Prolog
Mimpi itu selalu datang menjelang pagi.
Tidak pernah lengkap.
Tidak pernah benar-benar jelas.
Ia datang seperti sisa suara dari ruangan yang sudah lama ditinggalkan; samar, lembap, dan entah kenapa selalu lebih dulu dikenali tubuhku sebelum kepalaku sempat memberi nama.
Kadang hanya hujan.
Kadang lorong sekolah yang basah.
Kadang bau buku tua, papan tulis yang belum benar-benar bersih, dan kayu jendela yang mengembang karena terlalu sering diguyur air. Hal-hal kecil yang seharusnya sudah habis dimakan waktu, tetapi rupanya tubuh manusia punya ruang penyimpanan yang lebih keras kepala daripada ingatan.
Dan kadang—
Yang paling membuatku takut—
Ada suara perempuan memanggil namaku.
Pelan sekali.
Seolah ia tidak ingin membangunkanku.
Seolah ia hanya ingin memastikan apakah aku masih ada di tempat yang sama.
“Gas…”
Lalu aku terbangun sebelum sempat melihat wajahnya.
Selalu begitu.
Aku dulu mengira manusia melupakan masa lalunya seiring bertambahnya umur. Bahwa hari-hari baru akan menumpuk di atas hari-hari lama, menutup semuanya seperti debu di atas lemari yang tidak pernah lagi dibuka.
Ternyata tidak.
Yang terjadi justru sebaliknya. Semakin tua seseorang, semakin sedikit kebisingan yang tersisa untuk menutupi suara-suara lama di dalam kepalanya. Anak-anak pergi. Pekerjaan menjadi kebiasaan. Rumah menjadi terlalu akrab. Percakapan dengan orang yang kita cintai berubah menjadi kalimat-kalimat pendek yang fungsional: sudah makan, pulang jam berapa, tagihan sudah dibayar, obat jangan lupa diminum.
Lalu, di sela semua yang tampak normal itu, sesuatu yang lama tidur mulai bergerak.
Usiaku menjelang lima puluh ketika mimpi itu kembali datang.
Aku punya pekerjaan yang cukup baik. Rumah. Istri. Tiga anak. Rutinitas yang rapi seperti hidup orang dewasa pada umumnya. Dari luar, aku mungkin terlihat seperti laki-laki yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Tetapi ada kehidupan yang runtuh tanpa suara.
Dan keruntuhan paling sunyi biasanya terjadi di dalam kepala.
Mula-mula aku hanya sulit tidur.
Lalu terbangun dini hari tanpa sebab.
Lalu mulai merasa ada ruang kosong di dalam d**a yang selama ini berhasil kusamarkan dengan pekerjaan, tagihan, percakapan keluarga, dan rasa lelah yang masuk akal.
Aku tidak langsung tahu siapa yang sedang kupikirkan.
Itu bagian yang paling aneh.
Karena kadang manusia tidak merindukan seseorang terlebih dahulu. Kadang ia merindukan dirinya sendiri—versi yang tertinggal di suatu sore, di sebuah lorong, di bawah hujan, di dekat seseorang yang dulu pernah memandangnya seolah ia tidak perlu menjadi apa-apa untuk tetap layak tinggal.
Mungkin itulah yang sebenarnya kembali mencariku lewat mimpi-mimpi itu.
Bukan cinta lama.
Bukan nostalgia murahan.
Melainkan seorang anak laki-laki tujuh belas tahun yang pernah begitu takut pada hidup sampai memilih pergi sebelum sempat benar-benar kehilangan.
Aku tidak tahu kapan tepatnya penyesalan berubah menjadi bagian dari kepribadianku.
Mungkin sejak hari aku memutuskan berhenti mengejar masa depan yang dulu semua orang yakini bisa kuraih.
Mungkin sejak aku mulai percaya bahwa diriku hanya pantas dicintai kalau berhasil menjadi seseorang.
Atau mungkin sejak pertama kali seorang perempuan memandangku dengan kelembutan yang tidak kumengerti… lalu aku justru menjauh karena merasa tidak cukup baik untuk diterima seperti itu.
Yang jelas, puluhan tahun berlalu dan ada bagian dari diriku yang tidak pernah benar-benar bergerak dari masa itu.
Ia tetap duduk di lorong sekolah setelah hujan reda.
Tetap menunggu.
Tetap takut.
Tetap menyimpan sebuah nama yang bahkan terlalu pengecut untuk ia ucapkan secara utuh.
Dan semuanya dimulai lagi pada satu pagi buta,
ketika aku terbangun dengan d**a sesak,
dan merasakan satu suku kata asing tersangkut di tenggorokanku—
seperti doa yang hampir selesai,