakaknya di Tasikmalaya sejak Rabu lalu, urusan keluarga besar yang selalu terdengar sederhana ketika dijelaskan lewat telepon, tapi biasanya membawa pulang kelelahan yang panjang. Aku memilih tidak ikut. Alasanku pekerjaan. Ada gangguan jaringan di beberapa titik. Ada laporan mingguan yang harus kuselesaikan. Ada rapat dengan pimpinan yang tidak bisa kutinggalkan.
Semua itu benar.
Tetapi tidak seluruhnya.
Sebagian lain dari diriku hanya ingin rumah ini sunyi.
Dan seperti biasa, aku baru menyadari terlalu terlambat bahwa kesunyian bukan ruang kosong. Ia justru ruang yang paling cepat penuh oleh hal-hal yang selama ini kita hindari.
Dadaku sakit.
Ada tekanan di d**a, cukup pelan untuk kutahan, cukup lama untuk membuatku takut.
Aku mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
Kulitku terasa dingin.
Leherku basah oleh keringat.
Dan di situlah rasa panik datang.
Karena aku tahu, tepat sebelum terbangun, aku hampir memanggil sebuah nama.
Hampir.
Tidak utuh.
Hanya satu bunyi yang patah di tenggorokan.
Satu suku kata yang tidak mau selesai.
Aku berdiri terlalu cepat. Lantai terasa dingin di telapak kaki. Di dapur, aku menadah air dari dispenser ke gelas, lalu meminumnya terlalu terburu-buru sampai tenggorokanku nyeri.
Nama itu tertinggal seperti bekas bau hujan di pakaian.
Aku memejamkan mata.
Jangan lagi.
Tolong jangan lagi.
Aku tidak berusaha menyusun mimpi itu lagi. Cukup satu kilatan lorong basah dan seorang perempuan memeluk buku di dekat jendela untuk membuat tubuhku tahu: yang kembali pagi itu bukan sekadar mimpi.
Aku meraih ponsel di meja makan.
Tidak ada pesan penting.
Grup kantor masih dipenuhi laporan gangguan jaringan dari site Ciamis. Dandi mengirim meme kucing tengah malam dengan tulisan soal deadline dan umur yang sama-sama tidak bisa dinegosiasikan. Laras mengirim pesan pukul 21.13 tadi malam.
Mas, jangan tidur terlalu larut. Jangan kopi terus. Mega besok masuk pagi, tolong cek dia sudah sarapan atau belum.
Aku membaca pesan itu lagi meski sudah kubalas semalam.
Iya. Kamu juga istirahat.
Kalimat pendek.
Terlalu pendek untuk seseorang yang sudah dua puluh tahun lebih hidup bersamaku.
Rasa bersalah datang tanpa suara. Belum karena tindakan; lebih karena aku mulai mengenali arah gerak sesuatu di dalam diriku.
Ponselku bergetar lagi.
Badru.
Voice note tiga puluh detik, dikirim pukul 01.12.
Aku memasang earphone.
Suaranya serak, seperti orang yang belum tidur atau baru saja kalah berdebat dengan pikirannya sendiri.
“Gas, gue lewat depan kantor lu tadi. Warung kopi di situ masih buka. Sepi. Cocok buat orang tua yang pura-pura lembur padahal susah tidur.”
Jeda.
Aku hampir tersenyum.
“Lu masih sering begadang, ya? Jangan-jangan dari dulu bukan insomnia. Lu cuma kebanyakan mikir dan kurang ikhlas jadi manusia.”
Jeda lagi.
“Kalau masih hidup, bales. Kalau udah jadi arwah, minimal kasih tanda lewat token listrik.”
Pesan selesai.
Aku tertawa kecil.
Sangat kecil.
Lalu diam lagi.
Badru selalu begitu. Absurd dengan cara yang membuat orang sulit marah. Bahkan di usia hampir lima puluh, ia masih seperti seseorang yang berjalan di tepi hidup sambil membawa payung rusak dan menganggap semuanya baik-baik saja.
Aku mengetik balasan.
Masih hidup. Sayangnya.
Tidak sampai satu menit, titik tiga muncul.
Lalu pesan masuk.
Bagus. Gue belum siap kehilangan teman yang kalau diajak ngobrol jawabnya kayak laporan cuaca.
Aku menatap layar cukup lama.
Entah kenapa, kalimat bodoh itu membuat dadaku sedikit longgar.
Lalu Badru mengirim pesan berikutnya.
Lu beneran baik-baik aja sejak balik ke sini?
Aku berhenti mengetik.
Pertanyaan itu sederhana.
Terlalu sederhana.
Dan seperti semua pertanyaan sederhana, ia justru sulit dijawab dengan jujur.
Aku menoleh ke arah jendela. Di luar, langit mulai sedikit pucat. Kota ini perlahan bangun, tetapi di dalam tubuhku, sesuatu yang lama terkubur justru baru saja membuka mata.
Aku mengetik:
Entahlah.
Kali ini Badru tidak langsung membalas.
Aku bisa membayangkan ia membaca pesan itu sambil mengernyit, mungkin di depan gelas kopi, mungkin dengan rokok yang lupa ia hisap.
Beberapa menit kemudian, pesannya masuk.
Kalau lu udah mulai jawab “entahlah”, berarti ada yang serius.
Aku ingin menyangkal.
Ingin berkata aku hanya kurang tidur.
Ingin mengembalikan semuanya ke wilayah aman: pekerjaan, usia, tekanan darah, kopi, cuaca.
Tetapi jari-jariku tidak bergerak.
Karena jauh di dalam tubuhku, suku kata yang patah itu masih ada.
Tidak mau hilang.
Tidak mau selesai.
Hanya bunyi pendek, terlalu akrab untuk sesuatu yang seharusnya sudah asing.
Dan aku tahu, meski belum berani mengakuinya, pagi itu bukan awal dari sebuah kenangan.
Pagi itu adalah tanda bahwa sesuatu yang sudah lama kukubur ternyata tidak pernah benar-benar mati.
Ia hanya menunggu rumah menjadi cukup sunyi.