Ada keberanian-keberanian kecil yang terasa lebih menakutkan daripada keputusan besar.
Aku pernah berdiri di depan ruang direksi dengan presentasi jaringan yang menentukan kontrak perusahaan. Pernah memimpin migrasi perangkat tengah malam ketika seluruh koneksi pelanggan penting bergantung pada keputusan yang harus dibuat dalam hitungan menit. Pernah menandatangani pengajuan kredit rumah dengan tangan yang berusaha tidak gemetar di depan petugas bank.
Semua itu menegangkan.
Tetapi tidak ada yang terasa sebodoh dan semenakutkan menatap nomor w******p Tika di layar ponsel.
Angka-angka itu tidak melakukan apa-apa.
Hanya diam.
Hanya menunggu.
Namun sejak Badru mengirimkannya, hidupku seperti berubah menjadi ruang sempit yang seluruh dindingnya memantulkan pertanyaan yang sama:
Untuk apa?
Untuk apa menghubungi Tika?
Untuk apa membuka percakapan dengan seseorang dari masa lalu?
Untuk apa meminta maaf kepada orang yang mungkin sudah lama melupakan alasan untuk marah?
Untuk apa mengetuk pintu yang, kalau terbuka, mungkin justru membuatku ingin masuk terlalu jauh?
Malam itu aku duduk sendirian di ruang tamu dengan lampu yang sengaja kuredupkan.
Jam dinding menunjukkan pukul 22.47.
Mega sudah masuk kamar sejak satu jam lalu. Laras belum pulang dari Tasikmalaya. Rumah ini kembali menjadi tempat yang terlalu luas untuk satu orang dan terlalu sempit untuk semua hal yang bergerak di dalam kepalaku.
Ponsel ada di meja.
Aku menatapnya.
Tidak menyentuh.
Menatap lagi.
Bodoh.
Aku berdiri.
Ke dapur.
Minum air.
Kembali.
Duduk.
Menatap ponsel.
Lebih bodoh lagi.
Seorang laki-laki hampir lima puluh tahun, ayah dari tiga anak, senior network engineer, orang yang biasa dimintai keputusan ketika sistem kacau, malam itu kalah oleh sebuah kolom chat kosong.
Aku membuka w******p.
Nomor Tika sudah kusimpan sore tadi dengan nama sederhana: Tika.
Tidak ada foto profil wajah. Hanya gambar langit senja dengan warna jingga yang hampir habis. Statusnya kosong. Terakhir dilihat tidak muncul.
Aku mengetuk kolom pesan.
Keyboard muncul.
Jari-jariku diam.
Lalu mulai mengetik.
Halo Tik. Ini Bagas.
Aku membaca kalimat itu.
Terlalu pendek.
Terlalu tiba-tiba.
Hapus.
Assalamualaikum, Tika. Maaf mengganggu malam-malam. Ini Bagas, temannya Badru waktu SMA.
Terlalu formal.
Seperti pesan dari panitia reuni atau petugas koperasi.
Hapus.
Tik, apa kabar? Ini Bagas. Aku dapat nomormu dari Badru.
Aku menatapnya lebih lama.
Lumayan.
Tetapi kata “apa kabar” terasa terlalu ringan untuk sesuatu yang sebenarnya sedang kubawa. Seolah aku benar-benar hanya ingin tahu kabar Tika. Seolah di balik pertanyaan itu tidak ada lorong basah, halte angkot, gelas teh, saputangan, dan suara perempuan yang memanggil namaku dalam mimpi.
Hapus lagi.
Aku meletakkan ponsel di meja.
Mengusap wajah.
Menghela napas.
Tidak jadi.
Besok saja.
Atau lusa.
Atau tidak usah.
Aku sudah menulis. Sudah mengakui. Sudah cukup.
Tidak semua luka perlu dikirimkan lewat w******p.
Aku berdiri lagi.
Berjalan ke jendela.
Di luar, gang depan sepi. Satu lampu jalan berkedip pelan, membuat bayangan pagar bergerak seperti sesuatu yang hidup. Dari rumah sebelah terdengar televisi samar. Seseorang tertawa di acara komedi malam.
Aku menempelkan dahi ke kaca sebentar.
Dingin.
Dan tiba-tiba aku teringat Tika di halte, tertawa dengan kepala sedikit mendongak, memarahi Badru karena mengatakan sesuatu yang terlalu absurd, lalu menoleh kepadaku seolah memastikan aku ikut mendengar meski tidak ikut bicara.
Tika bukan masa lalu yang paling kuhindari.
Tetapi Tika adalah pintu menuju sana.
Dan mungkin karena itu, mengetuknya terasa seperti melakukan sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya kutarik kembali.
Ponselku bergetar.
Aku hampir terlonjak.
Badru.
Udah lu chat?
Aku mengerutkan kening.
Lu cenayang?
Enggak. Gue cuma tahu orang pengecut biasanya lama di bagian ngetik.
Aku mendengus.
Terima kasih atas dukungannya.
Sama-sama. Gue tersedia untuk menghina dan menyelamatkan secara bersamaan.
Aku menatap pesan itu.
Lalu Badru mengirim lagi:
Gas, serius. Jangan kirim kalau niat lu cuma nostalgia. Tapi kalau lu beneran mau minta maaf, tulis yang sederhana. Jangan bikin pidato. Tika alergi drama yang tidak menghasilkan makanan.
Aku tersenyum kecil meski dadaku tetap berat.
Sederhana.
Mungkin itu yang selalu gagal kulakukan.
Aku terlalu sering membuat segala sesuatu menjadi ruang pengadilan panjang di dalam kepala, padahal kadang manusia lain hanya membutuhkan kalimat yang jujur dan tidak terlalu dihias.
Aku kembali duduk.
Membuka chat Tika.
Mengetik pelan.
Halo Tik. Ini Bagas. Maaf tiba-tiba menghubungi malam-malam. Aku dapat nomormu dari Badru. Semoga kamu dan keluarga baik-baik saja.
Aku berhenti.
Membaca.
Tidak buruk.
Aman.
Terlalu aman.
Tetapi setidaknya tidak berbohong.
Jari telunjukku melayang di atas tombol kirim.
Belum.
Tunggu.
Terlalu malam.
Aku juga.
Badru bisa salah.
Ia bisa saja ingat dan tidak ingin mengingat.
Nomor itu bisa saja sudah bukan miliknya.
Ia barangkali sudah tidur.
Aku menutup mata.
Tekan.
Pesan terkirim.
Satu centang.
Lalu dua.
Jantungku seperti jatuh.
Sudah.
Tidak bisa ditarik tanpa terlihat lebih bodoh.
Aku meletakkan ponsel menghadap meja.
Berdiri.
Duduk lagi.
Mengangkat ponsel.
Belum dibaca.
Meletakkannya lagi.
Aku berjalan ke dapur. Membuka lemari. Menutupnya. Mengambil gelas. Mengisi air. Tidak meminumnya. Kembali ke ruang tamu.
Layar menyala.
Masih belum dibaca.
Bagus.
Mungkin tidur.
Mungkin besok.
Mungkin tidak dibalas.
Kalau tidak dibalas, selesai.
Aman.
Malu sebentar, lalu selesai.
Tetapi bagian lain dari diriku, bagian yang lebih jujur dan lebih memalukan, tahu aku tidak ingin selesai di situ.
Aku ingin dibalas.
Aku ingin pintu itu terbuka sedikit.
Dan keinginan itu membuatku merasa bersalah bahkan sebelum apa pun terjadi.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Dua belas.
Aku tahu karena melihat jam terlalu sering.
Pukul 23.06.
Pukul 23.09.
Pukul 23.11.
Waktu, ketika seseorang menunggu balasan pesan, berubah menjadi benda yang kasar. Ia tidak lagi mengalir. Ia bergerak patah-patah, seperti roda tua yang macet.
Aku mematikan layar ponsel.
Menyalakannya lagi.
Tidak ada.
Aku membuka chat, memastikan pesannya benar terkirim, lalu menyesal karena sekarang sistem mungkin akan menunjukkan aku sedang online.
Bodoh.
Tutup.
Buka lagi.
Tidak ada.
Aku tertawa kecil pada diriku sendiri.
Kering.
Memalukan.
Tubuhku kembali menjadi tubuh anak SMA: telapak tangan basah, perut kosong, d**a sempit, telinga terlalu peka pada setiap bunyi.
Padahal tidak ada angkot.
Tidak ada halte.
Tidak ada seragam putih abu-abu.
Hanya ruang tamu rumahku sendiri, sofa yang mulai turun di bagian tengah, foto keluarga di dinding, dan ponsel yang membuatku merasa seperti seseorang yang sedang menunggu vonis.