Pukul 00.17 aku mematikan lampu.
Tidur tidak benar-benar datang. Ia hanya lewat sebentar-sebentar, seperti orang yang ragu bertamu. Setiap suara kecil dari luar rumah membuatku membuka mata. Setiap getar yang sebenarnya tidak ada membuat tanganku bergerak mencari ponsel.
Tidak ada apa-apa sampai pagi.
Ketika ponsel sungguh-sungguh bergetar pukul 06.18, cahaya tipis sudah masuk dari celah gorden.
Aku terbangun seperti orang yang sejak awal tidak benar-benar tidur.
Ada satu pesan masuk.
Bagas?
Hanya satu kata.
Tetapi justru karena hanya satu kata, dadaku terasa lebih sesak daripada jika ia menulis kalimat panjang. Tidak ada basa-basi. Tidak ada keramahan yang dipaksakan. Tidak ada tanda seru yang berpura-pura ringan.
Keterlambatan itu terasa lebih jujur daripada balasan yang terlalu cepat.
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Huruf-hurufnya sederhana. Tidak ada emoji. Tidak ada ekspresi berlebihan. Namun justru dalam kesederhanaan itu aku seperti mendengar sesuatu yang pernah kukenal.
Suara pelan.
Tidak tergesa.
Tidak menuduh.
Aku membalas:
Iya.
Balasan berikutnya tidak langsung datang.
Aku sempat membuat kopi, menumpahkan sedikit air panas ke meja, lalu berdiri terlalu lama dengan sendok di tangan.
Pukul 06.42, ponsel bergetar lagi.
Aku sempat lama mikir waktu Tika bilang kamu minta nomorku.
Aku menelan ludah.
Maaf kalau bikin kamu tidak nyaman.
Titik tiga muncul cukup lama.
Kemudian:
Bukan tidak nyaman.
Jeda.
Aku cuma kaget.
Kata itu lebih masuk akal daripada keterbukaan yang terlalu mudah.
Kami diam beberapa menit di ruang chat yang sudah terbuka, tetapi belum benar-benar dimasuki.
Lalu ia menulis:
Ya Tuhan… setelah berapa lama ini?
Aku memejamkan mata.
Terlalu lama, pikirku.
Terlalu banyak umur.
Terlalu banyak diam.
Aku mengetik:
Terlalu lama.
Ia membalas beberapa menit kemudian.
Aku kira kamu sudah lupa semua orang di sini.
Kalimat itu tidak terdengar marah. Justru karena tidak marah, ia terasa lebih berat.
Enggak pernah lupa.
Aku menatap kalimat itu sebelum mengirimnya.
Benarkah aku tidak pernah lupa, atau aku hanya baru berani mengingat ketika rumahku cukup sunyi untuk memaksaku berhenti menghindar?
Akhirnya kukirim juga.
Karena dalam bentuk paling sederhana, itu benar.
Percakapan kami berjalan pelan.
Sangat pelan.
Seolah kami berdua sama-sama takut suara yang terlalu keras akan membuat sesuatu pecah.
Ia bertanya kabarku. Aku menjawab dengan versi aman: baik, kerja di kota ini, sudah beberapa tahun pulang, keluarga baik. Aku bertanya kabarnya. Ia menjawab baik juga.
Baik.
Kata yang sama seperti yang Tika pakai.
Tetapi setelah peringatan Tika, aku tidak lagi bisa membacanya sebagai jawaban sederhana.
Ada banyak hal yang bisa disembunyikan di balik kata baik.
Masih suka susah tidur?
Tulisnya tiba-tiba.
Aku berhenti mengaduk kopi.
Kenapa nanya begitu?
Tika dulu pernah cerita kamu sering kelihatan kurang tidur.
Aku hampir tersenyum.
Tika.
Selalu Tika.
Kadang masih, balasku.
Ia membaca.
Lalu menulis:
Aku juga.
Dua kata.
Pendek.
Tetapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat pagi menjadi lebih sunyi.
Aku ingin bertanya kenapa. Sejak kapan. Apa yang membuat malamnya panjang. Tetapi aku menahan diri.
Tidak semua pintu yang terbuka sedikit boleh langsung dimasuki.
Maka aku hanya menulis:
Semoga malam-malammu enggak terlalu berat.
Lama ia tidak membalas.
Kemudian:
Kadang berat.
Pesan lain menyusul hampir satu menit kemudian.
Tapi manusia belajar pura-pura ringan, kan?
Lalu seolah merasa kalimat itu terbuka terlalu jauh, ia menambahkan:
Maaf. Pagi-pagi malah bahas begini.
Aku tidak bertanya apa maksudnya. Justru karena ingin sekali.
Di sana, untuk pertama kalinya, aku melihat retak kecil pada gambaran yang selama ini kusimpan tentang dirinya.
Dia bukan lagi hanya perempuan lembut dari masa lalu yang memegang saputangan dan duduk tenang di perpustakaan.
Dia adalah perempuan dewasa yang mungkin juga membawa malam-malamnya sendiri.
Kesadaran itu tidak mengurangi kehangatannya.
Justru membuatnya lebih nyata.
Lebih manusia.
Lebih berbahaya bagi harapanku.
Karena luka yang berbalas luka bisa terasa seperti kedekatan, padahal belum tentu ia penyembuhan.
Beberapa menit kemudian, nama itu muncul.
Bukan karena ia menyebutkannya, dan bukan karena aku menanyakannya.
WhatsApp memuat profil lengkap nomor itu setelah ia membalas beberapa kali. Entah karena kontak tersinkron, entah karena pengaturan aplikasi. Yang jelas, di bagian atas layar, tepat di bawah foto profil yang hanya menampilkan langit pagi buram, tertulis:
Elsa Wulandari.
Nama itu tidak panjang, tetapi di layar ponselku pagi itu ia seperti memuat seluruh masa remajaku yang belum selesai.
Teras rumah Tika.
Gelas teh panas.
Perpustakaan.
Saputangan basah.
Permen jahe.
Halte angkot.
Keputusan yang tidak pernah benar-benar selesai kuhukumkan kepada diriku sendiri.
Langit di foto profilnya tampak buram, pucat, seolah pagi yang tidak yakin akan menjadi terang. Saat itu aku belum tahu bahwa langit, bagi Elsa, bukan sekadar gambar pengganti wajah.
Aku menatap nama itu terlalu lama sampai layar mulai meredup.
Lalu pesan baru masuk.
Kamu masih di sana?
Aku tersadar.
Iya. Maaf.
Enggak apa-apa. Mungkin sama-sama kaget ya.
Aku tersenyum pahit.
Kamu kaget?
Iya.
Jeda.
Aku sempat diam lama waktu Tika bilang kamu minta nomorku.
Tanganku berhenti.
Kenapa?
Ia tidak langsung menjawab.
Titik tiga muncul cukup lama.
Kemudian hilang.
Aku menunggu.
Hampir satu menit.
Lalu pesannya masuk.
Karena ada nama yang walaupun lama enggak disebut, tetap bikin orang berhenti dulu sebelum membalas.
Aku membaca kalimat itu.
Sekali.
Dua kali.
Ada sesuatu di dalam d**a yang retak, tetapi retakan itu bukan hanya sakit. Ada cahaya kecil masuk dari sana, dan justru itu yang membuatku takut.
Aku mengetik:
Aku enggak tahu harus jawab apa.
Ia membalas:
Enggak harus jawab sekarang.
Itu dia.
Masih sama.
Tidak memaksa.
Tidak menyeretku masuk.
Memberi ruang.
Dan seperti dulu, ruang itu membuatku ingin tinggal sekaligus ingin lari.
Aku akhirnya menulis hal yang sejak awal ingin kukatakan.
Jari-jariku berhenti beberapa kali.
Menghapus.
Mengetik ulang.
Mencari kalimat yang tidak terlalu dramatis, tidak terlalu membela diri, tidak meminta belas kasihan.
Aku minta maaf, tulisku.
Aku menatap dua kata itu.
Terlalu kecil untuk puluhan tahun.
Tetapi semua permintaan maaf memang selalu terlalu kecil dibanding kerusakan yang ingin disentuhnya.
Aku melanjutkan:
Aku dulu pergi dan menjauh dengan cara yang buruk. Aku banyak diam, banyak menghindar, dan mungkin membuat kamu bingung. Aku enggak punya penjelasan yang bagus selain bahwa waktu itu aku terlalu takut pada diriku sendiri.
Aku membaca ulang.
Dada berdebar.
Kirim.
Pesan terkirim.
Dibaca.
Tidak ada balasan.
Satu menit.
Dua.
Tiga.
Kepanikan datang cepat.
Salah.
Terlalu berat.
Terlalu pagi.
Harusnya tidak usah.
Aku menatap layar seperti orang menunggu hukuman.
Lalu balasan masuk.
Aku dulu memang bingung.
Aku menutup mata.
Kalimat itu tidak panjang.
Tidak marah.
Tetapi jujur.
Dan kejujuran sederhana itu terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan panjang.
Pesan berikutnya masuk. Kali ini jedanya lebih lama dari biasanya.
Tapi aku juga tahu kamu sedang tidak baik-baik saja waktu itu.
Aku menggigit bagian dalam bibir.
Ia selalu begitu.
Bahkan dalam luka yang mungkin kutinggalkan, ia masih menyisakan ruang untuk memahami.
Dan justru itu membuatku merasa lebih bersalah.
Aku membalas: Aku harusnya ngomong jujur dari dulu. Maaf bikin kamu bingung.
Mungkin, balasnya.
Lalu setelah beberapa detik:
Tapi umur tujuh belas memang sering membuat kita merasa diam adalah cara paling aman untuk bertahan.
Aku menatap kalimat itu.
Ada kata “kita” di sana.
Bukan “kamu”.
Kita.
Seolah ia juga sedang membicarakan dirinya sendiri.
Aku ingin bertanya tentang diamnya, tentang luka yang Tika isyaratkan, tentang hidup yang mungkin tidak semulus yang kubayangkan.
Tetapi aku ingat pesan Tika.
Jangan datang ke hidup orang hanya karena kamu sedang kesepian dengan masa lalu sendiri.
Maka aku menahan diri.
Untuk pertama kalinya pagi itu, menahan diri terasa seperti bentuk penghormatan, bukan ketakutan.
Percakapan kami tidak panjang.
Tidak sepanjang yang mungkin diharapkan bagian paling remaja dalam diriku.
Tidak sedalam yang ditakutkan bagian paling dewasa dalam diriku.
Kami bicara tentang hal-hal kecil.
Sekolah lama.
Tika yang katanya masih suka terlalu cepat menyimpulkan isi kepala orang.
Badru yang rupanya pernah mencoba jualan tanaman hias lalu bangkrut karena lebih banyak diberi nama daripada dijual.
Dandi yang menurut kabar masih punya hubungan spiritual dengan makanan.
Sesekali kami tertawa lewat teks.
Sesekali ada jeda panjang.
Jeda itu tidak kosong.
Ia penuh hal-hal yang tidak kami sebut.
Menjelang pukul delapan, Elsa menulis:
Aku senang kamu menghubungi.
Aku menatap kalimat itu.
Ada sesuatu yang langsung hidup di dalam diriku.
Kecil.
Hangat.
Berbahaya.
Harapan.
Nama itu kukenal bahkan sebelum berani mengakuinya.
Harapan bahwa aku tidak sepenuhnya terlambat.
Harapan bahwa masa lalu tidak hanya berisi luka.
Harapan bahwa seseorang yang pernah kutinggalkan masih membuka ruang, meski kecil, untuk mendengar suaraku lagi.
Bersama harapan itu, rasa bersalah ikut naik.
Laras.
Mega.
Foto keluarga.
Rumah.
Tanggung jawab.
Aku membalas:
Aku juga senang bisa ngobrol lagi.
Kalimat aman.
Benar.
Tetapi tidak seluruhnya.
Karena yang kurasakan lebih dari senang.
Dan justru karena lebih dari senang, aku tahu aku harus takut.
Elsa menulis:
Kita pelan-pelan saja ya, Gas.
Aku membaca kalimat itu lama.
Pelan-pelan.
Kata yang terdengar lembut.
Tetapi juga seperti pagar.
Ia juga tahu, atau setidaknya sedang menjaga sesuatu yang sama-sama rawan.
Aku setuju, balasku.
Lalu ia menulis:
Semoga harimu tidak terlalu berat.
Aku menatap pesan itu sampai layar meredup.
Hari itu tidak terasa ringan.
Ia terasa penuh oleh sesuatu yang sudah lama tidak kubiarkan hidup.
Dan aku tidak tahu apakah itu penyembuhan,
atau awal dari bahaya baru yang datang dengan wajah sangat lembut.
Sebelum berangkat kerja, aku membuka buku catatan hitam dan menulis:
Namanya akhirnya kembali utuh. Dan aku takut karena hatiku mengenalinya terlalu cepat.