Pagi itu aku tidak langsung berangkat kerja.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku membiarkan pagi berjalan tanpa buru-buru kugunakan sebagai alasan untuk melarikan diri. Biasanya aku bangun, mandi, memeriksa pesan kantor, memastikan tidak ada gangguan jaringan besar, lalu masuk ke ritme yang sudah kuhafal: kopi, mobil, parkiran, ruang server, laporan, grafik, rapat, pulang, makan, diam.
Hidup orang dewasa sering kali terasa aman karena berulang.
Tetapi pagi itu, pengulangan justru tampak seperti jebakan.
Aku duduk di meja makan sejak subuh dengan secangkir kopi yang sudah dingin sebelum sempat habis. Cahaya matahari masuk pelan melalui jendela dapur, tipis dan pucat, seperti seseorang yang ragu apakah ia berhak menerangi ruangan yang terlalu lama dibiarkan gelap.
Rumah masih sunyi.
Mega belum bangun.
Laras masih di luar kota.
Di luar, suara ayam tetangga terdengar dari kejauhan, lalu suara motor pertama lewat di gang depan. Kota ini bangun perlahan, tetapi di dalam diriku sesuatu masih duduk terjaga sejak malam.
Kalimat yang kutulis di buku catatan hitam terus berputar.
Aku harus tahu bedanya menyembuhkan luka dan membuka pintu yang bisa melukai orang lain.
Aku membacanya berkali-kali sebelum tidur.
Lalu tidak tidur juga.
Mungkin karena kalimat itu terlalu benar untuk membuatku tenang.
Kejujuran memang jarang langsung menenangkan. Sering kali ia justru membuat kita kehilangan tempat bersembunyi.
Aku membuka laptop.
Yang kubuka bukan email kantor, dashboard monitoring, atau dokumen laporan mingguan, melainkan halaman kosong.
Putih.
Sunyi.
Terlalu luas.
Kursor berkedip di tengah layar seperti mata kecil yang menunggu keberanianku.
Aku hampir menutupnya lagi.
Ada rasa konyol yang muncul setiap kali seorang lelaki hampir lima puluh tahun mencoba menulis tentang dirinya sendiri. Seolah tindakan itu terlalu remaja. Terlalu sentimental. Terlalu tidak berguna. Apa yang bisa berubah hanya karena beberapa kalimat? Apa yang bisa diperbaiki oleh tulisan setelah puluhan tahun diam?
Tetapi mungkin justru karena aku terlalu lama tidak menulis apa pun tentang diriku sendiri, hidupku menjadi sekumpulan laporan yang rapi tetapi tidak pernah benar-benar menjelaskan apa yang rusak.
Aku menaruh kedua tangan di atas keyboard.
Lama.
Tidak ada kata.
Lalu, hampir tanpa rencana, aku mengetik:
Aku tidak gagal karena miskin.
Aku berhenti.
Membaca kalimat itu.
Dadaku langsung mengeras.
Seolah ada bagian dari diriku yang menolak.
Karena selama bertahun-tahun, kemiskinan adalah alasan yang paling aman. Ia nyata. Ia masuk akal. Ia tidak memalukan dengan cara yang sama seperti ketakutan. Kalau aku berkata aku tidak kuliah karena miskin, orang akan mengangguk. Mereka akan paham. Bahkan mungkin menghormatiku.
Tetapi kalau aku berkata aku tidak kuliah karena takut gagal?
Karena takut menjadi biasa saja?
Karena takut orang-orang yang mengagumiku akhirnya melihat bahwa aku tidak sehebat harapan mereka?
Itu jauh lebih telanjang.
Jauh lebih sulit diampuni.
Aku mengetik lagi.
Aku menjadikan keadaan sebagai tempat bersembunyi dari ketakutanku sendiri.
Kalimat itu membuat tanganku berhenti.
Aku menatap layar terlalu lama.
Orang-orang di kantor memanggilku Senior Network Engineer.
Mereka melihatku duduk di ruang server ber-AC, memberikan persetujuan modul, dan memimpin rapat vendor.
Mereka tidak tahu bahwa posisi itu tidak kudapatkan dari bangku universitas yang dulu dengan pengecut kutolak.
Aku merangkaknya dari bawah tanah.
Aku memulainya belasan tahun lalu, pekerjaanku adalah memanjat tiang, menarik kabel fiber optik di bawah terik jalanan, dan begadang mengonfigurasi perangkat jaringan di ruangan sempit yang bau debu agar koneksi ISP kecil tempatku bekerja tidak mati.
Aku mempelajari routing, membangun server, hingga memecahkan masalah jaringan dari forum-forum internet yang k****a sampai mataku perih menatap layar tabung.
Aku menenggelamkan diriku ke dalam mesin dan kabel, mencoba membuktikan bahwa aku bisa selamat tanpa gelar.
Aku berhasil.
Secara finansial, aku berhasil.
Tetapi di dalam kepalaku, anak laki-laki tujuh belas tahun yang takut gagal itu tidak pernah benar-benar ikut dewasa.
Ia masih bersembunyi di balik gelar dan rutinitas teknisku hari ini.
Dapur terasa mendadak sempit.
Suara kulkas berdengung seperti napas panjang seseorang yang sabar menunggu.
Aku ingin menghapusnya.
Jari telunjukku bahkan sudah bergerak ke tombol backspace.
Tetapi aku menahannya.
Tidak.
Biarkan.
Setidaknya sekali dalam hidupku, biarkan sesuatu yang benar tetap berada di tempatnya.
Dari kamar Mega terdengar alarm berbunyi.
Nada deringnya ceria, terlalu ceria untuk rumah yang baru saja menyaksikan seorang ayah menuduh dirinya sendiri di depan laptop. Alarm itu berbunyi beberapa kali sebelum akhirnya dimatikan. Lalu suara langkah kaki kecil menuju kamar mandi.
Aku menutup laptop setengah, bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu, tetapi karena belum siap terlihat sedang menulis.
Beberapa menit kemudian, Mega muncul di dapur dengan seragam sekolah yang belum dikancingkan semua. Rambutnya masih basah di ujung. Ia berjalan ke kulkas, mengambil s**u kotak, lalu duduk di kursi seberangku.
“Ayah enggak kerja?”
“Nanti.”
Ia mengangguk sambil menusukkan sedotan ke s**u kotak.
Gerakannya ringan.
Biasa.
Anak bungsuku itu sekarang kelas satu SMA. Usia yang sama dengan dirinya ketika aku pertama kali benar-benar melihatnya di teras rumah Tika. Kesadaran itu datang begitu saja dan membuatku nyaris tersedak oleh kopiku sendiri.
Aku memandang Mega lebih lama dari biasanya.
Ia menatap balik dengan curiga.
“Kenapa?”
“Enggak.”
“Wajah Ayah kayak mau nasihatin.”
Aku hampir tertawa.
“Memangnya serem?”
“Lumayan. Biasanya kalau orang tua mulai natap lama, ujung-ujungnya ceramah.”
Aku tersenyum kecil.
Ada kelegaan singkat saat mendengar ia bercanda. Tetapi kelegaan itu segera disusul rasa sedih yang tidak sepenuhnya kupahami.
Mega lebih sering mencari ibunya untuk hal-hal kecil yang tidak pernah sempat kupelajari dengan benar.
Laras tahu jadwal sekolahnya, nama teman-temannya, guru yang membuatnya kesal, jajanan yang sedang ia sukai, ukuran sepatu terakhirnya, bahkan kapan ia mulai lebih banyak diam kalau ada sesuatu yang tidak beres.
Yang kumiliki hanya gambaran besarnya.
Kelasnya.
Biayanya.
Nilainya kira-kira aman.
Jam pulangnya.
Tetapi hidup seorang anak tidak hanya dibentuk oleh hal-hal besar.
Justru hal-hal kecil yang membuat seseorang merasa benar-benar dilihat.
Dan aku, yang sedang dihantui oleh masa ketika aku merasa tidak dilihat, mendadak sadar bahwa mungkin aku pun mewariskan bentuk ketidakhadiran yang sama, hanya dengan wajah yang lebih sopan.
“Uang jajan masih ada?” tanyaku.
Mega mengangkat alis.
“Ada.”
“Kalau kurang bilang.”
“Iya.”
Hening sebentar.
Lalu ia berkata, “Ayah beneran enggak apa-apa?”
Aku menatapnya.
Pertanyaan itu terdengar seperti pertanyaan Laras, tetapi keluar dari suara yang lebih muda.
“Kenapa nanya begitu?”
“Beberapa hari ini Ayah kayak…” Ia berhenti mencari kata. “Kayak sering mikir jauh.”
Aku ingin menyangkal.
Refleks.
Ingin berkata pekerjaan.
Kurang tidur.
Gangguan jaringan.
Hal-hal aman yang bisa dipahami anak tanpa perlu merasa khawatir.
Tetapi pagi itu aku terlalu lelah untuk terus memakai jawaban yang sama.
“Ayah memang lagi banyak mikir,” kataku akhirnya.
Mega menunggu.
Aku tidak melanjutkan.
Ia mengangguk kecil, mungkin paham bahwa hanya sampai di situ aku bisa membuka pintu.
Lalu ia berkata, “Jangan lupa makan.”
Aku tercekat.
Kalimat itu terlalu mirip ibunya.
“Iya.”
Mega berdiri, mengambil tas, lalu berlari kecil ke kamarnya mengambil map. Sebelum keluar rumah, ia menoleh dari dekat pintu.
“Ayah jangan kerja terus.”
Pintu menutup.
Aku duduk lama setelah itu.
Ada jenis teguran yang tidak terdengar seperti teguran.
Dan sering kali justru itu yang paling sulit ditanggung.
Setelah Mega pergi, aku membuka laptop lagi.
Halaman itu masih di sana.
Dua kalimat.
Dua luka yang mulai berani mempunyai bentuk.
Aku menarik napas, lalu menulis lebih banyak.
Tentang Bapak.
Tentang rumah kecil kami.
Tentang ibu tiri yang tidak jahat tetapi terlalu lelah untuk menghangatkan seorang anak yang bukan sepenuhnya anaknya.
Tentang kakak laki-lakiku yang menanggung terlalu banyak dengan cara yang tidak pernah ia jadikan pidato.
Tentang sekolah sebagai satu-satunya tempat aku merasa memiliki nilai.
Tentang bagaimana pujian bisa berubah menjadi kandang jika seseorang terlalu takut kehilangan sumber pujian itu.
Kalimat-kalimat keluar tidak rapi.
Kadang panjang.
Kadang patah.
Kadang seperti catatan.
Kadang seperti tuduhan.
Aku belajar bahwa dicintai berarti tidak boleh merepotkan.
Aku belajar bahwa menjadi pintar membuat orang berhenti bertanya apakah aku baik-baik saja.
Aku belajar menyembunyikan takut di balik prestasi.
Aku belajar bahwa kalau aku pergi sebelum gagal, aku masih bisa berpura-pura sebenarnya mampu.
Aku berhenti.
Kalimat terakhir membuat perutku seperti ditarik ke bawah.
Itulah inti yang selama ini kuhindari.
Kalau aku mencoba dan gagal, maka aku gagal.
Tetapi kalau aku tidak mencoba, aku bisa menyimpan bayangan palsu bahwa diriku sebenarnya mampu, hanya saja hidup tidak memberi kesempatan.
Narasi itu menyelamatkanku.
Sekaligus meracuniku.
Karena selama puluhan tahun aku hidup sebagai orang yang merasa dirampas oleh keadaan, padahal sebagian pintu kututup sendiri sebelum sempat melihat apa yang ada di baliknya.
Aku menunduk.
Mataku panas.
Bukan tangis besar.
Hanya basah yang tertahan, seperti hujan yang ragu turun.
Menjelang siang, kantor menelepon.
Dimas.
“Pak, maaf ganggu. Bapak masuk hari ini?”
“Nanti siang. Ada apa?”
“Link Ciamis sudah stabil. Tapi vendor minta approval untuk penggantian modul minggu depan.”
“Emailkan detailnya. Saya cek.”
“Baik, Pak.”
Jeda sebentar.
“Pak Bagas sehat?”
Pertanyaan itu mulai terasa seperti gema yang mengejarku dari semua arah.
“Aku sehat.”
“Suara Bapak beda.”
Aku tersenyum kecil, meski Dimas tidak bisa melihat.
“Mungkin karena belum minum kopi kedua.”
Dimas tertawa sopan, lalu sambungan berakhir.
Aku menatap ponsel.
Dunia luar terus memanggilku kembali ke fungsi-fungsi yang jelas: atasan, engineer, ayah, suami, orang yang menyelesaikan masalah. Semua peran itu nyata. Semua penting. Tetapi pagi itu aku mulai memahami bahwa menjalankan peran dengan baik tidak selalu berarti seseorang sudah berdamai dengan dirinya sendiri.
Bisa saja ia hanya sangat terlatih mengabaikan bagian yang sakit.
Aku akhirnya berangkat ke kantor menjelang siang.
Sebelum pergi, aku menyimpan dokumen itu dengan nama yang konyol dan terlalu terus terang:
Narasi Diri.
Aku hampir menggantinya.
Terlalu psikologis.
Terlalu sok.
Terlalu memalukan kalau suatu hari ditemukan orang.
Tetapi aku membiarkannya.