Aku tidak tidur setelah mengirim panggilan itu.
Teh.
Satu suku kata.
Pendek.
Hampir tidak berarti apa-apa jika dibaca orang lain. Hanya potongan nama. Hanya panggilan lama yang mungkin wajar keluar dari seseorang yang pernah mengenal seseorang lain pada masa muda.
Tetapi aku tahu.
Tubuhku tahu.
Ada kata-kata yang tidak berdosa karena bentuknya, tetapi berbahaya karena jalan yang ia buka.
Teh bukan sekadar panggilan.
Ia adalah lorong sekolah.
Ia adalah halte angkot yang sudah hilang.
Ia adalah teras rumah Tika.
Ia adalah saputangan basah di bawah atap seng.
Ia adalah bagian dari diriku yang selama puluhan tahun tidak pernah benar-benar menjadi dewasa.
Dan malam itu, setelah Elsa membalas bahwa sudah lama tidak ada yang memanggilnya begitu, aku merasa seperti seseorang yang bar