Di mobil, kota tampak lebih terang daripada biasanya. Jalanan sudah ramai. Anak-anak sekolah pulang lebih awal karena mungkin ada rapat guru atau jam kosong. Angkot berhenti di dekat pertigaan, menurunkan dua anak perempuan berseragam putih abu-abu.
Aku refleks melihat ke arah mereka.
Bukan mencari wajah tertentu.
Atau mungkin iya.
Aku tidak tahu.
Yang jelas, tubuhku bereaksi sebelum pikiranku sempat menyusun pembelaan.
Dada menegang.
Tangan di setir menguat.
Hujan tidak turun, tetapi aku mencium bau seng basah.
Aku menggeleng pelan.
Tidak.
Jangan jadikan setiap seragam sebagai pintu.
Jangan jadikan setiap angkot sebagai mesin waktu.
Jangan jadikan kota ini alasan untuk terus kembali ke luka yang sama.
Tetapi bahkan ketika aku berkata begitu, ada bagian lain dari diriku yang tahu: aku tidak bisa sembuh hanya dengan melarang ingatan datang.
Aku harus menghadapinya.
Entah bagaimana.
Entah dengan risiko apa.
Di ruang server, aku membuka kembali dokumen yang kutulis pagi tadi.
Bukan untuk menambah banyak.
Hanya membaca.
Aneh bagaimana kalimat-kalimat yang baru beberapa jam lalu keluar dari diriku sudah terasa seperti ditulis oleh orang lain yang lebih berani.
Aku membaca pelan.
Aku belajar bahwa dicintai berarti tidak boleh merepotkan.
Kalimat itu membuatku teringat Laras.
Berapa kali ia mencoba masuk ke ruang lelahku, dan aku menutupnya dengan jawaban “enggak apa-apa”? Berapa kali ia bertanya, “Kamu kenapa, Mas?” dan aku memilih diam karena merasa membagi beban sama dengan merepotkan? Berapa banyak jarak dalam pernikahan kami yang sebenarnya bukan karena hilangnya cinta, tetapi karena aku tidak pernah belajar membiarkan diriku dicintai saat tidak baik-baik saja?
Aku menutup mata.
Kemudian wajah lain muncul.
Bukan wajah yang utuh.
Hanya potongan: tangan menyodorkan saputangan, suara pelan, buku yang dibuka di perpustakaan, cara seseorang duduk di dekatku tanpa memaksa.
Dia juga pernah mencoba melakukan hal yang sama.
Masuk pelan.
Tidak merusak apa pun.
Hanya menawarkan ruang.
Dan aku mundur.
Aku selalu mundur.
Dengan Laras, aku tidak pergi secara fisik.
Aku tinggal.
Membangun rumah.
Membayar tagihan.
Membesarkan anak.
Tetapi ada banyak cara meninggalkan seseorang tanpa benar-benar pergi.
Kesadaran itu menamparku lebih keras daripada yang kuperkirakan.
Karena selama ini aku mengira masalahku ada di masa lalu.
Ternyata pola itu ikut menua bersamaku.
Ia masuk ke pernikahan.
Ke cara menjadi ayah.
Ke cara bekerja.
Ke cara menjawab semua pertanyaan dengan “baik-baik saja” sampai orang-orang berhenti bertanya.
Sore harinya, hujan turun lagi.
Aku pulang lebih cepat dari biasanya, membawa laptop dan kepala yang terlalu penuh. Di rumah, Mega belum pulang dari kegiatan sekolah. Laras mengirim pesan bahwa ia mungkin baru bisa pulang akhir minggu. Aku membalas dengan kalimat wajar, lalu duduk di teras belakang.
Udara basah.
Tanah mengeluarkan bau yang selalu berhasil membuat masa lalu terasa lebih dekat daripada seharusnya.
Aku membawa buku catatan hitam.
Membukanya di halaman kosong setelah kalimat semalam.
Lama aku hanya menatap kertas.
Lalu menulis:
Barangkali beberapa orang hadir bukan untuk dimiliki, tetapi untuk menunjukkan bagian dirimu yang belum sembuh.
Aku berhenti.
Kalimat itu terasa datang dari tempat yang lebih dalam daripada pikiranku.
Aku membacanya ulang.
Dan untuk pertama kalinya sejak mimpi-mimpi itu datang, bayangannya tidak sepenuhnya terasa seperti godaan.
Ia terasa seperti cermin.
Cermin yang menyakitkan, ya.
Cermin yang berbahaya jika kutatap terlalu lama tanpa tahu batas, ya.
Tetapi tetap cermin.
Ia tetap cermin: bukan perempuan yang menghancurkan hidupku, bukan masa lalu yang harus kupuja, dan bukan jalan keluar dari rutinitas pernikahan. Ia seseorang yang pernah melihatku dengan lembut ketika aku sendiri terlalu sibuk membenci diri sendiri.
Dan mungkin itulah yang ingin kuketahui.
Yang ingin kuketahui bukan apakah ia masih mengingatku, apakah ada sesuatu yang tersisa, atau apakah masa muda bisa dipanggil pulang. Yang ingin kutahu adalah apakah aku bisa meminta maaf kepada bagian hidup yang pernah kutinggalkan tanpa mengkhianati hidup yang sekarang kupunya.
Pertanyaan itu tidak mudah.
Tidak aman.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia terdengar lebih jujur daripada semua alasan yang selama ini kubangun.
Aku membuka ponsel.
Kontak Badru ada di layar.
Jari-jariku diam di atas keyboard.
Aku tahu langkah berikutnya berbahaya.
Bukan karena menghubungi teman lama adalah dosa.
Tetapi karena aku tahu di balik nama Tika ada pintu lain.
Dan di balik pintu itu ada seseorang yang selama berminggu-minggu ini muncul di mimpiku sebelum pagi.
Aku mengetik:
Dru.
Terkirim.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Apa? Jangan bilang lu mau pinjam duit. Gue sedang miskin spiritual dan finansial.
Aku hampir tersenyum.
Lalu mengetik lagi.
Lu masih simpan kontak Tika?
Pesan itu terkirim.
Balasan Badru datang lebih cepat daripada yang kusangka.
Masih. Kenapa? Mau bikin grup reuni dadakan? Jangan, Gas. Umur segini lutut kita sudah enggak siap nostalgia sambil berdiri lama.
Aku menatap layar.
Untuk beberapa detik, aku nyaris iri pada cara Badru membaca pertanyaanku sebagai sesuatu yang ringan. Reuni. Grup lama. Candaan tentang usia. Hal-hal yang bisa dibalas dengan tawa dan selesai di situ.
Tetapi dadaku tidak sedang berada di wilayah seringan itu.
Aku mengetik:
Bukan reuni.
Kukirim.
Lalu kutambahkan sebelum sempat mundur lagi:
Aku cuma ingin minta maaf ke seseorang.
Titik tiga muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Kali ini lebih lama.
Aku bisa membayangkan Badru berhenti tersenyum, membaca ulang kalimatku, lalu mulai mengerti bahwa pintu yang kuminta bukan pintu menuju nostalgia biasa.
Akhirnya ia membalas:
Oh.
Satu kata.
Dan dari Badru, satu kata itu justru terdengar lebih serius daripada ceramah panjang.
Dia Tika atau adiknya?
Tanganku berhenti.
Aku menatap hujan di halaman belakang.
Ada cara-cara tertentu masa lalu menyebut namanya tanpa perlu diucapkan.
Adiknya.
Pesan itu terkirim.
Badru tidak langsung membalas.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Lalu:
Gue kasih nomor Tika. Ngobrol sama dia dulu. Jangan langsung lompat ke orang yang kepalanya udah lu ganggu dari mimpi lu sendiri.
Aku hampir tersenyum, tetapi leherku terasa kaku.
Kemudian nomor Tika muncul di layar.
Tanpa nama lengkap.
Hanya nomor.
Beberapa detik kemudian, pesan Badru menyusul:
Gas.
Iya?
Tadi gue kira lu cuma mau nostalgia t***l-tololan. Tapi kayaknya bukan.
Aku tidak menjawab.
Pesan berikutnya datang lebih pelan.
Minta maaf itu beda sama buka kuburan buat tinggal lagi di dalamnya.
Tetapi tanganku gemetar seperti seseorang baru saja menerima alamat menuju rumah yang dulu ia tinggalkan dalam keadaan terbakar.
Aku tidak langsung menyimpannya.
Tidak langsung menghubungi.
Aku hanya menatap angka-angka itu sampai layar meredup sendiri.
Di luar, hujan terus turun.
Dan aku sadar, mungkin proses menyusun ulang narasi diri tidak akan pernah sebersih yang kubayangkan.
Karena setiap usaha memahami luka lama selalu membawa risiko: kita bisa sembuh, atau justru jatuh cinta lagi pada rasa sakit yang sudah lama kita kenal.
Malam itu, aku belum tahu akan menjadi yang mana.