Lalu layar menyala.
Tika sedang mengetik…
Aku membeku.
Tulisan itu muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Hilang lagi.
Sial.
Aku menahan napas tanpa sadar.
Kemudian pesan masuk.
Hah?! Bagas?
Aku menatap layar.
Satu kalimat.
Tiga tanda.
Dan entah kenapa aku langsung bisa mendengar suara Tika di dalamnya.
Masih hidup.
Masih cepat.
Masih seperti seseorang yang masuk ke ruangan tanpa mengetuk karena yakin semua orang akan memaafkannya.
Sebelum aku sempat membalas, pesan kedua datang.
Bagas yang mana? Jangan-jangan ini modus pinjol pakai nama masa lalu.
Aku tertawa.
Benar-benar tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya malam itu, udara di ruang tamu terasa tidak terlalu menekan.
Aku mengetik:
Bagas temannya Badru dan Dandi. Yang dulu sering duduk di halte sambil kelihatan seperti orang kurang vitamin.
Balasannya cepat.
YA AMPUN. BAGAS ITU?
Aku tersenyum.
Iya. Sepertinya itu aku.
Gila. Badru pernah bilang kamu balik ke kota sini, tapi aku kira dia mengarang seperti biasa.
Dia memang sering mengarang. Tapi kali ini benar.
Setelah berapa puluh tahun baru muncul? Kamu sehat? Tinggal di mana sekarang? Kerja di sini? Sudah jadi orang penting?
Pertanyaan Tika datang seperti rentetan batu kecil yang dilempar ke jendela masa lalu.
Aku menatap layar dengan perasaan aneh: hangat, canggung, takut, sedikit lega.
Aku menjawab satu-satu, pendek-pendek.
Sehat.
Tinggal di pinggiran kota.
Kerja di perusahaan telekomunikasi lokal.
Bukan orang penting.
Tika membalas dengan gaya yang masih sangat Tika. Energinya bahkan terasa hidup lewat teks.
Ia sempat menyebut Andri yang kini lebih sering sibuk dengan bengkel kecilnya, dan Iis yang pindah kota setelah menikah. Kabar mereka lewat sebentar saja, seperti nama-nama lama yang melambai dari jendela angkot: cukup untuk mengingatkan bahwa tidak semua orang dari masa lalu harus kembali menjadi bagian dari cerita utama.
Kamu dari dulu kalau merendah suka bikin orang pengen lempar sandal.
Aku hampir bisa melihat wajahnya.
Tawa yang cepat.
Mata yang hidup.
Cara bicaranya yang tidak pernah terlalu berhati-hati, tetapi justru karena itu terasa jujur.
Percakapan kami berjalan beberapa menit dalam wilayah aman: Badru, Dandi, kota yang berubah, sekolah lama yang sekarang sudah direnovasi, halte yang katanya sudah tidak ada karena jalan dilebarkan.
Kalimat terakhir itu membuatku diam lebih lama.
Halte itu sudah tidak ada.
Tentu saja.
Waktu tidak berkewajiban menjaga tempat-tempat yang penting bagi ingatan seseorang.
Sayang ya, tulisku.
Tika membalas:
Iya. Padahal banyak dosa kita di situ.
Aku tersenyum kecil.
Lalu hening di chat itu terasa berubah.
Entah bagaimana, setelah semua basa-basi selesai, ruang yang sebenarnya mulai terbuka.
Aku tahu.
Tika mungkin juga tahu.
Karena pesan berikutnya datang lebih pelan.
Gas.
Aku menatap nama panggilanku di layar.
Iya?
Kamu enggak mungkin tiba-tiba chat aku jam segini cuma buat nostalgia halte, kan?
Jantungku memukul d**a.
Tika tetap Tika.
Terlalu cepat masuk ke inti.
Terlalu tajam untuk dikelabui oleh kalimat-kalimat aman.
Aku mengetik:
Sebenarnya aku cuma ingin menyapa.
Tidak kukirim.
Hapus.
Aku akhir-akhir ini sering ingat masa sekolah.
Aku menatap kalimat itu.
Lebih benar.
Tetapi belum cukup.
Kukirim.
Tika membaca.
Tidak langsung membalas.
Titik tiga muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Lalu:
Ingat masa sekolah atau ingat seseorang?
Aku meletakkan ponsel di pangkuan.
Ruang tamu tiba-tiba terasa terlalu sunyi.
Di dinding, foto keluarga masih ada.
Aku menatap wajah Laras di foto itu.
Lalu kembali ke layar.
Ada banyak cara untuk berbohong.
Salah satunya dengan menjawab pertanyaan yang tidak sepenuhnya ditanyakan.
Aku mengetik:
Aku sering mimpi lorong sekolah.
Kirim.
Beberapa detik kemudian:
Ada dia di mimpi itu?
Dia.
Bukan nama.
Hanya dia.
Tetapi kata itu cukup untuk membuat dadaku penuh.
Tika tahu.
Tentu saja Tika tahu.
Mungkin semua orang dulu tahu lebih banyak daripada yang kukira. Mungkin hanya aku yang merasa berhasil menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya tampak jelas dari luar.
Aku menutup mata.
Jari-jariku gemetar.
Iya, tulisku.
Pesan terkirim.
Dan setelah itu, tidak ada yang bisa ditarik kembali.
Tika lama tidak membalas.
Sangat lama.
Aku mulai membayangkan ia membaca pesanku sambil menghela napas: kesal, sedih, atau terlempar ke masa lalu yang selama ini juga ia simpan dengan cara berbeda.
Akhirnya pesan masuk.
Kalian berdua dulu bikin aku capek sendiri.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Ada sesuatu yang hampir lucu di dalamnya.
Tetapi juga ada kepedihan yang tidak langsung terlihat.
Maksudnya? tanyaku.
Kamu terlalu sibuk minder. Dia terlalu sibuk ngertiin kamu.
Kalimat itu masuk tanpa permisi.
Langsung ke tempat yang paling sakit.
Aku tidak langsung membalas.
Karena bagaimana caranya menyangkal sesuatu yang bahkan setelah puluhan tahun masih terdengar benar?
Aku enggak ngerti waktu itu, tulisku akhirnya.
Tika membalas:
Aku tahu.
Dua kata.
Tidak memaafkan.
Tidak menghakimi.
Hanya tahu.
Dan kadang diketahui dengan jernih lebih menyakitkan daripada dimarahi.
Aku mengetik, menghapus, mengetik lagi.
Dia apa kabar?
Aku tidak langsung mengirim.
Kalimat itu terasa seperti pintu paling jelas.
Sekali kukirim, semua percakapan pura-pura akan selesai.
Aku menatap foto keluarga di dinding lagi.
Laras.
Anak-anak.
Rumah.
Tanggung jawab.
Lalu aku menatap layar.
Aku tidak ingin memiliki siapa pun.
Kalimat pembelaan itu muncul cepat.
Terlalu cepat.
Mungkin karena tidak sepenuhnya benar.
Aku ingin tahu.
Aku ingin meminta maaf.
Aku ingin memastikan bahwa seseorang yang pernah kuperlakukan dengan jarak tidak menyimpan luka yang kubiarkan membusuk sendirian.
Tetapi aku juga ingin mendengar bahwa ia masih mengingatku.
Dan bagian itu membuatku malu.
Akhirnya aku menekan kirim.
Dia apa kabar?
Tika membaca.
Lama.
Lebih lama dari sebelumnya.
Lalu menjawab:
Dia baik.
Aku menghembuskan napas yang tidak sadar kutahan.
Baik.
Satu kata.
Tetapi satu kata itu tidak sesederhana kelihatannya.
Aku mengetik:
Syukurlah.
Tika membalas:
Baik bukan berarti hidupnya gampang, Gas.
Aku membeku.
Kalimat itu seperti membuka celah kecil pada dinding yang selama ini kupikir utuh.
Sampai malam itu, di kepalaku, dia selalu tersimpan sebagai seseorang yang tenang. Hangat. Lebih utuh dariku. Lebih siap menghadapi hidup. Seolah setelah aku pergi dari lingkarannya, ia pasti berjalan menuju masa depan yang rapi, menikah dengan seseorang yang lebih pantas, hidup baik-baik saja, dan sesekali mungkin mengingatku sebagai anak laki-laki pendiam yang terlalu rumit.
Aku tidak pernah membayangkan ia juga bisa terluka.
Atau mungkin aku tidak berani membayangkannya.
Karena kalau ia terluka, maka dunia tidak sesederhana narasi yang kubuat untuk menghukum diriku sendiri.
Kenapa? tanyaku.
Tika tidak langsung membalas.
Lalu:
Enggak semua cerita orang lain bisa aku ceritain. Apalagi ke kamu. Setidaknya belum.
Aku menatap kalimat itu.
Ada batas di sana.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa Tika bukan hanya pintu menuju masa lalu, tetapi juga penjaga pintu yang tahu ada ruangan di baliknya yang tidak boleh kumasuki sembarangan.
Aku paham, tulisku.
Tika membalas cepat:
Bagus kalau paham. Soalnya aku serius, Gas. Jangan datang ke hidup orang cuma karena kamu lagi kesepian sama masa lalu sendiri.
Aku menunduk.
Kalimat itu seharusnya membuatku tersinggung.
Tetapi tidak.
Ia membuatku diam.
Karena itulah ketakutan yang sama yang sejak semalam kutulis di buku catatan.
Jangan menyebut api sebagai cahaya.
Jangan menyebut keinginan sebagai penyembuhan.
Jangan menjadikan luka lama alasan untuk menciptakan luka baru.
Aku tahu, tulisku.
Kali ini Tika membalas agak lama.
Semoga beneran tahu.
Percakapan kami berlanjut lebih pelan setelah itu.
Tika bertanya tentang keluargaku. Aku menjawab: Laras sedang di luar kota, anak pertama bekerja di luar kota, anak kedua kuliah di Bandung, anak bungsu kelas satu SMA.
Ia mengirim emoji terkejut.
Anakmu udah SMA? Ya ampun, kita tua banget.
Aku tersenyum kecil.
Iya. Menyedihkan tapi benar.
Tua boleh. g****k jangan diulang.
Aku tertawa pelan.
Tetapi tawa itu segera memudar.
Karena aku tahu nasihat itu bukan bercanda sepenuhnya.
Menjelang pukul satu pagi, Tika akhirnya menulis:
Tiga pesan Tika datang berurutan.
Gas, minta maaf itu bagus.
Tapi jangan sambil nunggu dia berubah karena kamu.
Itu masih soal kamu.
Aku membaca tiga kalimat itu lama.
Tidak rapi seperti nasihat buku. Justru karena pendek, semuanya sampai.
Aku akan ingat itu, balasku.
Tika mengirim:
Aku belum tentu langsung kasih kontak dia.
Dadaku mencelos.
Aku membalas:
Enggak apa-apa.
Lalu, setelah beberapa detik, aku menambahkan:
Kalau dia keberatan, jangan kasih.
Tika membaca.
Tidak langsung membalas.
Kemudian:
Kamu masih takut ditolak ya?
Pertanyaan itu membuatku tertawa kecil.
Lelah.
Mungkin.
Dari dulu kamu gitu. Mundur duluan biar enggak perlu tahu orang lain akan pergi atau enggak.
Aku menatap layar.
Ada kalimat-kalimat yang terasa seperti ditulis oleh seseorang yang pernah menyaksikan versi diri kita yang paling ingin kita lupakan.
Aku sedang belajar enggak begitu, tulisku.
Tika membalas:
Belajar yang serius. Jangan pakai hati orang buat latihan.
Aku tidak langsung menjawab.
Karena tidak ada jawaban ringan untuk kalimat seberat itu.
Akhirnya aku hanya menulis:
Iya.
Setelah percakapan berakhir, aku tetap duduk di ruang tamu.
Lampu masih redup.
Foto keluarga masih di dinding.
Ponsel masih di tangan.
Tetapi sesuatu sudah berubah.
Bukan lega.
Bukan juga selesai.
Lebih seperti berdiri di depan pintu yang belum dibuka, tetapi sudah mendengar suara dari dalam rumah.
Tika belum memberi kontaknya.
Belum tentu akan memberi.
Jeda itu baik.
Jeda diperlukan agar aku tidak mengira setiap kerinduan harus segera diberi jalan.
Aku membuka buku catatan hitam dan menulis satu kalimat sebelum tidur:
Malam ini aku mengetuk masa lalu, dan masa lalu menjawab dengan peringatan, bukan pelukan.
Aku menutup buku.
Baru setelah itu aku mematikan lampu.
Tetapi tidur tidak langsung datang.
Di dalam gelap, aku memikirkan satu kata dari Tika.
Baik.
Dia baik.
Lalu kalimat setelahnya.
Baik bukan berarti hidupnya gampang.
Dan untuk pertama kalinya, bayangan tentangnya tidak lagi hanya berupa kelembutan yang dulu kutinggalkan.
Ia mulai menjadi manusia.
Seseorang yang juga menyimpan malam-malam panjangnya sendiri.
Seseorang dengan luka yang tidak pernah kubayangkan.
Seseorang yang tidak boleh kudatangi hanya untuk menyelamatkan diriku sendiri.
Kesadaran itu membuat dadaku sakit.
Tetapi rasa sakit itu perlu.
Sebelum meminta maaf kepada siapa pun, aku harus lebih dulu belajar menghormati kenyataan bahwa orang yang pernah kita lukai tidak hidup hanya sebagai tokoh dalam penyesalan kita.
Mereka punya hidup sendiri.
Punya luka sendiri.
Punya hak untuk tidak membuka pintu.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku benar-benar takut bukan pada kemungkinan ia menolakku.
Aku takut kalau ia menerima pesanku dengan lembut,
lalu aku kembali menjadi orang yang menyakiti lewat ketidaksiapanku sendiri.