Tika tidak mengirim nomor itu malam berikutnya.
Atau malam setelahnya.
Dua hari berlalu, dan aku belajar bahwa menunggu sesuatu yang belum tentu datang memiliki bentuk kecemasan yang berbeda dari menunggu balasan pesan. Kalau menunggu balasan pesan membuat waktu bergerak patah-patah, menunggu keputusan orang lain membuat waktu melebar seperti ruangan kosong yang tidak kunjung menemukan pintu.
Aku tetap bekerja.
Tetap berangkat pagi.
Tetap memeriksa laporan gangguan jaringan.
Tetap menjawab pertanyaan Dimas.
Tetap menelepon vendor.
Tetap menjadi Pak Bagas yang tenang, yang kalau bicara seperlunya, yang kalau ada masalah tidak terlihat panik, yang menurut orang-orang bisa diandalkan karena jarang menunjukkan kebingungan.
Tetapi di bawah semua itu, ada bagian dari diriku yang terus memeriksa ponsel.
Saat lift kantor membuka pintu.
Saat komputer restart.
Saat menunggu air dispenser memenuhi gelas.
Saat lampu merah.
Saat duduk di kamar mandi terlalu lama.
Memalukan.
Sangat memalukan.
Karena setiap kali layar ponsel menyala, tubuhku bereaksi sebelum akalku sempat melarang.
Dada mengencang.
Jari dingin.
Napas tertahan.
Lalu kecewa ketika yang muncul hanya pesan grup kantor, promo operator, atau Laras yang bertanya apakah Mega sudah pulang.
Laras.
Setiap namanya muncul di layar, rasa bersalah datang bersama kehangatan yang berbeda. Ia tidak tahu ada ruang tunggu lain yang sedang kubangun diam-diam di dalam diriku. Ia tidak tahu suaminya, yang membalas pesannya dengan kalimat-kalimat pendek dan wajar, sedang menunggu nomor perempuan lain dari masa lalu.
Tidak.
Bukan perempuan lain.
Aku membantah diri sendiri setiap kali pikiran itu muncul.
Aku hanya ingin meminta maaf.
Aku hanya ingin tahu kabarnya.
Aku hanya ingin memastikan masa lalu tidak sepenuhnya membusuk sebagai penyesalan.
Tetapi kalimat-kalimat pembelaan itu mulai terdengar seperti orang yang berbicara terlalu cepat agar tidak sempat ditanya lebih jauh.
Pada malam ketiga, Laras menelepon.
Ia bilang urusan keluarganya di Tasikmalaya hampir selesai. Mungkin dua hari lagi pulang. Suaranya terdengar lelah, tetapi tetap mengingatkan aku agar tidak lupa membeli gas karena tabung di dapur terakhir kali sudah terasa ringan.
“Mega gimana?” tanyanya.
“Baik. Tadi pulang sore.”
“Makan?”
“Sudah.”
“Kamu?”
Aku melihat piring kosong di meja. Makan malam yang kubeli dari warung tadi belum benar-benar habis.
“Sudah.”
Hening sebentar.
“Mas,” katanya pelan.
“Iya?”
“Kamu akhir-akhir ini suaranya jauh.”
Aku diam.
Jauh.
Kata itu sederhana, tetapi terlalu tepat.
Orang bisa duduk di rumah yang sama, tidur di ranjang yang sama, membayar tagihan yang sama, membesarkan anak-anak yang sama, dan tetap terasa jauh. Tidak perlu ada pertengkaran besar atau cinta yang hilang dalam satu malam. Cukup satu orang terlalu lama hidup di ruangan dalam kepalanya sendiri dan lupa meninggalkan pintu terbuka.
“Banyak kerjaan,” jawabku.
Jawaban lama.
Pakaian lama yang kupakai lagi meski sudah jelas kekecilan.
Laras tidak langsung bicara.
Lalu ia berkata, “Nanti kalau aku pulang, kita ngobrol ya.”
Aku merasa sesuatu bergerak di d**a.
Takut.
Bukan takut pada Laras.
Takut pada kemungkinan bahwa ia sebenarnya melihat lebih banyak daripada yang kukira.
“Iya,” kataku.
Setelah sambungan selesai, aku menatap ponsel lama sekali.
Aku hampir mengirim pesan ke Tika:
Tidak usah kasih nomornya.
Hampir.
Jari-jariku sudah mengetik separuh kalimat.
Lalu berhenti.
Karena bagian lain dari diriku langsung panik membayangkan pintu itu tertutup sebelum sempat kubuka.
Dan di situlah aku tahu: aku tidak lagi sepenuhnya aman.
Seseorang yang benar-benar hanya ingin meminta maaf tidak akan setakut itu kehilangan kesempatan mendengar suara orang yang hendak dimintai maaf.
Nomor itu datang pukul 22.18.
Aku sedang duduk di teras belakang, memandang halaman yang gelap setelah hujan kecil berhenti. Mega sudah tidur. Rumah sunyi. Di meja kecil ada buku catatan hitam, terbuka pada halaman yang sejak kemarin belum kutambahi apa pun.
Ponsel bergetar.
Tika.
Pesannya pendek.
Aku sudah tanya dia.
Jantungku langsung memukul d**a.
Aku tidak membalas.
Tidak bisa.
Pesan kedua masuk.
Dia bilang enggak apa-apa kalau kamu menghubungi.
Aku membaca kalimat itu.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Enggak apa-apa.
Dua kata yang seharusnya biasa saja, tetapi malam itu terasa seperti seseorang membuka jendela kecil di ruangan yang sudah lama kekurangan udara.
Lalu pesan ketiga masuk.
Nomor telepon.
Tanpa nama.
Di bawahnya, Tika menulis:
Gas, aku serius. Jangan sakiti dia lagi, bahkan kalau cuma lewat diammu.
Aku menunduk.
Kalimat itu membuat harapan yang baru saja hidup langsung diberi beban.
Dan mungkin memang seharusnya begitu.
Harapan tanpa beban moral sering kali berubah menjadi keserakahan.
Aku membalas:
Aku akan hati-hati.
Tika menjawab:
Jangan cuma hati-hati. Jujur sama dirimu sendiri.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Karena jujur kepada diri sendiri adalah hal yang selama ini paling sering kugagalkan.
Aku menyimpan nomor itu tanpa nama.
Hanya angka.
Tidak berani menuliskan apa pun di kolom nama kontak.
Menamai berarti mengakui.
Aku sudah terlalu lama takut pada hal-hal yang menjadi nyata setelah diberi nama.
Dua puluh menit berlalu.
Aku tidak melakukan apa-apa selain memegang ponsel seperti benda yang terlalu panas untuk disimpan, tetapi terlalu berbahaya untuk dilepaskan.
Nomor itu tetap ada.
Diam.
Menunggu.
Sudah terlalu malam.
Orang normal tidak mengirim pesan pertama kepada seseorang dari masa lalu menjelang tengah malam.
Seharusnya aku menunggu pagi.
Tetapi malam punya cara membuat keinginan terdengar seperti keberanian.
Aku membuka w******p.
Kolom chat kosong.
Nomor tanpa nama.
Aku mengetik:
Halo. Ini Bagas.
Aku menatap tiga kata itu sampai layar ponsel meredup sendiri. Ada bagian dari diriku yang ingin menambahkan penjelasan, permintaan maaf, alasan kenapa aku tiba-tiba muncul setelah puluhan tahun. Tetapi semakin banyak kalimat yang kupikirkan, semakin terdengar seperti pembelaan.
Akhirnya aku menekan tombol kirim.
Pukul 23.47.
Pesan itu langsung berubah menjadi dua centang abu-abu.
Aku meletakkan ponsel di meja seperti baru saja meletakkan benda panas.
Lima menit berlalu.
Belum biru.
Aku mengambil ponsel lagi, membuka layar, lalu menyesal karena tidak ada yang berubah. Tidak ada tulisan sedang mengetik. Tidak ada tanda apa pun selain dua centang abu-abu yang tampak terlalu tenang untuk sesuatu yang membuat dadaku tidak karuan.
Pasti tidak.
Tidak akan dibalas malam ini.
Aku menaruh ponsel terbalik.
Tentu saja aku tetap menunggu.
Dua belas menit kemudian, dua centang itu berubah biru.
Aku diam.
Tidak ada balasan.
Tidak ada tulisan sedang mengetik.
Hanya layar kosong dan deretan angka di bagian atas. Di suatu tempat yang tidak bisa kulihat, mungkin ia sedang menatap tiga kata itu seperti aku menatapnya tadi. Mungkin ia meletakkan ponsel dan memilih tidur. Mungkin ia tidak tidur sama sekali.