Pagi setelah aku memilih tidak membalas Elsa, aku bangun dengan perasaan seperti baru saja melakukan sesuatu yang benar dan salah pada saat bersamaan.
Benar, karena aku menjaga batas.
Salah, karena diamku punya sejarah panjang yang buruk.
Itulah masalah dengan orang seperti aku. Bahkan ketika mencoba melakukan hal yang lebih dewasa, aku tetap membawa cara lama yang sama: menarik diri, menunda jawaban, membiarkan orang lain menebak-nebak isi kepalaku, lalu berharap mereka memahami tanpa perlu diberi penjelasan.
Aku pernah menyebutnya menahan diri.
Dulu aku menyebutnya tahu diri.
Kadang aku menyebutnya tidak ingin menyakiti.
Tetapi ada bentuk diam yang sebenarnya bukan kebaikan.
Ada diam yang hanya memindahkan rasa takut kita ke d**a orang lain.
Dan pagi itu, saat melihat layar pons